The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Labyrinth Duel



Seperti yang Altair duga, orang-orang itu benar-benar melakukan sebuah rencana dimasa-masa tenang mereka.


Seorang pembawa pesan datang keesokan harinya, diwaktu makan siang ketika semua orang berkumpul di aula Guild dan mendengarkan apa yang telah dititipkan kepadanya.


" A-Aku membawakan pesan dari kepala Guild Acrenea untuk Nona Altair dari Guild Kirial."


Seorang anak kecil yang usianya saja bahkan mungkin belum genap sepuluh tahun datang dengan ragu dan tubuh gemetar ketika melihat orang-orang disana. Sementara itu... Altair yang berdiri dihadapannya...


...Terlihat melamun mendengar kata-katanya,


" Apa? Guild apa...? Dari mana itu?" atau lebih tepatnya dia tidak tahu dari mana asalnya.


Orang-orang yang mendengar kata-katanya itu hanya tersenyum kikuk dengan tingkahnya, padahal baru juga beberapa hari yang lalu orang-orang guild itu membuat keributan disini, dan dia lupa. Atau mungkin... dia memang tidak tahu mereka dari mana.


Saat kemudian, Remilia pun mendekatinya dan berbisik kepada Altair, " Guild Acrenea itu... tempat asal orang-orang yang membuat kerusuhan disini beberapa hari yang lalu." ucapnya dari belakang sana.


" Ah..!" dilihat dari bagaimana dia terkejut, sepertinya benar dia baru tahu hal itu.


" Berikan padaku." disaat yang sama dengan itu, Yi mengambil surat itu dari tangan anak yang mengantarkannya. Kemudian ia membukanya dan membacakan itu dengan cukup keras hingga semua orang bisa mendengarnya...


[ ...'Dengerkan aku, Altair, Wakil Kirial yang angkuh.


Kami tidak bisa mentolelir sikap kasarmu kepada orang-orang kami, dan kata-katamu yang menghina kami. Dengan ini, kami mengajukan duel secara resmi.


Temui kami didepan pintu masuk Labirin 'Aila' ditimur kota, untuk melaksanakan duel ini.


Ini adalah kebaikan hati kami, jika kau melewatkan duel ini. Kami akan secara resmi menyatakan perang kepada Guild Kirial, dan melaporkan Derrick Cashel, ketua guild Kirial, ke asosiasi antar Guild benua yang telah melanggar kesepakatan damai.


~Dari : Ketua guild Acrenea.~]


Itu isi surat yang cukup singkat, dan jelas bukan hal yang baik..


Terlebih, izin dari asosiasi..??



Mereka adalah kelompok yang dibangun atas persetujuan negara-negara dibenua, sebagai pengawas dan pengendali semua Guild agar tidak menimbulkan masalah.. baik kepada orang-orang disekitar atau perang antar Guild.


Itu dibangun 78 tahun yang lalu, dan dipimpin oleh 5 dewan agung yang menjadi kepala asosiasi ini.


adalah pencetus ide dan merupakan anggota dengan peringkat kedua teratas di dalam dewan agung. Dia adalah ilmuan berbakat yang telah menciptakan berbagai kemajuan dalam teknologi sihir dibenua.


Dengan mendapatkan persetujuan asosiasi dan dewan sihir, guild Acrenea benar-benar telah bersiap jika saja ada perang diantara mereka sendiri. Dan akan melimpahkan kesalahan kepada mereka.


Baik itu Altair, ataupun orang-orang yang mendengarkannya pun sependapat. Mereka mengutuk para pembuat onar itu dalam hati mereka.


" Para baji*gan sialan itu..!!"


Padahal yang salah adalah mereka, tapi bisa-bisanya melemparkan kesalahan kepada orang lain.


" Harusnya aku langsung bunuh saja mereka setelah membunuh para bandit malam itu..." gumam Altair dengan ekspresi terlihat risih diwajahnya. Yeah, jika dia melakukan itu masalah akan cepat selesai baginya...


" Jika kau melakukan itu, Derrick selaku orang yang namanya dibawa-bawa akan dalam masalah juga." Mira menyahutinya.


" Tinggal ku lenyapkan semua yang berhubungan dengan guild itu."


" Tidak boleh. Kau malah akan jadi buronan yang dicari diseluruh benua."


...Dan apa yang dia katakan itu benar juga. Altair menyerah dengan ide melenyapkan.


