The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Gift for Theodore



Ketika hari semakin sore, Altair bersama dengan Habel dan Ansel pun segera kembali ke istana. Karena mereka mungkin akan dapat masalah jika kembali terlalu terlambat, setidaknya... Mereka kembali sebelum matahari tenggelam.


" Hah, akhirnya kembali... " gumam Habel yang merasa sangat lelah setelah berkeliling kota seharian.


" He... Kenapa anda lemas begitu?? Bukankah sebelumnya anda yang paling bersemangat untuk pergi ke luar?? " ucap Ansel menggodanya.


Yang mana langsung mendapatkan tatapan tajam dari Habel, " Pasti menyenangkan jika seseorang tidak terus menunjukan manakan aneh selama jalan-jalan!." jawab nya yang kemudian mencengkram kerah baju Ansel dengan kesal.


" To-Tolong tenang dulu, bukankah Nona Altair juga tidak berkata apa-apa soal itu.." sahut Ansel pula yang kemudian langsung melirik ke tempat Altair berdiri sebelumnya, begitu pula dengan Habel, tapi...


Altair sudah tidak ada disana. Lebih tepatnya Altair sudah tidak bersama dengan mereka lagi.


" Eh? Kemana perginya Nona Altair??" Ansel bertanya-tanya sendiri.


" Mungkin sudah masuk duluan." ucap Habel pula menyahutinya.


Keduanya terdiam untuk sesaat dan saling pandang satu sama lain. Setelah itu, mereka pun memutuskan untuk menghentikan pertengkaran mereka dan masuk ke dalam istana.


Sementara itu disisi lain, Theodore terlihat sedang berjalan melewati taman untuk pergi ke istana nya. Dia memikirkan bagaimana hari Altair dan Habel yang baru pertama kali pergi ke kota, dia jadi tidak sabar mendengar cerita dari mereka.


" Astaga, Yang Mulia. "


Langkah Theodore terhenti setelah mendengar suara itu, ia pun menoleh dan mendapati seorang nona yang sangat ia kenali berdiri tepat disebrang tempat nya berdiri.


" Salam kepada Yang Mulia Putra Mahkota. " ucap nona itu dengan hormat dan senyuman yang tidak pudar dari wajahnya.


" Hallo, nona Orzsbet. Aku tidak tahu kalau kau ada di istana kekaisaran, apa yang membuatmu ada disini? " tanya Theodore dengan tenang.


Namanya adalah Rara Orzsbet, satu-satunya putri dari keluarga Orzsbet.


" Tidak ada yang khusus, Yang Mulia. Hanya saja, ayah saya dipanggil oleh Baginda Kaisar dan beliau meminta saya untuk menemaninya. " jawab Rara dengan baik.


" Begitu, ya.. " sahut Theodore pula.


Dia merasa kurang nyaman dengannya, bukan karena benci atau semacamnya. Tapi dia tidak suka dengan tatapan Rara padanya, tatapan yang penuh dengan ambisi kotor. Yang membuatnya bisa melakukan apa saja untuk memenuhi keinginannya itu.


" Sepertinya kau tidak ditemani oleh pelayanmu hari ini ya, Nona?" tanya Theodore.


Rara tertawa ringan, " Haha... Dia selalu bekerja keras untuk melayani saya, tapi hari ini saya memintanya untuk berlibur. Lagipula, bukankah ini lebih menyenangkan... bertemu hanya berdua satu sama lain, seperti sebuah cerita dongeng. " sahutnya menimpali Theodore dengan raut wajah malu-malu.


Theodore benar-benar tidak nyaman mendengar itu, membuatnya merasa merinding. " Ngomong-ngomong ini sudah sore... Bukankah sudah waktunya untuk kembali?? Mungkin Tuan duke sudah menunggu anda didepan gerbang. " ucap Theodore pula.


" Oh, benar. Kalau begitu-... "


" Pangeran Theodore!! "


Perkataan Rara terpotong oleh suara lain yang memanggil Theodore, dan itu membuat nya kesal. Sedangkan dari kejauhan, mereka bisa melihat Altair yang berlari dengan terburu-buru menghampiri mereka.


" Altair...?? " gumam Theodore.


Sementara itu, Rara kelihatan tidak suka dengan keberadaan Altair," Apa-apaan dia ini?! Bisa-bisanya dia bersikap tidak sopan dihadapan Pangeran Mahkota, apalagi sampai memanggilnya dengan namanya! " batin Rara dengan kesal, namun ia menyembunyikan raut wajah nya dengan kipas yang dipegangnya.


Altair pun berhenti tepat dihadapan mereka, sambil memegang sebuah kotak ditangannya.


" Pangeran, saya sudah mencari anda kemana-mana.. " ucap Altair, saat perhatian nya kemudian tertuju kepada Rara yang berdiri menatapnya serius disamping Theodore. " Ah, maaf. Apa saya mengganggu anda?? " tanyanya pula dengan resah.


