The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Those who are left behind are never truly alone



Sementara itu ditempat lain, dihutan cukup jauh dari kota. Beberapa orang memang sedang kelihatan sibuk merapal mantra dalam lingkaran sihir yang mengelilingi mereka. Saat kemudian, salah satu diantara mereka berhenti, dan itu membuat yang lainnya juga ikut berhenti.


" Monster-monster itu sudah mati." ucap orang itu yang disambut raut wajah terkejut dari yang lain.


" Bagaimana bisa secepat ini? Jumlah mereka lebih dari 200 ekor."


" Siapa orang yang sudah membereskan mereka sekaligus? Atau... berapa banyak yang datang membasmi??"


Anggota nya yang lain penasaran dengan itu, namun orang yang memimpin, yang mungkin adalah orang yang mengendalikan monster-monster itu menggelengkan kepalanya kepada mereka.


" Awalnya hanya ada empat orang, saat kemudian seseorang datang. Dialah.. yang membunuh mereka." jawab si pemimpin itu.


" Apa?! Bagaimana bisa? Apa kau melihat wajahnya?"


" Sayangnya tidak. Entah kenapa... penglihatan yang kubagi dengan para monster tidak bisa melihat nya. Seolah ada sesuatu yang menghalanginya. Tapi jelas-jelas yang aku lihat itu adalah seorang wanita, dia menyemburkan api kebiruan yang begitu kuat."


" Wanita?? Apa dia salah satu dari 'para pahlawan'?"


" Kurasa bukan. Aku tidak dengar kalau ada wanita yang bisa menyemburkan api kebiruan diantara mereka."


Mereka dibingungkan dengan semua rasa penasaran yang mereka miliki sendiri. Sangat yakin tidak akan ada yang datang kesana dengan cepat, mereka tidak menyadari bahaya dari atas mereka yang membaur dalam kegelapan. Sampai...


Syuutt!!


" Kuackk...!!"


...Sampai salah satu diantara mereka tumbang dengan luka besar dipunggungnya, oleh sosok yang tidak mereka perkirakan.


" Sialan! Siapa kau..!!"


Salah satu dari mereka mencoba menyerang nya sementara yang lain bergerak untuk menangkap orang itu. Namun dia bergerak dengan cepat, memutar tubuhnya dan melompat tinggi setelah menusuk leher orang yang ingin menyerangnya itu. Dan sosoknya pun kembali menghilang dalam kegelapan disekitar mereka.


Tidak perlu lagi ditanyakan siapa itu, karena sejak awal hanya ada satu orang yang datang ke sama disaat Altair dan yang lainnya fokus kepada apa yang terjadi dikota.


Sementara orang-orang yang terkejut karena serangan mendadak itu pun langsung berkumpul disatu tempat yang sama, hal seperti itu.... hanya mempermudahkan serangan dari orang yang sejak awal menargetkan mereka.


Dia menjatuhkan diri dari udara, tepat ditengah-tengah orang-orang itu. Saat mata merahnya yang tajam menyapu setiap wajah yang terkejut karena kehadirannya, bilah dari pedangnya bergerak dengan cepat memotong angin dan menebas mereka semua.


" Koackk!"


" Aaghh!"


Mereka semua tumbang satu persatu ditanah, Israhi menatap mereka dalam keheningan dan membersihkan darah yang ada diwajahnya. Saat kemudian matanya beralih kepada satu-satunya anggota orang-orang misterius itu yang selamat dari pedangnya.


Orang itu menggigil dalam ketakutan dan hanya memandangnya dengan ekspresi putus asa. Dan saat Israhi berjalan menghampirinya, pria itu langsung beringsut menjauh darinya.


" To-Tolong.. jangan bunuh aku.. aku janji tidak akan melakukan ini lagi.." ucap pria yang ketakutan itu, saat Israhi mengarahkan pedang nya ke arah nya.


" Kau berani meminta pengampunan setelah menyebabkan nyawa orang lain yang tidak bersalah mati sebelumnya? Karena kau bisa dengan mudah melakukan semua ini, maka seharusnya kau siap untuk menanggung semua akibatnya juga."


Tidak ada kesempatan bernegosiasi, bahkan hanya untuk sebuah keselamatan dari satu orang yang telah membuat masalah.


" Katakan dari mana kau berasal?" Israhi ingin tahu motiv apa yang dimiliki kelompok tidak dikenal ini untuk melakukan penyerangan kepada kota yang jelas tidak memberikan keuntungan kepada mereka.


