
" Arrggghhh...!!"
Aksa berteriak keras ditengah jatuhnya dirinya dari atas istana es itu. Ia coba melihat sekitar, namun ia sama sekali tidak bisa menemukan tumpuan untuk menahan dirinya yang terlempar dan jatuh. Ia meyakini satu hal, jika ini terus berlanjut... dia akan jatuh kedasar jurang dan menghantam tanah dengan keras.
" Haha... Malangnya nasibku. Tahu begini harusnya aku mempelajari cara mengendalikan kemampuan Elf ku." gumamnya terdengar pasrah disana.
Ia akan bersiap untuk yang terburuk. Sampai kemudian ia merasakan kakinya tertahan oleh sesuatu...
" Eh??"
Aksa melihat apa yang ada dikakinya hingga membuatnya berhenti jatuh, dan itu adalah seseorang yang ia kenal.
" Yang mulia, saya tidak berpikir kalau pangeran Elf harus pasrah begitu saja saat jatuh." Mira ada disana, bergelantungan menahan kakinya dengan tangan kanan, sementara tangannya yang lain dipegang oleh Derrick diatas mereka.
Aksa tidak bisa menyembunyikan rasa malunya karena hal itu, "Haha... Maaf, tapi aku tidak melihat pijakan yang pas." ucapnya kemudian.
Yah, siapapun yang dilemparkan ke jurang seperti itu pasti akan sangat terkejut dan panik.
Pada akhirnya, Derrick pun kemudian menarik mereka berdua naik kembali ke atas.
" Fyuhh... Terima kasih." ucap Aksa kemudian setelah kembali berdiri didaratan.
" Jadi, seperti apa yang ada diatas sana??" Derrick pun bertanya tentang masalah utama yang sedang mereka hadapi saat ini.
" Dia gadis kecil, tapi kekuatan nya benar-benar gila." Aksa masih tidak bisa mempercayai apa yang baru dialaminya, tapi itulah yang terjadi saat ini.
Karena hal itu, Aksa sampai membuat ekspresi yang benar-benar buruk. Jika memikirkan apa yang akan terjadi kalau hal ini sampai dibiarkan begitu saja.
Mira dan Derrick juga memiliki pemikiran yang sama dengan Aksa. Seseorang dengan kekuatan sekelas bencana....
Duarrkk...
Dan ketika itu, mereka mendengar sebuah benturan yang benar-benar kuat, sisi lain istana es itu kembali hancur dan seseorang juga terlempar ke luar dari sana.
" Siapa lagi itu??" Aksa merasa kalau mereka senasib sekarang. Sama-sama terlempar keluar, namun itu... " ...Tunggu, apa itu Altair??" Aksa baru sadar setelah melihat nya dengan lebih jelas.
Hal itu juga membuat Mira dan Derrick terkejut, terlebih... karena Altair kelihatannya terluka cukup parah.
***
- Sebelumnya, beberapa saat setelah Aksa dilempar keluar.
Israhi, Altair dan Remilia yang masih ada diatas istana itu masih meneruskan serangan yang mereka lakukan.
Israhi terus menyerangnya dari jarak dekat, memanfaatkan keterampilannya menggunakan pedang sementara Altair yang sekarang giliran membantu dari jarak jauh.
Latihan yang diberikan oleh Aksa untuk memanah disaat waktu luang mereka benar-benar berguna sekarang, dan busur serta anak panah yang diberikan oleh Mirion dulu tidak sia-sia.
[ 'Argh... Menyerahlah! Tidak ada gunanya meski kalian bersama, aku lebih kuat dari kalian!!'.] dan serangan mereka benar-benar membuat Flora sangat terganggu.
Menanggapi perkataan Flora, Altair pun kemudian menjawabnya. " Apa yang kau katakan? Apakah sendirian itu menyenangkan? Aku tidak berpikir seperti itu."
