
Setelah mendengar apa yang telah Israhi bicarakan dengan kenalannya, Altair dan yang lainnya semakin terkejut dengan hal itu. Monster biasanya tidak berdiam disatu tempat sepanjang waktu jika mereka berkelompok, kecuali jika mereka membuat sarang disekitar sana. Namun... menurut penuturan Aron yang pernah ikut mencari bersama beberapa warga yang lain, sama sekali tidak ada sarang monster disekitar kota.
Itu sangat sulit dipercaya, apalagi karena adanya kelompok aneh yang ikut muncul bersamaan dengan kedatangan monster-monster itu. Kemungkinan besarnya mereka lah yang mengendalikan monster itu untuk membuat kekacauan dikota ini.
" Apa yang harus kita lakukan? Jika dibiarkan, cepat atau lembat kota ini akan hancur. Korban jiwanya juga pasti tidak akan sedikit. " ucap Mira kepada mereka yang masih terdiam memikirkan hal itu.
" Secara pribadi, aku berniat menetap sementara dan membantu. Kalian bagaimana?" tanya Israhi kepada teman-teman pula.
" Jika kau tinggal, kami juga tinggal. Tidak mungkin kita saling meninggalkan, apalagi ada orang yang membutuhkan bantuan disini. Benar, kan? " sahut Yi yang diangguki oleh yang lain.
Yah, mereka teman-teman yang sangat loyal. Sulit menemukan orang seperti mereka.
Sementara itu, Altair hanya diam di tempat nya semenjak mendengar situasi saat ini. Dia bahkan tidak sedikit pun mengangkat kepalanya menatap mereka yang ada disana, dan hanya diam sambil menggigil.
Ini bukan karena dingin. Tapi mimpi buruknya...
Kejadian yang sama akan terulang di tempat nya berada saat ini jika tidak dihentikan.
" Bagaimana ini...? Akan ada orang yang mati lagi. Kota ini akan hancur. Sama seperti malam itu.. Itu tidak boleh terulang.. Aku harus bantu.. tapi bagaimana..?" batinnya benar-benar tidak tenang karena hal itu.
Keinginan dan ketakutan nya bercampur menjadi satu dan membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih. Disaat yang sama, Mira yang duduk disampingnya menyadari hal itu.
Ia pun mengulurkan tangannya, dan menggenggam kedua tangan Altair yang ia tautkan bersama. Membuat Altair sendiri menoleh kearahnya.
Mira hanya tersenyum, kemudian ia berkata. " Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja. Percayalah padaku. "
Mendengar itu, membuat Altair merasa sedikit lebih baik. Ia pun menganggukkan kepalanya kepada Mira dan berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
Malam ini, mereka akan menginap dirumah Aron. Sambil menunggu kedatangan monster-monster yang selalu datang tiap tengah malam itu, tidak ada satupun diantara mereka yang bisa benar-benar tidur dengan nyenyak. Termasuk Altair...
Karena hal itu, Altair pun bangun dan melihat keluar melalui jendela. Situasi lebih sepi dan gelap daripada siang hari, bahkan terlihat seperti tidak ada satu pun kehidupan disana. Seperti kota mati.
Tidak ada tanda-tanda kalau monster akan datang, Altair merasa ingin keluar sebentar. Karena hal itu... Ia pun langsung melompat keluar melalui jendela, jika dia keluar lewat pintu, Mira pasti akan langsung datang dan melarangnya keluar. Jadi ia lebih memilih jendela.
" Hm, Aku penasaran apa ada hal yang menarik di kota ini." batin Altair, ia pun berjalan mengikuti jalan yang saat ini ada dihadapannya.
Tanpa menyadari, sepasang mata lain melihat nya yang berjalan pergi setelah keluar dari kamarnya... Israhi.
" Apa yang dia lakukan??" Israhi bertanya-tanya.
Ia sengaja tidak tidur dan mengawasi sekitar dari atas rumah sebelum monster datang, namun yang ia lihat justru Altair yang pergi dari sana. Tidak mau hal buruk lain terjadi kepadanya, ia pun diam-diam mengikutinya kearah yang ia tuju.
Disisi lain, Altair tenggelam dalam pikirannya sendiri, ia sedang berpikir apa yang harus ia lakukan ketika monster-monster itu muncul. Mira pernah bilang kepadanya kalau jenis monster terbagi kedalam banyak jenis. Diantaranya adalah monster yang tidak memiliki akal dan monster yang haus akan darah.
