The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
A Loneliness Girl



Setelah melihat bagaimana Altair terlempar dari atas kastil seperti Aksa. Mira, Derrick dan Aksa sendiri langsung buru-buru menghampiri nya dengan khawatir. Altair terlihat terbaring tak berdaya diatas salju, kepalanya terluka cukup parah hingga ditutupi darah, sepertinya karena benturan.


Karena itu, Mira pun buru-buru memeriksa keadaannya. Dan untunglah, itu hanyalah luka luar saja. Tapi Altair kehilangan kesadarannya.


" Bagaimana bisa..." gumam Aksa melihat itu, ia pun kemudian mengalihkan perhatian nya kearah kastil. " Apa yang terjadi setelah beberapa saat aku ditendang keluar??" ucapnya pula benar-benar bingung.


Semuanya berjalan terlalu cepat, bahkan Altair yang mereka kenal kuat pun sampai seperti itu.


Ditengah kebingungan dengan apa yang sedang terjadi, mereka bertiga kemudian merasakan energi besar yang sangat dingin seolah menekan mereka. Baik Mira, Aksa dan Derrick mematung ditempat mereka ketika hal itu muncul dibelakang mereka, hampir tak bisa menggerakan tubuh mereka dalam situasi itu. Itu kekuatan yang lebih besar dari pada yang Aksa rasakan sebelumnya.


Sosok yang muncul dibelakang mereka perlahan mendekat setenang udara, mereka bertiga memegang senjata ditangan mereka dengan erat ketika keringat dingin mulai bercucuran mereka rasakan. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk bergerak dan menoleh ke belakang sana sambil menahan tekanan yang muncul.


Dan yang mereka lihat bukan lagi sosok Flora yang ada diatas kastil sebelumnya. Melainkan tubuh yang sepenuhnya diambil alih oleh kekuatan Ruler. Kulitnya berubah menjadi hitam, dimulai dari tangannya. Sementara itu wajahnya putih pucat seputih rambutnya. Dan kedua matanya bersinar dengan warna biru yang terang dan tajam.


['Kalian... Para manusia.. Bodoh..'] dia berkata dengan suara ganda yang terdengar seperti bergema. ['Keangkuhan.. Membawa kalian berpikir.. Dapat melawan kami..']


" Khh! Energinya terus bertambah semakin kuat..!" Mira menggertakan giginya menyadari hal itu.


['Membekulah.. Demi Boreas yang agung..']


Sosok itu mengangkat tangannya hendak melakukan serangan, disaat yang sama Mira, Aksa dan Derrick bersiap menahan itu. Saat....


" Duh... Ya ampun."


Mereka mendengar suara itu. Mereka masih terdiam tak bergerak ditempat mereka, tapi mereka merasakan seseorang berdiri tepat disisi lain. Bahkan Flora yang sebelum menatap mereka pun sekarang menatap lurus kearah suara yang muncul tersebut.


Dan yang lebih menejutkan, itu adalah Altair. Dia sekarang benar-benar sudah berdiri kembali, dalam sekejap. Bahkan Ketiganya tidak mendengar apapun atau merasakan pergerakan apapun dari nya.


Altair kini berdiri diatas kedua kakinya, dengan tangan kanannya memegangi wajahnya seperti seseorang yang sedang menahan rasa sakit. Dan ia mulai berjalan, melangkahkan kakinya kembali melewati mereka masih dengan posisi seperti itu...


Derrick yang melihat itu hendak menghentikan nya, tapi Mira menahan tangannya untuk tetap diam. Karena itu, sontak Derrick pun jadi menatapnya, dan ia dapat melihat bagaimana ekspresi Mira saat ini. Ekspresi yang sedang menahan ketakutan dan juga kegelisahan.


Sementara itu, langkah Altair saat ini terhenti... tepat didepan Flora yang entah mengapa terguncang karenanya.


['Kau... Kenapa..??']


" Eh, apa..?? Kenapa kau melakukan ini..??" Altair menanggapinya dengan pertanyaan seperti itu. " ...Anak ini belum selesai bersiap untuk dunia, kenapa kau menindas yang lemah??"


Altair kemudian menurunkan tangan yang menutupi wajahnya itu dan menatap tajam kepada Flora, dengan kedua matanya yang telah berubah menjadi merah. Membuat Flora semakin terguncang dan langsung melancarkan serangan besar kepadanya.


Duarr..


" Ughh..!"


" Gilaa!."


Ledakan besar terjadi karenanya.