Altair pun menopang dahunya dan berpikir dengan cukup serius. Jika dia tidak menerimanya, ini juga akan jadi masalah, dan jika dia membuat keributan lain Derrick juga dalam masalah. Pada akhirnya ini adalah jalan buntu...


Altair yakin ini ulah si wanita tidak tahu malu bernama Ninia itu. Mengingatnya lagi semakin membuat Altair kesal.


" Duel apa yang diajukan disana?" sampai kemudian suara Derrick mengalihkan perhatian orang-orang disana.


Semua orang pun langsung menoleh ke lantai dua, dimana Derrick yang baru saja keluar berdiri disana dengan sebuah jubah dipundaknya dan kedua tangan yang terlipat didepan dadanya.


Kondisinya sekarang semakin baik dan akan jadi lebih baik lagi, namun Altair tetap melarangnya untuk melakukan pertarungan dan semacam nya.


Lalu, setelah mendengar pertanyaan Derrick disana, anak yang jadi pengentar pesan itu pun mulai menjawab dengan ragu-ragu.. " I-Itu... Ketua bilang itu hanya pertaruhan sederhana, dimana akan diadakan perebutan kalung pusaka di Labirin Aila. Orang yang mendapatkan nya dan keluar lebih dulu akan menjadi yang menang." ucapnya.


Namun itu menarik keraguan Aksa keluar, " Apa? Ini lebih mirip lomba dari pada duel.." ucapnya yang juga disetujui oleh orang-orang.


Mereka yakin kalau ada udang dibalik batu dari lomba berkedok duel ini. Tapi...


" Baiklah, aku menerimanya!" Altair justru bersemangat dengan itu. Dan itu membuat semua menatapnya tercengang.


Bahkan Remilia yang masih berdiri dibelakangnya, " A-Altair... itu terlalu berbahaya.." dia takut jika terjadi sesuatu dengan Altair.


Tapi Altair justru terlihat sangat santai, ia menoleh kearah Remilia dan tersenyum. " Jangan khawatir. Dalam surat itu tidak dikatakan kalau ini adalah pertaruhan satu lawan satu, itu artinya aku bisa membawa partner, kan? Aku akan memilihnya diantara kalian, jadi kuharap kalian bersiap saja." ucapnya menimpali Remilia.


Kemudian ia pun kembali menatap anak kecil dihadapannya, " Pergilah! Katakan kepada ketua mu itu, Aku, Altair Drosera menerima tantangan duel darinya." Altair mengatakan nya dengan begitu percaya diri.


Tapi sesaat kemudian....


Altair hanya duduk terdiam bosan diruangan Derrick, sementara teman-temannya yang lain mengoceh tentang tindakannya yang begitu gegabah tanpa memikirkan apapun lagi. Terutama Remilia dan Aksa, mereka dua orang yang paling banyak menceramahinya dengan berbagai kata-kata.


" Altair, katakan padaku bagaimana bisa kau punya pikiran seperti ini?? Meski namanya duel resmi, tapi tidak ada pengawas resmi dalam permainan ini! Alasan mereka mungkin untuk membuat sebuah adegan kecelakaan dan melenyapkanmu diam-diam!" ucap Aksa dengan begitu serius dan kesal disaat yang sama.


" Itu benar, ini berbahaya! Tidak peduli sekuat apa dirimu, hal bahaya tetap saja bahaya. Altair, kau itu sangat penting bagi kami." Remilia juga menambahkan dengan begitu dramatis.


Altair tidak tahu kenapa mereka berdua begitu protective begini kepadanya, padahal Yi, Israhi dan Derrick masih terlihat begitu santai dan diam ditempat mereka memperhatikan.


" Aku tahu, aku tahu. Tapi aku menerimanya bukan tanpa rencana." ucap Altair yang akhirnya punya kesempatan untuk bicara.


" Tapi tetap saja itu..." Remilia masih tidak yakin dengan itu.


" Jangan khawatir, Lia. Aku punya Lumine disisiku, dan aku bisa memanggil Zico kapanpun aku mau." ucap Altair pula dengan begitu percaya diri.


Sementara itu... Remilia dan yang lainnya terlihat bingung dengan siapa maksudnya...


" Siapa itu? " dan Yi yang akhirnya mempertanyakan hal itu.


Dia dan yang lainnya terkadang melihat Altair bicara sendiri, tentu saja mereka penasaran dengan siapa dia bicara. Dan sepertinya, dengan seseorang atau... sesuatu bernama Zico lah dia bicara.


Dan Altair yang mendengar pertanyaan nya itu pun jadi menatapnya baru sadar, " Ah, aku belum memperlihatkan nya kepada kalian, ya." ucapnya.


