The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Silent City



Esok harinya, setelah mereka keluar dari penginapan. Israhi dan yang lainnya, tentu saja termasuk Altair dan Mira langsung berangkat ke tempat lain menggunakan kereta yang mereka sewa. Tapi... dibandingkan kata 'Sewa' mungkin lebih tepat jika dibilang Mira membelinya dengan uang Altair dan harga yang sama dengan saat menyewanya.


Karena Mira sama sekali tidak berniat mengembalikannya setelah dipakai. Lagipula pemiliknya adalah bos dari orang yang kemarin menyerang mereka direstoran. Balas dendam yang mulus dan mudah.


" Guru... Kau mencuri kereta ini hari ini. Dan besok, wajahmu akan terpampang diseluruh kota sebagai pencuri yang dicari. " ucap Altair setelah mendengar rencananya itu dengan wajah datar.


Sementara Mira yang duduk didepan bersama Yi hanya tertawa mendengar itu, " Gyahahaha... Anggap saja ini kompensasi mereka untuk kita. Salah nya membiarkan anak buahnya sembarangan. " ucapnya dengan santai sekali.


Tapi seperti nya bukan hanya dia yang suka dengan hal itu, " Aku setuju. " bahkan Yi yang sedang mengendalikan kuda pun berkata seperti itu.


Altair tidak percaya ini, dia sekelompok dengan dua orang yang punya pikiran seorang pencuri. Ditambah dia tidak bisa berkata-kata lagi karena salah satunya adalah guru yang telah mengajarinya selama ini.


Namun Remilia kemudian bicara, " Ngomong-ngomong, Altair..." membuat Altair yang mendengar namanya dipanggil pun menoleh kearahnya. " ...Soal topeng yang semalam, dari mana kau mendapatkan itu?" tanyanya kepada Altair.


Altair yang mendengar nya bingung kenapa dia penasaran, tapi dia juga tidak perlu berbohong kepadanya.


" Itu peninggalan temanku, dia sudah meninggal 5 tahun yang lalu, dia memberikan nya kepadaku sebagai kenang-kenangan. Kalau tidak salah dia juga pernah bilang, kalau topeng itu adalah warisan dari guru-nya." jawab Altair.


Membuat Remilia yang mendengar nya pun mengangguk paham, tapi Altair masih penasaran dengan itu. " Apa ada yang salah dengan topeng itu? Kalian mengenalnya? " tanya Altair kepada mereka.


Yang kemudian diiyakan oleh Aksa, " Yeah, kami pernah bertemu dengan pemilik topeng itu sebelumnya. Dan melihat nya membasmi banyak monster seorang diri, dia benar-benar sangat hebat." ucapnya.


" Benarkah? " Altair antusias mendengar itu.


" Tentu saja, dia bahkan mendapatkan julukan yang sangat keren. "


" Julukan??"


Altair makin ingin tahu soal itu, saat kemudian Israhi pun menengahi. " Dia diberi julukan 'Penguasa Beliung'. " ucapnya singkat.


Altair kagum dengan itu, dan julukannya masuk akal. Karena dia bisa mengendalikan angin semaunya. Mendengarkan cerita kehebatan Milya membuat Altair jadi sangat ingin lihat bagaimana dia bertarung lebih dari sebelum nya, sayang sekali dia telah tiada. Tapi syukurlah dia tidak menderita lagi sekarang.


Ngomong-ngomong, sedari tadi dia tidak mendengarkan Israhi dan yang lainnya memanggil Milya dengan namanya. Dia bingung dengan itu...


" Apa dia hanya dipanggil dengan julukannya, kenapa tidak pakai namanya??" tanya Altair.


" Karena dia tidak pernah mengatakan siapa namanya kepada siapapun. Jika ada orang yang bertemu dengannya, dia pasti dipanggil Nona Beliung atau Nona topeng saja. " jawab Yi yang sedari tadi mendengarkan cerita mereka.


" Oh..." Altair hanya ber-oh ria mendengar itu, sesaat kemudian dia tersenyum senang karena jadi satu-satunya yang tahu siapa namanya.


Dan Remilia menangkap sikap anehnya itu, " Kenapa? Kau tahu siapa namanya?" tanyanya kemudian.


" Hehe... Sepertinya begitu. " jawab Altair kepadanya.


" Serius?! Kau tahu? Ayo beritahu kami siapa namanya." mendengar itu membuat Aksa jadi kembali bersemangat.


" Tidak. Itu rahasia. " namun Altair tidak semudah itu disuruh.


" Ah, ayolah..." Bahkan Aksa yang begitu kegirangan sangat ingin tahu siapa nama temannya itu.


Cukup lama waktu berlalu ditengah percakapan mereka itu, tak terasa kemudian mereka tiba dikota lain yang ada dijalan yang mereka lalui. Akan tetapi kota itu sangat aneh... Itu tempat yang sepi, terlalu sepi jika kau mau lebih spesifik.


" Desanya sunyi sekali. " ucap Altair sambil mengintip keluar sana, tidak ada seorang pun yang ada dijalanan ini.


" Yeah.. Padahal kota ini biasanya ramai dengan orang-orang, karena menjadi pusat perdagangan antara kerajaan Lost dan kerajaan bintang. " sahut Israhi yang membuat Altair menoleh kearahnya.