Membuat tiga orang dibelakang hampir terhempaskan oleh dampak dari serangan yang dilakukan oleh Flora disana. Untunglah mereka dapat bertahan.


Dan tak lama setelah nya, salju yang beterbangan menutupi pandangan pun lenyap, mereka dapat melihat Altair masih berdiri ditempatnya tanpa bergeser sedikit pun. Dia berhasil menahan serangan dari Flora dengan barrier yang kuat, dan hanya menyisakan lingkaran kawah disekelilingnya.


Melihat itu sampai membuat Aksa terperangan, level kekuatan Altair meningkat dengan pesat saat ini. Dan dia kelihatan masih bisa santai dengan hal itu...


" Kau selesai..?? Jadi ini giliranku." ucap Altair yang mulai menyeringai.


Ia pun mengulurkan kedua tangannya, menciptakan sebuah lingkaran sihir besar dan menembakkan sekumpulan bola energi hitam kearah Flora. Tentu saja Flora yang menjadi target serangan pun berusaha menghindari semua itu dengan terbang mencari celah. Disaat yang sama, dia juga balas menyerang Altair dengan es-es tajam yang ia ciptakan diudara.


Tapi hanya itu? Altair dengan mudah memukul dan menendang semua es yang jatuh layaknya hujan kearahnya itu hingga hancur.


['Ughh..!!']


" Ahahaha...!"


Flora terlihat tertekan dengan situasi itu, namun berbeda dengannya, Altair kini terlihat menikmati semua yang terjadi disana. Dan ia bahkan kembali membalas dengan seni bela diri yang diajarkan oleh Mira, dan melemparkan sebuah tinju berapi raksasa berwarna kebiruan kepada Flora.


['Sialan..!']


Flora harus bertahan dengan susah payah dari serangannya itu, karena suhu api biru yang diciptakan Altair itu setara dengan kekuatan Yi sebelumnya.


Benterokan dari kedua kekuatan mereka benar-benar sangat dahsyat, sampai-sampai menghempaskan semua yang ada disana. Bahkan monster-monster es yang mulai bermunculan kembali langsung hancur menjadi butiran salju karena mereka.


Karena hal itu juga, Mira, Aksa, dan Derrick harus mundur beberapa meter untuk menghindar dan berlindung dibalik batu besar yang ada disana dan hanya bisa melihat bagaimana pertarungan itu berlanjut.


" Gila.. Ini benar-benar gila..! Mereka akan meluluh lantahkan semua yang ada disini.." ucap Aksa agak panik melihat bagaimana sengitnya pertarungan mereka berdua.


Namun Derrick justru terkejut dengan hal yang lebih penting baginya, " ... Aku tidak tahu kalau Altair punya kekuatan sehebat ini.." dia tidak pernah menyadarinya sebelum ini.


Dan Mira, dia justru sibuk dengan pikirannya sendiri saat ini. Sembari menatap bagaimana pertarungan dari kedua makhluk yang tidak masuk akal itu berlangsung, ia menutup mulutnya dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.


" Apa itu sisi iblis Altair..?? Aku tahu kedua orang tuanya punya sisi iblis saat hidup sebagai manusia, apakah itu juga menurun kepada Altair..?? Bagaimana pun darah tidak bisa menipu..." Mira tidak bisa tidak khawatir saat ini.


Melihat bagaimana perilaku dan cara bertarung Altair yang mulai semakin berbeda, dia bisa saja jadi tak terkendali. Tapi, ia bahkan tidak tahu cara menghentikannya...


Syuuttt.. Duaakk!


Saat ia tersadar saat Flora terhempas keras dan jatuh ke tanah bersalju.


['Aaghh!']


Ia berusaha untuk kembali berdiri, sementara itu Altair yang sebelumnya mengejarnya baik ke langit pun mendarat tepat didepannya.


" Astaga, sudah mau kalah...? Membosankan." ucapnya sambil menatap Flora sinis.


Membuatnya menggertakan gigi dengan keras, ['Khh!! Tidak mungkin... Aku tidak akan kalah dari orang seperti dirimu..!!'] dia berteriak keras dan mulai menyerap energi disekitarnya dengan sangat ganas.


" Hmm..." Altair sendiri terlihat menyadari hal itu.


Flora menyerap semuanya layaknya lubang hitam yang akan menelan segalanya, tapi Altair terlihat biasa saja dengan itu. Meski sebenarnya, dia juga sedikit jengkel dengan hal itu.


" Ck.. Mau menjadikan diri sendiri sebagai bom, ya..?" ucapnya.


