The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
commotion



Itu beberapa saat yang lalu, Ian masih gelisah dengan keadaan Derrick setelah menerima kedatangan Israhi dan yang lainnya ketika kondisinya tidak baik. Namun kini dia dibingungkan dengan apa yang ia lihat dihadapannya..


Saat Altair dan Aksa melakukan perawatan kepada Derrick, ia yakin Derrick sama sekali tidak meminta bantuan untuk mengobati luka dan racun ditubuhnya. Jadi ini pasti inisiatif salah satu diantara merasa.... Tapi, dia juga bingung, apa sekarang dia harus khawatir atau tidak. Ian tidak yakin harus melakukan apa sekarang...


Sampai ia mendengar suara itu,


" Ini ideku."


" Ya? Maaf...?"


Ian tersentak kaget, dan langsung sadar dari lamunannya ketika Altair bicara dengan sepontan.


Altair sendiri, ia menatapnya dan tersenyum dengan tenang. Altair bisa membaca raut wajahnya dengan cukup jelas, " Ekspresi mu seperti sedang mempertanyakan ide siapa ini. Jadi aku menjawabnya, ini ideku." itu fakta yang tidak bisa terhindarkan.


Ian yang mendengar itu pun langsung bersemu merah, ia tidak menyangka kalau gadis kecil sepertinya akan sangat peka terhadap ekspresi seseorang. " Maafkan saya.." ucapnya kemudian sambil tertunduk malu.


" Jangan khawatir, aku sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Lagipula wajar bagi seseorang untuk waspada kepada orang yang belum kau kenal, bukan?" Altair sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Mengetahui kalau orang dihadapannya ini sangat peduli kepada Derrick saja sudah membuatnya merasa senang.


Sekarang ini... Derrick adalah satu-satunya keluarga yang ia punya. Setidaknya itulah yang Altair pikirkan.


" Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku memanggilmu kemari, kan?"


" ...Benar."


" Aku ingin mendengarnya darimu..." Altair menggantung kata-katanya, saat ia mengalihkan kembali perhatiannya kepada Derrick yang terbaring dihadapannya, dan menusuk salah satu titik akupunturnya menggunakan jarum yang ia pegang. Baru setelah itu ia pun melanjutkannya, " ...Apa yang sudah terjadi kepada kak Derrick??"


Ian menurunkan pandangannya, masih menimang-nimang jawaban apa yang harus ia keluarkan. Dan ia merasa kalau tidak ada salahnya memeritahunya, Altair adalah orang yang mungkin akan menyelamatkan nyawa ketuanya. Jadi ia pun buka mulut...


Ian menceritakan semuanya, ia bilang.. beberapa waktu yang lalu, Derrick dan beberapa orang diguild berpapasan dengan sekelompok bandit saat kembali dari selatan. Dan pertarungan pun terjadi.


Itu bukanlah hal aneh dimana mereka saling bertarung untuk mempertahankan barang dan nyawa, dan tentu saja Derrick yang paling unggul. Dan disaat itu, Derrick terkena panah beracun yang membuatnya jadi seperti sekarang.


Namun ada yang aneh dengan bandit-bandit itu, setelah berhasil melukai Derrick, mereka tidak mengambil apapun, justru segera pergi dari sana seolah tujuan mereka telah tercapai. Karena hal itu, bisa dipastikan kalau Derrick lah yang menjadi target penyerangan itu, bukan benda berharga. Jadi pasti ada yang membayar bandit-bandit itu untuk melakukan nya.


Setelah mendengar cerita itu, semuanya jadi jelas. Dan Aksa yang pertama kali buka suara disana, " Itu masuk akal, Guild Kirial, guild yang didirikan dan dijalankan oleh Derrick adalah satu dari sekian banyak tempat para pembunuh bayaran berkumpul, dan merupakan yang terbaik. Tempat ini bahkan berani bersaing dengan Guild yang lebih besar karena kekuatannya. Jika mereka menyingkirkan Derrick yang jadi pedang utama sekaligus kepala Guild, mereka dapat menyingkirkan Guild Kirial dari persaingan."


Israhi pun menganggukan kepalanya setuju dengan asumsi Aksa, " Tujuan mereka adalah untuk menjarah tempat ini ketika kekuatan utamanya hilang." dia pun berkata seperti itu.


" Jadi apa kalian tahu dimana dan siapa kelompok bandit yang menyerang kak Derrick??" tapi Altair tidak peduli dengan semua itu.


Ia mengambil botol ramuan yang telah ia buat sebelumnya, ketika ia mendengarkan cerita Ian tentang apa yang terjadi. Dan ia pun berusaha meminumkannya kepada Derrick dibantu oleh Aksa yang mengangkat kepalanya.


