
--- Beberapa saat yang lalu.
" Arghhh...!! "
Altair menangis dan berteriak keras karena kematian Niell dan Geas, bersamaan dengan itu.. Kalung yang diberikan oleh Niell padanya pun bersinar terang.
" A, apa-apaan kekuatan nya itu?? "
" Siapa gadis itu..!! "
Orang-orang yang berada dekat Altair dihantam oleh sebuah gelombang energi yang sangat besar, kekuatan yang meluap karena kesedihan Altair. Kekuatan yang selama ini tersegel di dalam tubuhnya.... seketika terlepas.
Ditempat lain, beberapa ada beberapa orang yang juga bisa merasakan kekuatan Altair meskipun dari jarak yang amat sangat jauh.
" Sudah dimulai, ya. "(E)
" Roda takdirnya yang selama ini berhenti... "(Y)
" Akhirnya kembali berputar. "(M)
" Kisah yang melebihi ruang dan waktu... "(EC)
" Kini akan terulang kembali. "(H)
" Ketika pintu masa lalu dan pintu masa depan bertemu, jalan takdir yang menunggunya akan terbentang. Pilihan ada di tangannya, akankah dia mengakhiri semuanya dengan membantu dunia, atau menghancurkan segalanya dalam keputusasaan. "(Q)
Takdir yang diramalkan akan menuntun menuju masa depan, tapi yang menentukan takdir itu berjalan adalah orang yang mendapat takdir itu. Secara singkat, Altair harus menentukan sendiri takdir mana yang akan ia pilih untuk masa depan.
" Aahhh...!! "
Sringg....
Perlahan-lahan... Rupa Altair pun berubah, berubah ke wujud yang tidak pernah terlihat darinya sebelum ini. Meski pada dasarnya ia kembali ke rupa awalnya, tapi dengan kekuatan yang tidak pernah dilihat siapapun sebelum nya, itu pasti membuat mereka kebingungan.
" Bu, Bunuh anak itu! " teriak seseorang kepada yang lainnya.
Dan orang-orang itu pun menyerang Altair secara bersamaan, namun pada akhirnya mereka lah yang dikalahkan oleh Altair sendiri.
--- kembali ke saat ini.
Suasana di tempat itu masih tegang seperti sebelumnya, dimana Altair yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari pemimpin orang-orang misterius itu. Ia hanya menatap mereka dengan tatapan dingin.
" Kubilang siapa kau!!. " teriak orang itu pula membentak Altair.
Dan kali ini, Altair pun menyahuti mereka "... Teman-teman ku... Keluarga ku... Yang membunuh orang-orang didesa ini,... Adalah kalian!!. " ucap Altair, yang ada di hadapan mereka saat ini.
Ctak...
Altair hanya menjentikkan jarinya, seketika muncul lah es-es runcing yang mengurung para penjahat yang ada di hadapan Altair, meski tidak sampai semuanya terkurung, tapi cukup banyak juga yang ada di sana.
Kemudian dari atas langit muncul sebuah lingkaran sihir yang besar, dan dari lingkaran sihir itu juga muncul puluhan pedang lainnya. Altair hanya menggerakkan tangannya kebawah, dan semua pedang itu langsung menghujani semua orang yang terkurung di dalam penjara es itu.
" Ah.. Argghhh..!! "
" Monster..!! "
" Lari!! "
Menciptakan rasa takut kepada orang-orang yang ada di luar sana, mereka mulai kocar-kacir tak karuan untuk pergi dari tempat itu.
" Tidak akan kubiarkan seorang pun lari!. " ucap Altair yang terdengar bergema di sana.
Hanya dengan satu gerakan tangan, sebagaian dari pedang yang jatuh seperti hujan itu pun mengejar orang-orang yang mencoba kabur dari sana. Dan dari kejauhan sana, diatas langit gelap yang diterangi oleh kobaran api dari desa, muncul sesosok makhluk raksasa terbang melewati desa.
Roarrr...
