The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
A little fuss



Masih disaat yang sama, ketika Altair bersama dengan Pangeran kecil dan Ansel berjalan-jalan dikota. Mereka mencoba banyak hal yang belum pernah mereka lihat dan coba, bahkan cukup banyak barang yang mereka beli tanpa sadar ketika melihat-lihat kota.


" Hee... Kita sudah membeli banyak barang. Haruskah kita pulang sekarang? Saya takut kalau guru sedang mencari saya sekarang. " ucap Altair sambil tersenyum dengan lembut.


" Tapi.. Ini pertama kalinya kakak melihat ibu kota, bukan? Jadi kurasa tidak masalah jika bolos kelas sehari saja. " Pangeran kecil menimpali dengan wajah polos nya.


" Itu benar. Saya selalu merasa kalau anda sepertinya terlalu banyak berlatih dan kurang bersenang-senang, Nona Altair. " bahkan Ansel juga mengakui hal itu.


Altair hanya bisa tertawa canggung dengan itu, alasan nya bukan karena dia gila belajar atau semacamnya. Dia hanya ingin cepat-cepat berpetualang dan mencari orang tua aslinya. Meski begitu dia juga tidak terlalu ingin pergi sih, jika itu mungkin.


Tapi jika dia tidak mencari mereka, maka dia mungkin tidak akan pernah bertemu dengan mereka sama sekali..


" Ta-tapi bagaimana jika Baginda Kaisar mencari anda, beliau pasti sangat khawatir. " Altair kembali memberi dalih yang mungkin akan mengubah pikiran Habel.


Tapi yang ia dapat adalah wajah tidak percaya dari nya, " Kakek mengkhawatirkan ku?? Jika itu benar kurasa dia sedang kerasukan.. " ucapnya dengan raut wajah seolah-olah melihat sesuatu yang menjijikan.


" Eh..?? " Sedangkan Altair bingung mendengar itu.


Bukankah wajar jika seorang kakek mengkhawatirkan cucu nya?? Atau mungkin ada sesuatu yang tidak Altair ketahui tentang itu. Dan disisi lain... Ansel malah sedang berusaha menahan diri agar tidak tertawa mendengar apa yang mereka bicarakan.


Dia tidak membentu sama sekali...


Sampai sesaat kemudian, perhatian mereka bertiga teralihkan kepada keributan tak jauh dari tempat mereka berada. Orang-orang berkerumun menghalangi jalan, dan hanya diam melihat apa yang sedang terjadi.


Karena penasaran dengan hal itu, Altair pun juga ikut melihat kesana. Menyelinap diantara orang-orang yang berkerumun itu..


" Eh! Kak Altair! " panggil Habel yang sama sekali tidak dipedulikan oleh Altair, ketika dirinya mulai menghilang ditengah keramaian. " Ah! Dia menghilang.. Ayo cepat kita susul. " ajak nya pula kepada Ansel yang masih disamping nya.


" Oke. " Dan hanya itu jawaban darinya.


Disisi lain, Altair yang sudah sampai ditempat paling depan melihat kejadian yang jadi tontonan orang-orang itu. Itu bukanlah hal yang terlalu bagus, karena yang dilihat nya disana adalah seorang pria dewasa yang sedang menindas anak kecil.


Jika dilihat dari situasinya, orang-orang itu tidak berani menengahi keributan itu karena pria itu mungkin cukup kuat. Atau mungkin karena dia memiliki hubungan dengan golongan atas yang tidak bisa sembarangan mereka ganggu.


" Menyingkir dariku, dasar kau anak sialan!! " bentak pria itu kepada anak kecil yang tidak mau melepaskan kakinya.


Sedangkan anak itu, dia sama sekali tidak bergeming. " Tidak bisa!! Anda harus mengembalikan uang yang sudah anda ambil!! Hanya itu uang yang kumiliki agar bisa membeli obat untuk ibuku!! " teriak anak itu.


" Hah! Itu salahmu karena sudah merusak barang milikku!! " ucap pria itu dengan sangat marah, yang kemudian memukul anak itu.


Bugh...


" Akh!! " Karena menerima pukulan dari pria itu. Anak kecil malang yang uangnya diambil itu pun melepaskan kaki pria itu dan terjatuh menghantam tanah.


Altair yang melihat pria dewasa memukul anak kecil itu langsung menyipitkan matanya dengan tajam dan dahi berkerut.


Sedangkan, pria dewasa itu mencengkram pakaian anak itu dan menariknya. " Heh, anak kecil. Jika tidak ingin uangmu diambil, lain kali perhatikan langkahmu agar tidak menabrak orang sembarangan!! " ucap pria itu yang kemudian ingin memukul anak itu lagi.