" Aku tidak peduli dengan apa tujuan mereka melakukan ini, tapi aku ingin tahu soal kelompok bandit itu." ucapnya pula menegaskan maksudnya, jika Ian benar-benar peka maka dia akan langsung tahu apa maksud Altair.


Dan tentu saja... Ian pun menganggukan kepalanya meski ragu, " ...Iya, saya tahu. Setelah tahu kalau ketua diserang, saya langsung menyuruh orang terpercaya untuk mengikuti kelompok bandit itu. Dan dia selalu mengirimkan laporan secara berkala. Saat ini pun dia masih mengawasi." jawabnya.


" Begitu ya, syukurlah..." Altair menarik sarung tangan yang terpakai ditangannya, namun kata-katanya berhasil membuat Ian bingung.


" Maaf?"


" Syukurlah karena aku tidak perlu mencari mereka dengan susah payah. Bukankah begitu??"


Altair menoleh kearah Ian sambil tersenyum dengan kedua matanya tertutup, itu mungkin akan terlihat biasa, tapi bagi mereka yang telah paham... Mereka akan sadar kalau senyuman dingin itu penuh dengan keinginan untuk membunuh.


Amarah yang tersembunyi dibalik senyuman yang tenang...


Ian tidak akan pernah menyangka kalau gadis muda sepertinya akan punya senyuman seperti itu, situasi sekarang berhasil membuatnya merasa merinding. Ia menoleh kearah Aksa dan juga Israhi secara bergantian, keduanya hanya diam namun terlihat dimata mereka sebuah kecemasan.


" Bahkan Tuan Israhi yang seperti itu cemas karena nya...?!!"


Ian tidak ingin mempercayainya, namun kenyataan itu tepat berada jelas didepan wajahnya. Apa yang akan dia lakukan disaat seperti ini?


Duak... Brakk..


Sebuah keributan lain datang menyela diantara mereka, itu berasal dari bawah, jadi pasti dari aula Guild. Itu terdengar cukup jelas, ada yang sedang bertengkar dan beberapa terdengar seperti suara sesuatu yang jatuh.


Itu membuat Altair penasaran dan kesal disaat yang sama... " Apa lagi sekarang??" Altair pun mengambil langkah menuju pintu dan keluar, namun sebelum itu dia sempat mengatakan sesuatu kepada Aksa.


" Aksa, tolong jaga kak Derrick sebentar. Aku akan melihat apa yang terjadi."


" Baiklah."


Begitulah bagaimana dia pergi dari sana, diikuti oleh Israhi dan Ian dibelakangnya. Sementara itu dibawah, beberapa orang terlihat berdiri ditengah aula guild yang acak-acakan dengan senyuman jelek diwajah mereka.


--- Beberapa saat sebelumnya...


" Ah~.. tidak ada informasi lain yang bisa kita dapatkan lagi disini. Aku penasaran seberapa tertutupnya organisasi itu sampai tidak ada satupun hal tentang mereka yang diketahui." Remilia baru saja selesai memeriksa semua dokuman diruangan Derrick bersama dengan Yi dan Mira, dan sekarang mereka berjalan turun ke aula untuk melepaskan penat.


Kali ini semua lebih baik dibandingkan saat mereka datang, tentu saja karena mereka pasti telah menebak kalau mereka sudah tahu apa yang terjadi kepada Derrick. Meski tentu saja, masih tetap ada saja yang terus menatap mereka dengan penasaran.


" Aku tidak terlalu peduli sih, asalkan muridku yang baik itu bisa bersikap tenang." ucap Mira yang kemudian duduk disebuah kursi didepan seorang perempuan yang menjadi bartender disana.


" Kau ingin minum sesuatu??" tanya perempuan itu pula kepada Mira, namanya adalah Ziria.


" Kau bisa memberiku sebuah bir."


Mendengar jawaban Mira, Ziria pun langsung dengan cepat menyediakannya. Termasuk pesanan milik Yi dan Remilia juga. Dia adalah orang yang cekatan dan tenang.


Suasana diantara mereka yang ada disana cukup tenang, sampai Mira mengungkit sesuatu yang cukup sensitive.


" Ngomong-ngomong, apakah serbuk bunga dikirim langsung dari tempat asalnya atau ada yang memberikannya??"


Remilia, Yi dan juga Ziria langsung terdiam menatapnya yang sedang santai-santai saja disana, untunglah sepertinya tidak ada yang mendengar itu selain mereka bertiga.


Ziria pun hanya diam saja, sampai ia tersenyum dan berkata. " Entahlah, kami juga tidak tahu. Ketua tidak memberitahu kami, dan tidak ada petunjuk pasti. Sepertinya nona kecil juga menyadari itu, ya." ucapnya sambil mengelap gelas-gelas dihadapannya.