[ 'Setiap makhluk yang lahir kedunia ini selalu sendirian. Mereka hanya sendiri! Jadi kenapa kalian harus bersama?! Itu tidak ada gunanya! Ikatan hanya membuatmu menjadi lemah!.]
" Kau tidak bisa berkata seperti itu!." Altair menarik tali busur ditangannya dengan kuat, dan melepaskan anak panah yang melesat dengan cepat.
Disaat yang sama, anak panah itu mulai membelah dirinya sendiri. Menjadi dua, lalu empat dan semakin banyak. Sama seperti yang dilakukan oleh Aksa.
" Kau bilang, kita dilahirkan untuk jadi sendirian. Kalau begitu kenapa kita masih mencari cinta dan kehangatan? Kau tidak bisa menilainya hanya dari sudut pandangmu sendiri."
[ 'Kalian semua hanyalah hama tidak berguna!'.]
Flosa meniupkan angin dingin dari tangannya, yang langsung membekukan semua anak panah itu. Tapi dia tidak manyadari... sesuatu telah menunggunya sejak tadi. Dan ketika ia menyadarinya, itu sudah terlambat untuk menghindar.
Lantai dibawah kakinya mulai berubah menjadi merah oranye, dan tak lama dari itu. Sebuah ledakan lava pijar, naik dari perut bumi seperti sebuah geiser, membungkus Flora didalamnya. Lelehannya sangat panas hingga bisa melelehkan es padat milik Flora yang dinginnya melebihi titik beku tertinggi yang ada dibumi.
['Aaaakkk...!!']
Teriakan nyaring Flora terdengar disana, menandakan rasa sakit. Esnya mungkin tidak bisa menahan panas dari api murni yang berasal dari perut bumi. Bahkan Altair, Israhi dan Remilia yang ada disana pun juga harus menggunakan kekuatan mereka untuk menahan panas nya.
Kurang lebih 1 menit sejak lava itu menyembur keluar, sekarang lava tersebut mulai menyusut sedikit demi sedikit hingga hilang. Flora yang sebelumnya terjebak didalam lava itu pun jatuh dari udara, tak jauh dari lubang yang menganga akibat ditetobos lava tadi. Dia terlihat memiliki luka bakar yang cukup parah dibeberapa bagian tubuhnya.
Itu adalah hal yang menakjubkan, mengingat sesuatu atau seseorang bisa saja langsung jadi abu jika ada didalam hal seperti itu. Tapi Flora masih bisa bertahan. Flora mungkin mencoba melakukan trik yang ia lakukan saat Yi melakukan serangan sebelumnya, tapi karena keterlambatan menyadari serangan dan suhu panas ekatrim yang tercipta dia jadi tidak bisa mengatasi itu. Ia jatuh tak berdaya.
Bersamaan dengan itu, Yi pun terlihat melompat naik dari lubang yang sama. Ia mendarat diatas lantai dihadapan Altair dan yang lainnya dengan lembut, tidak ada luka berat, jadi dia pasti berhasil menemukan jalan keluar dari serangan sebelumnya.
" Yi, kau baik-baik saja! Syukurlah." Altair sangat senang dengan itu, dan langsung berlari memeluknya.
Yi juga menyambut pelukan itu dengan senyuman, " Iya. Aku berhasil menyelamatkan diri." sahutnya menimpali ucapan Altair.
" Tapi bagaimana? Kupikir bola es itu terlalu besar dan padat." tanya Remilia yang penasaran.
" Karena aku tidak bisa melelehkan bola es itu seperti Altair, aku beralih melelehkan dinding disisiku dan berhasil melompat ke ruangan dibawah kastil. Tapi... sesuatu yang lain menarik perhatianku. Jadi aku beralih ke bawah terlebih dahulu." jelas Yi tentang kondisi yang sebelumnya ia alami, hingga berhasil kembali keatas sana. Namun disaat yang sama ia merasa bersalah.. " Maaf, ya. Kalian pasti khawatir." lanjutnya.