Anak kecil itu menutup matanya ketakutan, ketika berpikir kalau pukulan itu akan mengenainya lagi. Tapi pukulan itu tidak pernah mengenainya, penasaran dengan apa yang terjadi dia pun kembali membuka matanya. Dan yang dia lihat... Seorang gadis muda menghentikan pria itu dari memukulnya.


Dan ya, udah pasti gadis muda itu adalah Altair...


Orang-orang juga terpaku dengan apa yang dilakukan olehnya, itu karena ada orang yang berani menghentikan pria itu. Disaat yang sama, Habel dan Ansel yang melihat itu juga sama-sama terkejut. Bukan karena mengkhawatirkan Altair, tapi mereka mengkhawatirkan nasib dari pria itu.


Namun ketika itu, Altair menatapnya dengan wajah ramah dan senyum ceria. " Halo, paman! Boleh tidak jangan memukulnya lagi? Jika ada masalah kita bisa duduk dan bicarakan semuanya dengan baik-baik. " ucapnya dengan suara lembut.


Tapi pria itu menatapnya nyalang. " Hah? Siapa kau?! Kamu juga ingin dipukul-..?! " ucap pria itu yang terpotong sebelum terselesaikan.


Duak...


" Gah..! "


Brukk...


Disaat yang sama ketika pendangan Altair berubah menjadi dingin, sebuah tandangan juga tepat mengenai pria itu hingga membuatnya jatuh tersungkur.


" Wah, hebat sekali. "


" Sangat bertalenta. "


Orang-orang memujinya setelah melihat apa yang dia lakukan, sedangkan pria itu terkejut dan marah dengan apa yang baru saja terjadi.


Sementara Altair hanya memiringkan kepalanya, " Ah, maaf, maaf. Sepertinya aku tergelincir. Tapi kurasa itu akan baik-baik saja, karena tendanganku tidak sekuat itu, bukan? Dan jika kau ingin memukul, ayo sini pukul aku! Apa gunanya memukuli anak-anak. " ucap Altair sambil meremehkan pria itu.


" Asalkan aku tidak berlebihan, tidak akan ada yang menyadari kekuatanku. " ucap batinnya pula.


Altair masih ingat kata-kata Kaisar padanya, dia harus menyembunyikan kekuatan aslinya sebisa mungkin. Dan dia akan melakukan itu.


" Wanita jal*ng! Aku adalah Hunter paling kuat disini! Beraninya kamu bersikap seperti ini kepadaku, tunggu saja kematianmu! " geram pria itu dengan sangat-sangat marah sekali.


Tapi Altair hanya tersenyum melihat itu. " Huu... Aku takut sekali. " ucapnya dengan nada takut yang dibuat-buat.


" Huh! Jika sudah takut, berlutut dan sembahlah aku, aku tidak akan melepaskan mu jika tidak tampak ada darah! " ucap pria itu pula dengan sombongnya.


Altair tersenyum kosong mendengar itu, apakah orang yang terlalu percaya diri selalu seperti itu, padahal dirinya tidak sekuat itu, otaknya sudah rusak sampai seperti itu??


Tapi karena Altair sudah kesal dengan kesombongan nya itu, dia pun kembali memberikan sebuah tendangan ke wajah orang itu, sampai dia tidak sadarkan diri. Setelah itu, barulah ia beralih ke anak kecil yang masih menatapnya dengan terkejut itu.


" Adik kecil, apa barang ini yg sudah direbut nya? " Altair mendekati anak itu kemudian berjongkok dihadapannya sambil memperlihatkan sebuah kantung kecil berisi uang yang ia ambil dari pria itu.


" Ah, i-iya. Terima kasih karena sudah membentuku. " anak itu tersadar dan mengiyakan pertanyaan nya, dan menerima kantung itu Altair memberikan kembali uang miliknya.


Tapi Altair masih penasaran dengan satu hal, " Ngomong-ngomong... Sebelumnya aku dengar ibumu sedang sakit, ya?? Kalau boleh tahu, penyakit apa yang dia derita?? " tanya Altair dengan lembut.


Dia kelihatan ragu untuk menjawabnya, tapi kemudian dia pun memberitahu Altair tentang apa uang ingin ia ketahui. " Emm... Aku tidak tahu. Tapi ibu selalu batuk-batuk, bahkan kadang batuknya darah. Dan akhir-akhir ini, penyakitnya semakin parah hingga ia tidak bisa bangun dari tempat tidur. " jawab anak itu dengan sedih.


" Bagitu ya. Bagaimana dengan ayahmu?? Apa pekerjaannya?? " tanya Altair lagi.


" Ayahku pergi meninggalkan kami setelah tahu ibu memiliki penyakit, sejak saat itu ibu lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Tapi karena ibu tidak bisa melakukan apapun sekarang, aku yang harus mengurusnya sampai sembuh. " Anak itu menjawab pertanyaan nya sambil menahan air mata.


