The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Master for Altair



" Hm.. Hm.. "


Altair tengah mempersiapkan diri sambil bersenandung riang, ia akan menjalani latihan mengontrol mana dihari pertama, juga akan bertemu dengan guru yang akan mengejari nya bertarung.


" Bagaimana menurut kalian?? Apakah cocok?? " tanya Altair kepada dua dayang yang menemaninya disana.


" Sangat cocok, Nona. Apapun yang anda pakai selalu kelihatan cantik. " jawab Aisha yang jadi salah satu dayang disana.


" Benar, benar. " ucap yang satunya lagi, Arini.


Altair jadi malu karena dipuji seperti itu, ya meskipun sebenarnya dia tidak terlalu terkejut jika ada yang bilang seperti itu padanya. Sewaktu didesa juga seperti itu. Orang-orang selalu bilang seperti itu saat memujinya, tapi jika mereka yang memujinya dia jadi sangat malu.


" Kalau begitu, aku akan pergi dulu. " ucap Altair pula dengan riang nya sambil berjalan keluar.


" Hati-hati, Nona. " sahut Aisha.


Altair pun berlari pergi ke tempat latihan yang akan dipakai oleh nya, dia sangat tidak sabar untuk pertemuan pertama dengan guru yang akan mengajarinya. Disaat yang sama, ketika Altair melewati taman yang ada di istana itu, dari kejauhan sana... ada seseorang yang memperhatikan nya dengan tatapan sinis. Kalihatan sekali kalau dia sangat tidak suka dengan kehadiran Altair di istana itu.


****


Ditempat latihan kemudian, disana sudah menunggu beberapa orang. Hanya Altair saja yang belum sampai disana. Bukan hanya orang yang akan diperkenalkan jadi guru Altair, tapi juga pangeran pertama yang akan berlatih bersama, bahkan sampai Kaisar sekalipun.


Perhatian mereka kemudian teralihkan kepada suara derap langkah Altair yang berlari ke arah mereka.


" Maaf. Apakah saya terlambat?? " tanya Altair ketika sampai disana.


" Tidak juga. " jawab Theodore.


" Syukurlah. " Altair lega mendengar nya, apalagi mengingat disana sudah banyak orang yang menunggu.


" Baiklah, karena kalian berdua sudah ada disini, berarti latihannya bisa langsung dilakukan bukan?? " ucap Mira pula menengahi mereka.


" Iya, bisa saja. Tapi dimana guru kami?? " tanya Theodore.


Mira menatap mereka mereka berdua dengan tatapan bingung, karena keduanya yang tidak tahu siapa guru untuk mereka. Apalagi Altair yang sampai celingak-cekinguk kesana kemari untuk mencari guru mereka, padahal jelas sekali kalau dia ada dihadapan mereka.


Saat kemudian Mira pun mendengar suara tawa yang tertahan dibelakang nya, jadi ia pun menoleh kebelakang sana, tepat kepada Yin yang sedang menahan tawanya karena itu.


" Aha... jadi ini karena mu, ya?!! " batin Mira sambil menatap Yin dengan kesal.


Lalu Mira pun langsung menghampiri Yin dan mencubit kedua pipi nya dengan kesal. " Apa yang kau tertawakan, hah?? " tanya Mira dengan senyum yang menyeramkan.


Kini giliran Yin yang terdiam kikuk karena nya, disisi lain.. Kaisar yang melihat itu juga tertawa. Sementara dua murid yang terabaikan hanya diam ditempat mereka dengan ekspresi bingung.


Dan akhirnya, Mira pun kembali ke mereka berdua, " Ekhem... Aku yang akan jadi guru bertarung kalian. Kalian mungkin tidak tahu karena Seseorang tidak memberitahu kalian dengan sengaja. " ucap nya sambil menekankan kata 'Seseorang' dan melirik Yin dengan sinis.


Sedangkan Yin hanya mengalihkan pendangannya sambil menjukurkan lidahnya tidak peduli dengan perkataan Mira.


" Begitukah, jadi apa pelajaran pertama nya?? " tanya Theodore.


Mira yang mendengar itu pun malah tersenyum, bukan menjelaskannya. Sampai kembali dia pun mengambil pedang besar yang ada disampingnya, dan menyerang Altair bersama Theodore dengan kekuatan api yang sangat dahsyat.


Bwusss....


" Dia ingin membunuh kita, ya?! " ucap Theodore pula yang sangat terkejut. Ia berhasil menghindar dari serangan itu berkat Altair yang membawanya terbang bersama dirinya.


" Panas. " ucap Altair.


Saat tiba-tiba mereka berdua dikejutkan dengan Mira yang keluar dari kobaran api yang ada dibawah mereka itu, ia mengayunkan pedang besar ditangan nya itu kearah mereka. Namun berhasil ditangkis oleh Theodore. Tapi belum berhenti sampai disana, Mira pun mengangkat tangan nya keatas, mengendalikan api yang masih berkobar dibawah sana. Membuat api tersebut menyelimuti Altair dan Theodore, hingga membentuk sebuah pusaran api yang membumbung tinggi hingga langit.


" Oi, kau tidak berlebihan kan?? " tanya Yin kepada Mira.


" Aha, tenang saja. Mereka tidak akan terluka, kok. " jawab Mira dengan santainya, mereka pun memperhatikan pusaran api itu dengan seksama.


