The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Prince Theodore's Birthday Party Preparation



Bebarapa hari berlalu sejak perang dingin Altair dan Rara, hari ini semua orang sedang disibukkan dengan persiapan Pesta Ulang Tahun Theodore yang ke 19 tahun. Sebagai putra mahkota, pesta ulang tahun nya pun tidak biasa-biasa saja, apalagi tahun ini Kaisar akan mengundang orang-orang dari kerajaan tetangga untuk ikut merayakan pesta ini, sekaligus memperkenalkan Altair kepada seseorang.


Karena skala pestanya yang bertambah besar, semua jadi begitu menantikan hal itu. Kecuali Altair...


" Haah..."


Ia justru lebih memilih menikmati suasana tenang diperpustakaan yang sudah lama tidak ia dapatkan. Ia sengaja menghindar karena para pelayan pasti akan mendesaknya untuk memilih gaun untuk ke pesta esok malam.


Tapi Altair sudah memilih sendiri gaunnya, atau gaun yang ia buat bersama dengan Zico. Dia ingin menunjukan itu sebagai kejutan, jadi ia tidak memberitahu siapapun soal itu. Bahkan Aisha dayangnya. Tapi ada sesuatu yang Altair lewatkan...


" Entah kenapa rasanya aku melupakan sesuatu.." batinnya.


Sampai apa yang ia katakan itu benar-benar jadi kenyataan...


Brakk...!!


" Kak Altair!" seseorang baru saja mendobrak pintu perpustakaan dan langsung memeluknya.


Itu membuat Altair sangat terkejut, " Hah, Pangeran Habel, ada apa??" tanyanya sambil mengusap dada.


Tahun ini Habel berusia 11 tahun, kini dia sudah jauh lebih tinggi dari pertama kali mereka bertemu.


" Kak Altair, aku punya sesuatu yang harus diambil dikota. Bisakah kakak mengantarku kesana??" pinta Habel dengan wajah imutnya.


Dan itu, adalah kelemahan besar Altair. " Ba-Baiklah, tapi sudah minta izin kan??" tanya Altair berusaha bersikap tegas.


" Kakek Kaisar sudah tahu, jadi tidak perlu minta izin lagi. " jawab Habel secara langsung.


" Baiklah, kalau begitu ayo pergi. "


" Ayo!"


Habel kelihatan bersemangat sekali dengan hal itu, ia pergi sambil menggendeng tangan Altair.


Beberapa saat kemudian, dikota... Sebuah portal ruang terbuka disana, dan Altair bersama dengan Habel pun langsung tiba didepan toko yang ingin didatangi oleh mereka. Sebuah toko pandai besi lebih tepatnya.


" Kak Altair hebat! Bisa membuka portal dimensi seperti itu!. " puji Habel dengan begitu antusias.


Membuat Altair merasa dihargai, " Terima kasih. " jawabnya begitu senang.


Semuanya berkat Zico yang mengajari banyak hal padanya, awalnya dia juga sama dengan Habel, begitu terkagum-kagum. Tapi karena sudah sering ia pakai itu jadi terasa biasa saja, meski begitu kekuatan nya benar-benar sangat berguna.


Altair dan Habel pun masuk ke dalam sana, dan langsung disambut oleh suara dentingan palu yang memukul besi dan lainnya. Khas para pangrajin besi. Saat tiba-tiba Altair dikejutkan dengan Habel yang berjalan mendekati para pekerja itu begitu saja.


" Yang mulia!" jadi secara reflek Altair pun menarik Habel kembali ke sampingnya, " Hati-hati, tempat ini berbahaya. " ucapnya pada Habel.


" Maaf, kak. Aku terlalu bersemangat. " sahut Habel pula sambil cengengesan.


Altair hanya bisa menghela nafas mendengar itu, jika saja ia lengah sedikit saja mungkin bisa terjadi hal buruk padanya, dan ia tidak ingin hal itu terjadi. Saat perhatian mereka kemudian teralihkan kepada orang yang menghempiri mereka...


" Ada yang bisa kubantu??" tanya seorang pria besar dan berotot kepada mereka.


Altair sampai tercengang melihat nya, tapi Hebel langsung menjawabnya. " Iya, aku ingin mengambil barang pesananku!. " jawabnya kepada pria itu.


Dan pria itu yang melihat nya pun baru sadar, " Oh, yang mulia! Anda datang juga, barangnya sudah siap lebih awal. Mari ikut saya. " ucap pria itu yang kemudian menunjukan jalan ke tempat lain dari sana.


Pria itu mengambil sesuatu dalam sebuah kotak kayu panjang diatas lemari, kemudian menyimpannya diatas meja didepan mereka. Ketika kotak itu dibuka, barulah terlihat apa yang ada didalamnya.


" Woahh..." Habel dan Altair begitu terpukau melihat itu.


Isinya adalah sebuah pedang yang terlihat begitu indah dengan hiasan ukiran yang begitu detail.