" Ka-kami... bintang.. fa-.. heukk!!"


Namun sebelum orang itu menyelesaikan perkataannya, dia bertingkah aneh. Dia tiba-tiba terlihat seolah-oleh sedang tersedak dan menggeliat-geliat terlihat kesakitan.


Israhi yang melihat itu cukup terkejut, namun ia bertindak cepat dan langsung memukul pria itu supaya dia pingsan. Dan sesuai dugaannya, dia juga kembali normal setelah kehilangan kesadaran nya.


Dia tidak bisa kehilangan sumber info penting, meskipun itu hanya potongan terkecil.


" Israhi, kau akan apakan orang itu??"


Saat itu suara lain datang dari belakang sana, dan sosok pemiliknya pun terungkap dari kegelapan. Aksa, berjalan dengan santai sambil menempatkan kedua tangannya dibelakang kepalanya.


" Dasar, padahal kau yang memintaku datang kesini. Tapi ternyata semuanya selesai bahkan sebelum aku dapat giliran. "


" Itu tidak penting, kan? Yang paling penting adalah mendapatkan informasi. Pria ini akan berguna, jadi sebaiknya kita tidak kehilangannya."


Aksa yang mendengar nya mengalihkan matanya ke arah pria yang sebelumnya dipukul Israhi, kemudian mendekatinya sambil menyiapkan sebuah tali untuk mengikatnya.


" Dia mungkin melakukan perjanjian dengan seseorang, karena itu dia tidak akan bisa buka mulut dengan mudah. Bahkan jika dia sendiri ingin melakukan nya. "


Israhi tahu betul apa yang dimaksud oleh Aksa. Pria itu dibawah sumpah untuk tidak membuka mulutnya kepada siapapun.


" Itu sulit. "


" Tidak akan sulit jika kau bisa menemukan orang yang bisa memecahkan sumpah itu."


" Biaya pemecahan sumpah sangat besar, kau pikir ada yang mau mengambil resiko?."


Itu benar. Karena harga yang mahal itu, jika gagal.. seseorang bisa saja terkena luka yang parah hingga kematian jika tidak bisa menahan efek pemecahan. Hanya mereka yang ahli yang bisa melakukan nya, itu pun jelas perlu kehati-hatian yang tinggi.


Cukup lama mereka berpikir sambil menunggu. Akhirnya teman-teman mereka yang lain pun datang juga, Remilia pun langsung menjelaskan apa yang sudah terjadi disana dan masalahnya sudah selesai. Mereka kelihatan baik-baik saja tanpa luka serius, itu bagus mengingat mereka menghadapi monster sebanyak itu. Tidak ada laporan korban juga dari mereka.


Meski Israhi dan Aksa penasaran seberapa dahsyat serangan yang dilakukan Altair.


" Aku tahu dia kuat. Tapi aku tidak tahu kalau dia sekuat itu..." ucap Aksa sambil memandang Altair yang sedang duduk dan diganggu oleh Yi dan Mira karena luka yang ia sebabkan sendiri. "...Kau bilang panasnya sekitar 3000° celcius lebih? itu sudah cukup untuk membakar seseorang menjadi abu dalam sekejap." lanjutnya pula.


" Iyah, kami juga terkejut..." Remilia tidak bisa mengatakan apapun juga untuk hal itu. Siapapun pasti tidak akan menyangka.


Namun rasa penasaran Remilia kini teralihkan kepada orang yang pingsan dan terikat disana.


" Jadi... Orang ini siapa?" Remilia ingin tahu hal itu.


Mendengar pertanyaan itu, Aksa dan Israhi pun secara bersamaan kepada orang itu. " Ah, Dia orang yang selamat dari sekian dalang dibalik serangan monster ini. Kami tidak bisa menggali informasi darinya karena sumpah yang ia lakukan, jadi kami mengikatnya saja dulu. " jelas Aksa atas hal itu.


" Jadi kita perlu menemukan orang yang bisa memecah sumpah itu dan tempat untuk mengintrogasinya, ya?"


Yeah, Remilia benar. Tapi dimana mereka bisa melakukan itu...


Saat sebuah tangan kemudian merangkul pundak Remilia yang dengan serius memikirkan hal itu, dan dia pun langsung mengalihkan perhatiannya.


" Apa yang kau khawatirkan? Kita bisa menyerahkannya ke Foldes." ucap Mira dengan santai.


" Ke Foldes?" Remilia baru ingat hal itu.