Tapi Theodore mendekati nya dan membuat Rara kaget, apalagi saat dia memegang pundak Altair. " Tidak, kok. Jadi kenapa? Kupikir kau masih ada dikota, kalian pulang lebih cepat dari yang kuduga. " ucap Theodore menyahuti Altair.


" Oh, kami sudah melihat-lihat tempat yang ingin kami kunjungi. Tapi, Pangeran Habel terus mengeluh karena Tuan Ansel menunjukan makanan aneh padanya. " jawab Altair dengan antusias.


" Lalu, kami melihat sebuah keributan juga. Ada seorang pria yang mencuri uang anak kecil, dan hendak memukulnya. "


Melihat Altair yang bercerita dengan antusias seperti itu, membuat Theodore merasa kalau dia sedang bicara dengan seorang anak kecil yang baru pertama kali mencoba sesuatu. Apalagi karena Altair terus membuat ekspresi lucu setiap kali menceritakan hal itu.


" Apa dia benar-benar memukul anak itu?? " tanya Theodore.


" Tidak, karena saat itu aku langsung menendangnya. Kemudian 'Brukk!' dia jatuh, dan aku mengusirnya pergi dan aku juga mengembalikan uang anak itu. Setelahnya, Pangeran Habel merasa lapar lagi, tapi karena Tuan Ansel menunjukan makanan aneh lagi, beliau jadi marah. " jawab Altair.


" Memangnya makanan apa?? " tanya Theodore lagi.


" Katak labirin panggang dan Ular goreng. " sahut Altair dengan wajah polos.


Sementara Theodore memasang wajah dengan senyum datar, " Tipikal Ansel. " ucap batinnya, disaat yang sama dirinya juga mengingat kalau dia juga mengalami hal itu.


Disisi lain, Rara makin terkejut melihat itu. Bukan hanya sikapnya yang berbeda, bahkan cara bicara Theodore kepada Altair sangat berbeda dari pada kepadanya tadi.


" Siapa gadis itu sebenarnya...!" Rara makin kesal dengan Altair.


Sementara itu, Altair dan Theodore malah sibuk bicara berdua sampai kemudian Altair memberikan kotak yang ia bawa kepada Theodore.


" Lalu, I-Ini... Hadiah untuk anda. Mungkin.. Tidak seberapa, tapi.. saya harap anda mau menerimanya. " ucap Altair dengan ragu-ragu.


Dan Theodore pun menerima kotak itu, " Hm, terima kasih. Padahal kau tidak perlu membawakanku oleh-oleh segala. " sahutnya, yang kemudian hendak membuka kotak ini.


" Aahh! Tunggu! " Altair menggenggam tangan Theodore untuk menghentikan nya dari membuka kota itu.


Dan itu membuat Theodore terkejut dan sedikit merona dengan itu....


" Ja-jangan membukanya dulu, itu sedikit memalukan. " ucap Altair dengan wajah yang memerah.


" Apa?? " sahut Theodore pula bingung dengan maksud Altair.


" Tu-Tunggu saya pergi dulu, baru anda membukanya. " jawab Altair, disaat yang sama dirinya juga berjalan mundur. " Ka-Kalau begitu saya pergi dulu-... "


Duk!


" Aduh!."


Tapi Ketika dirinya berbalik, dia lupa kalau ada sebuah pilar dibelakangnya. Alhasil, Altair malah menabrak pilar itu.


" Altair! Kau baik-baik saja?? " tanya Theodore dengan khawatir, dia langsung mendekatinya dan memeriksa apa Altair terluka atau tidak.


" Ah, iya. Hanya kepala pusing.. " jawab Altair sembari memegangi kepalanya.


" Makanya, lain kali berhati-hatilah. " ucap Theodore.


" Iya... " sahut Altair dengan patuh, " Kalau begitu sampai jumpa, Pangeran. " ucapnya pula yang kemudian berlari pergi dari sana.


Sedangkan Theodore hanya menatapnya yang pergi menjauh dari tempatnya, perhatian nya pun teralihkan kepada kotak yang diberikan oleh Altair. Ia membuka kotak itu, dan menemukan sebuah bros yang terbuat dari permata berwarna ungu yang sangat mirip dengan matanya.


Theodore diam-diam tersenyum memikirkan itu, dia tidak pernah menyangka kalau Altair sangat perhatian akan hal seperti itu.


" Dasar bodoh, kenapa kau malu karena hal seperti ini??" gumam Theodore sambil terkikik geli.


Sementara itu, Rara yang terabaikan, yang rupanya masih ada disana keliatan benar-benar tidak suka. Matanya penuh dengan kebencian, dia benar-benar sangat membenci Altair padahal itu pertemuan pertama mereka. Dan dia mengepalkan tangannya dengan erat melihat berbedaan perlakuan yang ditunjukan oleh Theodore.


" Awas saja gadis itu! Aku tidak akan membiarkanmu begitu saja!!." batinnya.