" Bagaimana menurut anda, apa sesuai dengan yang anda harapkan??" tanya orang itu kepada Habel.


Dan jujur saja Altair cukup penasaran, " Bolehkah saya melihat nya?" tanya Altair meminta izin.


" Tentu saja. " Dan orang itupun mengizinkan nya.


Altair pun mengambil pedang itu dengan begitu hati-hati, ia mengeluarkan nya dari sarungnya dan memperhatikan nya dengan teliti. Bahkan Altair memeriksa ketajaman, keseimbangan dan berat pedang itu.


" Semuanya begitu sempurna, anda sungguh penempa pedang yang begitu hebat. " puji Altair pada orang itu.


" Haha.. Terima kasih banyak. Kebetulan aku punya guru yang sangat hebat. " sahutnya yang merasa tersipu.


Setelah membayar biaya pembuatan pedang itu, Altair dan Habel pun segera pergi dan berjalan-jalan dikota sebentar. Altair memikirkan hal itu...


" Apa anda mau menghadiahkannya kepada Pangeran Theodore??" tanya Altair pada habel.


Yang kemudian diangguki olehnya, " Iya. Kuharap kakak suka dengan pedangnya. " jawab Habel.


" Begitu ya, dia pasti akan suka. " jawab Altair sambil tersenyum cerah, dan ia juga memikirkan hal itu. " Sepertinya saya juga harus mencari hadiah yang bagus untuk, Pangeran mahkota. " ucapnya.


Yang mana mendengar itu membuat Habel menoleh kearahnya, " Aku yakin apapun yang kakak berikan akan disukai Kak Theodore. " ucapnya dengan yakin sekali.


Sementara itu, Altair meragukannya. Dia tidak boleh memberikan hadiah yang terlalu biasa kepada seorang pangeran kekaisaran.


" Saya ragu, kenapa anda pikir yang mulia akan menerima apapun yang saya berikan??" tanyanya dengan penasaran.


Tapi Habel tertawa geli karena nya, " Karena kak Theodore selalu seperti itu, semua benda yang diberikan kak Altair padanya selalu disimpan dengan baik. Bahkan kak Theodore tidak memperbolehkan siapapun menyentuhnya. " jawab Habel.


Disisi lain, Altair merasa tersipu mendengar itu. Itu terdengar seperti Putra mahkota memperlakukan hadiah darinya dengan begitu hati-hati, padahal itu bukanlah benda yang terlalu berharga.


Sampai tiba-tiba perhatian Altair teralihkan saat mendengar hal lain, ia pun berhenti di tempat nya dan membuat Habel bingung.


" Kak Altair...??" panggilnya dengan bingung.


Sementara Altair hanya diam sambil menutup matanya, ia fokus kepada pendengarannya untuk menangkap suara yang sebelumnya aneh.


Dan disisi lain dari tempat mereka berdiri, terhalang oleh beberapa bangunan disamping mereka dijalanan lain kota. Beberapa orang memang terlihat berkumpul dan membicarakan hal yang begitu penting dijalanan yang tidak terlihat ada siapapun disana.


" Besok malam adalah pesta ulang tahun putra mahkota, jalanan utama akan dipenuhi orang-orang yang ikut merayakan hari ulang tahunnya. Akan tetapi jalanan disekitarnya akan sepi dan penjagaan hanya akan tertuju pada jalanan utama. "


" Disaat itu kita akan menjalankan rencana, kita akan menyusup masuk ke istana yang sedang disibukan dengan pesta. "


" Kelompok lain akan pergi ke kediaman bangsawan untuk merampok uang yang mereka miliki, dan diistana kita akan pergi ke gudang harta. "


" Jangan lupa untuk berkumpul di jalan Maria, gedung no 13, pada pukul 7 malam. Kita akan memulai rapat dan membagi tugas disana. "


Kelihatan nya beberapa pencuri berencana membobol gudang harta istana dan beberapa bangsawan di kekaisaran, sayangnya mereka payah. Membicarakan hal seperti itu dengan begitu mudahnya tanpa menyadari kalau Altair akan mendengar semua itu.


" Hmm... Para pencuri amatir. " batin Altair.


Saat perhatian nya terlihkan saat merasakan Habel yang memegang lengan bajunya, Altair pun menoleh kearahnya dan tersenyum.


" Ada apa, yang mulia? " tanyanya dengan tenang.


" Kak Altair tiba-tiba terdiam. Apa ada sesuatu yang salah? " tanya Habel agak khawatir.


Tapi kemudian Altair mengusap kepalanya, " Tidak. Saya tiba-tiba teringat sesuatu saja, saya sudah tahu apa yang bisa saya berikan kepada Pangeran Theodore untuk ulang tahunnya kali ini. Mari kita kembali, yang mulia. " ajak Altair.


Yang diangguki oleh Habel, mereka pun berjalan kembali ke istana kekaisaran untuk mempersiapkan diri. Iya.. mempersiapkan..


" Aku harus memberitahu guru. "