
Malam kemudian, di tempat para pencuri yang berniat menyusun rencana. Mereka mulai datang satu persatu ke gedung yang dimaksud, untuk segera memulai rancana mereka nantinya. Persiapan telah dilakukan dan mereka bahkan telah menentukan rute aman untuk masuk ke tempat tujuan mereka.
Sungguh persiapan yang begitu matang namun ceroboh...
" Semuanya sudah siap? Kita akan segera melakukannya saat pesta istana dimulai. "
" Ya, lakukan saja sesuai rancana yang sudah kita bahas. "
" Jika gagal kita hanya harus kabur dengan segala cara, pastikan jangan ada orang yang tertinggal dan membocorkan informasi kita. "
Semuanya kelihatan begitu serius dengan apa yang mereka bicarakan dan apa yang akan mereka lakukan. Seolah-olah itu adalah hal yang begitu penting sampai membuat pembaca juga ikut tegang.
Tapi perhatian mereka tiba-tiba teralihkam kepada pintu yang diketuk dari luar..
Tok..Tok..Tok..
" Maaf, ada kiriman. " ucap seseorang dari luar sana.
Semua terdiam di tempat mereka masing-masing, saling tatap satu sama lain dengan kejadian yang tiba-tiba saja terjadi.
" Siapa yang meminta orang mengirimkan barang disaat seperti ini? " tanya salah satu orang di tempat itu.
Tapi orang-orang yang ada disana hanya menggelengkan kepalanya tidak tahu dengan apa yang terjadi. Orang itu pun kemudian bangkit berdiri dari duruknya dan berjalan kearah pintu dengan hati-hati.
Dengan sebuah senjata ditangannya ia pun membuka pintu itu secara perlahan, namun ketika pintu terbuka dan ia melihat keluar sana... tidak ada siapapun diluar. Kecuali sebuah kotak yang ditinggalkan didepan pintu.
" Huh?? Apa ini?" ucapnya yang bingung sendiri.
Ia pun berjongkok dan mulai membuka kotak itu dengan perlahan, saat yang ia temukan didalamnya hanya lah... sebuah kertas dengan tulisan diatasnya.
[Awas, mudah meledak!!]
Saat melihat tulisan itu, mata orang yang membukanya langsung membulat kaget. Namun disaat yang sama...
Buwusshh...
" Akh!! Apa ini??"
" Uhuk! Uhuk!.. Asap apa ini?! "
Asap putih langsung menutupi seluruh tempat itu dan menbuat orang-orang yang ada disana tidak bisa melihat apapun dan membuat sulit bernafas, bahkan membuat mereka tidak bisa menyadari orang dibelakang mereka saat ini.
Duak! Brukk...
Seseorang baru saja dipukul dari belakang dan jatuh pingsan karena nya...
Sementara orang yang melakukannya hanya berkata dengan santainya, " Haah... Ini pekerjaan yang terlalu mudah, harusnya aku sendiri sudah cukup. " itu adalah Mira, yang berdiri disana dengan mamakai sebuah masker yang menutupi hidung dan mulutnya.
" Kita harusnya tidak membawa kesatria istana, pasukan keamanan kota saja sudah cukup untuk menangkap mereka. " ucap Yin pula yang kemudian muncul disampingnya.
" Tuan Yin! Semuanya sudah ditangkap dan pingsan! " ucap Ansel pula yang ikutan ada disana, sambil memegangi seorang pria yang telah pingsan karena pukulannya.
" Ikat mereka dan bawa kepenjara. " suruh Yin kepadanya.
Yah, itulah pergerakan rahasia mereka untuk menangkap kelompok yang telah lama diawasi oleh pasukan keamanan di ibu kota. Dan sore tadi, Mira baru saja mendapatkan info baru dari murid nya yang baik...
" Guru, aku mendengar ada sekelomok orang yang mau membobol gudang harta istana dimalam ulang tahun putra mahkota. Apa yang akan kita lakukan pada mereka?? " ucap Altair disore itu, ketika ia baru saja kembali ke istana setelah mengantar Habel membawa pedang nya.
" Kelompok apa??" tanya Mira pula jadi penasaran dengan itu.
