The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Map of the Three Worlds



Dimalam ketika hujan turun mengguyur bumi, suasana dingin terasa di aula Guild Kirial ketika pintu masuk mereka terbuka perlahan secara tiba-tiba. Mira, Yi dan Israhi yang ketika itu tengah duduk-duduk diaula sambil mengobrol pun langsung waspada dan bersiap menyerang.


Masing-masing dari mereka telah memegang senjata mereka, suasana hening disekitar dimana hanya terdengar suara hujan dan petir yang bersahutan, dan aula yang gelap ketika lilin diatas meja padam tertiup angin dingin semakin membuat suasana nya mencekam.


Seseorang kemudian masuk ke dalam sana, dan....


Kwaakk...


Lumine berteriak cukup keras dan segera mengepakan sayapnya terbang ke arah orang itu. Ia hinggap tepat dipundaknya, disaat yang sama api lilin yang sebelumnya padam pun kembali menyala. Dari cahaya yang redup itu, mereka pun bisa melihat siapa yang baru saja masuk itu.


Tentu saja, dia Altair.


" Guru..." panggilnya ketika melihat Mira disana.


Disisi lain, Mira, Yi maupun Israhi langsung menghela nafas lega dan segera duduk kembali karena dialah yang muncul. Untuk beberapa saat yang lalu, mereka benar-benar dibuat tegang karena aura Altair yang berbeda dari biasanya.


Ia baru saja kembali setelah membereskan para bandit itu, dan menyerahkan soal orang-orang yang ditahan sebelumnya kepada Ian dan Nox dibangunan khusus milik Derrick tak jauh dari sana, semacam asrama.


Altair pun berjalan mendekat kearah mereka...


" Altair, kau benar-benar membuat kami tegang saat muncul tiba-tiba seperti itu." ucap Yi kepadanya ketika Altair tepat ada disamping mereka.


Altair yang mendengarnya pun tersenyum merasa bersalah dengan hal itu, " Maaf, aku tidak tahu kalau masih ada yang bangun jam segini." ucapnya.


Saat kemudian Altair mengambil sesuatu dari balik jubah basah yang ia kenakan, itu pasti karena dia berjalan menembus hujan. Lagipula dari mana dia sampai baru kembali jam segini?? Itulah yang mereka pikirkan.


Altair pun langsung menaruh apa yang ia ambil diatas meja, itu adalah benda-benda yang sebelumnya ditemukan oleh Ian. Dan itu langsung menarik perhatian mereka yang ada disana.


" Apa ini?" tanya Mira yang kemudian mengambil gulungan itu dan membukanya.


Altair pun menjawabnya, " Ini benda-benda yang ditemukan Ian dari tangan pemimpin kelompok bandit yang menyerang kak Derrick." ucapnya.


" Hmm.." Mira memperhatikan benda ditangannya itu dengan seksama, itu benar sebuah peta. Lalu ia pun kembali menaruh benda itu diatas meja dan menunjukannya kepada Yi dan Israhi.


" Lihatlah ini. Apa kalian tahu tempat apa ini?" tanyanya kepada mereka.


Namun sayang sekali. Baik itu Yi maupun Israhi, keduanya menggelengkan kepalanya tidak tahu. Dilihat-lihat peta ini bukanlah peta negara atau tempat lain dibenua ini, ini seperti... mendeskripsikan sebuah pohon.


Dimulai dari akar, batang dan dahan atau.... daun?


" Aku tidak mengerti maksudnya, apa ini titik lokasi markas atau semacamnya?" Israhi pun mengutarakan asumsinya.


" Entah kenapa aku rasanya pernah melihat peta seperti ini, tapi aku tidak ingat." disaat yang sama, Altair memikirkan itu dengan seksama.


" Entahlah apapun itu. Bagaimana dengan isi suratnya?"


Perhatian mereka kemudian teralihkan kepada Yi yang telah membuka surat itu, namun... ekspresi nya terlihat kurang meyakinkan.


" Isinya tidak bisa dimengerti. Mereka membahas tentang buah dari pohon... aneh sekali." ucapnya menjawab pertanyaan Mira kepadanya.


Tapi itu sama sekali tidak menjawab rasa penasaran mereka.


" Apa? Coba bacakan isi suratnya.." sahut Israhi.


