The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Someone precious




Diluar labirin, beberapa saat setelah ledakan.



Semua orang benar-benar dibuat heboh dengan ledakan besar yang tiba-tiba terjadi, disaat yang sama... pemantau juga kehilangan koneksi dengan crystal proyeksi. Orang-orang langsung bertanya-tanya dengan apa yang terjadi didalam sana, beberapa juga khawatir karena saat ledakan itu terjadi... mereka yang ada didalam sedang bertarung satu sama lain.


" Bagaimana ini..??"


" Apa yang terjadi kepada mereka didalam?"


" Apa ledakan tadi itu karena salah satu tim?"


" Tidak mungkin, mereka semua kena disana. Itu pasti bukan ulah mereka."


" Jadi siapa?"


Orang-orang berasumsi dalam kebingungan, hingga membuat tempat itu menjadi sangat bising. Sementara dibelakang mereka, tepatnya diatas podium, mereka yang tahu apa yang terjadi langsung panik.


Terutama Israhi dan juga Derrick.


" Israhi, Derrick! Berhenti!."


Mereka berdua langsung berlari masuk ke arah labirin, bahkan tidak mengindahkan teriakan Yi yang menghentikan mereka. Saat sesuatu yang lain keluar dari labirin lebih dulu dan membuat keduanya berhenti, sebuah asap berwarna ungu.


" Semuanya mundur dari labirin!!" Mira langsung bergerak dengan hal itu, itu adalah asap racun.


Disaat yang sama dengan asap ungu itu yang semakin menebal dan bergerak kearah kerumunan. Orang-orang yang melihat itu pun langsung berlarian menjauh dan berteriak dengan panik, keributan itu tidak bisa dielakan.


Orang-orang saling mendorong satu sama lain, mereka bertubrukan dengan yang lain dan berusaha menyelamatkan diri sendiri dalam kepanikan.


Karena hal itu, untuk memperlambat racun tersebut, Mira dan Yi maju dan memasang barier api. Asap yang berjalan mendekat pun bisa ditahan sementara oleh dinding pelindung dengan temperatur yang begitu panas yang dibuat oleh dua orang dengan elemen utama api disama.


Mereka berusaha mengulur waktu untuk orang-orang pergi ke belakang sana...


" Ugh, yang benar saja hal ini harus terjadi disaat seperti ini." Yi benar-benar tidak menduga kalau hal seperti itu akan terjadi.


Mira yang ada disampingnya pun kemudian menyahutinya, " Aku juga tidak. Kupikir semuanya akan baik-baik saja meski aku merasa janggal-... Khok!"


" Mira?!!"


Yi terkejut dengan hal itu. Mira baru saja memuntahkan seteguk darah dari mulutnya, meski begitu ia sama sekali tidak mengurangi kekuatan nya.


" Tidak apa-apa... jangan katakan apapun tentang ini." ia pun kemudian berkata demikian sambil menyeka darah dari mulutnya.


Itu juga hal yang membingungkan bagi Yi, kondirinya memperlihatkan dia tidak baik, tapi energi dalam dirinya memperlihatkan kalau dia baik-baik saja. Jadi kenapa dia memuntahkan darah??


" Kukuku..."


Tak lama, perhatian mereka yang ada disana pun teralihkan kepada suara tawa itu. Dan seseorang keluar dari labirin...


" Ahahaha! Lihatlah wajah-wajah tidak berdaya itu, benar-benar lucu!" seorang pria tertawa kegirangan dari pintu masuk lebirin.


" Kau..." Mira benar-benar serius bertatap muka dengan orang itu, di lihat dari ekspresi nya dia terlihat seperti orang yang memiliki dendam kepadanya.


Dan orang yang baru saja keluar itu pun tersenyum kelihatan tertarik, " Ho... Apa kau mengenaliku??" dia berkata dengan angkuh.


Yang lain juga penasaran dan gugup dengan hal itu, mereka bertanya-tanya apa yang terjadi diantara mereka. Saat Mira yang serius disana kemudian berkata...


" .....Siapa kau?"


Semua orang langsung terperangah dengan hal itu, dia memasang ekspresi seperti itu padahal dia tidak tahu siapa orang itu. Itu berhasil membuatnya terkejut pada awalnya, akan tetapi rupanya itu hanyalah sebuah guyonan.