Raungan keras mahkluk itu dapat memekakan telinga orang yang mendengar nya, kehadiran nya ditempat itu bisa membuat orang yang tadinya merasa kuat jadi terlihat seperti semut yang tidak ada bandingan nya.
Seekor naga.. Terbang tepat kearah mereka, dan mendarat tepat di belakang Altair. Tanpa Altair perintahkan, naga tersebut langsung menyemburkan api berwarna kebiruan kearah orang yang dianggap musuh oleh Altair, seolah pikiran mereka saling terhubung.
Seketika, pembantaian yang sama dilakukan oleh Altair, hanya saja ia melakukan nya lebih cepat dari pada yang dilakukan orang-orang itu kepada warga di desanya. Sementara itu, para pasukan Kekaisaran hanya bisa melihat hal itu dengan perasaan ngeri dan kagum disaat yang sama.
" Ka, kapten.. Sekarang apa yang harus kita lakukan?? Apakah kita harus menangkap gadis kecil itu?? " tanya salah satu pasukan.
" Sepertinya dia salah satu warga desa yang selamat, kita bisa meminta keterangan nya. " ucap salah satu nya lagi.
" ...Tidak. " jawab Yin dengan tegas, " Jangan ada yang bergerak, biar aku yang mengurus ini. " ucapnya pula sambil berjalan maju kearah Altair dan naga itu dengan perlahan.
" Ka, Kapten... " panggil pasukan yang lain dari tempat mereka.
Sedangkan Altair, saat ini hanya diam berdiri menatap desanya yang sudah hangus oleh api, dengan naga yang tadi datang diam disamping nya. Entah ia sadar akan keberadaan naga tersebut atau tidak, tapi ia sama sekali tidak bereaksi apapun.
Ia sudah membunuh semua yang menyakitinya dan warga desa, ia sudah melenyapkan orang yang membunuh mereka. Dan ia sudah.. Membalaskan dendam semua warga desa, namun bukan kesenangan yang ia rasakan, bukan pula kesedihan, hanya... Sebuah kekosongan.
" Nak. " panggil Yin dibelakang sana.
Altair yang mendengar nya pun perlahan menoleh kearah Yin, dengan air mata yang membasahi pipinya. Yin nampak sangat terkejut melihat nya, mungkin karena Altair yang saat ini terlihat menyedihkan, atau mungkin dia terlihat mirip dengan seseorang yang ia kenal.
" Nak, kau baik-baik saja?? " tanya Yin dengan khawatir.
Altair hanya menganggukkan kepalanya, kemudian ia pun berjalan kearah Yin dengan langkah gontai " .... Kakek ku... Nenek ku.. Paman Geas.. Bibi Niell.. Kumohon.. Tolong mereka-... " ucap Altair, yang kemudian hilang kesadaran.
Untung saja tubuh Altair di tangkap oleh Yin, jika tidak ia mungkin akan jatuh menghantam tanah. Yin menatap Altair dengan sendu, dan kemudian ia pun memangku tubuhnya yang tak sadarkan diri itu.
" Cari semua korban yang ada, setelah itu kita kembali ke ibu kota!. " ucap Yin keadaan pasukan nya.
" Baik!. " jawab para pasukan pula serentak.
*****
Ketika sinar matahari terbit dari timur, menyusup masuk melewati celah jendela kamar, membangunkan Altair dari tidur lelap nya. Hal pertama yang ia lihat adalah sebuah tempat yang sangat asing, tempat yang terlihat mewah dan juga sangat luas.
Altair pun bangun dari tidurnya dan duduk ditempat nya berada, ia mengedarkan pandangannya kesegala arah, sampai kemudian matanya menangkap pergerakan pintu yang terbuka. Dari luar sana, masuklah seorang wanita berpakaian pelayan, ia masuk ke dalam sana dengan sebuah nampan di tangannya, kemudian ia pun melihat kearahnya.
" Anu... Ini dimana, ya?? " tanya Altair.
Prangg...
