
Ditempat Mira, ia sekarang duduk masih diatas podium dan tidak melepaskan tangannya dari pedang yang menancap, dan matanya yang terus menatap layar. Dia memperhatikan dengan seksama, tidak ada yang mencurigakan karena Ninia dan teman-temannya tidak melakukan kecurangan selama duel.
Itu sulit untuk menuntut mereka karena tidak ada bukti konkret. Saat kemudian ia pun mengalihkan perhatiannya, dibelakang bagian sisi kirinya duduk tak jauh darinya, pemimpin Guild Acrenea, dia sedari tadi duduk diam dan tidak mengatakan apa-apa kecuali ditanya. Ekspresi nya tidak terlalu terlihat, namun Mira merasa ada yang salah dengannya.
Bukan hanya dia, bahkan Derrick yang duduk disisi lainnya juga menatapnya dengan ekspresi yang tajam. Dia juga pasti merasakan hal aneh itu.
" Mira!." saat kemudian lamunan Mira buyar mendengar itu.
Ia dan Derrick langsung mengalihkan perhatian mereka kepada Israhi yang berlari mendekat dengan begitu terburu-buru, dan dibelakang nya juga diikuti oleh dua tiga orang yang sebelumnya ada bersamanya.
Mira yang melihat nya kelihatan agak panik itu langsung bangkit berdiri dari duduk nya, " Ada apa, Israhi??" tanyanya kemudian dengan benar-benar serius, dia merasakan sedikit firasat buruk sekarang.
Dan Israhi pun sampai tepat didepannya, dia pun langsung berkata. " Mira, kita harus menghentikan duel ini! Ini jebakan!." ucapnya.
" Apa yang kau katakan tiba-tiba ini?? " Derrick tidak mengerti dengan dirinya yang tiba-tiba jadi seperti ini.
Israhi tahu itu dan ia pun mulai menjelaskannya, " Dengan, semua ini sudah diatur. Semuanya masih terhubung dengan orang yang menjadi dalang penyerangan itu! Saat ini, bukan hanya Altair... Tapi semua orang, yang ada didalam mungkin juga diluar labirin, semuanya dalam bahaya!" ucapnya sebisa mungkin dengan jelas.
" Apa itu mungkin? Duel ini kan diatas namakan ketua Guild Acrenea."
" Aku tidak yakin dengan itu.."
Saat kemudian Israhi pun mengalihkan perhatian nya kepada ketua Guild Acrenea yang tetap berdiri diam meskipun dia mengatakan hal itu. Karena itu, Israhi pun dengan cepat menarik sebuah belati dari balik punggungnya, dan melemparkan belati itu dengan tepat, hingga menancap dikepala ketua Guild Acrenea dan membuatnya jatuh.
" Israhi?!!." Dan tentu saja itu langsung mengejutkan mereka.
Disamping itu, Karol langsung menarik kerah pakaiannya dengan ekspresi marah, sementara Israhi hanya berekspresi diam saja.
" Kau pikir apa yang kau lakukan?!"
" Tunggu, Karol!." Saat kemudian Siran pun berteriak menghentikan nya, Karol pun langsung menoleh kearahnya. " Lihat apa yang dia temukan..." Lanjutnya pula dengan ekspresi geram sambil menatap ketua mereka.
Mendengar itu, ia pun langsung melepaskan Israhi dan menoleh kearah ketua mereka yang sebelumnya jatuh diatas podium. Dan betapa terkejut nya ia melihat apa itu..
" Apa... bagaimana bisa..?"
Itu bukanlah ketua mereka, bukan manusia pula, itu adalah sebuah boneka sihir.
" Seperti yang kuduga, inilah kejanggalan yang kita rasakan. Duel ini bukan hal yang dilakukan oleh ketua Guild kalian, melainkan orang bertopeng yang kalian katakan." ucap Israhi kemudian, dan itu menjelaskan semuanya.
Mereka sadar dengan itu, kecuali Mira dan Derrick yang belum mendengar tentang hal itu.
" Apa maksudmu?"
" Tidak ada waktu untuk menjelaskan, kita harus segera-..."
Duarr...
Perkataan Israhi terpotong oleh suara ledakan yang begitu keras itu, semua orang jadi dibuat terkejut. Ditambah, terjadi keributan lain ditempat mereka setelah ledakan yang terdengar begitu keras dan besar itu...