" Umm..."



" ...Itu isi suratnya."


Isinya benar-benar membingungkan, apa maksudnya buah dari pohon besar, dan kenapa mereka membahas hal tersebut. Dipikirkan bagaimana pun ini tidak ada hubungannya dengan penyerangan Derrick.


Jadi apakah ini hanyalah surat main-main..?


" Bagaimana dengan pemimpin kelompok bandit itu?" akhirnya Mira lebih memilih sesuatu yang pasti saja dulu, mereka perlu waktu untuk mengurai isi dari peta dan surat ini.


Altair yang mendengar itu pun tersadar dari pikirannya dan menatap Mira, " Ian menemukan nya sudah mati, kami didahului dalang utama nya." jawabnya kemudian.


" Sisa anak buahnya??"


...Altair sedikit tersentak. Ia pun kemudian memalingkan wajahnya dengan ragu-ragu, namun ia tetap menunjukan lengan kanannya kepada Mira. Dan melihat hal itu, Mira pun jadi mengerutkan keningnya dan kembali menatap Altair dengan ekspresi kurang senang.


" Kau membunuh mereka?" ia kembali bertanya dengan nada serius.


Disisi lain, Altair tertawa canggung kepadanya. " Hehe.. Kupikir pemimpin nya masih hidup, jadi kupotong saja semua." jawabnya.


Saat kemudian ia mendapatkan cubitan keras di pipinya dari Mira, " Bukankah sudah pernah kubilang? Setidaknya sisakan satu yang berguna." ucapnya yang terlihat benar-benar kesal dengan tingkah Altair.


Dan Altair yang melihat itu jadi gugup, " I-Iya, maaf..." sahut Altair menimpali.


" Aduh, dasar kau ini. Jika kau terus seperti ini, aku jadi tidak bisa berhenti khawatir. Bagaimana jika Altair kutinggalkan sendirian.." ucapnya pula sambil tersenyum sendu.


Sementara Altair menatapnya tidak mengerti. Tapi tentu saja... Altair yakin kalau dia akan sangat kesulitan jika gurunya ini tidak ada bersamanya, karena selama ini dia masih terus bergantung kepada Mira.


Baik itu dari segi kehadiran maupun pengendalian mental dan kekuatan, Mira adalah orang yang sangat penting bagi Altair.


" Hei, bisakah kalian lihat ini sebentar?" tanya Israhi ditengah momen guru dan murid itu.


Yang mana tentu saja langsung menarik perhatian Altair maupun Mira, mereka pun kembali fokus kepada apa yang ada dihadapan mereka.


" Sepertinya aku bisa menerjemahkan arti kata ini..." ucap Yi, dimana jarinya menunjuk salah satu kata dibagian bawah peta itu." 'Gehenna'... itulah yang tertulis disini, dan juga dibelati ini. " lanjutnya pula, termasuk menunjukan tulisan yang terukir dibelati yang ia maksud.


Dan mereka pun kembali memikirkan maksudnya, bahkan Lumine yang sedari tadi diam dipundak Altair pun terlihat serius disana. Meski ia sama sekali tidak mengatakan apapun...


Dan Altair berpikir... " 'Gehenna' itu... kalau tidak salah, itu adalah salah satu nama dari dunia bawah, tunggu...!" ia baru saja mengingatnya.


" Aku tahu!" sambarnya dengan cepat dan langsung menarik peta itu dari hadapan Mira sampai membuatnya ikut terkejut.


Disaat yang sama dengan itu, Altair pun mengeluarkan sebuah buku dan pena dari gelang ruangnya dan mulai menulis sesuatu diatas buku itu. Lumine pun juga berpindah dari Altair ke Yi ketika ia mulai menulis agar tidak menghalanginya.


Altair menyalin peta itu diatas buku dengan tulisan yang lebih bisa dimengerti dari pada aslinya. Itu tidak berlangsung lama, dan Israhi yang melihat nya menulis pun mulai mendapatkan pencerahan soal peta itu.


" Tunggu, itu..." Israhi bahkan langsung tahu apa maksudnya.


Dan Altair pun selesai menyalin peta itu, " ...Selesai!."


Ia pun kembali membandingkan dua peta itu diatas meja, itu benar-benar mirip. Dan ia pun kemudian mulai menjelaskan maksudnya...