" Tidak apa-apa! Yang penting kau kembali dengan selamat." jawab Altair dengan cepat.
" Lalu..." saat suara Israhi kemudian mengalihkan perhatian mereka semua. "..Apa yang harus kita lakukan kepadanya? Ada yang tahu cara memisahkan inti dan inangnya??" tanyanya sambil menunjuk Flora yang kehilangan kesadarannya tak jauh dari mereka.
" ...Benar juga." ucap Remilia sambil memikirkan itu, pun kemudian menoleh kearah Altair.
Altair yang ditatap pun mengerti, tapi dia harus menggelengkan kepalanya karena tidak tahu. Dibuku itu tidak menjelaskan cara memisahkan inti crystal dengan seorang Ruler.
" Uhh... andai saja aku bisa menghubungi Lumine.."
Altair tidak bisa berkomunikasi dengannya karena kejadian terakhir, Lumine masih dalam masa pemulihan dan tidak bisa menjawabnya karena konsentrasinya akan terpecah. Altair juga tidak bisa berharap kepada Zico karena dia malah memutuskan menunggu dibukit tak jauh dari kastil.
Dia tidak mau bertemu dengan Ruler karena suatu alasan yang tidak diketahui.
" Kalau begitu, biar aku saja yang coba." ucap Yi ketika semuanya sedang kebingungan.
" Eh? Apa tidak masalah?" tanya Remilia.
" Itu bisa berbahaya." tambah Altair pula.
" Tidak apa-apa. Aku pernah melihat leluhur ku memisahkan inti Ruler, jadi kurasa aku bisa mencobanya." jawab Yi untuk keraguan keduanya.
Altair dan Remilia masih agak khawatir, tapi jika itu benar... mereka bisa mempercayai Yi. Dia yang lebih berpengalaman diantara mereka untuk persoalan Ruler. Lalu... tidak seharusnya mereka lengah hanya karena ini...
" Huwa... dia benar-benar pingsan. Apa dia akan baik-baik saja??" Remilia hampir tidak bisa mengendalikan dirinya ketika melihat Flora dari dekat.
Ada perasaan takut, khawatir dan juga kasihan. Mau bagaimana pun.. dia hanya anak-anak yang terpesona oleh kekuatan yang berbahaya.
" Baiklah... aku akan memulainya." ucap Yi yang telah bersiap ditempat nya.
Istahi pun menanggapinya, " Berhati-hatilah." Ucapnya yang juga diangguki oleh Yi.
Yi pun memulai apa yang harus ia lakukan, ia menyalurkan kekuatan kepada Flora yang tak sadarkan diri, dimulai dari memutus hubungan inti Ruler dengan kesadaran Flora. Dia harus masuk ke alam kesadaran Flora untuk memastikan hal itu, dan mendorong inti itu keluar dengan paksa.
Sementara ditempat lain, Altair berdiri bersama dengan Israhi dan Remilia. Memperhatikan apa yang dilakukan oleh Yi dengan seksama, dan memastikan tidak ada yang mengganggunya. Namun, ada sesuatu yang mengganjal Altair. Ia merasa... kalau ini terlalu sederhana.
" ....Apakah... jika inangnya kehilangan kesadaran, intinya juga akan mengalami hal yang sama?"
Pertanyan itu tiba-tiba terlintas dikepalanya, dan Altair tiba-tiba merasa merinding. Bersamaan dengan matanya yang perlahan berubah warna, ia melihat sesuatu yang bersembunyi didalam diri Flora bersinar dengan cahaya redup seolah menyembunyikan dirinya. Dan perlahan.... itu mulai berdenyut.
Degh...
" Eh..?!." Yi yang mendengar itu pun terkejut, dia hendak bangkit menjauh, saat tangan Flora bergerak cepat dan memegangi lengan kanannya. "Kau..!!"