" Ah! Apa yang terjadi?!"
" Layarnya tiba-tiba mati!."
" Ada ledakan besar yang terjadi, ada apa ini??"
Hubungan mereka dengan yang ada didalam terputus tiba-tiba, mungkin karena ledakan besar itu, para serangga itu ikut hancur bersama.
" Apa maksudnya ini...??" bahkan Mira sendiri dibuat bingung karena tidak ada masalah apapun saat dia menggunakan serangga itu untuk menjelajahi labirin sebelumnya.
***
- Beberapa saat sebelum ledakan terjadi, didalam labirin.
Altair dan timnya masih terlihat berlari menyusuri jalan yang mereka ambil setelah memotong jalan Ninia dan timnya sebelumnya. Mereka melaju tanpa hambatan karena jebakan disana mulai jarang terjadi. Saat kemudian... Aksa merasakan sesuatu melesat dari belekang sana.
Ia pun langsung melompat ke samping menghindarinya, disaat yang sama dengan Remilia yang berbalik dan menepi ke dinding labirin.
Sebuah belati terbang melewati mereka dan menghantam lantai labirin didepan sana, di lihat dari bagaimana dia melesat sepertinya orang yang melemparkan itu benar-benar mengerahkan tenaganya.
" Wow, itu benar-benar cepat."
" Belati itu dimaksudkan untuk membunuh, Aksa."
Mereka pun berhenti disana ketika Aksa dan Remilia berkata demikian, dan tak lama dari itu Ninia dan timnya datang menyusul mereka.
" Sialan..!"
Dia benar-benar kelihatan sangat marah karena jalannya diambil alih oleh mereka, ia langsung saja mengeluarkan belati lain dan menerjang ke arah mereka. Ia harus berhadapan dengan Remilia, ketika ia juga menarik pedangnya untuk menahan serangan itu.
Trangg...
Bunyi besi yang saling bertubrukan mengisi tempat itu, Remilia dan Ninia berhadapan dengan begitu keras, tidak ada satupun diantara mereka yang ingin mengalah.
Disaat yang sama, teman satu timnya yang lain, Reya berhadapan langsung dengan Aksa. Dia menyerangnya dengan sihir angin, dan tentu saja itu cukup mengganggu bagi semua anak panah Aksa.
" Menyerah sajalah, kalian tidak akan pernah bisa keluar dari labirin ini!!" Ninia berteriak keras disana.
Membuat Remilia yang ada dihadapannya jadi mengkerut kesal, " Ah, tutup mulutmu. Orang yang menggunakan cara curang." ucapnya membalas perkataan Ninia.
" Setidaknya, meski kami kalah kami bisa keluar dari labirin dengan mudah. Tidak seperti mu." lanjutnya pula yang kemudian menghempaskan Ninia ke belakang.
Namun tentu saja itu tidak cukup untuk mengalahkan nya, Ninia kembali bangkit dan tertawa sinis.
Ia memberikan sinyal kepada Lica yang diam dibelakang sana, dan ketika itu... ia terlihat seperti menarik udara kosong. Remilia terkekah dengan itu, ada sekilas pantulan cahaya dari apa yang ia tarik, itu sebuah benang. Itu membentang kearah mereka, langsung terhubung ke belakang sana.
Remilia pun langsung menolehkan kepalanya ke belakang sana, ke tempat dimana belati yang dilemparkan sebelumnya. Disaat yang sama, Lica menggerakan benda itu, benang yang memanjang itu pun berputar disekitar sana.
Ia menjerat Altair dan mengikatnya, " Ah.. Ughh!" Altair tidak punya banyak kesempatan untuk menghindar ditengah benang yang tidak bisa ia lihat.
" Altair!!" Remilia terkejut dengan hal itu, membuat Aksa pun ikut menoleh dengan sepontan.
Sementara ditempat lain, Ninia tertawa girang dengan hal tersebut. " Ahahaha... Kau tidak akan bisa melepaskan nya, ini adalah benang yang dibuat oleh ratu laba-laba merah yang langka." dia yakin dengan itu, apalagi karena wajah khawatir dari Remilia dan Aksa.
Namun kemudian...
" Pfftt..."
Remilia tersenyum miris menatap hal tersebut, membuat Ninia dan timnya bingung, lalu kemudian ia pun mengalihkan perhatian nya kembali kepada mereka.