" Jadi mau bagaimana? Apa kita lewat saja? Atau bertanya kepada penduduk sekitar?" tanya nya kemudian.


Sedangkan Israhi yang mendengar itu hanya menatapnya diam, Altair terlihat seperti bisa membaca isi pikirannya saat ini. Dia memang berpikir untuk berhenti sejenak karena punya kenalan disana.


Tapi Altair yang mendengar nya hanya tertawa, ia pun menjawab. " Tidak, aku hanya bisa membaca aura. Kau sedang khawatir kepada kota ini, kan??"


Israhi tidak bisa menyangkal hal itu, kemudian ia pun menoleh kearah teman-teman nya yang lain. Tidak ada yang keberatan jika dia memang ingin berhenti, mereka akan mengikutinya.


Jadi seperti yang bisa ditebak, Israhi memutuskan untuk mereka berhenti sejenak dikota itu. Ia menuntun mereka ke tempat dimana kenalan nya itu berada, dan berhenti disana. Mereka berhenti disebuah rumah yang cukup besar dikota itu.


Tok...Tok...Tok...


Israhi pun mengetuk pintu rumah itu, dan tak lama kemudian seseorang membuka pintu itu untuk mereka...


" Ah. Israhi, lama tidak berjumpa. " sapa orang itu yang adalah tuan rumah ini.


" Ya, lama tidak ketemu, Aron. Aku ingin tahu apa yang terjadi disini. " sahut Israhi pula terus terang.


" Oh, begitu ya. Baiklah, masuklah semuanya. Lebih baik kita bicarakan semuanya didalam sebelum ada yang muncul. " ucap Aron kemudian mempersilahkan mereka masuk sambil melihat-lihat ke sekitar.


Setelah masuk ke dalam sana, Israhi memutuskan untuk bicara berdua saja dengan kenalannya itu. Jadi yang lain pergi menunggu diruang tamu, sementara Israhi ikut bersama kenalannya ke ruangannya.


Mereka langsung duduk dan bicara serius tentang kondisi yang terjadi dikota saat ini...


" Jadi apa yang terjadi??" ucap Israhi memulai percakapan mereka.


Aron kelihatan kurang yakin apa harus mengatakannya atau tidak, tapi pada akhirnya dia memutuskan untuk mengatakannya.


" Sebenarnya... sejak beberapa waktu yang lalu, kota ini tiba-tiba diserang monster. Dan sampai sekarang masih terus berlanjut. " ucapnya langsung keintinya.


Tentu saja Israhi yang mendengarnya cukup terkejut dengan itu, padahal rasanya baru beberapa bulan yang lalu dia datang ke kota ini. Tapi tiba-tiba... serangan monster??


" Katakan lebih detail. " ucap Israhi pula makin serius.


" Yah, seperti yang aku katakan. Dan juga... disaat yang sama dengan kedatangan monster-monster itu, ada juga sekelompok orang-orang aneh yang bilang.. kalau kami harus melakukan persembahan. Kami tidak tahu siapa itu, dan semua permintaan bantuan yang kami kirimkan selalu ditolak. Pada akhirnya yang bisa kami lakukan hanya diam dan menghindar. Kondisi kota saat ini lumpuh parah, tidak ada kegiatan apapun dan tidak ada pemasukan apapun. Orang-orang yang bertahan pun semakin khawatir dengan kondisi yang berkelanjutan ini." jelas Aron panjang lebar.


Mendengar itu membuat Israhi menjadi makin serius, ia merasa ada yang salah dengan kelompok yang dimaksud. Motif dan tujuan mereka juga tidak jelas, persembahan apa yang harus dilakukan sampai harus melakukan hal seperti ini??


Sementara itu diruang tamu, saat ini Altair sedang menunjukan hadiah yang ia dapat lima tahun lalu dari Mirion kepada Aksa.


" Wow, keren. Kau sangat hebat karena bisa mendapatkan hadiah yang sangat berharga ini." ucap Aksa sambil melihat busur itu dengan teliti.


" Ya, kan? Aku selalu ingin mencobanya, tapi aku tidak terlalu tahu cara memanah. Selama ini aku hanya fokus berlatih tombak dan pedang. Jika kau punya waktu.... Apa kau mau mengajariku??" pinta Altair dengan mata berbinar panuh harapan.


Melihat Altair bertingkah seperti itu, rasanya benar-benar sangat menyilaukan. Bahkan Aksa merasa seperti itu, " Astaga, baiklah. Aku tidak bisa menolak nya jika kau selucu ini." jawabnya sambil menutup kedua matanya.


Sedangkan disisi lain, mereka hanya bisa tersenyum tidak bisa berkata apa-apa mendengar nya yang sangat berlebihan seperti itu. Tapi menang Altair sangat lucu dimata mereka... setidaknya untuk saat ini.


Saat kemudian Remilia menyadari kedatangan Israhi, " Bagaimana percakapan kalian, apa yang terjadi? " tanya nya sangat penasaran.


Mendengar nya bertanya seperti itu pun membuat yang lainnya menatap Israhi ingin tahu, sementara Israhi terlihat menghela nafas untuk sejenak.


Ia pun kemudian menatap mereka dengan serius, " Kota ini ada dalam situasi berkepanjangan karena monster yang terus datang. " ucap Israhi yang membuat teman-teman nya yang lain tersentak kaget.


 ******



* Aksa Teranodin Everia.