The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Masked girl warning



Kabar tentang apa yang terjadi kepada Altair menyebar diantara para pelayan istana seperti sebuah air, bahkan meskipun Kaisar memerintahkan mereka untuk tutup mulut kabar lebih cepat beredar dari mulut ke mulut.


Banyak kabar buruk yang menduga-duga apa yang terjadi, kebanyakan bilang pelakunya adalah orang yang iri dengan Altair yang begitu bersinar dipergaulan sosial. Dan menjadi pusat perhatian semua orang. Matahari pun mulai tenggelam, malam hari menjadi lebih dingin dibandingkan malam-malam lainnya.


Ditengah kota yang masih ramai dengan toko-toko yang masih buka dan orang-orang yang berkeliaran disana. Istana Marigold begitu sunyi dan sepi, tiap lorong disana hanya diisi oleh kegelapan. Dan didepan kamar Altair ada Mira dan Yin yang diam menjaga tempat itu secara pribadi.


Dan didalam kamar, Altair yang sebelum nya terus tertidur pun membuka matanya. " Perutku sakit. " ucapnya pelan, ia pun bangkit dari tidur nya dan duduk disana.


Sementara disampingnya, Zico duduk memperhatikan nya dalam diam. Altair pun tersenyum padanya dan mengusap kepala Zico.


" Ada apa, Zico? Apa sesuatu baru saja terjadi?" tanya Altair dengan suara pelan.


Gyuu..Kyuu..


Namun Zico malah mengomelinya dengan wajah kesal, itu karena Altair yang tidak berhati-hati sampai akhirnya terjadi kasus karacunan itu. Jika saja Altair tidak bisa menawarkan semua racunnya, dia mungkin sudah tinggal nama saat ini.


Dan Altair yang mendengar nya hanya cengengesan, kemudian dia teringat. " Zico, siapa dalangnya? Kau mendengar pembicaraan Kaisar dan Tuan Yin bukan? " tanya Altair dengan sangat serius.


Kyuu...


Mendengar pertanyaan itu, Zico pun segera naik ke pundak Altair dan membisikan apa yang ia dengar dari mereka berdua. Yah, pelaku yang menaruh racun telah mati, namun dalang utamanya belum. Zico menduga orang-orang itulah yang melakukan nya.


" Hm, jadi mereka membuat ulah lagi. Aku tahu Kaisar pasti akan segara menemukan bukti, tapi aku tetap kesal jika membiarkan hal itu begitu saja. " gumam Altair, yang kemudian bangkit dari kasurnya.


Altair berjalan kearah pintu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara sedikit pun, kemudian menepelkan telinganya kepintu itu. Ia tidak mendengar apapun, dari yang ia rasakan Mira dan Yin ada disana, kemungkinan keduanya sedang setangah tidur.


Altair pun kembali kearah kasurnya dan mengambil sesuatu dari dalam laci meja disampingnya, topeng peninggalan teman lamanya. Ia memakai topeng itu, sehingga auranya terhapus sepenuhnya. Dan untuk mengelabui Mira dan Yin yang punya insting yang tajam, ia mengeluarkan Lumine yang memiliki aura mirip dengannya dan menggantikannya berada didalam sana.


Sementara itu Altair dan Zico pergi keluar melalui jendela, tanpa disadari oleh siapapun...


Sementara di tempat lain, para pelaku yang melakukan hal itu kepada Altair, saat ini sedang gembira mendengar kabar itu. Mereka pikir semuanya sudah berjalan sesuai rencana dan semuanya akan berada dalam genggaman mereka.


" Ahahaha.. Apa ayah dengar itu?? Dia langsung muntah darah, dengan Racun Belladonna dia akan langsung mati ketika matahari terbit esok hari. " ucap perempuan yang ada disana, Rara Orzsbet.


" Tentu saja, Putri ku. Itu adalah Racun langka yang menemukan obatnya juga susah, dia tidak akan selamat. " dan ayahnya.


Tentu saja mereka... ( ͡°_ ͡°)


Siapa lagi dua orang jahat yang merasa pintar tapi aslinya tidak terlalu pintar.


Rara terlihat begitu senang saat mendengar Altair keracunan, dia yang merencanakan semua itu. Dan dia juga yang menyuruh orang untuk membunuh pelayan yang menaruh racun di minuman Altair untuk menghilangkan jejak. Namun ia tidak menyadari kesialan justru sedang berjalan menghampirinya.


Meski begitu, disaat-saat seperti ini, ia tetap mengharapkan posisi putri mahkota menjadi miliknya. " Ah~ Aku tidak sabar untuk diangkat menjadi putri mahkota dan mendampingi pangeran Theodore. " ucapnya dengan ekspresi malu-malu, bersikap seolah-olah menjadi gadis polos yang tidak tahu apa-apa.


