The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Birthday party



Dimalam Ulang Tahun Theodore, sama seperti yang telah ditentukan sebelumnya, semua berjalan seperti apa yang seharusnya. Para tamu pun berdatangan satu persatu, begitu pula dengan para undangan dari luar kekaisaran, tidak ada yang menyadari kejadian apapun yang terjadi sebelumnya.


Bahkan soal kelompok yang ditangkap waktu itu, tidak ada yang tahu kecuali Kaisar yang pasti mendapatkan laporan itu dari Yin dan Mira.


Dan diantara para bangsawan terpandang yang datang dan menarik perhatian dipesta, seorang pria lebih memilih diam dipinggir ruangan. Menjauh dari perhatian orang-orang disana... Dia adalah Lecht Reus Chrysos. Kaisar terdahulu Chrysos, yang jadi perwakilan langsung dari sana.


" Aku penasaran karena Ning begitu menyembunyikan nya selama 5 tahun ini, baru sekarang dia akan menunjukannya kepada semua orang luar. " ucap batinnya sambil memperhatikan suasana pesta itu dengan seksama.


Dia memang cukup dekat dengan keluarga kekaisaran Foldes sejak Quennevia menjadi ratu disana. Terutama Ning yang saat ini menjadi Kaisar disana sampai Pangeran Theodore menggantikannya dimasa depan.


Dan Lecht sangat penasaran seperti apa Altair yang begitu terkenal itu, sejak ia mendapatkan surat darinya 5 tahun yang lalu. Namun tidak pernah izinkan untuk melihat nya.


Sementara itu Altair, dia masih berada dikamarnya... persiapan nya sudah selesai untuk datang ke pesta. Hanya saja dia sedang menunggu surat untuknya.


Burung kertas itu...


Sejak 5 tahun yang lalu, ketika burung kertas itu datang padanya. Mereka masih tetap saling berkirim surat dengannya, tapi Altair masih belum memgetahui siapa orang yang memberikan surat itu. Tapi Altair sama sekali tidak merasa terganggu dengan hal itu, justru dia sangat menantikan pertemuan mereka.


" Harusnya surat itu datang sekarang, kenapa lama sekali..." ucap batin Altair yang berdiri didepan jendela saat ini.



" Nona Altair.. " ucap seorang pelayan mengalihkan perhatian nya, Altair pun menoleh kearah pelayan itu, " Nona, sudah waktunya untuk pergi. " lanjutnya pula.


Altair terlihat agak kecewa karena masih belum mendapatkan surat itu, tapi dia tidak boleh membuat orang-orang menunggu hanya karena itu. Karena nya.. dengan sedikit terpaksa, Altair pun harus pergi.


" Baiklah. " ucapnya kepada pelayan itu sambil tersenyum ramah.


Ia pun berjalan kearah pintu diikuti pelayan itu, sampai langkahnya berhenti kembali karena merasakan keakraban itu lagi.


" Dia datang. " ucap Altair yang merasa sangat senang dan menoleh ke belakang sana.


Burung kertas itu masuk melalui jendela yang terbuka, dan terbang langsung ketangannya. Altair pun langsung membuka surat itu dan membacanya...


["Bersenang-senanglah dipesta itu, jangan terlalu banyak memikirkan hal aneh, Altair. Kita juga akan segera bertamu. "]


Begitulah isinya, Altair begitu bahagia setelah membacanya, apalagi saat tahu mereka akan segera bertemu. Ia memeluk surat itu dengan kedua tangannya sebentar, kemudian menyimpannya diatas meja dan ia pun pergi bersama pelayan itu untuk pergi ke tempat pesta.


Sementara didekat aula pesta, keluarga kerajaan telah menunggu dan siap untuk masuk kapanpun. Alasan mereka menunggu tentu saja, Altair.


" Maaf membuat menunggu. " ucap Altair pula terdengar dan mengalihkan perhatian semua orang.


" Wow, kak Altair terlihat sangat cantik. Seperti seorang malaikat. " puji Habel ketika melihat nya datang.


" Terima kasih. " sahut Altair.


Ia hanya tertawa malu mendengar nya, meski Habel selalu bilang kalau dia cantik dia tetap tidak terbiasa dengan hal itu. Ia kemudian teralihkan ketika Theodore mengulurkan tangan padanya.


" Ayo, kita tidak boleh terlambat masuk. " ucapnya dengan senyuman lembut diwajahnya.


" Iya. " jawab Altair, ia hendak meraih tangan Theodore tapi Habel justru menghentikan nya.


" Tidak! Kak Altair akan masuk denganku. Dulu kakek yang selalu memegang tangan kak Altair, dan saat debut kakak yang melakukan nya. Sekarang giliranku!. " ucap Habel dengan ekspresi marah, dia bahkan terus memeluk Altair dan tidak mau melepaskan.


" Ya, baiklah. " sampai Theodore harus mengalah karena dia memaksa seperti itu.


Bertengkar dihari baiknya, Theodore tidak mau melakukan hal itu. Apalagi yang ia hadapi adalah saudara kecil nya yang bahkan belum dewasa, dia akan dapat masalah jika melakukan nya.


Dan kemudian, Ning pun menengahi mereka. " Baiklah, jika kalian sudah selesai ber-rebut kita harus segera masuk. " ucapnya dengan wajah datar.


Yang diangguki oleh mereka bertiga...


Pintu ruang pesta pun terbuka, dan kedatangan mereka langsung diumumkan oleh penjaga yang ada disana.


