The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Unexpected attack



Setelah Lumine mewujudkan dirinya dihadapan Ninia dan timnya, pertarungan diantara mereka jadi lebih ketat lagi. Ninia benar-benar dimakan oleh amarah dan terus menyerang dengan membabi buta kepada Remilia.


Namun Remilia yang terbiasa dengan hal seperti itu lebih tenang dan dia berhasil mengambil alih situasi. Disisi lain, Reya yang sebelumnya berhadapan dengan Aksa sekarang ditahan oleh Lumine. Dan Aksa sendiri berusaha menahan Lica.


" Sial! Sial! Sial! Kenapa kalian selalu saja menghalangi jalanku..!!"


" Berhentilah mengomel, kau tahu..?? Itu menjengkelkan."


" Ini karena kalian! Ini karena gadis itu! Ini karena Derrick!"


" Wah, perempuan ini tidak waras.."


Remilia yakin dengan itu setelah mendengar semua ocehannya disana, dia menyalahkan orang lain tanpa alasan. Ini semua hanya karena... Derrick menolak perasaan nya.


Remilia juga baru tahu hal ini beberapa waktu yang lalu, ketika ia bertanya kepada Derrick...


****


Waktu itu, ketika mereka memperhatikan Altair yang sedang separing dengan Mira ditempat latihan Guild.


" Um... Anu, Derrick. Aku ingin tahu, apa hubungan mu dengan perempuan bernama Ninia itu??" saat itu Remilia hanya asal bertanya, dia tidak punya harapan kalau Derrick akan menjawabnya.


Namun Derrick yang mendengar pertanyaan itu darinya terlihat memikirkan hal itu, saat kemudian dia pun berkata.


" Aku tidak punya hubungan apapun dengannya... " ucapnya dengan ekspresi yang masih setia datar, lalu... " ...Tapi beberapa waktu yang lalu dia bilang dia menyukaiku." lanjutnya kemudian.


Remilia terperangah dengan hal itu, " Apa?? Jadi apa yang kau katakan kepadanya??" disamping itu dia penasaran.


" Aku menolaknya."


Namun ketika mendengar jawaban Derrick yang begitu serius itu, ekspektasi Remilia langsung hancur.


" Apa..? Kenapa?"


" Hm... Itu terdengar seperti masalah pribadi bagiku."


Remilia tidak bisa berkata-kata dengan hal itu, Derrick benar-benar yakin dengan apa yang ia katakan dan ia juga tidak bisa mencampuri urusan pribadinya. Namun akhirnya dia tahu sesuatu...


" Haha... Sepertinya sekarang aku tahu kenapa perempuan itu bersikap seperti itu."


****


Iyah, ini semua terjadi dimulai dari masalah mereka berdua. Ninia yang sakit hati, dan Derrick yang tidak mengerti soal percintaan Lalu Altair yang ingin bersenang-senang memanfaatkan situasi ini.


" Ah, tidak ada orang normal disekitarku."


Remilia tidak tahu harus melakukan apa disituasi ini sekarang, dia bahkan tidak bisa merespon nya dengan benar.


Saat kemudian Remilia melihat sesuatu disana, sebuah bola menggelinding kearah mereka. Sesuatu menatakan kepadanya kalau benda itu berbahaya...


" Oh tidak..!" Remilia sekarang tahu apa itu, " ..Aksa, berlindung!!" dan ia segera berteriak kepadanya.


" Huh??"


Pattss...


Namun sebuah sinar lebih cepat keluar dari bola itu, dan sesaat kemudian....


Duarrr...


Sebuah ledakan besar terjadi ditempat mereka, meledakan tempat itu dan mereka yang ada didalamnya.


****


- Pusat labirin.


Beberapa saat setelah sinar itu muncul dan kemudian menghilang tanpa bekas, Altair kembali membuka matanya dan melihat sekitar untuk memastikan. Tidak ada jebakan, tidak ada ujian tidak ada syarat juga, seolah benda ini sejak awal memang disimpan untuk dirinya. Altar yang ada disana juga hilang, yang ada hanyalah dinding-dinding batu yang tidak ada apapun.


