
Altair sedang bersiap setelah mengganti pakaian nya sebelumnya, dia sudah yakin akan pergi ke pegunungan selatan lagi untuk menghentikan musim dingin ini.
Alasan kenapa dia menundanya sedikit lebih lama, salju turun lebih sedikit disiang hari daripada pagi dan malam hari. Karena itulah mereka akan bergerak setelah memastikan kalau matahari berada tepat diatas mereka.
Kyuu..
Perhatian Altair teralihkan kepada suara itu, Zico yang telah sadar dan kembali seperti semula berkat Yi sekarang berada diatas kasur dan memperhatikan dirinya dengan ekspresi cemas.
" Ada apa Zico? Kau merasa tidak enak lagi, ada yang sakit?"
Kyuu.. Kyung...
" Apa..??"
Altair bingung dengan tingkahnya sekarang, Zico tidak memperbolehkannya untuk pergi ke pegunungan lagi. Altair tahu itu berbahaya, tapi dia tidak akan pergi sendirian sekarang. Jadi ia pikir semuanya akan baik-baik saja..
" Jangan khawatir, Zico. Aku tidak akan kenapa-napa."
Kyung...!
" Kalau begitu katakan padaku apa alasan aku tidak boleh mendekati para Ruler? Mereka berbahaya, aku tahu itu. Tapi hanya kita yang bisa menghentikan mereka."
Kruungg..
Zico menunduk sedih dengan itu, dia melarangnya pergi kesana, namun dia tidak memberitahu Altair apa alasannya. Itulah yang membuat Altair kesal kepada Zico, dia menyembunyikan sesuatu darinya.
" Zico, aku tidak keberatan jika kau merahasiakan sesuatu dariku, aku tahu itu demi kebaikanku. Tapi tolong jangan hentikan aku melakukan ini untuk semua orang, kami hidup didunia yang sama. Meski aku hidup dalam kenyamanan dengan perhatian kekaisaran, tapi aku tidak bisa membiarkan rakyat ini menderita." ucap Altair, ia kemudian menempelkan kepala Zico ke dahinya.
" Aku tahu kau khawatir, tapi aku tidak pergi sendirian kali ini. Jadi tidak apa-apa. Kau mengerti kan??" ucapnya pula.
Huurrr...
Zico tidak bisa menolak nya lagi jika dia seperti itu, mau bagaimana pun mereka itu keluarga. Dan Zico tahu seperti apa Altair itu.
Meskipun ia melarangnya sekarang, dia tetap akan pergi kesana dengan atau tanpa siapapun. Karena dia kelihatan nya telah memutuskan hal ini dengan tekad yang kuat. Apa yang Zico khawatirkan itu ada didalam, sementara itu... Lumine masih belum sepenuhnya menyembuhkan pulanya karena melindungi Aksa dan Remilia dari dampak paling buruk dilabirin.
Tok...tok..tok..
Kemudian perhatian Altair pun tertuju kepada pintu yang diketuk dari luar, dan suara Mira pun terdengar disana.
" Altair, kita sudah siap. Apa kau masih ingin melakukan hal ini??"
Dia bertanya untuk memastikan apakah Altair benar-benar ingin melakukan pekerjaan suka rela ini atau tidak. Sementara Altair sendiri, ia buru-buru mengambil tombaknya yang bersandar didinding tak jauh darinya.
" Aku datang, guru." Dia berkata menyahuti Mira.
Sebelum itu, dia juga menggendong Zico dan memasukan nya ke dalam jaket hangatnya agar dia tidak kedinginan lagi. Hanya kepalanya saja yang menjulur keluar. Baru setelah itu, ia pun berjalan kearah pintu dan pergi dari kamar itu.
Sementara itu teman-teman nya yang lain telah menunggunya sedari tadi didepan penginapan...
****
- Pegunungan Selatan, 500 meter dari kastil.
Portal ruang yang dibuat Altair muncul disana, membawa mereka semua dekat dengan tempat yang dituju lebih cepat daripada berjalan biasa atau menunggangi hewan ikatan.
" Bbrrr... Lebih dekat ke sini benar-benar dingin." ucap Aksa ketika sampai disana, memeluk dirinya sendiri ditengah udara dingin yang mengelilingi.
" Huff... Ini benar-benar dingin." sahut Israhi sambil memperhatikan sekitar.
" Mungkin aku bisa membantu." ucap Altair kemudian, ia pun menegakan tombaknya diatas salju. " Yi, pegang ini." lanjutnya pula.
Yi yang mendengar itu menatapnya bertanya-tanya, kemudian ia pun mendekat dan memegang tombak Altair. " Hm...?? Kenapa dengan tombak in-...!!." ucapannya terhenti ketika Altair melepaskan tangannya dari tombak itu untuk mengambil sesuatu.
Secara tidak langsung tubuh Yi tertarik maju ketika tombak itu akan jatuh, Altair yang melihat itu pun baru ingat dan terkejut. Ia pun langsung kembali menangkap tombaknya dan menegakannya kembali.
" Maaf aku lupa..." ucapnya dengan ekspresi merasa bersalah, sementara dibelakang nya Mira menghela nafas karena itu.