Pelayan itu menjatuhkan nampan yang ada ditangannya dengan ekspresi terkejut, Altair sendiri juga terkejut karena respon dari pelayan itu.
" Ah!! Tuan Yin, Nona sudah bangun!! " teriak pelayan itu pula sambil berlarian keluar mencari orang yang ia cari.
Sementara Altair yang masih bingung ditinggalkan bagitu saja disana.
--- Beberapa saat kemudian.
Setelah pelayan yang datang ke tempat nya sebelum nya itu, para pelayan yang lain pun juga berdatangan ke sana. Bertepatan saat Altair yang akan pergi mencari kamar mandi, jadi sekalian saja mereka membantu nya mandi meskipun Altair sudah menolak, mereka kemudian memakaikan nya pakaian yang belum pernah ia pakai selama ini.
Sebuah gaun yang terlihat sangat mewah dan hiasan yang cantik di rambut nya, mereka bahkan mendandani nya dengan sangat menawan layaknya seorang Putri Raja. Altair merasa kurang nyaman dengan itu, tapi ia tidak bisa melakukan apapun.. Sekeras apapun ia mencoba menolak mereka.
" Sudah selesai, Nona. " ucap salah satu dari pelayan yang membantunya bersiap itu, yang kemudian membungkuk bersama dengan yang lainnya.
" Ah,.. Terima kasih. " sahut Altair agak canggung.
Ia masih tetap tersenyum dengan tulus, meskipun merasa terbebani dengan sikap para pelayan yang terlalu menghormati nya itu. Dan yang paling penting... Ia masih belum tahu dimana dia sekarang. Namun kemudian perhatian nya pun kembali teralihkan kenapa suara pintu yang terbuka.
Ceklek...
" Gaun itu sangat cocok untuk mu. " ucap orang yang baru masuk ke dalam kamar yang ia tempati itu.
Altair menatap orang yang kini ada dihadapannya dengan lekat, ia bingung siapa dia. " Anu... Siapa, ya?? "
Orang yang baru datang menemuinya itu adalah Yin, yang mana dia jugalah yang membawanya ke sana. Yin tertawa melihat wajah bingung Altair, kemudian ia pun bertanya.
" Apa kau tidak mengingat kejadian sebelum nya?? " tanya Yin, yang langsung dibalas gelengan kepala dari Altair.
Ia benar-benar tidak ingat apa yang terjadi, kecuali fakta bahwa semua orang yang ia sayangi telah tiba. Yin yang melihat raut wajah Altair berubah sedih pun mengerti akan hal itu, bagaimana pun juga dia adalah satu-satunya orang yang selamat dari pembantaian itu.
Sesaat setelah nya, Yin pun memutuskan untuk bicara di sana sambil duduk, ia akan menjelaskan situasi Altair saat ini. Sebelum itu ia juga sudah meminta para pelayan untuk pergi.
" Kalau begitu.. Kita mulai lagi dari awal. Namaku adalah Yin, kapten pasukan Kekaisaran. " ucap Yin memperkenalkan dirinya sendiri.
" Sa, Saya... Altair Drosera. " sahut Altair pula dengan gugup setelah tahu siapa orang di depannya itu.
" Jangan tegang seperti itu, bicara lah dengan santai. " ucap Yin pula, Altair hanya menganggukkan kepalanya mendengar itu. Kemudian Yin pun bertanya lagi, " Namamu... Apakah hanya itu?? " tanya Yin.
" Ya?? S, Saya tidak tahu.. saya dibesarkan didesa oleh kakek dan nenek saja, saya tidak tahu siapa orang tua saya. " jawab Altair.
Yin menatap dengan seksama, tidak ada raut kebohongan dari wajah Altair. Jika itu memang benar, berarti Altair tidak tahu identitas nya yang sebenarnya.
" Baiklah, jangan pikirkan masalah itu. Kau juga tidak perlu khawatir, semua warga korban dari pembantaian itu sudah dimakamkan dengan layak beberapa hari yang lalu. " ucap Yin.
