The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Altair First Class



Setelah kejadian semalam bersama dengan Lumine, Altair jadi terus memikirkan banyak hal. Tentang alasan sebenarnya kenapa ibu nya menitipkannya kepada orang lain untuk melindungi nya?? Dan siapa orang yang mengincarnya itu. Termasuk kenapa dia bisa memiliki kekuatan yang maha dahsyat seperti ini.


'Apa alasan ia dilahirkan dengan semua ini?'


Semua hal itu terus saja berkecamuk didalam kepalanya, apalagi setelah dia tahu kalau ada roh cahaya (Lumine) didalam tubuhnya.


" Sebenarnya siapa aku ini?? Kenapa semua orang sangat berhati-hati?? " ucap batin Altair, ia tidak tahan karena penasaran. Tapi di saat yang sama, ia tidak punya orang yang bisa memberitahukan nya dengan terbuka.


Haruskah Altair memaksa Yin untuk mengatakan kebenarannya langsung, tapi jika seperti itu dia mungkin malah akan dapat masalah. Bisa-bisa dia malah semakin tidak akan mengetahui apapun.


Altair tenggelam dalam lemunan nya, hingga lupa dengan situasinya saat ini. Sampai kemudian... Lumine lah yang membuatnya tersadar.


" Lapor. Bergeser kearah kiri untuk menghindari serangan. "


" Eh?? " Tapi sudah terlambat untuk Altair menghindar...


Pakk!!


" Aduh... kepalaku!. "


Mira baru saja memukul kepala nya dengan pedang kayu, itu pasti karena dirinya yang lebih sibuk melamun bukan nya mendengarkan pelajaran. Bahkan Theodore juga sampai terkejut dengan hal yang tiba-tiba itu.


" Lihatlah. Jika kalian melamun seperti ini ditengah pertempuran, maka kalian akan mati lebih dulu. " ucap Mira dengan santainya setelah memukul Altair.


" Hiks... Kenapa harus memukulku?? " tanya Altair sembari memegangi kepala nya yang sakit.


Sementara itu Mira hanya cekikikan tidak merasa bersalah setelah memukul Altair, ya salah nya juga sih karena tidak fokus ditengah latihan. Mira pun kemudian berjalan kehadapan mereka berdua.


" Kau baik-baik saja, Altair?? " tanya Theodore.


" Aha. Saya baik-baik saja, pangeran. Salahku karena tidak memperhatikan. " jawab Altair.


" Kalau begitu Altair... " ucap Mira menggantung.


" Huh?? "


" Apa yang harus kau lakukan untuk menahan atau menghindari serangan musuh?? "


" Um... Mengamati, memprediksi dan membalas dengan gerakan seminimal mungkin. "


" Tapi, bagaimana jika kau tidak bisa melihat nya?? "


Altair memikirkan itu dengan seksama, jika serangan yang diarahkan pada mu tidak bisa dilihat, maka bagaimana caranya agar bisa menahan serangan itu. Jika Altair sih kemungkinan hal seperti itu tidak akan berhasil pada nya karena ada Lumine yang membentunya, tapi....


" Aku tidak bisa terus mengandalkan Lumine, aku juga harus semakin kuat. " ucap batin Altair.


" Gunakan indra lain yang kau miliki. " ucap Theodore yang menarik perhatian Altair yang sedang melamun.


" Indra lain?? " sahut Altair.


" Benar. Misalnya, jika kau tidak bisa melihat serangan itu. Coba gunakan pendengaran mu, suara sekecil apapun pasti akan terdengar jika kau fokus dengan pendengaran mu. Kau juga bisa menggunakan penciumanmu jika serangan itu berbau, seperti karena darah, atau apapun. Kau juga bisa merasakan itu menggunakan Indra sihir. " jelas Theodore.


" Indra sihir?? "


" Itu adalah teknik yang membuatmu dapat merasakan Mana disekitarmu. "


" Tapi... Bagaimana jika aku tidak bisa merasakan Mana?? Misalnya, seperti orang biasa atau mungkin suatu makhluk yang tidak menggunakan Mana sebagai sumber kekuatannya?? "


Altair mulai mengerti sekarang, tapi dia jadi penasaran juga... bagaimana caranya agar bisa menggunakan Indra sihir itu?? Mungkin dia akan mulai mencarinya diperpustakaan saja. Kecuali jika ada yang mau membantunya mempelajari itu.


" Mau kuajari cara menggunakan Indra sihir?? " tanya Theodore.


" Benarkah?? " tanya balik Altair dengan mata yang berbinar-binar.


" I, Iya... jika kau mau mempelajari nya. " ucap Theodore menimpali, " Sepertinya dia memang sudah menunggu-nunggu hal itu. " batin nya pula.


