
Saat ini, Altair sedang memandang seseorang yang baru ia temui dalam keheningan. Orang itu juga sama, ia terus menatap Altair tanpa mengalihkan perhatian nya sedikit pun.
Cukup lama mereka saling pandang satu sama lain tanpa satu patah katapun yang terucap, namun kemudian orang itu, yang adalah Tirus pun berkata...
" Haah... Sama merepotkan seperti ayahnya.. " ucapnya sambil menghela nafas lelah dengan wajah malas.
" Hah..?!!" disisi lain Altair syok mendengarnya, tanpa menyadari apa yang baru saja dia katakan tentangnya.
" Aku Titus Sanchez. Kau.. Altair Drosera, bukan? " tanya Titus kemudian.
Altair tersadar setelah mendengar itu, " Ah, iya. Bagaimana anda bisa tahu? " tanya balik Altair bingung.
" Tidak penting aku tahu dari mana, yang jadi masalah itu... Bisa-bisanya kau keluar dari istana tanpa izin, belum lagi tanpa pengawalan! Apa kau tahu sekejam apa dunia luar itu, hah?!" ucap Titus sambil mencubit kedua pipi Altair cukup keras.
" Atit..!" Altair rasanya ingin menangis, tapi dia terlalu bingung karena orang dihadapannya ini adalah orang yang baru pertama kali ia temui, tapi dia tahu banyak hal tentangnya. Dan mengapa dia begitu paduli..?
Titus pun melepaskan pipi Altair, yang kemudian diusap Altair dengan wajah cemberut menahan sakit.
" Lewat sini.. " ajak Titus padanya.
Altair hanya mengikuti dengan patuh tanpa banyak bertanya. Titus membawa Altair ke ruangan pribadinya, dimana ia duduk dibalik meja disana menatap sebuah buku yang terbuka didepannya.
" Duduklah dikursi sampai aku selesai menulis buku ini, baru katakan apa yang kau mau. " ucapnnya sambil menunjuk kursi yang dimaksud.
Altair duduk sambil terus memperhatikannya, Titus sangat fokus kepada apa yang sedang dia lakukan. Tangannya begitu lincah memainkan pena bulu yang ia pegang untuk menulis buku itu, dan... jujur saja Altair penasaran dengan apa yang sedang ia tulis.
Altair hendak menanyakan itu, tapi baru juga ia membuka mulutnya, Titus terlebih dahulu menyahutinya. " Aku tidak akan menjawab pertanyaan jika kau menggangguku." ucapnya yang membuat Altair langsung bungkam.
" Dia ini kenapa sih?? " batin Altair agak kesal.
Tidak ada yang bisa dilakukan nya disana, di tempat itu hanya ada buku.. banyak sekali buku. Lebih ke sebuah perpusatakaan rahasia.. Altair mengedarkan pandang nya keseluruh panjuru ruangan, tempat itu terlihat tua.. tapi sangat indah dengan ornamen-ornamen yang terukir didinding ruangannya..
Perhatian terakhirnya kemudian terkunci kepada buku besar bersampul biru diatas meja tepat disampingnya... Judul buku itu tertulis dengan nama seseorang yang ia kenal, yaitu Yin.
Altair melirik Titus sejenak, ia masih kelihatan sibuk dengan apa yang sedang ia lakukan. Karena itu Altair akhirnya mengambil buku itu dan melihat apa yang ada didalamnya...
Itu hanya sebuah cerita, kisah masa lalu dan pertumbuhan yang telah dilewati oleh Yin sampai akhirnya bisa sampai sekarang, menjadi kapten pasukan istana. Itu adalah hal yang ia baca dari halaman berwarna putih, dan halaman berikutnya adalah halaman dengan warna abu-abu.
Ia hendak membuka kertas putih yang memisahkan keduanya, saat kemudian buku itu diambil darinya... " Ah! Aku belum selesai membacanya.." keluh Altair kepada Titus yang mengambil buku itu darinya. Ia tidak menyadari kedatangannya karena telalu fokus kepada buku yang ia baca.
" Hanya sampai situ saja, halaman berikutnya adalah bagian yang tidak boleh kau baca. " ucap Titus menyahuti keluhan Altair.