Tapi Altair menggelengkan kepalanya, ia tidak mendengar percakapan mereka sampai sedetail itu, " Aku tidak tahu, tapi dari yang kudengar mereka akan berkumpul dijalan Maria, gedung nomer 13 pada jam 7 malam ini. " jawab Altair.
Mira terlihat memikirkan hal itu dengan seksama, " Jalan Maria itu... mungkinkah..." batinnya, ia curiga akan sesuatu.
" Guru?" Sementara Altair yang melihat nya hanya diam bingung, karena Mira sama sekali tidak mengatakan apapun lagi kepadanya, tapi melihat dari raut wajahnya itu terlihat cukup serius... Mungkin.
Tapi kemudian Mira pun tersenyum kearahnya dan berkata, " Altair, mungkin saja mereka adalah kelompok yang akhir-akhir ini sedang dicurigai pasukan keamanan. Ada laporan soal beberapa rumah yang mengalami perampokan akhir-akhir ini. " ucap Mira yang akhirnya bersuara.
Disisi lain Altair terlihat terkejut mendengar itu, " Kau yakin, guru? Mereka kan hanya sekelomok perampok remehan saja, bahkan kedengaran nya mereka tidak berpengalaman sama sekali." sahut Altair meragukan hal itu.
Mira tertawa ringan mendengar nya, kemudian bangkit berdiri dan berjalan kearahnya, " Bahkan, meskipun mereka hanya kelompok pelawak, kita tidak boleh membiarkan mereka mengganggu pesta ulang tahun Pangeran bukan?" ucapnya dengan tenang kepada Altair.
Ya, Altair merasa itu masuk akal. Lebih baik waspada daripada meremehkan mereka, dan menunggu masalah terjadi, lebih baik langsung dibereskan saja.
" Lalu?? Apa guru mau aku memata-matai mereka lagi? " tanya Altair menawarkan diri.
Namun Mira hanya menyentuh pundaknya dan berkata, " Tidak. Tapi.. apa kau masih punya bom asap itu?? " ia menanyakan itu sambil tersenyum, yang mana senyuman nya itu terlihat agak menyeramkan dimata Altair.
" Huh??" Disaat yang sama Altair hanya tersenyum bingung mendengar itu, memikirkan apa yang akan dilakukan Mira dengan benda itu. Ia cukup khawatir.
_- Flashback off..
" Ahahahaha...."
Tawa Mira terdengar keras dan jelas setelah penangkapan itu dilakukan, ia baru saja menceritakan bagaimana ia bisa mendapatkan bom asap itu dan juga informasi tentang pergerakan mereka. Dan dia puas sekali dengan hasilnya. Sementara orang-orang yang ditangkap itu sedang digiring ke penjara saat ini.
" Jadi bom asap itu buatan Altair ya, yang waktu itu meledak dikamarnya ya??" gumam Yin dengan wajah merasa tertekan dibelakang Mira yang kegirangan.
Dan disampingnya, Ansel berdiri diam dengan raut wajah kelihatan tertarik. " Sepertinya menyenangkan, bagaimana cara membuatnya? Saya ingin tahu." ucapnya disela itu.
Namun kemudian mendapat pukulan dari Yin tepat dikepalanya, dia kelihatan kesal mendengar itu darinya.
" Jangan coba-coba untuk membuatnya juga tanpa izin! " ucap Yin padanya.
Sedangkan Ansel hanya tertawa geli karena nya, " Haha.. Iya, iya. Anda tidak perlu khawatir, komandan. Saya tidak akan membuatnya karena saya juga tidak berbakat dalam alkemis. " jawabnya dengan santainya.
" Tapi nona Altair hebat sekali ya, dia bisa melakukan segela hal. " lanjutnya pula, dia selalu kagum dengan apa yang dikerjakan oleh Altair.
Sementara Yin meragukan hal itu, " Yah, tapi sebagian besarnya jadi masalah. " sahut nya menimpali.
Disisi Altair...
Hachihh...
" Flu ya??" ucap Aisha yang masih ada dikamar Altair menemaninya.
Tapi Altair tidak merasa seperti itu, " Ah... apa aku akan dapat masalah lagi, ya?" gumam Altair curiga.
Ia yang sedang menulis sesuatu dikamarnya dan tiba-tiba bersin tanpa alasan, Altair jadi curiga kalau ada orang yang sedang membicarakan nya saat ini. Membicarakan hal buruknya.