Kenyataannya, Mira masih menjadi ketua pasukan pertama kekaisaran Foldes. Tentu saja dia memiliki akses ke istana untuk membuka penjara kekaisaran. Tapi... apa kekaisaran benar-benar bisa menerima orang ini dipenjara nya atau tidak.


Seolah mengetahui isi pikirannya, Mira pun mengangkat tangannya dan menyentuh hidung Remilia. " Kau tidak perlu khawatir soal itu. Mau bagaimana pun juga penjahat tetaplah penjahat, dan penjara dibuat untuk mengurung penjahat. Jika kau mengkhawatirkan soal informasi nya, kita bisa berbagi. Bukankah itu hal yang bagus?" ucap Mira.


" Masuk akal. " dan Israhi juga berpikir itu bagus. Tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan diantara mereka.


" Ngomong-ngomong, dari mana asal anak sial ini? Dia pasti memiliki kelompok kan?" tanya Mira untuk lebih memastikan.


Israhi yang mendengar nya pun sedikit memiringkan kepalanya, disaat tangan kanannya menyentuh dagunya. " Kalau tidak salah, dia bilang kalau dia berasal dari.. Bintang fu.. fa.." tapi dia kelihatan tidak yakin harus mengakhiri nya dengan apa.


Sampai Yi lah yang menyelesaikan itu untuknya, " Maksudmu Bintang Fajar?"


Mendengar nama itu membuat Mira tersentak kaget, mana mungkin ia tidak tahu hal itu. Kelompok yang meluluhlantahkan desa GoldenRose, di kekaisaran Foldes. Tempat dimana Altair tinggal sebelumnya.


Bahkan Altair sendiri yang mendengar itu, langsung menoleh dengan ekspresi tak terbaca.


" Kelompok Bintang Fajar... Itu alasan yang lebih dari cukup penting dari yang aku pikirkan. " gumam Mira dengan ekspresi yang sangat serius. " Kebetulan, Kekaisaran juga sedang menyelidiki kelompok itu sejak 18 tahun yang lalu. Tertangkapnya orang ini benar-benar sangat membantu." ucap Mira pula.


" Sejak.. 18 tahun yang lalu..?" Aksa dan Remilia cukup terkejut dengan hal itu.


" Kenapa?"


" Itu karena-...!"


Sriingg...


Dan disanalah ia melihatnya, Altair yang berdiri dengan ekspresi wajah gelap, dan sebilah pedang tajam ditangannya.


Disaat Mira sadar dengan situasinya, Altair dengan cepat bergerak maju kearah orang yang terikat itu, sambil menggenggam erat pedangnya. Bahkan Israhi dan yang lainnya tidak diberi kesempatan untuk memproses keterkejutan mereka.


Karena situasi yang mendesak itulah, akhirnya Mira memasang badan dan menghalangi jalan Altair kesana. Karena hal itu, tentu saja Altair harus berhenti dihadapan gurunya.


Itu situasi yang benar-benar dingin, entah itu ekspresi ataupun aura yang dikeluarkan oleh Altair sama-sama dingin. Sementara Mira bertahan didepannya.


Ekspresi Altair mengeras dan ia pun bertanya, " Guru... Apa yang kau lakukan..?"


Mira sendiri tahu apa yang sedang berlaku disini, Altair yang sensitive dengan nama 'Bintang Fajar' dan situasi awal yang mengancam kota mengingatkannya kembali kepada desanya yang hancur.


Dan sekarang dihadapannya ada orang yang menjadi salah satu anggota kelompok itu.


" Duh, benar-benar... Yin memberiku anak nakal yang menyusahkan..."


Mira tahu itu situasi dimana Altair bisa saja menebasnya tanpa ragu karena menghalangi jalannya, namun entah mengapa ia tidak bisa menyembunyikan senyuman dibibirnya. Ditempat lain, Israhi dan teman-temannya yang tidak tahu apa-apa hanya diam tak tahu harus apa.


Semua keputusan ada ditangan Mira sekarang, membiarkan Altair membunuh orang itu karena amarahnya atau memberikan orang itu ke tangan Yin untuk introgasi.


" Guru-.."


" Altair.. kau tidak bisa membunuhnya sekarang." pada akhirnya Mira tidak ingin kehilangan jejak yang ditinggalkan kelompok itu.


Meski itu artinya membuat murid malangnya merajuk, " Kenapa?! Dia anggota kelompok itu, orang itu berbahaya!."


" Dia tidak berbahaya karena dia sendirian." Mira melangkah maju mendekati Altair, pertengkaran guru dan murid ini tidak akan berakhir jika dia tidak menggigit kelemahannya.


