The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Rumors of the crown princess candidate



-- 5 Tahun kemudian.


Tahun ini, kabar tentang cerita yang sudah beredar sejak lama dikalangan rakyat biasa dan para bangsawan kekaisaran Foldes semakin menjadi-jadi. Yaitu soal desas-desus calon putri mahkota, yang artinya orang yang akan menjadi ratu negara ini.


" Hei, kau tahu 'kan? Dia gadis yang sangat baik. "


" Dia juga dekat sekali dengan pengeran mahkota, seperti nya kabar soal posisi putri mahkota itu benar. "


" Kaisar juga kelihatan nya sangat menyayangi gadis itu, jika sudah seperti ini apalagi yang mau dibantah??"


Pembicaraan hangat yang terus menyebar dimana-mana, tidak berhenti pada satu orang saja. Sementara orang yang dibicarakan, saat ini sedang menghadiri pesta teh si kediaman Marquis Ether bersama dengan para nona bangsawan lain yang menjadi temannya. Siapa lagi kalau bukan Altair bukan?


Tahun ini dia berusia 17 tahun...


" Nona Drosera, apa kabar itu benar? Anda akan menjadi pasangan putra mahkota??"


" Itu seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan, tinggal diistana yang megah, dan menjadi pasangan penguasa masa depan negeri ini. "


" Kabarnya sudah menyebar sampai kemana-mana, loh. Bahkan sampai keluar Kontinen. "


Bahkan teman-teman nya juga membicarakan hal itu.


Sementara Altair, ia yang dari tadi diam sambil menikmati teh yang dihidangkan untuknya pun menaruh kembali cangkir tehnya. Ia kemudian tersenyum kepada teman-teman nya itu...


" Itu tidak benar, saya tidak akan menjadi pasangan putra mahkota. " jawab Altair dengan suara selembut dentingan lonceng dan senyuman secerah sinar mentari.


" Kyaa..." yang bahkan berhasil membuat para Nona bangsawan terpesona dengan hal itu.


Kabar soal Altair dimulai sejak ulang tahun pangeran Habel 4 tahun yang lalu, ketika Altair yang bahkan belum melakukan debutnya masuk ke dalam pergaulan sosial para bangsawan. Karena ulang tahun Pangeran Habel begitu menyita perhatian semua orang...


Dan secara kebetulan, artikel tentang Altair pun diangkat dikoran gosip. Ditambah dengan pengaruh Duke Orzsbet yang menjadi gelisah, rumor tentang kecantikan Altair pun menjadi berlebihan. Tidak ada lagi yang tidak mengenal Altair di kekaisaran, apalagi setelah Kaisar mengadakan debuttente yang begitu mewah untuknya.


Namun Kenyataan-nya, Altair memang sempurna. Tata krama, pesona dan juga keanggunannya telah diakui oleh banyak bangsawan yang sudah bertemu dengannya. Ia mempelajari etiket dengan begitu mudah, seolah itu telah menempel ditubuhnya.


Dan tentu saja, diantara orang-orang yang bersikap baik padanya, ada saja diantara mereka yang memiliki niat jahat. Bahkan Duke Orzsbet masih belum menyerah untuk berusaha menyingkirkannya, dia telah melakukan segala cara untuk memastikan Altair menghilang. Tapi semuanya tidak pernah berhasil... Zico penyebabnya.


" Kalau begitu, apa yang akan anda lakukan jika tidak berpasangan dengan Yang Mulia Putra Mahkota??" tanya salah satu nona yang ada disana.


Altair menjawabnya dengan tenang, " Saya akan pergi berpetualang. " ucapnya dengan yakin.


" Ehh?? Kalau begitu kita tidak akan bertemu lagi, apa Altair benar-benar yakin??" tanya putri Marquis Ether, Daphine.


Yang juga adalah teman terbaiknya, bersama dengan putri Count Cusara, Adriana.


" Itu benar, bagaimana kami bisa bertemu Altair nantinya?" tanya Adriana dengan raut wajah sedih.


Tapi Altair tetap tersenyum dengan lembut kepada mereka, " Maafkan aku, tapi aku harus pergi mencari orang tuaku. " ucapnya pula.


