The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Duel Day



Ditempat lain saat ini, Ninia dan dua orang temannya, Karon dan Siran tengah berkumpul disebuah hutan tak jauh dari tempat Guild mereka sendiri. Mereka kelihatan nya sedang membicarakan sesuatu yang cukup penting, dimana Karon dan Siran terlihat cukup menentang apa yang dia rencanakan.


" Hentikan! Kau lihat sendiri bagaimana kekuatan nya. Menantang duel saja sudah tidak masuk akal, apalagi dengan mengubah jabakan didalam labirin." ucap Karon dengan keras dan kelihatan marah.


Tapi Ninia terlihat acuh tak acuh dengan hal itu, " Ayolah. Apa kalian tidak kesal setelah diremehkan anak kecil? Dia dan kesombongan nya, aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran saja. Bukan membunuhnya." ucapnya dengan begitu santainya.


" Dasar bodoh! Karena hal itu saja kau ingin membahayakan seluruh anggota Guild?! Jika kau ketahuan kita semua juga akan berada dalam masalah!" teriak Karon pula sangat marah.


" Aku setuju dengan Karon, Ninia. Aku tidak bisa menerima kecerobohanmu yang satu ini, kau menjerumuskan dirimu sendiri." ucap Siran pula yang setuju dengan pendapatnya.


" Huh, tidak akan ada masalah jika tidak ketahuan. Dan juga... Tidak ada pengawas dalam duel ini, aku sudah meyakinkan ketua guild kalau ini akan baik-baik saja. Jadi apa masalahnya? Derrick juga sedang sekarat sekarang, itulah yang 'orang itu' katakan. Tidak peduli seberapa baik dia berpura-pura, dia akan segera mati. " tapi Ninia tetap keras kepala dengan keyakinan nya.


" Terserah kau saja! Kami tidak akan mengikuti rencana bodohmu ini, jika saja Widen tidak menjalankan tugas dan ada disini sekarang, dia juga pasti akan setuju dengan kami." Karon pun berkata seperti itu dan langsung berjalan pergi dari sana.


Tentu saja, Siran juga mengikutinya dibelakang. Mereka meninggalkan Ninia yang terlihat sangat kesal dan hanya diam menatap kepergian mereka dari sana.


" Ck. Apa mereka pikir aku membutuhkan mereka untuk hal ini, apa?" ucapnya pula yang kemudian memalingkan wajahnya dengan kedua tangan terlipat didepan dada.


***


Beberapa hari kemudian, duel itu pun diadakan ditempat yang telah dijanjikan. Semua orang dari kedua guild yang telah sepakat berkumpul didepan pintu masuk labirin, dan ada juga beberapa orang dari kota yang melihat hal itu sebagai hiburan.


Semua orang yang akan ikut ambil bagian dalam duel juga telah bersiap-siap. Dipihak Altair, ada Remilia dan Aksa. Sementara satunya, ada Ninia, dan dua orang gadis bernama Lica dan Reya. Dua saudari kembar yang kelihatan nya seusia dengan Altair.


" Hmph... Kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Kau tidak akan bisa menghindar lagi." Ninia sangat percaya diri dengan apa yang ia lakukan.


Tengg...


Saat kemudian semua orang teralihkan kepada suara yang begitu keras itu, seseorang baru saja memukul sebuah lonceng yang ada tak jauh dari sana.


Semua perhatian pun langsung tertuju kepada podium kecil yang ada ditempat yang sama dengan lonceng yang berbunyi itu. Mereka melihat tiga orang yang baru muncul ditempat itu. Mereka adalah.... Derrick, Mira dan pria paruh baya yang adalah pemimpin Guild Acrenea, Riam.


Mereka akhirnya muncul disana setelah sebelum nya melakukan diskusi mendadak sebelum pertandingan dimulai.


Mira pun maju mengambil alih kendali ditempat itu, ia menarik pedangnya dan menancapkan itu diatas podium dengan kedua tangannya yang memegang ujung pegangan pedang itu. Mira menatap lurus kedepan, kepada orang-orang yang sedang memperhatikan nya saat ini.


Ia pun berkata, " Perhatian semuanya, seperti yang sudah kalian semua tahu. Kita akan melakukan duel antar dua Guild yang sekarang berkumpul disini, Kirial dan Acrenea. Peserta pertama sekaligus penantang adalah Ninia bersama dengan dua temannya, Lica dan Reya. Dan orang yang ditantang adalah Altair, bersama dengan Remilia dan Aksa. " Mira menjelaskan semua yang akan terjadi saat ini.


Ia melanjutkan, " Mereka akan masuk ke dalam labirin Aila untuk memperebutkan harta yang ada didalam, dan keluar secepat mungkin. Sebelum matahari terbenam. Artinya meski kalian tidak mendapatkan hartanya, asalkan kalian kembali lebih dulu sebelum matahari terbenam maka akan ada perundingan soal yang menang dan yang kalah.


Meski begitu tidak bolah ada kecurangan, kalian harus sebisa mungkin masuk semakin dekat dengan harta dan keluar secepatnya. Pertarungan untuk memperlambat musuh diperbolehkan, tapi tidak boleh saling membunuh. " ucapnya dengan lantang kepada semua orang yang ada disana.


Para orang terkait pun memperhatikan dengan serius ditempat yang paling dekat dengan pintu masuk.