Bukan hanya mereka yang terkejut dengan responnya itu, bahkan orang itu juga sama. Dia terlihat cukup tersinggung dengan kata-katanya...


" Apa maksudmu 'siapa kau'?! Jadi kau ini tahu atau tidak tahu?!" teriaknya dengan ekspresi kesal.


Namun Mira hanya melambaikan tangannya dengan santai dan berkata, " Tidak, tidak. Aku tidak ingat pernah ketemu sama ikan teri sepertimu." ucapnya dengan ekspresi datar.


" Apa kau benar-benar tidak tahu?! Ini aku! Peracik racun terbaik didunia ini, sang alkemis jenius, Riol!!"


Mira tidak terlalu menanggapinya, dia hanya menatap dengan ekspresi tidak meyakinkan.


" Beraninya kau!!" sementara orang itu semakin kesal dengan tingkah Mira.


Sementara dibelakangnya, secara tidak terduga kalau Derrick muncul disana dengan ekspresi yang begitu gelap, dan langsung mengayunkan pedang hitam besarnya kearah orang itu.


Sayang orang yang mengaku kalau namanya Riol itu menyadari serangan tiba-tiba nya dan langsung menghindari, pedang besar Derrick pun jatuh menghantam tanah dengan kekuatan yang cukup besar bahkan sampai membuat tanah disekitarnya hancur.


Duakk...!!


" Wow, wow. Kekuatan yang bagus.." itu belum selesai, kali ini Israhi yang muncul dan berniat memotong kepala nya dengan gerakan pedang yang halus. "...Serangan bagus."


Tapi Riol rupanya lebih peka dan gesit, dia langsung saja memutar tubuhnya ke udara dan melompat menghindari serangan Israhi dengan beralih ke belakang nya.


Keduanya terlihat mengeraskan ekspresi wajahnya dengan begitu marah.


" Apa yang kau lakukan kepada Remilia dan Aksa??"


" Dimana Altair?"


Dan kedua nya pun bertanya tentang mereka. Disisi lain, Riol memikirkan hal tersebut...


" Altair?? Yang mana satu? Ada lima perempuan didalam sana." ucapnya dengan ekspresi bingung.


" Anak berambut hitam dengan mata biru!."


Riol memikirkan kembali hal itu, saat kemudian dia teringat dengan orang yang melawannya dengan mengesankan didalam labirin.


" Ah, jadi namanya Altair. Yah, aku tidak tahu. Dia anak yang kuat, apa kalian punya hubungan? Itu menjelaskan mengapa dia begitu kuat." ucapnya pula dengan santai.


Namun berbeda dengan orang itu, Derrick tidak punya satupun hal yang ingin ia dengar tentang seperti apa Altair, kecuali... " Apa yang kau lakukan padanya..?"


Kecuali keadaannya.


" Hm, entahlah. Aku memberinya racun, jika beruntung mungkin dia masih hidup. Tapi jika tidak..." Riol mengangkat tangannya kemudian menutupi mulutnya, saat dia berbisik pelan disana. ".... Dia mungkin sudah mati."


Derrick yang mendengar itu membuat menegang, itu adalah kata-kata yang tidak pernah ingin ia dengar dalam hidupnya.


Dalam sesaat yang singkat itu, kepala Derrick terasa kosong, panas tubuhnya meningkat dengan pesat namun jari-jari tangannya terasa sangat dingin. Ia menggenggam pedang ditangannya dengan erat, ketika sesuatu dalam dirinya membisikan sesuatu kepadanya. Dan seketika, ekspresi nya pun langsung mengeras.


{"Bunuh dia"}


Suara itu muncul dalam kepalanya, mendorong Derrick untuk menyerang Riol secara langsung.


Itu serangan yang jelas, namun kecepatannya sungguh luar biasa. Derrick bergerak lebih cepat daripada sebelumnya dan terus melayangkan serangan yang bertubi-tubi. Derrick tidak bisa membiarkannya begitu saja setelah mendengar itu.


Altair... Gadis yang ia pedulikan, anak yang ia cari selama 5 tahun lamanya, orang yang menjadi sukacita nya yang ia temukan. Padahal mereka baru saja bertemu, tapi apakah keduanya harus dipisahkan secepat ini?? Derrick tidak bisa menerima hal itu.