Yi tidak punya waktu untuk menghindar, disaat yang sama udara dingin mulai kembali turun disekitar Flora. Es muncul membekukan lengan kanan Yi, dan Flora perlahan bangkit kembali.
" Ekkh.." Yi merasa pembekuan itu mulai masuk ke dalam tubuhnya. Dan disaat yang sama dengan itu, Flora menariknya.
" Lepaskan!." Yi berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Flora, tapi itu benar-benar kuat. Ia pun kemudian mengangkat kepalanya menatap Flora, dan saat itu Yi menyadari hal lain. Flora benar-benar belum sadar... " ...Apa dia dikendalikan inti Rulernya??"
Pikiran itu terlintas, namun bahkan sebelum ia menyadarinya, Flora melemparkan dirinya dengan keras. Dan akhirnya Yi menabrak dinding es dibalakangnya..
" Akk!!" Balum berhenti sampai disana, Flora kembali menyerangnya, dan mengurungnya didalam es yang sangat dingin dan tebal. Yi menyatu dengan dinding disekitarnya.
Israhi dan Remilia sangat terkejut dengan kejadian yang sangat tiba-tiba itu.
" Hentikan!."
" Yi!!."
Mereka berusaha untuk mendekatinya dan menyerang, tapi Flora mengangkat tangannya dan menciptakan pusaran udara dingin ditempat itu menghalangi mereka. Dan membuat keduanya terhempaskan.
Ssrrakkk...!
" Khh! Kita lengah..!." Israhi menggertakan giginya karena hal itu, matanya menatap tajam kearah Flora. Saat kemudian dia menghilang dari hadapannya...
Pusaran angin dan salju tercipta ditempat itu, mengaburkan penglihatan mereka. Kini tinggal mereka bertiga yang ada disana. Altair, Israhi dan Remilia merapatkan punggung mereka bersama sebagai antisipasi, dan perlindungan bagi satu sama lain.
" Ahh.. apa yang harus kita lakukan??" tanya Remilia ditengah semua itu.
" Altair, hanya kau pengguna api disini sekarang. Apa kau bisa melelehkan semua ini??." tanya Israhi kemudian.
" Aku tidak tahu.." tapi Altair menjawab itu dengan ragu, meski begitu.. "...Aku akan mencobanya. Tolong tetap didekatku agar kalian juga tidak terkena." ucapnya lagi.
Yang mana juga diangguki oleh Israhi dan Remilia.
" Lagipula kami tidak bisa pergi ke manapun."
Altair pun kemudian mengukurkan kedua tangannya ke udara, api dengan warna biru itu muncul ditangannya. Seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya...
Meski ia tidak meniupkannya dari mulutnya, Altair menyebarkan api itu disekeliling mereka, mengikuti arah angin dan salju yang berhembus dan membuat mereka meleleh. Bersamaan dengan sebagian dinding es disekitar mereka.
" Dimana dia sekarang??." Israhi mengedarkan pandangannya ke segala arah ditempat itu.
Kini yang terlihat hanya ada mereka bertiga, dan suasananya benar-benar sangat hening. Ketika...
Sriiinnnkkk...!!!
Es bergerak dari belakang menuju Israhi dengan cepat...
" Awas!." Remilia yang pertama kali menyadari hal itu pun langsung mendorongnya menjauh. "..Ackk!!" Tapi dia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dan akhirnya.. beberapa bagian tubuhnya ditusuk oleh es-es runcing itu.
" Remilia..!!."
" Ukhh..."
Remilia tergantung di dinding ditengah es-es yang menjabaknya. Sebuah tombak es akan muncul kembali.. itu akan mengenai lehernya jika Remilia tidak segera melepaskan dirinya. Tapi.. jangankan menghindar, bergerak saja dia tidak bisa.
" Ini gawat..!" Remilia mungkin harus memasrahkan dirinya mati disana.
Tapi itu bukan waktu nya dia mati sekarang...
Ssrriiikk!