Altair pun kemudian mengalihkan perhatian nya kepada kalung yang sekarang ada digenggaman nya itu. Di lihat sekilas itu terlihat mirip seperti kalung yang ditinggalkan ibu kandungnya kepada Altair.


" Apa ya ini?? Entah kenapa aku seolah tahu, tapi aku tidak bisa mengingatnya." gumam Altair sambil memperhatikan nya dengan seksama.


Tidak ada yang spesial juga dari kalung itu, itu cuma terlihat seperti crystal transparan. Apa yang mungkin dimiliki oleh benda itu...


Duarr...!!


Altair tersentak kaget dengan itu, ia pun langsung menolehkan kepalanya menatap keatah asal suara tersebut. Itu benar-benar ledakan yang terdengar besar.


" Apa yang orang-orang itu lakukan sebenarnya??"


Altair bahkan tidak diberikan waktu untuk berpikir karena khawatir dengan Remilia dan Aksa, ia segera membuka portal ketempat dimana energi Lumine berada.


Itu tidak memakan waktu yang lama karena portal langsung terbuka ke sana, ketika Altair keluar dari portal itu, hal yang pertama ia temukan adalah Lumine yang terbaring tak berdaya diatas tanah dengan luka-luka ditubuhnya.


" Lumine!." Altair pun buru-buru menghampiri nya dan memangkunya ditangannya, " Lumine, maafkan aku. Sekarang tidak apa-apa, kembalilah dan obati dirimu." saat kemudian Lumine mulai memudar dan kembali ke dalam tubuhnya.


Bukan hanya Lumine saja yang kondisinya seperti itu. Tapi Remilia, Aksa, bahkan tim Ninia juga sama. Mereka semua terkapar tak berdaya, mungkin karena ledakan itu. Remilia yang berada didekat Aksa saat ini mungkin dia berusaha melindunginya.


Dan jika semuanya ikut kena tanpa terkecuali, maka ini bukan ulah Ninia. Jadi siapa?


" Ah! Lupakan saja, mereka lebih penting."


Altair menepis hal itu untuk saat ini, dan segera berlari kearah Remilia dan Aksa. Saat...


Sesuatu ditembakan kearahnya..


Altair mendengar itu dengan baik, dan segera menghampir darinya. Itu sekumpulan jarum yang sepertinya beracun.


Psyuut.. Psyutt..


Itu tidak hanya sekali, tembakan itu terjadi berkali-kali. Meski untunglah Altair bisa menghindari semuanya, meski begitu, ini menyusahkan.


Altair tidak bisa menghindari selamanya, lalu ia kemudian mengalihkan perhatian nya kearah dinding tebing, lima meter darinya, ada seseorang yang menyembunyikan dirinya disana.


" Jangan hanya bersembunyi, turun dan hadapi aku jika kau berani!!" Altair yang menyadari hal itu pun langsung melompat dan melemparkan dirinya kearah yang ia maksud.


Altair mengepalkan tangannya dan memukul dinding itu hingga roboh, disaat yang sama, dalang semua ini pun jatuh bersamaan dengan batu-batu itu. Ia pun mendarat ditanah bersama dengan Altair.


Melihat dari penampilan nya yang sekarang tersibak, Altair dapat melihat orang itu. Dia seorang pria berusia sekitar 30 tahun, dengan tinggi 83 cm dan dia mengeluarkan aroma yang buruk.


" Kukuku..." Pria itu tertawa kepadanya. " Kau hebat karena bisa menemukanku." ucapnya kepada Altair kemudian.


Tapi Altair yang sedang kesal hanya mengerutkan keningnya kepadanya, " Tutup mulutmu, apa tujuanmu melakukan ini? Kau tidak ada hubungan nya." ucap Altair kemudian.