Satu lagi orang yang menyadari hal itu lebih dari siapapun disana, adalah Aksa, dan saat ini ia terlihat sangat menderita sembari menutupi kedua telinganya serapat mungkin.


" Aksa, bertahankan.." Derrick yang juga menyadari gelagat anehnya itu berusaha untuk membuat Aksa sadar.


Sebagai Elf, telinga, mata, dan indera perasa milik Aksa jauh lebih sensitif dibandingkan makhluk lainnya. Terlebih dia yang terhubung dan dapat merasakan langsung energi yang ada dialam.


" Eughh..!! Seluruh energi alam menjerit disekitarku..!! Kekuatan nya benar-benar luar biasa gila..!!" Aksa benar-benar dibuat gila dengan semua yang terjadi disekitarnya saat ini.


" Seperti apa dampak ledakan yang mungkin dihasilkan..??" tanya Mira mengkonfirmasi hal tersebut.


" Ugh...! Jika dia benar-benar meledakan dirinya.. separuh dari gunung ini bisa lenyap..!"


" Itu benar-benar bencana bagi kita.."


Itu diluar perkiraan. Mira tidak menyangka Ruler yang baru terlahir akan memiliki kekuatan sebesar itu dalam waktu singkat, tapi ia rasa tidak ada pilihan lain lagi saat ini.


" Derrick, apa kau bisa menyingkirkan arus kekuatan disekitar gadis itu agar aku bisa masuk..??" tanya Mira.


" Apa..?" Derrick bertanya kenapa dia menanyakan hal itu kepadanya, tapi lebih dari pada itu situasi saat ini tidak membuatnya bisa berlama-lama. " Tidak. Arus kekuatan nya bergulung seperti ombak, kecuali ada serangan dari dua arah--... Oh!." kata-kata Derrick terhenti ketika ia melihat sesuatu.


" Baguslah. Tunggu aba-abaku." Mira bersyukur mendengar itu, ia pun menggenggam pedang ditangannya dengan erat dan bersiap.


Sementara itu didepan sana, Flora yang masih mengumpulkan energinya. Dan Altair yang masih terdiam ditempat nya...


Altair hanya tersenyum melihat bagaimana Flora dengan begitu bersemangat membuat pelindung energi dan memaknanya disaat yang sama. Membuatnya jadi hal yang menarik untuk dinantikan, atau dihancurkan.


" Kau sudah putus asa, ya... Malangnya..." Altair pun juga mulai mengeluarkan kekuatan ditangannya untuk melakukan serangan, tapi...


" Lumine!!"


Patsss!... Srinnkkk..


" Apa..?!"


Kalung dilehernya tiba-tiba merespon suara Mira yang memanggil Lumine didalam dirinya, dan mengeluarkan rantai emas yang mengikatnya. Penyegelan kembali dilakukan. Karena itu kesadarannya saat ini pun mulai goyah..


" Dasar... keras kepala..!"


Pada akhirnya warna mata Altair kembali seperti sebelumnya, dan ia kembali kehilangan kesadarannya hingga terjatuh diatas salju. Dia ada diposisi yang sangat berbahaya karena berada tepat dihadapan musuh saat ini.


Dan Flora yang saat ini hampir selesai mengumpulkan seluruh energi yang ia perlukan untuk melenyapkan semuanya. Sayangnya itu akan terlalu cepat untuknya merayakan itu...


" Derrick, sekarang!."


Ketika Mira memberikan komando, Derrick pun langsung melesat maju dan memotong arus energi yang mengelilingi Flora disana. Masih harus ada satu serangan lain yang membuka penuh jalan kepada sang Ruler. Dikondisi Aksa saat ini ,ia tidak bisa melakukan nya. Dan Altair kehilangan kesadarannya.


Saat itulah, sebuah pedang meluncur diudara dan melanjutkan apa yang dilakukan oleh Derrick. Pedang itu memotong bagian lain dari arus kekuatan yang melindungi Flora, dan membuatnya terkejut. Pedang yang dilemparkan oleh Israhi dari atas istana es, mereka bisa melihat nya dipapah oleh Yi yang telah berhasil keluar dari kurungan es yang dibuat Flora.


Mira tidak tentu saja tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan yang telah dibuat semua orang ini, Flora yang keadaannya tidak stabil setelah melawan, Yi, Israhi, Aksa, Remila dan Altair. Kemudian jalan yang juga telah dibukakan oleh Derrick dan Israhi untuknya. Ia segera mengembil kuda-kuda untuk maju dan berlari secepat yang ia bisa melewati jalan yang terbuka itu.


['Tidak..!']


