The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Colosseum



Beberapa hari telah berlalu sejak kejadian hal itu, Kaisar juga tidak terlalu banyak bertanya tentang apa yang telah terjadi, meski dia sempat khawatir saat tahu muncul tornado disekitar sana. Dan Altair yang lebih banyak diam sejak kembali dari sana.


Bahkan hari ini, ketika semua kelas dihentikan karena semua berpikir jika Altair butuh istirahat secara mental. Altair hanya diam dikamarnya memandangi burung-burung yang terbang dilangit, kebanyakan dia hanya melamun...


" Haaahhh... "


Dan juga menghela nafas panjang.


Sementara diluar, orang-orang mengintip hal itu karena penasaran dengan apa yang sedang ia lakukan. Dan melihat nya tidak seaktif sebelumnya, benar-benar membuat mereka khawatir.


" Kita harus melakukan sesuatu, dia benar-benar kelihatan sangat sedih. " ucap Mira yang berbisik-bisik bersama yang lainnya.


" Aku setuju, dia kelihatan seperti langit mendung dihari pergi ke pantai. " sahut Pangeran Habel pula.


" Tapi apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita mengajaknya pergi jalan-jalan lagi? Atau melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat? " tanya Yin bingung.


" Aku tahu. Bagaimana jika tempat itu. " usul Pangeran Theodore pula.


Mereka pun berkumpul dan menbahas hal itu bersama untuk menentukan tempat apa yang harus mereka tunjukan kepada Altair.


Disisi lain Altair, saat ini ia sedang bosan. Dia tidak diizinkan pergi keluar untuk sementara jika tidak bersama dengan Yin atau Mira, dan jujur saja dia juga tidak tertarik untuk keluar karena tidak menemukan hal baru yang bisa ia lihat.


" Hm... Haruskah aku terbang pergi ke tempat lain saja??" batin Altair.


Ia pun turun dari atas kursi yang ia pakai didepan jendela, dan berjalan ke arah meja belajarnya. Ia membuka laci paling atas dan menemukan topeng yang diberikan oleh Milya pula adanya dan ia pun mengambil nya.


Matanya menatap sayu, ia menyentuh topeng itu dengan lembut, dan membuatnya teringat dengan teman baiknya itu. Dan ia pun teringat hal itu...


" Hm?? Topeng ini berguna utk menekan Mana, kan? Lumine bilang jika memakainya auraku sepenuhnya terhapus dan aku akan dianggap manusia biasa." batin Altair. Ia bisa memikirkan banyak hal keren yang bisa dilakukan oleh nya dengan itu, misalnya... menyusup ke suatu tempat tanpa ketahun.


" Wah, Hebat sekali! Baiklah, aku akan menyimpannya, pasti akan berguna nanti. " ucap Altair pula yang kemudian menyimpannya lagi.


Saat kemudian perhatian Altair teralihkan kepada pintu kamarnya yang terbuka dan masuklah Yin, Mira, Habel dan juga Theodore ke dalam sana.


" Semuanya? Ada apa?" tanya Altair terheran-heran melihat itu.


Sementara semuanya hanya tersenyum dengan aneh, dan itu sedikit membuat Altair takut.


" Hehe.. Kami ingin membawamu ke suatu tempat. " ucap Mira yang mana makin membuat Altair gugup.


Lalu...


Brukk!!


" Pemenangnya telah ditentukan!" ucap seseorang yang menjadi pembawa acara di tempat itu.


" Wooo..."


Sementara semua penonton yang melihat itu bersorak kepada sang pemenang, dah salah satunya adalah Altair..


" Wah!! Hebat! Bagaimana dia bisa sekuat itu? " ucapnya dengan begitu bersemangat. Melihat nya kembali seperti sebelumnya membuat yang lain juga ikut senang.


Saat ini mereka sedang berada di Koloseum terbesar di Foldes, dimana para Gladiator melawan sesama gladiator, binatang buas dan narapidana. Dan beberapa diantara mereka merupakan sukarelawan yang mempertaruhkan kehidupan sosial dan nyawa mereka di arena.


Namun ada yang unik dari peraturan Koloseum yang ada di Foldes. Di tempat ini, setiap pesertanya diharuskan menggunakan tangan kosong, jika ada yang memakai senjata mereka akan di diskualifikasi. Begitu pula dengan teknik, selain teknik yang digunakan untuk menguatkan fisik, teknik lain tidak diperbolehkan.


" Aha, kau terlihat begitu menyukainya Altair. " ucap Mira sambil menusap kepala Altair.


" Iya, aku belum pernah melihat pertarungan di Koloseum sebelumnya. Ini seperti mimpi yang jadi nyata. " sahut Altair.


Ya, itu adalah hiburan bagi semua orang, dengan pendapatan yang begitu tinggi. Pertarungan pun semakin meriah dengan adanya tentangan lain...


Seorang wanita berjalan ketengah arena dengan percaya diri, dan ia pun mengumumkan tantangan itu.


" Perhatian! Kepada semua penonton yang terhormat, pemimpin besar Koloseum baru saja membuat sebuah tantangan! Siapapun bisa ikut masuk ke dalam arena dan mengikuti tentangan ini, tua, muda, laki-laki atau perempuan. Tidak ada batasan usia dan gender didalamnya! Pemenangnya akan mendapatkan hadiah utama, yang diberikan langsung oleh pemimpin besar Koloseum!!" ucap wanita itu terdengar keras dan jelas.


" Waa!! Waa!!." Sorakan demi sorakan terdengar dari para penonton, banyak yang tertarik dengan pertarungan itu.


" Para petarung memasuki Arena!!" ucap wanita itu pula.