Altair terdiam kikuk dengan itu, padahal dia pikir mereka akan tahu sendiri atau Mira yang akan memberitahu mereka. Sepertinya dia tidak terlalu memperhatikan hal-hal remeh disekitarnya...


" Haah.. Baiklah, aku akan menunjukan nya kepada kalian." Altair tidak bisa berkata apa-apa lagi tentang hal itu dan mengalah. " Zico, keluarlah." ucapnya pula.


Saat rambut bagian kanannya terlihat bergerak-gerak dari dalam, dan sebuah kepala pun menyembul keluar dari sana. Zico selalu saja muncul dari dalam rambutnya, itu membuatnya jadi terlihat seperti tinggal dalam rambutnya.


Teman-temannya yang melihat itu pun terlihat terkejut ketika ada makhluk seperti itu bersama Altair. Disisi lain, Altair justru terlihat santai, ia mengambil sebuah kukis diatas meja dan memberikannya kepada Zico. Yang tentu saja langsung dimakan olehnya.


" Altair, apa itu hewan ikatanmu..? Berapa usianya?" tanya Remilia yang terlihat tertarik dengan hal itu.


Altair yang mendengar nya pun memikirkan nya, " Um... Entahlah, berapa usiamu Zico?" Altair tidak pernah memikirkan hal itu.


Kyuu...


Zico pun menjawabnya dengan acuh tak acuh, Altair hanya menganggukan kepalanya mendengar itu. Sedangkan teman-temannya terheran-heran...


" Dia bilang usianya sekitar 150 tahun sejak dia menetas, kalau tidak salah. Tapi saat dalam telur, dia sempat tersegel lama~ sekali." ucap Altair pula semakin membuat mereka heran.


Altair yang melihat mereka seperti itu pun juga jadi ikut bingung, " Ada apa dengan kalian??" tanyanya.


" Apa kau bisa berkomunikasi dengannya??" Aksa pun langsung ke intinya.


Dan Altair pun langsung mengangguk, " Iya, tentu saja. Menurutmu kenapa aku bicara padanya jika tidak bisa saling berkomunikasi??" ucapnya kemudian.


Saat kemudian, Israhi pun menengahi percakapan itu. " Yang lebih penting, sebenarnya benda apa itu? Apa dia kadal atau semacamnya??" tanyanya yang entah kenapa terlihat waspada.


Mungkin karena dia menyadari energi luar biasa dari dalam diri Zico, bukan hanya dia. Yi dan Derrick juga sama...


Disisi lain, Altair sedikit terperanjat mendengar kata-kata itu. Beda lagi dengan Zico yang langsung menatapnya tajam dan tidak suka, satu lagi orang yang berani memanggilnya kadal didunia ini. Altair pun kemudian langsung menoleh menatapnya dan berkata...


" Zico bukan kadal. Dia seekor naga." ucapnya entah kenapa menatap Israhi dengan harap-harap cemas.


Sementara mereka yang mendengar itu, kecuali Mira, sangat syok.


" Apa?!!" Mereka bahkan langsung berteriak saking kagetnya mendengar kenyataan itu.


" Ba-bagaimana bisa.." Remilia terlihat takut namun disaat yang sama juga takjub dengan apa yang ia dengan dan lihat.


Itu adalah naga sungguhan.


Tapi Altair hanya menjilat remahan kukis dibibirnya mendengar itu, " Entahlah, dia sudah jadi hewan ikatanku ketika aku tahu." ucapnya sambil memikirkan hal itu.


Teman-temannya semakin menatapnya dengan tidak percaya, tentu saja, bagaimana mungkin dia tidak tahu kapan dirinya sendiri menandatangani kontrak ikatan dengan beast legendaris seperti itu. Bahkan Mira selaku gurunya juga hanya mengangkat kedua bahunya tidak tahu ketika ditatap oleh mereka.


Disamping itu... Untuk bisa mengendalikan kekuatan yang dibawa oleh naga. Altair harus punya kekuatan yang lebih besar, atau pengendalian mental yang tinggi.


" Altair... Siapa dirimu yang sebenarnya.." Israhi benar-benar penasaran dengan semua keistimewaan yang rasanya sangat mustahil dalam diri satu orang dihadapannya ini.


" Ekhem... Baiklah, bagaimana jika kita kembali ke percakapan utama kita." Saat kemudian Derrick pun mengambil alih percakapan dan semua perhatian pun langsung tertuju kepadanya. " Altair, apa kau tahu paham dengan tantangan yang diajukan sekarang??" tanyanya kemudian.