Riol yang diserang olehnya tentu saja tidak tinggal diam, dia beberapa kali menembakan jarum dan anak panah beracun yang sama dengan yang ia gunakan untuk menyerang Altair sebelumnya.


Namun Israhi yang ada dibelakang nya menangkis semua itu untuk Derrick.


Mereka memiliki kombinasi serangan yang cukup bagus, mungkin karena mereka telah mengenal satu sama lain. Keduanya pun jadi bisa bekerja sama dengan baik.


Namun ada hal yang perlu diingat siapa Riol yang sebenarnya. Dia bukanlah petarung ulung, melainkan seseorang yang bekerja dibalik bayangan. Keahlian nya juga bukan serangan langsung, melainkan... serangan tiba-tiba.


" Kena kau." ucapnya ketika Derrick menginjak tanah yang telah ia siapkan, lebih tepatnya.. jebakan.


Sebuah lingkaran sihir seketika muncul dan bersinar disana, dan sulur-sulur muncul dari lingkaran sihir itu dan mengikatnya.


" Apa-apaan ini.?!!" Derrick berusaha menarik semua sulur itu untuk melepaskan diri, namun sayang sekali, itu hanya membuat nya semakin terikat dengan erat. " Sialan!!."


" Derrick, berhenti berontak.." ucap Israhi yang bergegas datang kearahnya.


Disaat yang sama dengan itu, Riol pun mengarahkan sebuah anak panah kepada mereka.


" Sekarang coba yang ini." ucapnya ketika menarik panah itu, beberapa detik kemudian.. anak panah yang ia lepaskan melesat dengan cepat.


Itu terarah ke jantung Derrick, namun sekarang itu jadi menargetkan Israhi yang berdiri melindunginya. Anak panah tersebut akan segera menembus dadanya beberapa senti lagi, namun...


Clingk... Swoshh..


Pakk...


Sebuah pedang melesat lebih cepat dan langsung menghancurkan anak panah itu, anak panah itu pun jatuh diatas tanah bersamaan dengan pedang tersebut yang menancap tak jauh darinya. Semua orang pun hanya bisa memandangi itu dengan terkejut...


" A-apa..?" bahkan Israhi kehilangan tak bisa berkata-kata tentang hal itu.


" Siapa yang melakukan itu?!" sementara Riol langsung mengalihkan perhatian nya kearah labirin, tempat asal pedang itu.


Sesuatu berjalan mendekat keluar dari sana, itu bisa dirasakan semua orang yang ada disana. Dia yang memancarkan aura yang begitu besar dan tidak bisa diabaikan begitu saja.


" Haha... Inilah dia yang harusnya tidak kau lewatkan." ucap Mira ketika semua orang hanya terfokus kepada pintu masuk lebirin, membingungkan mereka yang mendengarnya. " ....Kau harusnya memastikan, apa dia benar-benar mati atau tidak." lanjutnya pula dengan gumaman kecil.


Saat disampingnya, Yi melemparkan sebuah tali yang ia buat dengan sihirnya, dan langsung menarik Derrick dan Israhi yang ada disana setelah terikat. Mira memintanya melakukan hal tersebut sebelumnya.


Dan ketika mereka telah sampai didalam penghalang yang mereka buat, sesuatu itu melangkahkan kakinya keluar dari labirin.


Itu... Altair.


" Haa... Ini cukup merepotkan karena Lumine harus beristirahat." ucap Altair sesaat setelah ia keluar dari lebih.


Sementara Riol terheran-heran kenapa dia bisa ada disana sekarang, " Ka-Kau... Kau.. Bagaimana bisa??" dia pasti sangat bingung sekarang.


Dia adalah pembuat racun yang handal, tidak pernah ada yang selamat begitu saja dari racun nya. Dan racun yang ia berikan kepada Altair adalah racun yang cukup kuat hingga bisa melumpuhkan seekor monster. Jadi bagaimana bisa Altair yang hanya manusia biasa terlihat baik-baik saja sekarang?


Namun berbeda dengan Riol yang bingung, Derrick yang melihat nya baik-baik saja jadi merasa lega. Setidaknya Altair tidak pergi ke manapun yang tidak bisa ia jangkau.