Altair juga tidak akan mendengarkan siapapun, tapi...


" Apa guru lupa apa yang orang-orang ini lakukan pada desaku?! Mereka menbakar semuanya!!."


" Justru karena itu.."


...Mira yang paling tahu apa kelemahan Altair.


Ia berhasil sampai tepat dihadapan Altair, ia meraih kedua pundaknya dan menatapnya dengan lekat. "... Jika kau ingin mensukseskan rencana balas dendam-mu, kau harus membiarkan orang ini hidup. Dia bisa saja memiliki informasi yang berguna. Kelompok 'Bintang Fajar' bukanlah kelompok kecil Altair, mereka sudah sejak lama mengakar dibenua ini. Kelompok mereka juga tersebar dimana-mana. Kau tidak akan berhasil jika membunuhnya sekarang."


Ucapan Mira adalah kenyataan, Altair juga tahu hal itu karena Yin yang memberitahunya. Faktanya, jika dia ingin menyingkirkan semua anggota kelompok itu hingga akarnya, dia harus tahu dimana-mana saja tempat mereka berada dan siapa yang ikut didalamnya. Dia harus punya banyak informasi.


Altair menutup kedua matanya singkat, saat ia menepis tangan Mira dan menggerakan pedangnya. Mira menjadi tegang dengan itu, Altair bukanlah lawan yang memiliki jarak. Baik dekat, menengah maupun jauh, Altair bisa melakukan serangan mematikan dari mana pun.


Namun dalam hal itu sekarang, Altair hanya memotong udara kosong disamping mereka. Disaat yang sama dengan itu, sebuah percikan muncul diantara orang yang mereka tangkap dan pedang Altair.


Aksa yang melihatnya yang pertama kali menyadari hal itu, ekspresi wajahnya penuh dengan keterkejutan. " Apa dia baru saja memotong ikatan sumpah orang itu? Semudah itu?"


Sementara Altair dengan santainya kembali menyarungkan pedang ditangannya. " Dari tadi benang itu terus mengganggu pikiranku." ucapnya singkat.


Sementara Mira, yang mendengarnya berkata seperti itu... hanya tertawa lemah, antara harus berterima kasih atau kaget dengan apa yang telah ia lakukan, jantungnya berpacu dengan kencang. Menenangkan Altair jauh lebih menegangkan daripada melawan seekor naga baginya.


Tapi ia juga sadar Altair setuju dengan nya untuk sekarang, atau.... mungkin juga tidak.


Altair berbalik membelakanginya, " Jika orang itu tidak berguna, aku ingin dia mati." dan itu.. adalah perkataan terakhir yang dikatakan Altair sebelum ia berjalan pergi dan menghilang dikegalapan.


Mira yang melihat itu hanya diam dan mendengus sebentar, kemudian berbalik kearah orang yang ditangkap itu.


"...Sesuai keinginanmu." gumamnya.


Ia pun menarik orang itu ditangannya, " Baiklah, aku akan mengirim orang ini dulu dengan spesial. Tolong jaga Altair sebentar. Ini tidak akan terlalu lama." ucap Mira kepada Israhi dan yang lainnya yang masih tidak mengucapkan sepatah katapun setelah melihat Altair seperti itu.


Tentu saja bukan berarti mereka tidak penasasaran, sampai Remilia yang memecah keheningan diantara mereka terlebih dahulu.


" ...Apa yang terjadi pada desa Altair?"


Mira diam sebentar, saat kemudian mengangkat kedua bahunya dengan ringan. " Kalian dengar sendiri. Desa-nya terbakar."


" Aku sudah dengar soal desa GoldenRose yang diserang..." Remilia berhenti sejenak dan melihat sekitaran, dan dengan ragu-ragu melanjutkan perkataannya. "...Apa ada yang lain yang selamat dari sana?"


Yah, kabar soal runtuhnya GoldenRose memang tersebar luas, karena itu adalah desa yang terkenal. Dan juga wajar jika orang tidak terlalu tahu soal jumlah korban nya, karena kekaisaran tidak pernah mempublikasi hal itu kepada siapapun dengan jelas.


Demi menjaga ketenangan mental Altair...


" ....Hanya Altair yang selamat." Mira tidak terlalu nyaman mengatakan itu, tapi tidak ada gunanya juga dia merahasiakan hal itu dari mereka.


