
Setelah masalah dengan keluarga Orzsbet selesai, suasana dikekaisaran menjadi tenang kembali. Memang masih banyak orang yang membicarakan hal itu, keluarga Duke yang telah berdiri selama ratusan tahun runtuh begitu saja. Dan Rara beserta ayahnya juga telah dikirim ke wilayah utara untuk mempertanggung jawabkan apa yang telah mereka lakukan.
2 Minggu berlalu begitu saja, dan 3 hari lagi adalah hari kepergian Altair dan Mira. Mengapa Mira ikut? Tentu saja karena Altair tidak bisa pergi sendiri, dan Mira yang memang sejak awal berniat menundurkan diri sebagai komandan pasukan kesatria istana. Yang mana akan digantikan oleh Yin dan Ansel.
Dan malam ini, dikamar Altair... ia tertidur dengan lelap tanpa ada satupun yang mengganggunya. Saat didalam mimpinya Altair melihat sesuatu...
Wusshhh...
Krutukk...
Altair melihat kehancuran...
" Apa... ini? Apa yang terjadi??"
Altair tidak bisa melihat apapun lagi disekitarnya, selain mayat-mayat yang bergelimpangan, tempat-tempat yang hancur, dan juga... api yang membakar segalanya.
Altair tidak tahu, tapi hatinya tiba-tiba terasa sangat sakit, begitu berat. Air matanya pun jatuh tak terbendung.
" Hik... Kenapa?.. Kenapa seperti ini? Hik.. hik.. Kenapa aku menangis??"
Altair barusaha mengelap air matanya yang jatuh dari pipinya, namun itu terus berlinang tanpa henti. Membuat Altair merasa begitu tidak berdaya...
Saat tiba-tiba, ia dikejutkan dengan suara raungan yang begitu keras dan memekakan telinga.
Rooaarrr....!!
Bumi pun bergetar, seolah sesuatu yang besar baru saja jatuh menginjak tanah.
Altair pun menoleh kebelakang nya, sesuatu yang besar memang berjalan disana. Dia terlihat diserang oleh sesuatu, namun ketika Altair ingin melihat nya dengan lebih jelas, debu-debu selalu menghalangi pandangannya.
" Apa itu?? Apa yang sebenarnya terjadi??"
Altair berniat mengikuti makhluk besar itu untuk mengetahui apa yang terjadi, saat seseorang menahan tangan nya dan membuat Altair kembali menoleh.
Sosok perempuan, namun dia tidak melihat wajahnya dengan jelas...
" Hentikan! Jangan melihat nya lagi! " ucap sosok wanita itu, yang kemudian mendorong Altair jatuh ke suatu tempat.
" Tunggu dulu--..."
" Kamu harus pergi sebelum terlambat. Sebelum portal menelan mu seutuhnya untuk melindungi mu." ucap sosok wanita itu pula.
Dan kemudian, Altair terbangun kembali didunia nyata...
Altair pun bangkit dari tidurnya dalam kebingungan, dengan apa yang baru saja ia mimpikan. Dia tidak bisa mengingatnya.
" Barusan... Aku mimpi apa ya??" gumamnya penasaran, dia yakin itu sesuatu yang penting.
Saa kemudian dia teralihkan dengan Lumine yang tiba-tiba muncul disamping nya...
" Master.." panggil Lumine kepadanya, wujud aslinya memang adalah burung cahaya.
Altair yang mendengar namanya dipanggil pun langsung menoleh, " Lumine? Ada apa?" tanyanya pula.
" Ini tentang aura besar yang kita temukan didalam tubuhmu. " ucap Lumine pula.
Altair teringat dengan hal itu, dulu ia pernah meminta Lumine mencari tahu apa itu. Karena sudah berlalu 5 tahun lebih dia sampai lupa.
" Begitu ya, apa kau sudah tahu? Kira-kira apa itu??" sahut Altair penasaran.
" Dilihat bagaimana pun itu adalah segel kuno." ucap Lumine kemudian.
" Segel... kuno?" tapi Altair tidak mengerti dengan hal itu.
Lumine menganggukan kepalanya kepada Altair, " Kekuatan sejati anda telah disegel, itu adalah kekuatan yang bisa melampaui langit dan bumi, bahkan ruang dan waktu. Kekuatan yang tidak bisa ditandingi oleh siapapun. Akan tetapi, aura berbahaya yang kita rasakan waktu itu berasal dari hal lainnya." jawab Lumine.
" Hal lain itu apa??"
Altair yang mendengar itu jadi gugup, ia tidak pernah membayangkan kekuatan-kekuatan yang begitu besar itu ada didalam dirinya. Dia bahkan tidak tahu dari mana asalnya, dia jadi khawatir dengan hal itu.
Esok paginya, ditempat Titus...
" Kau bilang, kekuatan lain..??" Titus kelihatan begitu serius mendengar apa yang baru saja Altair katakan kepadanya.
Yah, Altair ada disana. Sejak 5 tahun yang lalu dia datang kesana, Altair jadi sering menemui Titus.