" Hahaha... Aku menjalankan tugas dari klienku, dia menyuruhku untuk membunuh semua yang masuk ke dalam labirin. Dan kebetulan sekali aku juga butuh tanaman racun yang tumbuh disini, jadi aku terima."


" Jadi kau ada hubungannya dengan orang-orang yang menghasut wanita bodoh ini?"


" Hm, entahlah. Bagaimana menurutmu?."


Altair tidak menjawab hal itu lagi, dia langsung saja menarik pedang miliknya dan menerjang kearah pria itu.


Pertarungan kembali terjadi disana, Altair menyerangnya lagi dan lagi, namun dengan kecepatan normal Altair tidak bisa memukulnya. Orang dihadapan nya ini cukup gesit, dan dia banyak menggunakan senjata jarak jauh dengan lingkup yang luas.


Altair tidak bisa membiarkan hal itu terjadi karena teman-temannya ada tepat dibelakangnya.


" Ck. Diamlah sebentar dan biarkan aku memukulmu sekali!" Altair jadi jengkel dengan hal itu.


" Hahaha... Kau kekurangan fokus."


" Diam.!"


Altair melompat dan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, dan ketika ia mengayunkan nya...


Srakkk..!!


Pedang itu langsung memotong tanah dan meninggalkan jejak yang cukup panjang.


" Kau tidak terlalu hebat dalam mengayunkan pedang." saat orang itu kemudian muncul dibelakang nya.


Altair yang tahu itu langsung memutar tubuhnya dan mengayunkan pedang itu kembali, namun apa yang ia potong disana adalah udara kosong.


" Apa..??"


" Kau masih tidak sadar?"


Orang itu terus bicara padanya, dan Altair terus memotongnya. Namun tidak ada satupun tebasan yang berhasil.


" Lihat, disini.."


" Hyah..!"


Orang itu terlalu cepat... Tidak. Penglihatan Altair yang semakin memburuk, nafasnya juga terengah-engah. Dia tidak pernah seperti ini bahkan setelah melakukan sparing panjang, Altair tahu ada yang salah dengannya sekarang.


" Apa.. Apa yang terjadi..."


Altair merasa sangat lelah, pedang tipis ditangannya bahkan mulai terasa berat. Matanya kabur, dan tubuhnya gemetar. Itu semakin aneh, ini pasti...


" Apa ini racun..??"


" Akhirnya kau sadar juga." pria itu lagi-lagi muncul, kali ini tepat didepannya.


Altair menatapnya dengan tajam, saat kemudian ia berusaha mengangkat pedangnya dengan susah payah.


" Hm.. Kau punya tekad yang kuat, sayang itu tidak berguna." pria itu berkata demikian, saat kemudian dia mengangkat sesuatu ditangan nya, sebuah benang. " ..Lihat benda bagus apa yang kudapatkan dari salah satu perempuan disana." ucapnya pula.


Ia pun kemudian menariknya, disaat yang sama dengan itu...


Syuutt... Jlebb...


" Ackk!!."


Sebuah anak panah melesat diudara dan menembus punggung Altair. Altair merasakan rasa sakit yang menusuk dipunggungnya, disaat ia pun kehilangan keseimbangan nya dan jatuh ditanah.


Brukk...


Altair bisa merasakan darahnya merembas keluar, dan sesuatu dari anak panah itu terasa seolah membakarnya.


Disaat yang sama, pria itu pun kemudian mendekat dan berhenti tepat dihadapannya.


" Itu juga panah beracun. Sayang karena membunuhmu padahal kau masih muda dan punya banyak potensi, tapi klienku bilang bunuh semuanya. Jadi jika kau marah, jangan marah padaku." ucapnya yang kemudian berjalan pergi melewati Altair begitu saja.


" Selamat tinggal... gadis kecil." dan sesaat kemudian ia pun menghilang dari sana.


Sementara Altair yang ditinggalkan disana, hanya terdiam ditempatnya.