Ketika es itu mulai memanjang untuk menjangkaunya, Altair mengubah posisi tangannya ketika memegang tombak ditangannya. Ia mengangkat tombak itu, menariknya ke samping kepalanya, dan memposisikan kaki kanannya ke belakang. Dengan persiapan itu, ia pun kemudian melemparkan tombak ditangannya kearah Remilia.
Hanya sedikit lagi...
Berusaha untuk menepatkan waktu...
Tombak itu bergerak dengan jalur yang lurus, didepan leher Remilia, hanya beberapa senti sebelum es yang muncul itu menjangkau lehernya. Tombaknya telah mencapai posisi yang pas, dan memanfaatkan es lain disana dia berhenti diudara, bertepatan dengan es yang bergerak terhenti. Ketika serangannya itu tidak maju ataupun mundur, dan hanya mengenai tombak nya.
" Syukurlah, tepat waktu." Altair berhasil menyelamatkan hidup Remilia disaat genting, dan ia juga berhasil mengendalikan berat tombak itu agar benar-benar melindungi Remilia.
Altair pun kemudian menoleh ke arah Israhi di belakang nya, " Israhi, bagaimana dengan--.."
Wuussshh.. Brakk!!
" Eh..??"
Ucapannya berhenti ketika sesuatu baru saja melewatinya dan langsung menghantam es disisi lain. Itu adalah Israhi..
" Uhuk.."
Sesuatu menghempaskannya dengan kekuatan yang begitu besar dan membuatnya terluka karena benturan yang sangat keras. Altair yang melihatnya langsung terdiam, entah kenapa kepalanya mendadak kosong. Sebelumnya ada beberapa rencana, tapi seolah dihapus, semua yang ia pikirkan menjadi tidak jelas..
" Altair, menghindar!!" Israhi berteriak kepadanya sambil berusaha mengangkat bongkahan es yang menimpa tubuhnya.
" Altair!!." Remilia juga sama, dia mengambil sebuah belati dari balik punggungnya dan mengayunkannya berkali-kali untuk memecah es.
Keduanya berusaha memperingatkan Altair tentang sesuatu, tapi Altair sendiri...
" ...Apa? Apa yang mereka katakan..??" sesuatu mengganggu pendengarannya. Yang ia dengar hanyalah gemurun yang entah dari mana datang.
Indra sihir nya dihalangi hingga ia tidak dapat merasakan sekitarnya, itu membuat Altair terputus dari kenyataan selama beberapa detik. Dan saat ia sadar, Altair menoleh kebelakangnya. Flora ada disana, dia mengayunkan sebuah aura kearahnya, secara insting Altair bisa merasakan nya. Itu adalah serangan besar yang mematikan...
Ketika itu terjadi, Altair memaksakan otaknya berpikir lebih keras. Saat waktu terasa sedikit melambat, tapi isi kepalanya bergerak lebih cepat...
" Apa yang harus kulakukan? Kalau begini aku bisa kena. Adakah cara untuk menghindar?."
Altair tidak menemukan cara itu.
" Cara untuk menghentikannya?."
Tidak ada. Tidak ada senjata yang lebih kuat dari tombaknya.
Bahkan tidak ada cara untuk meminimalisir serangannya...! Altair tidak menemukan solusi apapun. Bahkan setelah memperkirakan dan menilai berbagai macam situasi, hasilnya hanya ada satu hal yang terbesit...
'Kematian'.
[" Heheh... Kau masih belum terampil, tapi cukup percaya diri."] suara itu kembali muncul.
" Siapa..??"
Altair bisa merasakan seseorang seolah berada dibelakang nya, dia memeluk nya dengan satu tangan sementara tangan yang lain menutup kedua matanya. Sosok itu tersenyum, dan ia pun berbisik ditelinganya...
[" Berikan padaku. Akan kusingkirkan semua yang mengganggumu."]
Sraakkk..!
" Altair!!!."
Duarr..!