" Jika hanya Altair yang selamat, itu artinya benar-benar tidak ada yang tersisa disana?" sahut Aksa yang kemudian menutup mulutnya sendiri dengan ekspresi terkejut.


Mira menganggukan kepalanya membenarkan itu, " Paman, bibi, kakek, nenek, teman-teman dan semua yang ia kenal disana. Desanya kini hanyalah sebuah pemakaman dengan tumpukan bunga mawar dimana-mana. Hanya Altair... yang mengenang desa itu, sebagai satu-satunya yang ditinggalkan. "


Karena itu juga dia bisa jadi seperti sekarang, dan tumbuh dengan penuh dendam dan kesepian.


" Yah, aku akan pergi sekarang. Kalian tidak perlu melakukan apapun, cukup awasi saja dia dari jauh." ucap Mira yang mengalihkan percakapan, dan mulai mengaktifkan sihir teleportasi.


" Segeralah kembali." dan Yi yang kemudian menyahutinya.


Mira hanya tersenyum, disaat dirinya dan orang yang ada ditangannya segera menghilang dari tempat itu.


Fajar sebentar lagi terbit, sinar nya mulai terlihat dari arah timur. Remilia dan yang lainnya bergegas kembali ke kota untuk memeriksa keadaan dan menjelaskan kondisi kepada para penduduk. Sementara Israhi...


Dia pergi ke tempat yang mungkin disinggahi oleh Altair, hanya untuk memastikan kalau dia benar-benar ada disana.


Dan memang benar, Altair duduk termenung disana dengan ruat wajah sedih. Menghadap kearah terbit nya matahari, cahayanya yang menyilaukan sedikit demi sedikit menyinari wajahnya.


Zico ada disamping menatapnya, dan lalu menggosokkan kepalanya ke lengan Altair untuk meminta perhatiannya. Altair yang tahu itu pun mengusap kepala Zico dengan tangannya.


"...Apa aku terlalu sensitive?" ucapnya pelan.


Kyuu..


Zico tidak berpikir bergitu, semua memiliki apa yang dibenci dan yang tidak dibenci.


" Terima kasih. Tapi itu sama sekali tidak menghiburku. "


Zico hanya diam menatapnya, apa yang ia harapkan jika Altair akan mengerti dengan penjelasan singkat seperti itu disaat pikirannya sendiri kalut dalam kemarahaan.


Emosi manusia itu lemah. Terkadang itu lebih dominan daripada rasionalitas.


Sesuatu yang lain menarik perhatian Zico, sebuah burung kertas terbang diatas mereka. Zico yang melihat nya pun langsung berbinar dengan cepat melompat kebelakang Altair, dan menarik rambutnya dengan keras sampai kepala Altair menengadah keatas sana.


" Ackk!! Zico, apa yang kau-..."


Kyuu! Kyu~


Altair terpaku kepada apa yang ditunjukan oleh Zico, atau lebih tepatnya apa yang ia tunjuk diatas sana. Bangau kertas yang selalu ia tunggu-tunggu setiap saat, teman misterius yang selalu mengisi hatinya dengan tulisan yang ada diatas kertas itu.


Mereka telah melakukan nya sejak lama, dan itu selalu membuat perasaan Altair menjadi lebih baik.


Segera setelah Altair menyadari keberadaan bangau kertas itu, dengan sendirinya... bangau yang sejak tadi menari-nari diatas sana pun turun dan jatuh ke telapak tangannya. Altair pun segera membuka lipatan kertas itu, dan Zico yang naik ke atas bahunya untuk mengintip isinya juga.


~'Altair, jika kesulitan, cobalah untuk mengingat hal yang berharga. Jika itu tidak membantumu, cobalah untuk mengambil nafas beberapa kali agar emosimu terkontrol. Jangan termakan oleh api, atau kamu akan kehilangan lagi.


Kamu tidak sendirian lagi, bukan? : )'~


" Aku... tidak sendirian..?" Altair tidak merasa begitu, tapi ketika ia berpikir seperti itu... wajah dari orang-orang yang selama ini menamaninya melintas dikepalanya.


Tanpa sadar, senyuman lembut pun terbantuk diwajahnya. Dan ia memeluk kertas itu didadanya. Zico menatap wajahnya yang kini tidak lagi terlihat murung, dan menganggukkan kepalanya dengan ringan.


" Benar... Aku tidak sendirian lagi. Semuanya.. ada disini..." Altair tahu dia tidak pernah benar-benar ditinggalkan sendirian, semua yang berharga baginya tersimpan dengan baik didalam hatinya.


Semuanya...