The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
The end of her arrogance



Ketika kegelapan yang tiba-tiba muncul itu mengurung Altair dan Rara di dalam nya, semua orang yang ikut melihat pun terkejut dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi disana.


" Apa yang terjadi? Dari mana penghalang ini berasal??"


" Apa yang terjadi kepada pertandingan nya?"


Semua penasaran dengan itu, beberapa diantaranya menjadi gelisah. Dan tentu saja... mereka ingin tahu apa yang terjadi kepada kedua orang yang ada didalam sana.


***


Sementara itu, Rara yang ada didalam sana. Dia diliputi kebingungan, saat ini dirinya berdiri diam dalam sebuah tempat yang begitu gelap dan sunyi. Tidak ada satupun suara yang bisa masuk ke dalam sana, jadi ia tidak bisa mendengar apapun. Saking sunyinya Rara bahkan sampai bisa mendengar suara detak jantung nya sendiri.


" Dimana ini?? Kemana perginya gadis desa itu juga??" ucapnya sambil celingak-celinguk kesana kemari.


Namun yang ia temukan hanya kegelapan, kegelapan dimana-mana. Sampai sebuah aura tiba-tiba menarik perhatian nya, Rara pun kemudian menoleh dan alangkah terkejut nya ia melihat apa yang ada dihadapannya.


Altair diatas sana, mengambang diatas udara. Auranya terasa sangat berbeda, bahkan penampilannya juga terlihat jauh berbeda. Dan Rara sangat mengenali ciri-ciri itu...


" Rambut emas itu. Tidak mungkin... Bagaimana bisa seperti ini... kau dari.. kau berasal dari keluarga kekaisaran?!!." pekiknya tidak terima.


Disisi lain, Altair mengangkat kepalanya menatap Rara dengan tatapan dingin...


" Kau meracuni ku dan menguak kembali ingatan buruk ku, aku tidak akan melepaskan mu." ucapnya yang berhasil membuat Rara merinding.


Altair yang terlihat marah itu pun kemudian mengangkat tangannya keatas, dan cahaya-cahaya kecil pun berjatuhan diantara ruangan yang gelap itu.



" Kehilangan statusmu sebagai bangsawan atau aku akan membuatmu lumpuh, pilih salah satu." ucapnya pula yang membuat Rara menjadi ragu.


Namun seperti Rara yang biasanya, dia tidak menerima hal itu begitu saja. " Jangan bercanda!! Kau pikir aku bisa kalah dari orang seperti dirimu!!" teriaknya kepada Altair.


Sementara Altair semakin mengerutkan keningnya, " Sudah cukup. " ucapnya saat kemudian ia mulai menyerang.


***


Sedangkan diluar penghalang kegelapan itu, orang-orang masih menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka ingin tahu apa yang dilakukan kedua orang itu didalam sana, sampai kemudian...


Krak... Prangg...


Penghalang itu hancur dengan sendirinya...


Dan apa yang mereka lihat kemudian adalah sesuatu yang tidak terduga dan begitu mengejutkan. Rara benar-benar dalam kondisi yang tidak baik.


" I-Itu..."


" Astaga..."


Para penonton tidak bisa berkata-kata lagi melihat itu, saat...


" Rara!!" teriak Duke Orzsbet yang sangat syok melihat itu.


Kondisi Rara saat ini, dia duduk bersimpuh dihadapan Altair yang berdiri dengan gagahnya sambil memegangi tombak langitnya, dia menangis. Dan juga... menutupi mulutnya yang terus bercucuran darah, bisa ditebak apa yang baru saja Altair lakukan kepadanya.


Ya, Altair baru saja memotong lidahnya. Ia pun kemudian menoleh keatas sana, tepat kearah Duke Orzsbet dengan tatapan dingin. Membuat sang Duke sendiri tersentak kaget melihat itu.


Altair pun kemudian berbalik pergi, berjalan menuju pintu keluar. " Pertarungan nya berakhir. " ucapnya sebelum keluar, meninggalkan kesan ngeri dengan suara dingin dan apa yang baru saja ia lakukan.


" Pe-Pertarungannya berakhir! Pemenangnya adalah, Nona Altair Drosera!!" ucap wasit kemudian.


Disamping itu, paramedis yang sebelumnya telah disiapkan oleh pihak Koloseum pun langsung menbantu Rara pergi dari sana dan mendapatkan pengobatan.


***


Sore hari kemudian, setelah pertarungan itu usai. Semua orang masih membicarakan nya dengan begitu bersemangat, melihat kehebatan Altair diarena membuat mereka tidak ragu lagi kalau dia sebenarnya sangat kuat, apalagi diusianya yang masih begitu muda.


Sementara diruang kesehatan, pengobatan Rara masih berlangsung. Dan itu membuat Duke yang menunggu didepan ruang kesehatan itu. Saat kemudian seorang pendeta yang mengobati Rara keluar dari dalam sana...


" Pe-Pendeta! Bagaimana keadaannya? Bagaimana keadaan anakku??" tanyanya dengan begitu khawatir.