" Kenapa? Memangnya apa yang ada dihalaman berikutnya?" tanya nya dengan penasaran.
" Ramalan masa depan. " jawab Titus yang berjalan kesebuah rak dan menyimpan buku itu.
Sementara disebrangnya, Altair yang masih duduk sambil mengerucutkan bibirnya. " Oh, ramalan masa depan.. " gumamnya tak peduli, sampai kemudian dia sadar dengan hal itu." Hah?! Ma-Masa depan?! Anda bisa meramal masa depan?! " tanya Altair sedikit berteriak.
" Yup.. " dan Titus yang menjawab seadanya.
" Kalau begitu apa anda bisa melihat masa depan ku??" tanya Altair antusias.
" Sudah kubilang, itu hal yang tidak perlu kau ketahui. " sahut Titus yang menghela nafas lelah.
" Kenapa? Apa masa depanku seburuk itu? " Altair mulai berpikir negative.
" Baik buruknya masa depan itu kau yang tentukan, aku hanya menulis apa yang aku lihat tentang masa depan seseorang. Itu tidak sepenuhnya akurat, masa depan bisa saja berubah lagi, karena itu isi bukunya juga harus kuubah lagi. " jelas Titus panjang lebar.
" Lalu masa depan siapa yang sedang kau tulis sekarang? " tanya Altair pula antusias.
" Mira Marlon. " jawab Titus.
" Boleh kulihat??" pinta Altair.
" Tidak." tolak Titus.
" Cih..." decih Altair yang kesal karena ditolak oleh Titus, ia penasaran dengan masa depan gurunya.
Jujur saja, Titus merasa agak aneh sekarang. Sifat Altair benar-benar berbeda dengan yang lain, dia terlihat imut. Sama sekali tidak mirip dengan tiga orang yang ia kenal, yang mana dua diantaranya selalu berwajah datar dan tidak pedulian, sementara satu lagi selalu tersenyum menyebalkan.
Ia sampai berpikir, mungkin saja dia tidak memiliki hubungan dengan ketiga orang itu...
" Oh, benar. Aku ingin tahu, Pintu Dunia Bawah itu apa? Ada dimana? " tanya Altair.
Yang mana membuat Titus menatapnya terkejut mendengar pertanyaan nya, " Itu... " Namun perkataannya terpotong sebelum menjawab yang pertama, saat Altair bangkit dari duduk nya dan mulai menghampiri Titus.
" Lalu apa hubungannya dengan seseorang bernama Lize? Apa dia orang penting? Siapa dia? Hari yang dijanjikan itu apa? Kapan? Siapa yang akan datang? Pertarungan selama 100.000 tahun itu apa? Apa yang dihancurkan? Dan apa yang harus diperbaiki?!." ucap Altair dengan antusias.
Ia menatap lekat Titus yang saat ini ada di hadapannya, yang belum menjawab satu pun pertanyaan nya.
Titus pun memegang kedua pundak Altair dan sedikit menjauhkannya lebih dulu, " Pertama-tama, tenanglah dulu dan ceritakan apa maksud dari pertanyaanmu yang banyak dan menggebu-gebu itu. " ucapnya pada Altair.
Dan sesuai apa yang diminta nya, Altair menceritakan semua nya kepada Titus. Bermula dari mimpi yang ia lihat dan bangau kertas yang ia dapatkan...
Titus juga kelihatan nya mendengarkan dengan seksama, jadi ia bisa mengerti garis cerita yang membuat Altair datang padanya hari ini...
" Oke, jadi itu semua berawal dari mimpi yang kau lihat. Karena nya kau penasaran apa maksud mimpi itu??" tanya Titus setelah mendengar keseluruhan cerita itu.
Yang kemudian diangguki oleh Altair, " Iya..."
Titus menyenderkan punggungnya dikursi masih sambil menatap Altair, kemudian ia pun berkata.. " Jujur saja aku tidak tahu apa maksud mimpi itu. " ucapnya dengan santai.
Yang disambut raut wajah kecewa dari Altair, " Apa? Kupikir kau tahu.. "
" Aku tidak tahu maksud mimpi mu, tapi aku bisa menjawab beberapa pertanyaan mu barusan." katanya pula yang kembali menarik perhatian Altair.