Dan semua orang yang tertarik pun langsung melompat turun ke arena, sebagian besar diantaranya adalah para petarung atau petualang yang memiliki tingkatan kekuatan tinggi.


Dan satu anak yang tertarik...


" Guru! Guru! Guru! Aku ingin ikutan, aku ingin ikut. Bolehkan??" pinta Altair kepada Mira.


Disisi lain, Yin berpikir itu bukan ide yang bagus. " Oi, jangan. " ucapnya yang menyentuh bahu Mira.


Mira sendiri hanya meliriknya sedikit kemudian kembali pada Altair, " Tentu, kenapa tidak. " ucapnya.


Mendengar itu membuat Altair begitu gembira, dia ia pun langsung melompat turun bersama dengan yang lain nya.


" Mira!! Apa yang kau lakukan?!!" teriak Yin melihat hal itu.


Sedangkan Mira masih bersikap santai, " Kenapa kau khawatir begitu, dia akan baik-baik saja. " ucapnya.


" Tidak, aku tidak khawatir dengan Altair. Aku khawatir dengan orang-orang yang akan dia kirim ke ruang kesehatan. " sahut Yin pula yang membuat Mira langsung tertawa terbahak-bahak.


" Ahahahah... Kita lihat akan seberapa banyak.. hahaha..." ucapnya disela tawanya.


Saat kemudian ia mendengar hal yang lebih menarik dari tempat lain...


" Aku bertaruh pada orang berbadan besar itu. "


" Aku bertaruh pada pria berambut ikal itu. "


Orang-orang bertaruh untuk siapa yang akan menang dalam pertarungan itu, dan Mira menyukai hal itu.


" Hei, kalian aku ikutan!. " ucapnya yang langsung menghampiri mereka. Kebiasaan suka berjudinya kambuh lagi...


Yin hanya menatapnya datar, sementara para Pangeran berusaha untuk tidak terlibat masalah mereka, dan fokus kepada Altair.


****


Sementara dibawah sana, para petarung yang akan mengikuti tentangan dari pemimpin besar Koloseum telah berkumpul. Rata-rata diantara mereka adalah pria berusia 25 tahun keatas, bertubuh besar dan berotot. Mereka begitu membanggakan kekuatan masing-masing.


" Heh, hadiah utama itu akan menjadi milikku. " ucap salah seorang petarung disana.


" Jangan terlalu percaya diri, masih banyak yang orang yang lebih kuat darimu. " ucap seseorang pula menimpali.


" Hah?? Siapa yang peduli? Asalkan ada uang, orang akan melakukan apapun untuk bisa menang. " ucap orang itu pula dengan angkuhnya.


Keduanya kelihatan akan bertengkar, saat...


" Maaf... " suara lain menengahi mereka, " Pertarungan belum dimulai, jadi sebaliknya jangan bertengkar duluan. " dan itu adalah Altair.


Semua yang melihat pun terdiam karena ada anak kecil ditengah arena, dan tak lama kemudian disusul gelak tawa dari mereka.


" Ahahaha... Apa yang anak kecil lakukan ditengah arena seperti ini?? Pergi pulang ke mama-mu sana. " ucap orang sombong yang tadi bertengkar dengan pria itu.


Bukan hanya dia, tapi banyak diantara mereka yang meremehkan nya bahkan para penonton, hanya karena dia adalah anak kecil. Mereka merasa hebat hanya karena berada dilevel yang tinggi.


" Mereka bilang tidak ada batasan usia dalam pertarungan, jadi kenapa aku tidak boleh ikutan?? " tanya Altair dengan tenang.


Saat orang itu kemudian berjalan mendekatinya, " Sombong sekali anak kecil, pertarungan ini tidak cocok dengan mu. Jadi pulang sana. " ucapnya kepada Altair.


" Yang sombong itu kau tau. " batin Altair kesal.


Saat kemudian ia pun menaruh tangannya diatas kepala Altair, dan berusaha menekannya. " Anak perempuan kecil seperti mu, lebih cocok belajar memasak dari pada bertarung.. huh?" namun dirinya terheran-heran sendiri karena Altair masih berdiri tegak ditempatnya.


Suasanya jadi agak tegang diantara mereka, apalagi pria itu tersentak kaget saat melihat tatapan tajam dari Altair. Namun hanya untuk beberapa saat, karena pria yang baru saja bertengkar dengannya menarik lengannya dari kepala Altair.


" Jangan memojokan anak kecil yang tidak melakukan apa-apa jika kau benar-benar pria sejati. " ucapnya dingin membela Altair.


" Cih. " sedangkan pria itu hanya mendecih kesal dan pergi menjauh dari mereka.


Altair juga hanya melihat itu dalam diam, sampai pertanyaan dari orang yang membantunya itu mengalihkan perhatian nya.


" Kau baik-baik saja? " tanyanya pada Altair.


Altair pun tersenyum padanya dan mengangguk, " Iya, terima kasih. " ucap Altair.


Orang itu juga ikut tersenyum, " Kau sangat hebat karena bisa mengatasi masalah itu dengan tenang, kau pasti akan menjadi orang yang sangat dikagumi banyak orang. " ucapnya pula yang membuat Altair malu.


" Ahaha, begitu ya. Terima kasih, tapi aku tidak sebaik itu. " jawab Altair pula dengan malu-malu.


" Sungguh rendah hati, itu adalah ciri pemimpin yang bijak. Kalau begitu berjuanglah dipertandingan ini, dan juga berhati-hati. " ucapnya yang kemudian berbaur dengan peserta lainnya juga.


" Terima kasih. " sementara Altair masih ditempatnya dan memperhatikan situasi.