" Ini.." Altair pertama menunjuk apa yang sebelumnya ditunjuk oleh Yi. " 'Gehenna' atau Underworld, dunia bawah, tempat orang-orang mati."


Kemudian tangan Altair pun segera berpindah menuju ke atasnya, " Yang ini. Earthrealm, dunia tengah, tempat manusia dan yang lainnya hidup."


Dan ia pun kembali beralih ke yang paling atas, " Dan ini, Heaven atau surga, dunia atas, tempat para dewa tinggal."


Mira dan Yi yang mendengar itu pun mulai mengerti dengan maksudnya...


Ini bukanlah peta tempat atau benua, melainkan gambaran alam semesta. Lebih tepatnya tiga dunia yang diciptakan oleh tiga dewa utama.


Euclide, Hades dan.... Quennevia.


Meski begitu, ini belum memecahkan maksud dari adanya peta ini, termasuk soal surat aneh itu. Ada sesuatu yang janggal disini, sesuatu seolah... sedang merangkak naik dari kegelapan yang paling dalam dan tidak tersentuh.


Bukan hanya Altair yang berpikir seperti itu, tapi yang lainnya juga. Mengetahui hal itu, membuat punggung mereka tiba-tiba kedinginan. Bulu kuduk mereka berdiri, merasakan seolah ada tatapan ganjil dibelakang mereka...


Israhi menyenderkan punggungnya dikursi kemudian berkata memecah keheningan, " Apa maksudnya ini menggambarkan jalan menuju ke berbagai dunia ini? Kupikir itu sulit untuk menuju ke dunia atas." ucapnya.


" Bukankah Kaisar Foldes terdahulu pernah pergi ke dunia atas bersama teman-temannya?" tanya Yi kemudian.


" Itu karena Baginda punya aksesnya, bahkan saat itu... beliau juga dibantu oleh Dewa yang lain." dan Mira pun menyahutinya.


Mereka saling bertukar pendapat satu sama lain, saat...


" Bagaimana menurutmu sendiri, Altair?"


...Pertanyaan Israhi pun mengalihkan fokus mereka semua menjadi berpusat kepadanya. Dan Altair yang telah memikirkan itu sejak tadi, juga setuju dengan pendapat Israhi. Akan sulit untuk menyebrangi dunia sembarangan.


" Aku juga berpikir begitu. Dulu dunia ini saling terhubung, tapi jalurnya diputuskan paksa sejak--..."


Ucapan Altair tiba-tiba terhenti sampai disana, seoleh membeku, Altair sama sekali tidak bergerak atau bicara sedikit pun. Disaat sesuatu perlahan mulai mengalir ke dalam kepalanya...


" Ah... Bagaimana dunia ini terpisah itu bukanlah masalah. Lupakan saja hal-hal yang tidak penting, aku harus fokus kepada kak Derrick... Benar, kak Derrick lebih penting..."


Mata Altair berkilau dalam cahaya keemasan yang samar dan transparan, itu sangat singkat hingga tidak ada yang menyadarinya sama sekali. Satu-satunya yang melihat hal tersebut, adalah Lumine yang langsung mengangkat kepalanya dengan terkejut melihat hal itu.


Sementara bagi yang lain, diamnya Altair yang tiba-tiba itu meninggalkan kesan yang sangat aneh.


" Altair...?" panggil Mira dengan bingung.


Altair tetap diam untuk beberapa saat, dan kemudian ia pun berkata. " ...Yah, itu sulit." ucapnya yang kembali seperti sedia kala.


Sementara Israhi, Yi dan Mira masih dibingungkan dengan tingkahnya yang tiba-tiba. Namun Altair tidak terlalu memperhatikan itu, ia kembali menggulung peta itu dan menyimpannya bersama dengan belati, surat dan buku serta pena miliknya.


" Kita pikirkan saja ini nanti. Aku akan pergi menemui kak Derrick.." ucapnya yang kemudian langsung pergi dari aula meninggalkan Israhi, Yi dan Mira begitu saja.


Lumine pun juga terbang mengikutinya seolah menghindari mereka. Ketiga orang yang masih setia ditempat mereka pun saling pandang satu sama lain, apa yang terjadi barusan... membuat mereka yakin ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Altair, atau... seseorang dibelakang Altair.