Flora yang panik dengan keadaan itu tak bisa mengendalikan kemampuan nya dengan benar, sementara itu pedang Mira mulai menyala diselimuti oleh api merah. Flora masih tetap berjuang, ia membuat dinding es untuk menghentikan langkah Mira disana. Tapi usahanya itu sia-sia...


" Ini sudah berakhir...!"


Slasshh! Prakkk!


['Hah?!']


Mira menebas dan menghancurkan mereka dengan mudah, dan dalam sekejap mata...


Jlebb!


['Aaghh!']


Pedang panas itu masuk menembus dada Flora, membuat seluruh dunia yang Flora rasanya seketika berubah menjadi keheningan. Ia melihat sesuatu yang berkilau keluar dari tubuhnya, Kristal yang menolongnya.


*-- 1 tahun yang lalu...


Ketika Flora sendirian, dimalam hari sementara semua orang menikmati kemeriahan festival yang diadakan dikota dengan begitu meriahnya. Ia hanya berdiam diri dan menatap kemeriahan itu dalam sepi dibukit, tidak ada siapapun yang menemaninya. Dia kesepian, merasa sakit, dan juga terasingkan.


" Hiks.. Hiks..."


Ketika ia menangis sendirian itu, saat itulah...


<'Apa kau kesepian??'>


" Huh?! Siapa itu..?"


<'Aku disini.'>


" Sebuah... Kristal..??"


Malam itu untuk pertama kali dalam hidupnya, ia melihat dan mendengar sebuah Kristal berbicara kepadanya.


" Siapa kau..?" Flora yang kesepian tidak bisa menahan diri dari rasa penasaran, kepada sesuatu yang dengan sendirinya berbicara dengan begitu lembut kepadanya.


<'Aku Boreas, siapa namamu?'>


" Aku Flora."


<'Flora... Kau punya nama yang indah. Kenapa kau tidak menikmati festival seperti yang lainnya dan malah berdiam disini sendirian?'>


Mendengar pertanyaan itu membuat Flora kembali sedikit sedih, mengingat nasibnya yang malang.


" Hiks... Tidak ada yang menyukaiku. Semua orang memperlakukanku dengan buruk, mereka membenciku.."


<'...Apa kau kesepian?'>


" ..Iya."


<'Jangan khawatir, aku juga.'>


" Kau juga? Tapi kenapa?"


<'Tidak ada satupun yang mencariku, aku selalu sendirian..'>


" Benarkah..??"


Untuk pertama kalinya Flora menemukan sesuatu yang begitu mirip dengannya, ia merasakan sesuatu yang anehnya familiar dan kekuatan yang entah bagaimana berkembang dalam dirinya.


" Aku berharap aku bisa punya setidaknya satu teman.."


<'Benarkah? Kalau begitu aku akan menjadi temanmu..'>


Sesuatu yang menerimanya..


" Sungguh??"


<'Iya. Aku akan menjadi temanmu untuk selamanya.'>


Seseorang yang berjanji kepadanya.


Ketika itu, Kristal tersebut yang mengaku sebagai temannya pun merasuk ke dalam tubuhnya, dan Flora mulai merasakan sebuah dunia yang terasa baru.


<'Mulai sekarang... Kita adalah teman, kita akan bersama selamanya. Aku akan memberikanmu kekuatan.. kekuatan yang bisa mencapai segalanya, dan melindungi semua yang kau suka.'> Kekuatan yang sangat besar itu mengalir dalam dirinya.


<'Singkirkanlah semua musuhmu... Flora.'>


Setelah hari itu, Flora benar-benar hidup dengan berbeda, dan dia tidak sendirian lagi karena para monster ada untuk bermain bersamanya. Meski begitu, dia juga merasa sesuatu tidak pernah benar, ada sesuatu yang kurang...


Dan ia menemukan kelompok ini. Kelompok yang dengan berani mendatanginya, kelompok yang melawannya bersama. Flora tidak mengerti. Padahal dia memiliki kekuatan yang sangat besar, tapi bagaimana bisa dia kalah dari mereka.


" Tidak... Tidak! Kristalku.. Satu-satunya temanku yang berharga! Jangan tinggalkan aku..!" Flora mengulurkan tangannya berusaha untuk meraih kembali Kristal itu, tapi ia tak bisa menjangkaunya.. Ia tak bisa, apalagi dengan Mira yang terus mendorongnya untuk jatuh.


" Temanku..."


Saat itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama.. air matanya pun kembali tumpah dari matanya. Air mata yang telah membeku, semua yang menyimpan kesedihan dan kesepiannya yang begitu besar.