Disisi lain, Yi yang masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi memasang ekspresi bingung dan terkejut disaat yang sama. Ia mengedipkan matanya beberapa kali, saat kemudian ia pun bertanya...
" Apa..? Apa yang terjadi? Sebenarnya seberapa berat tombak ini??" tanyanya.
Dan disaat yang sama pula, ada yang lain yang tidak mengerti dengan maksudnya. " Kau bicara apa??." tanya Derrick yang mewakili mereka semua.
Teman-teman yang mendengar itu mematung kaget, tidak tahu lagi harus beraksi seperti apa. Semua yang ada pada Altair berada diluar akal sehat manusia.
Dan itu yang membuat Altair bingung sekarang??
" Ada apa? Apa kata-kataku salah?"
Teman-teman hanya menggelengkan kepala mereka dalam diam.
" Haha.. Itu tidak salah." Mira kemudian menengahi hal itu, membuat Altair yang mendengar nya pun menoleh kearahnya. " Tapi Altair... Manusia biasanya tidak akan menggunakan senjata seberat itu. Karena itulah mereka terkejut." ucapnya pula.
" Ah..." Altair baru sadar dengan hal itu.
Bukan hanya menusia, Mira bahkan tidak yakin kalau akan ada seseorang yang menggunakan senjata seberat itu sebagai senjata utama.
" Yah, kami juga terkejut saat pertama kali tahu. Altair menaruh tombak itu diatas meja, dan meja tersebut hingga lantai dibawahnya pun langsung pecah." Mira pun melanjutkan hal tersebut.
" A-Umm... Baiklah, jadi... Apa yang kau ingin aku lakukan dengan ini??" tanya Yi pula mulai mengalihkan percakapan ini.
Dan Altair pun menjawabnya. " Tolong alirkan sedikit energimu untuk memicu kekuatan nya."
Yi penasaran, namun ia tetap melakukan apa yang diminta olehnya. Ia mengalirkan energi apinya ke tombak itu, ketika sinar oranye samar baik dan diserap tombak itu. Sebuah membran transparan yang muncul dan membesar hingga mengelilingi mereka dengan bentuk setengah lingkaran.
" Wah, suhunya jadi lebih hangat." Remilia berkata sambil mengangkat tangannya ke udara dihadapannya.
" Saljunya juga tidak masuk, itu meleleh sesaat setelah menyentuh bagian luarnya." ucap Aksa pula menimpali.
" Nah, dengan ini. Kita bisa pergi ke kastil tanpa kedinginan duluan."
" Altair hebat."
" Hahahaha...."
Mereka berdua memberi Altair tepuk tangan dan pujian, yang mana membuat Altair jadi tertawa dengan wajah tersipu malu.
Yang lainnya yang melihat itu pun hanya tersenyum, itu bagus jika mereka bisa mengurangi ketakutan dan menjadi tenang bersama.
Mira juga sama, dia senang Altair punya orang yang bisa ia percayai. Ia kemudian melangkah maju dan berbalik kepada mereka sebenarnya...
" Jadi... Apa kita akan melanjutkan perjalanannya??" tanyanya.
Mereka yang ditatap olehnya pun balas menatapnya dengan penuh kepercayaan diri dan menganggukan kepala mereka.
" Tentu saja, ayo pergi!." Altair pun menyahutinya dengan begitu bersemangat.
Mereka melanjutkan perjalanan itu dengan baik, Altair dan Yi bersama memegang tombak itu untuk mempertahankan pelindung yang mengelilingi mereka, ketika matahari yang tertutup awan masih bersinar dipuncak tercerahnya dilangit.
Sementara itu tanpa mereka sadari, kedatangan mereka sebenarnya telah dipantau sejak awal mereka menginjakan kaki keluar dari portal.
Sang Ruler memperhatikan dengan ekspresi sedingin es, dalam cermin es dihadapannya.
[ 'Anak itu kembali lagi... Dan kali ini bersama dengan tikus-tikus yang ia sebut 'teman' itu.']
Sang Ruler menatap telapak tangannya dengan seksama, dan dahi yang berkedut tidak senang. Ketika sebuah ingatan yang tidak ia kenal masuk ke dalam kepalanya...
" Ahahaha... Dasar anak aneh."
" Kau bukan temanku, mana mungkin aku berteman dengan orang anah sepertimu!."
" Aku penasaran kenapa dia selalu sendirian, mungkin karena dia aneh dia jadi tidak punya teman."
[ 'Tsk!!'.]
Dia mendecakan lidahnya dengan perasaan kesal, ia pun mengepalkan tangannya dengan erat. Seketika cermin dihadapannya itu retak dan rusak. Sang Ruler menatap tajam dengan kilatan merah dimatanya yang sebiru es itu.
[ 'Semua orang dilahirkan sendiri, dan mereka akan hidup sendirian, kemudian mati seorang diri juga'.] Es muncul dari atas lantai dan terbang mengelilingi Sang Ruler, dengan udara dingin yang menggigit.[ '...Aku akan memastikan hal itu'.]
Ia pun mengibaskan tangannya, dan semua salju itu terbang keluar. Membentuk gumpalan awan yang bedar dan menurunkan lebih banyak salju.
[ 'Mereka harus merasakan apa yang aku rasakan'.]