Disisi lain, Mira hanya tersenyum melihat nya, " Kalau begitu... kita akhiri kelas hari ini. Pastikan agar kalian terus berlatih dengan giat ya. " ucap nya.


" Baik. " jawab Altair dan Theodore.


****


Setelah latihan selesai dan Altair sudah mengganti pakaian, ia ingin pergi berjalan-jalan ke taman milik Ratu. Altair berpikir sepertinya akan bagus jika dia beristirahat sembari melihat-lihat taman indah itu di waktu luang. Setidaknya... Kaisar juga tidak melarangnya melakukan apapun yang dia inginkan.


Dan dia bilang Altair bisa pergi ke tempat mana pun di istana kekaisaran..


" Nyamm... Zico, bagaimana menurutmu?? Tidakkah sekarang aku malah jadi hidup seperti seorang putri?? " ucap Altair sambil makan coklat yang dia bawa.


Kyuu...


" Hm... Aku tahu ini sangat nyaman. Tapi aku bukan seorang putri, kenyataan itu malah membuatku jadi terbebani. " ucap Altair kepada Zico yang ada dipundaknya.


Sementara Zico hanya diam sambil memperhatikan nya dengan sebelah mata yang berbuka terlihat malas, dan tiba-tiba... dia memakan coklat yang ada ditangan Altair.


" Ah! Zico, itu coklat terakhir! Dasar kau ini... " ucap Altair dengan kesal, apalagi Zico kelihatan nya malah senang dengan coklat yang dia curi itu dan malah langsung bersembunyi dibalik rambutnya.


Saat kemudian perhatian Altair pun teralihkan kepada seseorang yang berjalan kearahnya. Altair sepertinya mengenal orang itu, Yin pernah memberitahunya tentang para Bangsawan yang biasanya ada diistana. Dan orang yang ada dihadapannya adalah salah satu dari Bangsawan besar, Duke Orzsbet.


Dia kelihatannya angkuh sekali, bahkan terlihat dari bagaimana dirinya mengangkat wajah nya seperti itu. Altair tidak peduli, jadi dia hanya menatap lurus kedepan dan berjalan melewati nya seolah-oleh dia tidak ada. Tapi.. ketika Altair melewati nya, Duke Orzsbet berhenti.


Dan ia pun berkata, " Menyedihkan. "


Mendengar itu, Altair pun juga jadi ikut berhenti. Ia pun kemudian melirik ke belakang sana, dimana Duke Orzsbet sedang menatap nya dengan sinis.


" Beraninya orang rendahan seperti dirimu berkeliaran diistana sesuka hati, tempat ini bukanlah tempat yang bisa kau datangi begitu saja! Tidak tahu diri, bahkan tidak punya sopan santun. Memang sangat cocok dengan asalmu! Dasar rendahan! " ucap Duke Orzsbet.


Rasanya ingin sekali Altair memukul wajah sombongnya itu, tapi itu bukanlah hal yang bisa ia lakukan. Dia juga tidak ingin membuat keributan diistana kekaisaran.


" ... Baginda Kaisar bilang aku tidak perlu menundukan kepalaku kepada orang yang ada dibawah. " ucap Altair.


" Apa..?! " sahut Duke Orzsbet.


" Bahkan Baginda Kaisar melarangku memberi hormat padanya. Bukankah itu artinya sudah jelas... " ucap Altair menggantung, dia pun menoleh dan menatap Duke Orzsbet dengan dingin. " ... Statusku lebih tinggi darimu, bahkan jauh lebih tinggi dari Kaisar! Jadi sebaliknya jaga tingkah laku mu, Tuan Duke. Jangan sampai kau memilih musuh yang salah! " lanjutnya yang kemudian pergi meninggalkan Duke Orzsbet.


Sementara Duke Orzsbet yang ditinggalkan terdiam menahan amarah, mungkin harga dirinya tercoreng karena perkataan Altair. Disisi lain Altair....


" Aku kesal.... Sombong sekali dia sampai bisa merendahkan seseorang hanya karena terlahir sebagai Bangsawan, padahal dia juga sama manusia yang tidak bisa apa-apa jika sendirian!. " gerutu Altair.


Kemudian langkahnya pun berhenti kembali, " Menghencurkan Duke biasa seperti nya bukanlah hal yang sulit.... Apalagi aku adalah pemilik kekuatan terbesar. Harusnya hanya dengan mengirim Zico saja sudah cukup. " batin Altair.


Saat kemudian dia pun tersadar, " Hah?! Apa yang aku pikirkan?? Aku tidak boleh melakukan hal seperti itu. " ucap Altair yang kemudian langsung berlari pergi dari tempat nya berada.