Dan Altair yang mendengar itu pun membenarkan sambil duduk diatas meja. " Iya, Lumine bilang itu kekuatan yang sangat berbahaya, dan aku tidak boleh membangunkannya. " ucap nya.
" Haah... " Titus pun kelihatan pusing dengan itu sambil memijit keningnya. " Kekuatan mu yang disegel entah oleh siapa, kekuatan mu yang berbahaya, dan kekuatan mu yang sekarang. Sebenarnya yang mana kekuatan mu yang asli??" tanya Titus kemudian, lama-lama dia bisa stres karena hal itu.
" Mana kutahu, aku sendiri bahkan tidak tahu siapa diriku yang sebenarnya. Bagaimana mungkin aku tahu soal itu. " jawab Altair pula sambil cemberut kesal.
Tapi kemudian itu berubah menjadi sedih, " Aku takut. Bagaimana jika aku tidak bisa mengendalikan nya??" ucapnya lirih.
Titus yang melihat nya pun tahu apa maksud nya, karena dia mengenal seorang pemuda yang dulu memiliki mata yang sama dengan Altair saat ini. Titus pun bangkit kemudian berjalan kearah Altair dan mengusap kepalanya.
" Altair, kau ingat dengan apa yang aku katakan?? Masa depan tidak pasti, kau yang harus menentukan hal itu. Tidak perlu menanggung semuanya sendirian. Percayalah kepada orang-orang disekitarmu, mereka yang benar-benar menyukaimu dengan tulus pasti akan membantumu." ucap Titus kepada Altair.
Tapi Altair tidak bisa merasa tenang dengan itu, " Justru karena itu aku takut, aku takut kalau aku malah menyakiti mereka. Kekuatan itu pasti akan sangat sulit dikendalikan. " ucapnya.
Titus pun kemudian meraih tangannya, " Sesuatu akan selalu terasa mustahil sampai kau melakukannya, kau hanya harus percaya. Kau tidak sendirian, Altair. Banyak orang disisimu. " Titus masih berusaha menenangkan Altair.
" Mengapa hidup itu sangat sulit??" tanya Altair sambil menundukan wajahnya sedih.
" Hidup itu sebenarnya sangat sederhana, tapi orang-orang bersikeras untuk membuatnya menjadi rumit. " jawab Titus pula.
Itu terasa masuk akal, selama ini saja.. Altair berusaha untuk hidup setenang mungkin, tapi justru orang lain yang membuatnya jadi sangat kesulitan.
" Huh, anda benar. " ucap Altair kemudian, perasaan nya jauh lebih baik sekarang.
" Tentu saja aku benar. " sahut Titus dengan bangga, dia memang tahu segalanya.
Altair tahu hal itu, tapi ada sesuatu yang masih terasa mengganjal... Dia masih tidak ingat mimpi yang ia lihat semalam, padahal jika bisa ia ingin menanyakan hal itu kepada Titus. Dia mungkin tahu sesuatu. Tapi kalau tidak bisa diingat, ya mau bagaimana lagi.
***
Waktu cepat sekali berlalu, dan hari ini.. adalah hari keberangkatan Mira dan Altair. Keluarga kekaisaran mengantarkan nya sampai ke depan gerbang istana...
" Hati-hati diluar sana, ya. Jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa datang kemari atau kirim saja surat. " ucap Ning kepada Altair.
" Baik, terima kasih untuk selama ini. " sahut Altair pula.
Dan kemudian Habel langsung memeluknya dengan erat, " Huwee.. kenapa harus pergi? Kenapa tidak disini saja?" tanyanya sambil menangis.
" Yang mulia... " Altair yang melihat nya pun jadi tidak tega.
Tapi Theodore kemudian menengahi mereka, " Habel, Altair harus mencari orang tuanya. Dia akan baik-baik saja karena guru bersama dengan nya. " ucapnya kepada adiknya itu, sampai ia kemudian melepaskan Altair.
" Kalau begitu... jangan lupa berkunjung lagi, jangan melupakan kami. " ucap Habel sambil berusaha menahan air matanya lagi.
" Tentu saja, yang mulia. " jawab Altair sambil tersenyum lembut.
" Hati-hati dijalan, Altair. " ucap Theodore pula.
" Terima kasih. " dan Altair membalasnya seramah biasanya.
" Mira, pastikan untuk menjaganya baik-baik. Awas saja jika dia sampai kenapa-napa. " ucap Yin kepada Mira.
" Tentu saja, semuanya akan aman. Jangan bilang kau akan merindukanku, ya. " sahut Mira pula.
" Hmph. Mimpi. " jawab Yin pula sambil membuang muka.
Setelah selesai berpamitan, Altair dan Mira pun benar-benar pergi meninggalkan istana menggunakan kereta yang telah mereka sewa. Altair sempat mengeluarkan kepalanya dari jendela dan melambaikan tangannya kepada mereka, dan tentu saja dibalas oleh yang lain juga. Sampai mereka tidak terlihat lagi.