" Baik... " jawab Altair yang sedang tidak fokus, sesaat kemudian ia baru saja sadar dengan apa yang ia dengar. " ... Maaf?? Beberapa hari yang lalu?? " ucapnya pula bingung.
Yin pun menganggukkan kepalanya, " Iya, karena kau belum bangun kami jadi tidak bisa mengajakmu melihat nya, tapi semua makam sudah mendapatkan identitas mereka kok. " jelas Yin sambil tersenyum cerah.
Sementara Altair masih belum sadar dari keterkejutan, " .. Berapa lama saya tidur?? " tanya Altair.
Kemudian Yin pun menghitung sejak hari pertama Altair tidak sadarkan diri. " Hm... Kalau tidak salah mungkin seminggu... " ucapnya.
" Seminggu?! "
" ... Kira-kira sekitar itu. "
Altair tidak bisa berkata-kata lagi mendengar hal itu, bagaimana ia bisa tidur selama itu dan lagi ditempat yang asing baginya. Bagaimana bisa ia seperti itu... Namun kemudian ia teringat sesuatu yang sangat penting.
" Ah, maaf... Tapi bagaimana dengan orang-orang misterius itu?? " tanya Altair.
Raut wajah Yin masih tenang seperti air, " Sayang sekali kami tidak bisa menangkap satupun, tapi setidaknya mereka semua sudah mati. " jawab nya pula.
" Mati?? Bagaimana mereka bisa mati?? "
" Kau membunuh mereka. "
" ... Eh?? "
Altair mendengar sesuatu yang tidak bisa ia percaya lagi, ia berpikir mungkin Yin sedang bercanda dengan nya. Tapi raut wajahnya yang serius itu sama sekali tidak menunjukkan kalau dia sedang bercanda. Disaat yang sama Altair juga melihat bayangan malam itu, saat ia membunuh orang-orang itu.
" Aku... Membunuh mereka?? " batin Altair.
Tangannya jadi gemetar mengingat hal itu, sekalipun tidak pernah ia membunuh seseorang. Sudah pasti Altair sangat syok mengetahui kalau dirinya membunuh semua penjahat itu.
" Tair... Altair! " panggil Yin yang membuat Altair sadar dari lamunan nya.
Altair pun menoleh kearah sampainya, ia tidak menyadari kapan Yin berdiri dari duduknya dan saat ini ia tengah berdiri disamping nya, karena dirinya terlalu fokus dengan ingatan yang menakutkan itu.
" Tenanglah, jangan biarkan ingatan-ingatan itu mengambil alih dirimu. " ucap Yin pula menasehati nya.
" Ta, Tapi... Orang-orang itu mati. Bagaimana caranya?? Saya.. Tidak memiliki kekuatan apapun.. " sahut Altair yang masih gemetar.
" Justru sebaliknya. " jawab Yin, yang membuat Altair kembali bingung, Yin pun menyentuh rambut Altair. " Kau memiliki sumbar kekuatan yang tak terhingga, inti dari kekuatan yang tidak bisa disentuh oleh siapapun. Kekuatan yang hanya kau seorang miliki, yang tidak akan pernah bisa ditandingi oleh siapapun. " ucap nya pula, ia pun kemudian mencium rambut panjang Altair itu.
Secara perlahan-lahan, rambut hitam itu pun kembali berubah seperti beberapa waktu yang lalu, bahkan Altair sendiri pun sampai terkejut melihat nya. Warna rambut yang tidak pernah ia lihat dimana pun, rambut dengan warna emas yang berkilau.
" Rambut ku... " ucap Altair yang masih tercengang melihat nya.
Kemudian Yin tiba-tiba saja berlutut di depan Altair, " Kau memiliki kekuatan yang sangat besar, lebih dari yang kau pikirkan. Juga pengaruh yang sangat besar bagi dunia. Karena itu, berjanjilah padaku kalau kau akan merahasiakan hal ini dari siapapun. Sampai kau menemukan kembali apa yang hilang dari dirimu. " ucap Yin.
*****