Dan diantara mereka, Ninia diam-diam tersenyum sinis sambil menatap Altair. Dia mungkin berpikir semuanya telah berjalan sesuai yang dia harapkan. Namun apa yang dikatakan Mira kemudian membuatnya terkejut...


" ...Aku yang akan menjadi pengawas dalam duel ini!"


" Apa?! " Ninia langsung menatapnya dengan terkejut, saat kemudian dia pun menoleh kearah Altair dan yang lain.


Dan ia telah disambut dengan senyuman sinis lain dari mereka, seperti yang diduga, dia tidak akan terlalu memikirkan hal itu karena berpikir semuanya telah sempurna.


Orang-orang pun langsung heboh sendiri, bukan hanya karena hal tiba-tiba itu. Tapi juga soal identitas Mira. Disisi lain, Ninia dan dua rekannya terlihat cukup gugup dengan kenyataan itu.


Namun tidak akan ada jalan untuk mundur sekarang, jika dia tidak mengikuti alurnya, maka sama saja artinya dia mengakui kekalahan.


" Semua peserta bersiap ditempat kalian!" dan Mira juga telah selesai melakukan pidato pembukanya.


Mereka pun langsung bersiap-siap untuk segera masuk ke dalam sesuai dengan instruksi Mira. Ada sebuah jalan masuk ke dalam sana, sebuah celah yang begitu besar diantara dua tebing. Setelah mereka masuk ke dalam sana tidak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi sekalipun, karena itulah... Seorang pengawas adalah hal yang penting.


Namun karena Mira sekarang muncul dan menjadi seorang pengawas yang telah disetujui secara resmi oleh Asosiasi, karena itu para ketua guild dan peserta tidak bisa menolaknya. Secara resmi pula, Asosiasi mengirimkan alat untuk memantau para peserta.


Beberapa serangga sihir robotik yang dikembangkan di 'Akademi Bintang Utara', oleh ilmuan paling hebat dibenua... mungkin juga dunia, 'Sakura'. Dan sebuah Crystal holographic yang bisa menampilkan apa yang dilihat serangga robotik itu dalam sebauh layar transparan yang muncul diudara.


Dengan begini, semua orang bisa tahu apa yang terjadi dan dilakukan oleh para peserta yang masuk ke dalam labirin.


" Semua peserta siap!" suara Mira kembali terdengar memberikan ancang-ancang, saat mereka juga telah siap.


Mira pun menoleh kearah Yi tak jauh dari nya, Yi yang mendapatkan kode itu pun melemparkan sebuah bola api dari tangannya ke langit.


Duarr...


Saat sebuah ledakan terdengar dari bola api itu, Altair, Remilia, Aksa, serta Ninia dan kedua rekannya pun segera berlari masuk ke dalam labirin secepat yang mereka bisa.


Duel, atau... pertandingan baru saja dimulai...


Sementara diatas podium, Mira hanya memperhatikan hal itu dalam diam. Meski begitu ekspresi nya terlihat begitu serius. Saat kemudian Yi pun berjalan mendekatnya dan bertanya...


" Apa kau tidak khawatir dengan muridmu?" tanyanya kepada Mira dan kemudian berdiri disampingnya.


Mira yang mendengar pertanyaan itu pun terdiam sebentar, lalu ia pun berkata.. "... Aku tidak khawatir karena aku tahu Altair kuat dan bisa mengatasi ini sendirian, yang aku khawatirkan adalah jika orang-orang ini akan melewati batas..." ucapnya.


" Apa yang akan terjadi jika mereka melewati batasan untuk Altair?" Derrick yang masih ada di dekatnya pun bertanya soal apa maksudnya itu.


" Jika mereka menyentuh batas yg harusnya tidak mereka sentuh, aku takut segel Altair tidak akan bertahan."


" Segel?."


Itu menarik perhatian Yi dan Derrick yang ada didekatnya, bahkan Israhi yang sebenarnya berada cukup jauh pun langsung menoleh menatapnya karena telinganya yang tajam juga mendengar itu.


Sementara itu, Mira menganggukan kepalanya dengan ekspresi yang terlihat murung. " Benar. Altair mewarisi kekuatan yg terlalu kuat untuk tubuh manusianya, jika tidak disegel.. Kekuatan itu akan membangkitkan sisi jahatnya dan dia akan mengamuk." ucapnya kemudian, namun ia belum selesai menjelaskan.


Mira menarik nafasnya sejenak ketika memikirkan kehancuran apa yang akan terjadi, mungkin seperti apa yang ia ingat dari masa lalu, atau lebih dari itu.


Ia pun kemudian mengangkat kepalanya menatap layar transparan yang sedang menunjukan orang-orang yang tengah berlarian didalam labirin didepan mereka. Sementara yang ada diluar berteriak mendukung masing-masing orang yang mereka percayai. Dan ia pun melanjutkan kata-katanya...


" Itu akan menjadi bencana yang mengerikan,... Dimana Altair yang seperti itu akan kehilangan semua empatinya dan hanya mengetahui kehancuran. Dia adalah makhluk yang selama 5 tahun ini coba kekaisaran tahan dan lindungi. " ucap Mira dengan ekspresi yang sangat serius.


Sementara itu, mereka yang mendengar apa yang dia katakan, sama-sama mengerutkan keningnya bingung dengan hal itu.