Sementara itu didalam kobaran api itu, Altair dan Theodore sedang bertahan dengan sihir perlindungan yang dibuat oleh Theodore.


" Altair, apa kau baik-baik saja?? " tanya Theodore.


" I, Iya. Tapi.. agak sedikit panas disini. " jawab Altair sambil tersenyum kikuk.


Tentu saja panas, saat ini mereka dikelilingi oleh api loh.


" Astaga, bagaimana ini?? Apa yang harus ku lakukan untuk membantu?? " ucap batin Altair bertanya-tanya.


" Eh..?? "


Tiba-tiba saja terdengar sebuah suara didalam kepala Altair, ia mencari-cari dari mana asal suara itu, akan tetapi tidak ada si apapun sekali Theodore yang bersama dengan dia.


" Siapa?? Apa kau tahu cara untuk menghentikan pusaran ini??" tanya Altair dalam hatinya.


" Anda memiliki tombak langit digelang ruang, dengan menggabungkan kekuatan tombak itu dengan sihir pengendalian es, anda bisa menghilangkan pusaran api ini. Apakah anda akan menggunakan nya?? "


" Ngg... Aku tidak mengerti, tapi baiklah... Aku akan menggunakan nya. "


" Dikonfirmasi. Memanggil tombak langit. "


Disisi lain, Mira dan yang lainnya masih menunggu diluar pusaran itu dengan tenang, meskipun itu sudah agak lama. Tidak ada yang tahu tentang apa yang terjadi kepada Theodore dan Altair didalam sana.


" Hm... Haruskah aku mengakhiri nya?? " ucap Mira bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.


" Oh, ide bagus. Ini sudah cukup lama. " ucap Yin menyahutinya.


" Yah, untuk pengetesan saja harusnya cukup kan--...! "


Sringg..


Saat tiba-tiba pusaran api itu hilang begitu saja, ketika Altair yang kelihatan nya memegang tombak ditangan nya itu membelah nya. Bersamaan dengan itu, kepingan-kepingan salju pun ikut turun dari atas sana. Sampai Mira yang melihat nya pun juga ikut terkesan.


" Brrr... Dingin. " gumam Altair.


" Ketahanan terhadap dingin telah dibangkitkan. "


" Ehh..?? "


" Hebat... Bagaimana kau melakukan nya?? " tanya Theodore yang penasaran.


" Aha, aku.. juga tidak tahu. Tiba-tiba ada suara di kepala ku yang bilang untuk melakukan ini. " jawab Altair.


" Hah??"


Nampaknya Theodore bingung dengan apa yang dikatakan oleh Altair, sama.. Altair juga masih bingung dengan apa yang terjadi kepada nya. Tiba-tiba ada suara aneh yang muncul dan membantu nya, bahkan memberinya perlindungan aneh hingga tidak merasakan panas dan dingin lagi.


" Oi, kalian berdua. Ujian nya selesai, cepat lah turun!. " teriak Mira pula yang membuat mereka tersadar dari kebingungan masing-masing.


Mendengar itu, Altair pun kemudian membawa dirinya dan juga Theodore turun. Dan mereka pun mendarat dengan selamat.


" Guru! Guru, apa kau melihat nya?? Apa kau melihat aku memotong pusaran itu?? " tanya Altair dengan sangat antusias.


" Dia langsung memanggil nya guru. " ucap batin Kaisar sambil tersenyum saat melihat itu.


" Iya, iya. Kau sangat hebat, bagaimana kau melakukan nya?? " tanya Mira.


" Em.. Aku mendengar suara seseorang, dia yang memberitahuku. " jawab Altair dengan ragu.


" Seseorang?? " ucap Mira dan Yin pula terheran-heran, padahal tidak ada yang membantu Altair ditempat ini.


" Yang kau maksud seseorang itu, siapa?? " tanya Theodore.


" Em... "


Altair memikirkan nya dengan sangat serius, ia tidak mengenali suara yang bicara dengannya itu. Suara itu juga tiba-tiba muncul jadi ia tidak tahu siapa itu, tapi... jika melihat Theodore yang tidak tahu soal itu, mungkin saja hanya dia yang bisa mendengar nya.


Melihat Altair yang kelihatan nya jadi ikut bingung pun Kaisar pun ikut angkat suara. " Tidak perlu terlalu dipikirkan, mungkin juga itu bukan hal yang buruk, kan. " ucap nya.


" Iyah, jika anda yang berkata seperti itu saya juga tidak bisa membantah. Tapi apakah benar tidak apa-apa?? Kita tidak tahu siapa itu. " sahut Yin.


" Selama itu tidak membahayakan Altair, maka tidak masalah. Bisa saja.. itu juga adalah sesuatu yang di tinggalkan orang itu. Sekarang lihat lah, Altair yang kalian tanyai hal itu juga jadi berpikir terlalu keras untuk sesuatu yang tidak bisa ia temukan jawaban nya. " ucap Kaisar pula.


Mendengar itu Yin dan Mira pun kembali menoleh kearah Altair, dan memang benar. Altair berpikir terlalu keras hingga seperti nya dia pusing karena itu.


" Haha... Kalau begitu kita sudahi saja sampai disini, besok kita akan memulai latihan kita yang sesungguhnya. " ucap Mira kepada Theodore dan Altair.


" Baiklah. " jawab Theodore dengan santai.


" Eh.. Ah, baik. " Dan seperti nya Altair masih bingung memikirkan itu.