Mendengar hal itu, semua perhatian pun langsung terpaku kepada mereka berempat. Dan orang-orang yang langsung membungkukan badannya kepada Kaisar.


" Terima kasih telah datang semuanya. Ini adalah pesta ulang tahun ke 19 putra mahkota, kuharap diulang tahunnya kali ini putra mahkota akan semakin diberkati, dewasa dan bisa menjadi pemimpin yang bertanggung jawab serta binaksana dimasa depan. Silahkan nikmati pestanya sepuas kalian. " ucap Ning kepada sebagai sambutan kepada semua tamu yang ada disini.


Yang mana juga disambut oleh tepuk tangan dari para tamu, dan lagu dansa pun langsung diputar.


Altair yang berada diantara kerumunan tamu melihat kesana kemari sampai perhatian nya tertuju kepada teman-teman nya, yaitu Adriana dan Daphine yang melambaikan tangannya kepada Altair.


Beruntung sekali, Altair memang sedang mencari mereka. Dia ingin menghindar dari para hyena (pria bangsawan) yang menatapnya tajam dari kejauhan. Altair pun langsung buru-buru menghampiri mereka.


" Daphine! Adriana! Senang melihat kalian disini. " ucap Altair dengan begitu gembira, ia bahkan langsung memeluk mereka.


" Iya, rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali kita bertemu. Bagaimana kabar anda?" tanya Daphine.


Tapi mengingat itu membuat waut wajah Altair jadi tidak enak, " Haah... Saya takut pada para hyena itu. " ucapnya sambil memegangi kepala merasa pusing.


Dan teman-teman nya yakin dengan hal itu, karena mereka juga melihat nya. " Ah...haha... tolong bersabar. " ucap Daphine menimpali.


" Bagaimana jika kita pergi mengambil beberapa kudapan? Itu bisa membuat anda merasa lebih baik. " usul Adriana yang kamudian menarik tangan Altair pergi.


" Ide bagus. " sahut Daphine pula.


Mereka pun langsung pergi mendekati meja terdekat dimana makanan berada, untuk menghindar pria-pria bangsawan itu. Demi Altair yang mereka sayangi.


" Ngomong-ngomong, Nona Altair. Pakaian yang anda pakai sangat indah, terlihat seperti dibuat menggunakan bulu putih yang begitu bersih. Dari mana anda mendapatkan nya??" tanya Adriana dengan begitu penasaran.


Yang juga menarik perhatian Daphine, " Oh iya, aku juga ingin tahu tentang itu. " sahutnya.


Altair pun tertawa kecil, " Seseorang membuatkannya untukku, dia teman baikku. " jawabnya kepada kedua temannya itu.


" Benarkah? Woah, jika dia menjadi seorang Disainer pasti akan sukses sekali. " ucap Daphine yakin dengan hal itu.


Altair tidak yakin, karena yang mereka bicarakan itu adalah seekor naga. Tapi...


Kenyataan nya memang begitu sih, orang-orang memperhatikan nya karena gaunnya yang terlihat indah dipakai oleh Altair. Tapi meskipun begitu, selalu ada saja orang-orang yang tidak suka kepadanya.


" Dia orangnya 'kan? Barusan dia datang bersama keluarga kekaisaran. "


" Seorang gadis yang tidak jelas asal-usulnya berani menempel kepada keluarga paling berkuasa di negara ini. Tidak tahu malu. "


" Dia mungkin menggunakan cara licik untuk menggoda putra mahkota agar dijadikan putri mahkota. "


Mereka bisik-bisik hal buruk tentangnya dibelakang nya, dan menyanjung Altair dengan kata-kata penuh bisa didepannya. Tapi... meskipun mereka bisik-bisik, Altair masih tetap bisa mendengar apa yang mereka katakan.


Kata-kata mereka terdengar cukup kasar dan itu membuat Altair sedih... Teman-temannya juga menyadari hal itu.


" Tidak apa-apa, Altair. Jangan dengarkan mereka, perkataan buruk orang lain tidak perlu dimasukkan ke dalam hati." ucap Adriana memberi semangat kepada Altair.


Daphine menyetujui hal itu, " Itu benar. Kamu itu seperti karya seni. Tidak semua orang mengerti tentang dirimu, tetapi orang-orang yang mengerti, tidak akan pernah melupakanmu selamanya. DAN... Orang yg memiliki sifat sok tahu, hanya akan memperdalam ketidaktahuan yang dimilikinya. " ucapnya cukup lantang sampai orang-orang yang tadi bisik-bisik langsung bungkam dan merasa malu.


Altair pun kembali tertawa berkat teman-temannya, " Terima kasih, kalian benar-benar sangat baik. " ucap Altair kepada mereka.


Dan keduanya pun senang mendengar itu... Mereka pun kembali menikmati pesta dan tertawa bersama. Saat seseorang datang dari belakang menghampiri mereka...


" Altair.. " orang itu memanggil nya.


Dan Altair yang dipanggil pun langsung menoleh kearahnya, " Guru? Ada apa? " tanyanya, ya kepada Mira.


Jujur saja saat ini Altair sedang terpukau, Mira yang biasanya selalu memakai pakaian kesatria meski datang ke pesta, kini berdiri dihadapan nya dengan gaun indah yang ia pakai dan riasan yang sangat cantik.


Ia baru tersadar ketika mendengar apa yang dikatakan Mira padanya kemudian, " Yang mulia Kaisar memanggilmu. " ucapnya, yang membuat Altair tiba-tiba jadi gugup.