Mira pun juga balas tersenyum, " Begitulah. Tidak mungkin dia tidak sadar saat aroma bunganya begitu semerbak."


Mira tahu dia orang yang cepat peka, dia mungkin juga sudah tahu hal itu. Dan memang benar, dia tahu semenjak Israhi memanggil Ian pergi untuk menemui Altair.


Suasana kembali mengalir tenang dengan cepat, Remilia menghela nafas lega karena tidak ada yang terjadi saat Mira menanyakan hal seperti itu. Akan sangat buruk jika tiba-tiba terjadi keributan yang disebabkan oleh mereka disana.


Tapi mungkin... pikiran Remilia akan segera berubah karena kedatangan yang tidak terduga.


Brakk...


" Hei, hei, hei~ Apa yang ada disini, bagaimana kabar kalian? Kuharap semuanya baik-baik saja.." (Karol)


" Mereka pasti tidak akan baik-baik saja, mereka terlihat seperti anjing yang kehilangan pemilik mereka." (Siran)


Sekelompok orang yang terdiri dari 4 orang pria dan satu orang wanita diantara mereka, tiba-tiba saja masuk dan mulai bicara tanpa pikir panjang. Sementara disisi orang-orang tempat ini menatap mereka menahan kekesalan.


" Siapa itu??" tanya Remilia penasaran.


Ziria pun menjawabnya, " Mereka dari guild sebelah, kelompok yang bersaing dengan kami. Hubungan kami tidak sebaik itu sampai bisa dibilang berteman sebenarnya, tapi orang-orang itu mulai berani sejak beberapa hari yang lalu." yang artinya sejak Derrick mulai diracuni.


" Mereka menyebalkan, sama seperti ketua mereka." Yi juga kelihatannya tidak suka dengan itu. Bahkan untuknya, Aksa dan Israhi, kelompok itu menjadi pengganggu yang menyebalkan.


Dan Mira yang mendengarkan pun mulai bicara, " Sepertinya aku mulai paham dengan situasi saat ini." itu bukan hal yang aneh yang terjadi.


Kelompok yang bersembunyi dibalik bayangan dan menunggu kesempatan dalam kesempitan, kemudian mendorong saingan mereka ke tepi jurang.


" Haruskah kita hentikan ini?" Mira terus menatap orang-orang itu sambil menutupi mulutnya menggunakan tangan yang bertumpu kepada meja.


Tapi Ziria terlihat ragu, " Itu..."


" Apa yang ingin kau lakukan lagi disini?!"


Suaranya terpotong oleh pertengkaran yang mulai memanas didepan sana.


" Kalian tidak diterima disini! Jadi cepat angkat kaki kalian pergi!."


" Hei, tenanglah sobat. Kami hanya ingin menemui Derrick sebentar." Siran menimpali pertengkaran itu dengan begitu santai sampai rasanya terasa aneh.


" Kau tidak bisa menemui ketua."


" Kenapa? Atau lebih tepatnya... apa yang terjadi?" Ketua mereka, Widen pun ikut angkat suara disana.


Orang itu terang-terangan memprovokasi orang-orang di aula, membuat suasana semakin panas dan riuh. Orang-orang mulai dengan jelas mengungkapkan ketidak sukaan mereka.


Sementara orang-orang yang datang itu tersenyum sinis kepada merek. Dan orang yang sepertinya memimpin mereka pun kembali bicara...


" Kenapa kami tidak bisa bertemu dengan Derrick? Apa terjadi sesuatu kepadanya?" dia tidak menyembunyikannya niat buruknya sama sekali.


" Orang-orang sialan...!!" salah satu dari pihak ini menyerbu ingin menyerang kelompok itu dengan gegabah.


Namun dia yang kehilangan ketenangannya dengan mudah ditahan dan dipukul balik oleh orang bernama Karon dipihak mereka....


Duak... Brakk..


Orang itu pun terhempas dan menabrak meja-meja lain yang ada disana..


" Aduduh, kenapa tiba-tiba menyerang begitu? Kau membuatku kaget." sementara orang yang membalas hanya tersenyum sinis dengan santainya.


Dan orang-orang yang lain terus menggeram marah kepada mereka, seperti sekumpulan singa yang ditantang oleh kelompok kecil Hyena. Mira menghela nafas panjang karena itu, memperlihatkan kegelisahan dihadapan orang-orang licik malah akan seperti memperlihatkan kelemahan kepada mereka.


Mira ingin situasi itu berakhir sebelum semakin runyam jika dibiarkan, dan seperti mengabulkan keinginannya suara manis pun terdengar jelas diaula itu...


" Kak Derrick sedang keluar."