" Jangan khawatir, putriku. Kau akan mendapatkannya. " ucap sang Duke pula dengan penuh percaya diri, sambil mengusap kedua putrinya.


Saat tiba-tiba jendela besar disamping mereka terbuka lebar...


Wusshhh...


" Kyaa!!.."


" A-Apa ini??"


Angin besar kemudian masuk kedalam dan mengacak-acak seluruh tempat itu, menerbangkan kertas-kertas diatas meja bahkan rambut Rara yang tertata rapi. Dan dari luar kemudian... Sesosok gadis berambut emas masuk ke dalam sana, sambil mengenakan topeng yang menutupi wajahnya.


Terbang masuk ke dalam sana menghampiri mereka berdua...


" Si-Siapa kau?! Mengapa penjaga diam saja?! Hei, yang diluar! Siapa saja cepat kemari!!" ucap sang duke yang merasa tertekan, dan berusaha melindungi putri kesayangannya.


" Percuma. " namun sosok perempuan itu bicara padanya dengan suara dingin. " Tidak ada siapapun yang akan datang membantumu. " ucapnya pula.


" Siapa kau? A-Apa yang kau inginkan dari kami?! " tanya sang duke pula berusaha menyembunyikan ketakutannya.


" Ayah, aku takut. " sementara putrinya telah menangis lebih dulu karena hal itu.


" Tidak apa-apa, Rara. Tidak apa-apa, ayah akan melindungimu. " sahut sang duke sambil memeluk putri kesayangannya.


Sedangkan sosok gadis bertopeng itu kini tepat berada didepan mereka, " Hmph. Sungguh drama ayah dan anak yang menyentuh, sayang sekali kalian terlalu jahat dan serakah sebagai manusia. Sampai mencelakai seseorang yang bahkan tidak pernah mencari masalah dengan kalian. " ucap nya kepada mereka berdua.


Suaranya terdengar begitu dingin dan penuh peringatan, Duke Orzsbet merasa kalau hidupnya sedang dalam bahaya saat ini. Namun dia sama sekali tidak mau merendahkan harga dirinya, setidaknya hanya untuk menyelamatkan nyawanya sendiri.


" A-Apa yang kau katakan?! Aku sama sekali tidak tahu maksudmu! " ucapnya masih angkuh seperti biasanya.


" Jangan pura-pura tidak tahu, karena aku mengetahui semua nya. Semua yang telah kau lakukan selama ini. " ucap gadis bertopeng itu pula.


" Kami tidak melakukan apapun! Pergi sana dasar wanita gila!! " pekik Rara pula padanya.


" Be-Benar! Jangan macam-macam denganku, aku ini seorang duke-..."


" Aku tidak peduli. " gadis itu memotong ucapan Duke Orzsbet bahkan sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya. " Kalian semua, aku memperingati kalian. Jika kalian berani menyentuhnya lagi, aku bersumpah kalian akan kehilangan segalanya. Baik harta, status maupun harga diri kalian yang begitu tinggi itu. " ucap gadis itu.


Angin kencang pun kembali berhembus dari belakangnya, menghalangi pandangan Duke dan putrinya itu. Dan ketika mereka membuka mata mereka lagi, gadis itu telah hilang dari hadapan mereka.


Disaat yang sama, para penjaga yang sebelum nya begitu mereka butuhkan baru saja berdatangan dan dibingungkan dengan apa yang terjadi disana. Pasalnya mereka sama sekali tidak melihat kalau ada penyusup yang masuk ke kediaman itu.


Sedangkan diatas sebuah atap dikota, gadis itu kini duduk disana menatap rembulan diatas kepalanya, kemudian membuka topengnya itu. Yah, tentu saja dia adalah Altair.


" Haah... jujur saja aku tidak yakin mereka akan menyesal hanya dengan hal seperti itu. Orang seperti mereka harus diberi pelajaran dengan keras dulu baru sadar. " ucap Altair kepada Zico yang duduk disamping nya saat ini.


Disisi lain, Zico hanya menatap Altair dengan ekspresi marah saat ini.


Altair hanya cengengesan melihat itu, " Hehehe.. tidak apa-apa, Zico. Kita hanya sebentar diluar, setelah kembali aku akan segera beristrirahat sampai sembuh. " ucap nya berusaha menenangkan Zico yang marah.


Zico sendiri hanya menghela nafas setelah mendengar itu, dan Altair menganggap kalau itu artinya Zico berkata 'Baiklah' kepadanya.