Kedua monster itu tidak akan bisa ditaklukan dengan mudah jika tidak dilumpuhkan dan dikurung atau dibunuh. Altair masih belum tahu jenis monster seperti apa yang datang ke kota itu, dan berpikir mungkin ada sesuatu yang bisa membantunya menentukan jenis monster yang akan datang.
" Jika memasang perangkap.... Kurasa itu akan memudahkan untuk menangkap mereka. Perangkap sihir, sebuah kurungan yang tidak akan bisa dihancurkan oleh semua monster itu..." pikir Altair.
Ia tidak memperhatikan sekitar, sekarang justru berada di tempat yang tidak ia kenali. Malam gelap, dan sebagian besar bangunan dikota tidak bercahaya, sulit mencarinya dikegelapan. Meski dia memang bisa mencari Mira dari aura nya, sih.
Tapi dia lebih tertarik dengan tempat dimana dirinya berada saat ini...
" Ini terlihat kuno. " batin Altair saat melihat lantai batu yang terlihat banyak memiliki ukiran dibawah kakinya.
Dia berdiri ditengah-tengah sebuah altar, dengan sembilan pilar batu yang mengelilingi nya.
" Rasanya ini tidak asing... " guman Altair agak ragu, saat kemudian angin tiba-tiba berhembus dan pemandangan didepannya pun berubah seketika.
Sebuah padang ilalang yang luas didepan matanya terlihat seperti permadani emas, ia masih berdiri di altar itu. Saat kemudian ia melihat sesuatu turun dari langit, dengan cahaya terang yang begitu menyilaukan. Seorang perempuan... dengan 9 sayap yang berkilau dipunggungnya.
" Altair... Altair!.."
Ia mendengar seseorang memanggilnya, namun perhatiannya masih terpaku kepada Malaikat yang turun dari langit itu. Namun saat perempuan itu menoleh kearahnya, Altair pun langsung sadar seketika..
" Huh??" responnya melihat Israhi yang kini ada tepat dihadapannya sambil memegang kedua pundaknya dengan ekspresi aneh menurut Altair.
" Altair, kau baik-baik saja??" sedangkan Israhi sebenarnya khawatir melihat nya yang sedari tadi diam saja.
Altair tidak mengerti maksudnya, dan memiringkan kepalanya. " Ha? Apa maksudmu? Aku baik-baik saja, kok. Ngomong-ngomong kenapa kau disini, kapan kau datang? " tanya Altair penasaran.
Israhi yang mendengar nya juga bingung sendiri, ia pun menarik tangannya dari pundak Altair dan berkata.
" Aku mengikuti mu karena kau keluar sendiri dimalam hari. Aku bahkan sudah memanggil mu sedari tadi, tapi kau sama sekali tidak merespon. " ucapnya kepada Altair.
" Mengikutiku? Dari tadi?" sahut Altair pula memastikan. Dan Israhi pun menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan.
Bukannya terkejut, Altair justru melamun lagi. Dia tidak tahu kalau Israhi mengikuti nya sampai kesana, dan sebelumnya ia yakin melihat sesuatu, sayangnya dia tidak ingat apa itu. Sama seperti mimpi yang sebelumnya ia lihat.
Altair ingin tahu kenapa sekarang ia mudah sekali melupakan sesuatu, apa yang telah terjadi kepadanya??
" Altair, kau melamun lagi. " ucap Israhi melihat itu agak bingung. Jika tidak tenggelam dalam lamunan, Altair pasti akan bicara sendiri. Ia jadi ingin tahu apa yang ada didalam pikiran nya setiap waktu.
" Em, yah. Aku hanya merasa melupakan sesuatu. " ucap Altair pula menyahuti nya.
Tengg.. Tengg.. Tengg...
Suara lonceng jam di kota terdengar keras sampai ke tempat mereka, pertanda tengah malam telah datang.
Kemudian sesuatu langsung Altair dan Israhi rasakan dari tempat mereka, termasuk suara gemuruh yang terdengar datang mendekat dari kejauhan menuju ke arah kota.
" Dari barat. " ucap Altair mengenai suara itu.
Israhi pun menoleh kearah kota berada dan menyipitkan matanya, " Mereka datang, kita harus kembali. " ucapnya yang kemudian meraih tangan Altair dan menariknya kembali ke kota.