" Pertama, Pintu Dunia Bawah itu tentu saja pintu yang menghubungkan dunia ini dengan dunia bawah. Jalan masuk dan keluar para iblis dari dunia bawah untuk datang dan pergi. Dan juga jalan yang menghubungkan dunia bawah milik dewa dunia bawah, Hades."
" Oh..."
" Itu ada dibawah perlindungan dua klan iblis terkuat didunia tengah, tempat suci yang tidak boleh didatangi sembarangan. Kusarankan kau jangan kesana, juga... sebisa mungkin jangan berhubungan dengan seseorang bernama Lize kecuali kau benar-benar butuh. "
" Baiklah..."
" Sisanya aku tidak tahu. " begitulah Titus menjelaskan apa yang ia tahu untuk menjawab pertanyaan Altair.
Altair mengerti, tapi itu tidak menjawab setengah dari pertanyaan yang ia ajukan... " Lalu pertarungan 100.000 tahun itu apa? Apa dulu pernah terjadi pertarungan besar? " tanya Altair
Titus memiringkan kepalanya tidak yakin, " Aku kurang yakin... tapi dari yang ku ketahui, pertarungan yang terjadi 100.000 tahun lalu itu pertarungan para dewa. Jadi jangan menggali terlalu dalam atau kau akan kehilangan arah. Jika kau terlibat, kau akan tahu sendiri suatu hari nanti. " jawabnya dengan tenang.
Altair menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia makin bingung. Jika itu pertarungan para dewa, mengapa mimpi itu datang padanya, apa hubungannya dengan semua itu. Pertanyaan nya tidak berkurang, malah bertambah...
Tapi ia ingat sesuatu yang lebih penting... " Oh iya, bagaimana dengan bangau kertas itu? Apa anda bisa menebak siapa yang mengirimnya?? " tanya Altair kepada Titus yang sudah kembali melanjutkan tulisan yang sebelumnya.
Titus yang mendengarnya pun menopang dagunya dengan wajah malas, " Ya kalau itu kau yang harus cari tahu sendiri, kau bilang itu terasa tidak asing kan? Mungkin dari seseorang yang kau kenal, tapi tidak pernah kau temui. " ucapnya kelihatan tidak tertarik.
Sedangkan Altair berpikir, " Seseorang yang kukenal... tapi tidak pernah kutemui..." gumam Altair pelan, ia tidak punya orang yang dikenal lagi. Semuanya sudah meninggal dimalam 'Malam Mawar Jatuh'. (itu nama yang diberikan kepada tragedi desa Altair)
****
Altair baru saja keluar bebarapa saat yang lalu, kini Titus kembali sendiri melanjutkan menulis masa depan Mira. Ia tahu kalau wanita itu adalah guru Altair, dia pasti sangat penasaran dan ingin melindungi masa depan guru tersayangnya, namun ada alasan mengapa ia tidak memperbolehkan Altair melihat masa depan nya.
Titus menatap buku itu sendu, " Akan labih baik jika dia tidak tahu dan tidak merasakan hal ini selamanya." gumamnya yang kemudian menutup buku itu.
***
Sementara itu Altair yang masih ada dikota, ia berpikir apa yang harus ia lakukan sekarang. Kembali tidak akan bisa membuatnya menemukan jawaban dari yang ia cari, dan ia tidak bisa mengatakan hal itu kepada orang lain juga.
" Haah... Aku benci pertanyaan tanpa jawaban.. " keluh Altair kesal.
Ia melihat kesekelilingnya, tidak ada yang menarik perhatian nya hari ini. Sampai kemudian sesuatu terlintas dikepalanya...
" ...Lebih baik aku melihat desa sekarang lah, tidak masalah kan? Tinggal kukirim surat ke istana?? " gumamnya mempertimbangkan hal itu, meski jawabannya sebenarnya sudah bulat sejak awal. " Okeh, ayo pergi! " ucapnya dengan penuh semangat.
Saat secara kebetulan ia berpapasan dengan seseorang, dan orang itu merasakan sesuatu yang aneh dari Altair. Dia mengenakan jubah hitam ditengah kerumunan, terus memperhatikan Altair yang melangkah mulai menjauh dari sana.. Sampai akhirnya ia pun mengikuti nya...
...************...
* Titus Sanchez