Namun pendeta itu menunjukan raut wajah sedih, " Luka-luka Nona Orzsbet telah kami sembuhkan, akan tetapi... lidahnya tidak bisa kembali seperti semula. " ucap pendeta itu.


Itu membuat nya sangat kaget, " A-Apa maksudmu.. putriku tidak bisa berbicara lagi?!!" ucap nya dengan begitu emosi.


" Sayangnya iya, tuan. " jawab pendeta itu pula.


" Lakukan sesuatu! Apa saja! Sembuhkan dia, aku akan membayar berapapun yang kau inginkan!!" Duke Orzsbet tidak bisa menerima kenyataan itu, dia menarik jubah pendeta itu dan memaksanya.


" Tu-tuan.." membuat pendeta itu tidak bisa melakukan apapun, dia juga tidak bisa memukul bangsawan.


Saat kemudian perhatian nya teralihkan kepada suara langkah kaki yang datang mendekat kearahnya, dan dari kejauhan... terlihat Altair, Mira dan juga Yin yang baru datang ke sana untuk menjemputnya setelah menjalankan tugas.


Langkah mereka pun terhenti ketika melihat keributan itu. Disisi lain Duke Orzsbet, dia yang melihat Altair pun langsung naik pitam, karena dia adalah orang yang telah membuat anaknya jadi seperti sekarang.


Dia melepaskan pendeta itu dan berjalan menghampiri Altair dengan begitu marah, " Kau..!! Ini semua salahmu!! Lihat apa yang telah kau lakukan kepada putriku!!" ucapnya sambil mengangkat tangan hendak memukul Altair.


Namun Yin dan Mira bergerak cepat dan langsung melindungi Altair...


" Jaga tingkah laku anda, jika anda memukul nya anda akan dijatuhi hukuman yang sangat berat. " ucap Yin yang menahan tangan nya.


" Lepaskan! Anak sialan itu pantas mendapatkan nya, dia telah membuat putriku tidak bisa berbicara. Tidak bisa kubayangkan mengapa kekaisaran mau melindungi iblis seperti nya!!" ucap Duke Orzsbet dengan sangat kasar kepada Altair.


" Jaga kata-katamu, Tuan Orzsbet. Dia bukan lagi orang yang sederajat denganmu." ucap Mira pula memberi peringatan.


" Apa yang baru saja kau katakan!!" Duke Orzsbet tidak mengerti hal itu.


Saat suara Altair kemudian mengalihkan perhatian mereka, " Sepertinya kau belum tahu, Duke... Tidak, mungkin aku harus memanggilmu Rian Orzsbet. Kau bukan lagi salah satu bangsawan kekaisaran Foldes. " ucap Altair dengan keras dan jelas.


" A-Apa..??" dan itu membuat Rian Orzsbet makin bingung dengan apa yang ia dengar.


" Seperti yang kukatakan, Rian Orzsbet. Kaisar telah mencabut setatusmu sebagai bangsawan, dan menyita semua property yang sebelumnya dimiliki oleh pihak Duke Orzsbet. Kau pasti bertanya-tanya dengan alasannya, 'kan? Sederhana saja... percobaan pembunuhan, peracunan, penghinaan dan juga pemberontakan kepada Kaisar. Kau telah dijatuhi hukuman Mati. Namun, mengingat semua jasa yang telah dilakukan oleh keluarga Orzsbet sebelumnya kepada kekaisaran. Kaisar dengan murah hati sedikit meringankan hukumanmu, dengan mengusirmu ke wilayan utara sebagai rakyat biasa. " jelas Altair panjang lebar.


Yah, Altair sudah memperingati mereka sejak awal. Menentang keberadaannya sama saja dengan menentang Kaisar, dan itu bisa dianggap sebagai pemberontakan kepadanya. Kini dia harus menanggung sendiri akibatnya.


Orzsbet jatuh terduduk, dia tidak percaya dia langsung kehilangan semuanya dalam waktu sehari. Itu adalah akhir bagi keluarga Orzsbet. Dia kehilangan takhta dan harta, putrinya juga tidak bisa sembuh lagi, dan dia harus jadi rakyat biasa di wilayah utara yang adalah wilayah paling keras di Foldes. Bagaimana dia bisa bertahan??


Altair yang melihat nya hanya menatap kasihan, kemudian ia pun berjalan kearahnya dan sedikit menundukan tubuhnya.


" Makanya... sudah kubilang jangan macam-macam dengan ku, sekarang terima sendiri akibatnya. Aku sudah memperingati kalian berkali-kali, bahkan aku datang dimalam saat aku keracunan untuk menyadarkan kalian, tapi kau dan putrimu tetap saja keras kepala. Sekarang nikmati saja hidup kalian... yang tidak berguna itu. " bisik Altair dingin.


Yang membuat Orzsbet tersadar, namun semuanya terlambat.


Altair pun kemudian berjalan pergi melewati nya, diikuti oleh Mira dan Yin dibelakang nya. Meninggalkan Orzsbet yang masih mematung di tempat nya begitu saja.


Disaat yang sama, Yin... " Dia makin mirip saja dengan beliau." batinnya setelah melihat itu, dia jadi merinding kepada anak yang selama ini ia anggap malaikat itu.