" Ouh, begitu. "


" Kalau begitu, jika kau kembali ke Foldes segera temui kami. Jangan lupa untuk mengirim surat juga. " ucap Daphine sambil menggenggam tangannya erat.


Altair tahu mereka tulus menyukainya berkat Lumine yang bisa membaca aura mereka, jadi ia sangat bahagia karena mereka peduli padanya.


" Iya.. Terima kasih." Ia pun mengiyakan ucapan Daphine dengan senang hati.


***


Diistana kemudian, Altair langsung pulang setelah dari kediaman Marquis Ether. Ia tidak harus selalu menjawab semua surat undangan yang datang padanya, karena dia tidak merasa sebagai bagian dari bangsawan kekaisaran.


Dan hari ini dia le~lah sekali, menghadapi omongan para nona bangsawan jauh lebih melelahkan dibandingkan latihan dari Mira. Altair hanya ingin tidur dikamarnya dan malas-malasan jika tidak ada lagi yang harus ia lakukan hari ini.


Namun sepertinya, Altair harus menunda hal itu beberapa saat ketika melihat seseorang dihadapan nya.


" Ah, orang menyebalkan. " batin Altair disembunyikan oleh senyuman ramah diwajahnya.


" Halo, nona Altair. Sepertinya anda baru saja kembali dari luar, ya. " ucap seseorang itu, Putri Duke Orzsbet, Rara.


" Halo juga, putri Orzsbet. Kelihatan nya... anda makin sering ada diistana ya. Apa ada yang anda butuhkan?" tanya Altair dengan baik-baik padanya.


Sementara Rara justru tersenyum angkuh padanya, " Tidak juga. Hanya melihat rumah masa depanku. " ucapnya dengan percaya diri sekali.


Altair hanya berpikir, jika saja bukan dia yang tinggal disini nantinya.. akan seperti apa raut wajah yang ia buat saat itu. Pasti akan menarik sekali.


" Apa anda tahu, orang bilang berekspektasi terlalu tinggi akan membuat anda merasa sakit ketika jatuh. " ucap Altair mengingatkan nya.


" Oh, lucu mendengar nya dari orang yang bahkan tidak memiliki sedikitpun darah biru pada dirinya. " sindir Rara tidak mau kalah.


Kali ini Altair benar-benar jadi kesal. " Saya tidak punya darah biru, tapi setidaknya saya punya darah dewa. Mengalir dipembuluh darah saya. " jawab Altair sambil tersenyum kesal.


Membuat Rara yang mendengar nya pun sedikit tersentak, " Ha.. Aku tidak suka cara bicaramu itu, sombong sekali. " ucapnya berusaha membalas.


" Haha.. Begitu ya. Saya benci orang bermuka dua, sulit memutuskan wajah mana yang harus saya tampar terlebih dahulu. " tapi Altair tidak bisa kalah semudah itu.


Keduanya saling pandang tidak suka, memancarkan aura permusuhan yang begitu jelas. Namun jujur saja... Altair sama sekali tidak berniat untuk terus melayaninya, dia tidak mau menghabiskan waktunya yang begitu berharga hanya untuk berdebatan yang sama sekali tidak berguna.


" Maaf putri Orzsbet, sepertinya saya harus pemit lebih dulu. " ucap Altair yang kemudian berjalan pergi dari sana.


Namun ucapan Rara kemudian menghentikan langkahnya, " Kau ingin kabur?" ucapnya terdengar meremehkan.


Altair hanya tersenyum sinis, kemudian menoleh kearahnya menatap kasihan. " Tidak semua orang seluang anda, Putri. Setidaknya saya punya suatu hal yang harus saya lakukan, tidak hanya mencari-cari perhatian dari orang yang jelas-jelas mengabaikan saya. " ucapnya yang kemudian benar-benar pergi dari sana.


Meninggalkan Rara yang marah ditempatnya seorang diri, ia menggertakan giginya menahan amarah. Tidak suka dengan kenyataan harga dirinya diinjak-injak oleh Altair, namun dia sama sekali tidak menyadari kalau dirinya telah menantang lawan yang salah.


" Awas saja! Aku tidak akan diam saja, gadis desa!!" batinnya dengan sangat yakin, dia mungkin telah menyiapkan suatu rencana jahat lainnya untuk melawan Altair.