" Maaf, ya. Tapi... Kalian tidak menangkap, Altair." Remilia berkata demikian dengan pasti.
" Apa maksudmu..??" tapi Ninia kurang mengerti dengan maksudnya, padahal apa yang terjadi tepat didepan mata mereka.
" Oh, apa kau sama sekali tidak sadar??" Aksa pun kemudian berkata dan membuat semua perhatian tertuju kepadanya, Aksa sendiri terlihat begitu santai. Ia benar-benar tenang dan kemudian berkacak pinggang. " Altair.... Tidak ada disini." lanjutnya pula.
Ninia dan teman-temannya tersentak kaget dengan hal itu, disaat yang sama dengan hal itu juga, Altair yang di ikat Lica ditempatnya memudar layaknya debu. Dan sesaat kemudian.... Itu berganti menjadi seekor burung emas.
Kwaakk..
Itu Lumine.
Dia membebaskan dirinya sendiri dari benang itu dan langsung mengepakan sayapnya, terbang mendekati Remilia, kemudian hinggap dipundaknya.
Remilia dan Aksa yang tahu hal itu hanya tersenyum dengan santainya.
Sementara Ninia menggertakan giginya penuh amarah karena hal tersebut, " Dimana dia?!!"
****
- Disaat yang sama, dipusat labirin.
Sebuah portal ruang terbuka disalah satu dinding labirin yang mengelilinginya. Altair keluar dari sana dengan perlahan, dan turun kembali diatas tanah dengan lembut.
Tap...
" Fyuhh... Ini jadi lebih cepat, bukankah begitu Zico??" ucap Altair disana kepada Zico yang sekarang ada dipundaknya dengan wujud kecilnya.
Kyuu....
Tapi Zico berkata kalau dia kekanakan, padahal dia bisa melakukan hal itu dari awal.
" Ah..."
Altair merasa terpukul dengan hal itu, dia tidak pernah masuk ke dalam labirin, jadi dia ingin bersenang-senang dengan lebih baik. Itulah yang ia maksud dengan bersenang-senang, tapi kenapa orang-orang malah mempermasalahkan hal tersebut??
" Sudahlah, kita ambil saja harta karunnya sekarang!."
Kyuu~..
Meski begitu, mereka berdua langsung semangat dengan ide itu.
Altair melangkah mendekati tempat dihadapan nya, itu terlihat seperti sebuah Altar bundar dengan lima batu pilar yang mengelilinginya. Terlihat seperti yang pernah ia temui.
Ketika Altair melangkah ke dalam, ia merasa melewati sesuatu seperti air transparan... " Eh..??" sontak karena hal itu ia pun kembali menoleh ke belakang, namun tidak ada apapun disana.
" Apa tadi..."
Kyuu..!
" Hm? Ada apa, Zico?"
Kyuu.. Kyu~
Zico menepuk-nepuk pipi Altair dengan cepat dan menunjuk kearah tengah. Meja batu disana yang terlihat memiliki ukiran tidak sesuai yang ada ditengah-tengah altar itu berputar dengan teratur dan saling berlawanan, sampai semuanya melengkapi gambar-gambar yang ada satu sama lain.
" Wow..." Altair terpukau dengan itu, ia pun kemudian melangkah lebih dekat dan melihatnya.
Altair mengulurkan tangannya dan menyentuh meja itu dengan lembut, ia memperhatikan setiap gambar yang ada dengan seksama. Itu seperti ingin menceritakan sebuah kisah kepada mereka....
" Hmm... Ini Iblis, malaikat, dewa dan... Hewan buas...?? Apa terjadi perang..? "
Altair tidak mengerti dengan maksud gambar-gambar disana. Saat kemudian ia dikejutkan dengan ukiran-ukiran itu yang mengeluarkan cahaya.
" Hah..! Apa yang terjadi..?!"
Ukiran-ukiran itu perlahan meleleh, berkumpul satu sama lain, dan akhirnya membentuk sebuah kalung. Itu benar-benar unik...
Dan entah kenapa itu terasa familiar.
Altair pun kembali mengulurkan tangannya kearah kalung yang belum terbentuk sempurna itu, dan ketika jarinya menyentuh kalung itu. Sinar yang begitu menyilaukan terpancar keluar darinya...
" Oh...!"
Altair hampir saja tidak bisa mengalihkan pandangan nya, jika saja Zico tidak langsung menutupi kedua matanya dengan sayapnya.