Altair tahu bagaimana rasanya itu, kurang lebih begitu. Ia pun mengulurkan tangannya pada anak itu, dan mengelus kepalanya dengan sayang. Anak itu cukup terkejut dan menatapnya penuh tanya, apalagi Altair yang tersenyum dengan cerah padanya.


" Anak baik. Kau sudah bekerja keras, ibumu pasti sangat bangga padamu. " ucap Altair dengan lembut, hingga membuat anak itu terharu dengan kata-katanya. " Pasti sulit ya, menanggung semuanya sendirian. Tapi jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Karena ini adalah hari keberuntunganmu. " lanjut Altair pula yang lagi-lagi menimbulkan sebuah tanda tanya dibenak anak itu.


" Hari keberuntunganku?? " ucap anak itu dengan bingung.


Saat Altair kemudian mengeluarkan sesuatu dari gelang ruangnya, dan memberikan itu pada anak kecil tersebut.


" Ini adalah obat yang diam-diam kubuat dari buku yang kubaca, obat ini bisa menyembuhkan penyakit ibumu. Lalu... Ada uang yang kutambahkan dalam kantung mu juga, itu hadiah untuk keberanianmu melawan pria aneh tadi. " Altair berbisik ketika mengatakan itu, agar tidak ada siapapun yang mendengar nya.


Anak itu bertanya-tanya kenapa dia melakukan itu, tapi kemudian dia tersadar ketika Altair menaruh jari telunjuknya didepan bibirnya.


" Jangan beri tahu siapapun tentang ini, oke?? Karena bisa saja ada orang jahat lain yang ingin merebut itu darimu, segeralah pulang dan berikan obat itu pada ibumu. Dan gunakanlah uang yang kuberikan sebaik-baiknya, kau mengerti?? " ucap Altair.


Anak itu menganggukkan kepalanya mengerti, " Em, baiklah. Terima kasih banyak. " jawabnya dengan pasti.


Altair hanya tersenyum mendengar itu, kemudian bangkit berdiri hendak pergi ketika melihat Pangeran kecil dan Ansel yang sudah menunggu nya dengan wajah meminta penjelasan.


" Emm... A-anu.. " langkah Altair kembali terhenti ketika anak itu berusaha memanggilnya, dia pun menolah dan menatapnya bertanya. " Si-siapa nama anda?? " tanya anak itu pula.


Altair yang mendengarnya hanya tersenyum, " Namaku Altair. " jawabnya yang kemudian melambaikan tangan kepada anak itu dan pergi bersama dengan Pangeran kecil dan Ansel.


" Nona Altair... Suatu saat nanti, aku pasti.. Akan membalas kebaikanmu. " batin anak itu dengan sangat yakin.


Altair juga mayakini, kalau setiap hal baik yang dia lakukan, maka akan dibalas dengan hal baik juga. Namun ada satu hal yang tidak ia pikirka, yaitu setelah kepergian nya dari sana, rumor tentangnya pun mulai menyebar... Sampai ke telinga seorang pemilik Guild Informan yang sudah pasti memiliki hubungan dengan dirinya.


" He... Jadi anak itu benar-benar ada disini, ya. Saat Kaisar mengirimkan surat itu, kupikir itu hanya salah satu lelucon tidak bergunanya. Tapi rupanya dia serius, ya. Haah, Benar-benar.... ibu dan anak yang sangat mirip, bahkan sama-sama meninggalkan hal yang merepotkan. " ucap pemilik Guild itu ketika mendengar berita itu dari bawahannya yang ternyata melihat langsung apa yang sudah terjadi.


Dan tentu saja, orang itu adalah Titus


" Lalu, bagaimana ketua?? Apakah kita harus mengawasinya?? " tanya sang bawahan setelah mendengar respon dari atasannya itu.


" Tidak. Biarkan saja, jika sudah waktu nya dia akan datang sendiri ketempat ini. Jika kita mendekatinya diam-diam, dia justru akan berpikir kita adalah penjahat. Lakukan saja pekerjaanmu, tidak udah pikirkan masalah ini. " jawab Titus dengan santainya.


" Saya mengerti. Kalau begitu saya permisi. " ucap sang bawahan pula yang kemudian pergi dari ruangan Titus.


Setelah kepergian bawahannya itu, Titus pun menyenderkan punggungnya dikursi yang ia duduki sambil menghela nafas panjang. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja sesaat ketika dia memikirkan hal itu kembali, sampai perhatiannya pun tertuju pada surat dari Kaisar yang sebelumnya dia terima.


" ... Altair, ya... Kira-kira sampai kapan kita bisa menyembunyikannya... " gumam Titus dengan ekspresi yang sangat serius.