Altair yang mendengar pertanyaan itu pun menjawab, " Bukannya tinggal bertarung, ya? Dikoloseum tantangan nya begitu." ucapnya dengan polos.


Ah, dipikirkan bagaimana pun duel resmi yang diketahui Altair hanyalah duel kesatria dan pertandingan koloseum. Mira lupa untuk menjelaskan hal itu..


Derrick yang mendengar jawaban nya pun kemudian menopang dagunya, " Iya, jika itu tantangan tarung. Tapi tantangan saat ini, adalah tantangan kecepatan dan kelihaian." ucapnya menyahuti.


" Apa? Jadi tidak akan ada pertarungan?." tanya Altair kemudian.


" Tidak juga. Tapi hal utama dalam tantangan yang diberikan oleh orang-orang Acrenea tidak seperti itu. Ini seperti lomba lari dan saling berebut mawar yang dulu dilakukan didesa." jelas Derrick yang kemudian tersenyum kepadanya.


Altair yang mendengarnya pun jadi mengerti. Dan ia ingat masa-masa itu...


Perlombaan merebut mawar yang diadakan didesa GoldenRose setiap merayakan hari berdirinya desa. Anak-anak dan orang dewasa akan berlarian dialun-alun sambil saling merebut setangkai mawar, dan orang yang paling banyak mendapatkan mawar akan jadi pemenangnya.


Dia ingat dia dan Derrick dulu pernah menjadi juaranya, dan mereka pun dinobatkan menjadi raja dan ratu mawar selama sehari. Altair merindukan masa-masa seperti itu...


" Um... Jadi, yang harus aku lakukan hanyalah mengambil harta dilabirin itu dan cepat-cepat keluar sebelum direbut oleh mereka?" Altair benar-benar paham sekarang.


Derrick mengangguk kan kepalanya mendengar itu, " Benar. Pertarungan mungkin tidak bisa dielakan, tapi bukan pertarungan yang mengancam nyawa. Jadi kau harus bisa mengendalikan kekuatanmu. Lalu... Karena harta ditempat itu hanya tinggal ada satu, jadi kau harus tahu apa itu." jelasnya kemudian.


" Hanya satu?"


Israhi pun mengangguk membenarkan, kemudian ia pun bercerita. " Benar. Labirin Aila adalah labirin yang telah ditaklukan 3 tahun yang lalu oleh seorang pengembara bertopeng, 'Aila'. Dulu, itu adalah labirin yang paling berbahaya dan dipenuhi oleh monster. Para monster itu juga kadang keluar dan menyerang desa-desa didekat labirin. Karena itu, setelah sang pengembara membersihkan labirin, namanya pun dijadikan nama labirin itu sebagai penghormatan. Tidak ada harta apapun ditempat itu, tapi sang pengembara meninggalkan sebuah kalung didalam sana. Dan sebelum menghilang dia pun berkata..."



... Itu adalah kata-kata yang terus mengakar dan membuat banyak orang datang ke sana untuk mencoba itu. Tapi tidak ada siapapun yang pernah melihat atau bahkan berhasil mendapatkannya.


Kebanyakan dari mereka selalu kembali keluar dengan luka-luka karena tidak bisa menghindari jebakan, atau terkena ilusi.


Tidak sedikit juga yang meninggal karena tetap memaksa untuk mencari benda itu.


" Woah..."


Altair terpukau dengan cerita yang megah itu, jika dia bisa bertemu dengan sang pengembara bertopeng yang ada dalam cerita yang dikatakan oleh Israhi, dia ingin bertanya tentang bagaimana bisa dia mengalahkan semua monster itu. Dan juga... Apa alasan sebenarnya dia meninggalkan kalung tersebut disana.


" Jadi, apa disana benar-benar tidak ada monster sekarang?" tanya Remilia yang kemudian membuyarkan lamunan Altair, ia pun juga ikut mengangguk mempunyai pertanyaan yang sama.


" Tidak. Semua monster yang ada disana, termasuk benih dan telur mereka telah hilang. Tapi tetap ada beberapa jebakan didalam labirin yang pasti akan menghambat orang yang memasukinya." jawab Yi menimpali.


Aksa pun memikirkan hal tersebut, " Hm... Kalau begitu, mereka pasti akan menggunakan jebakan itu untuk melakukan sesuatu kepada Altair. Bisa juga mereka telah memanipulasinya sebelumnya." ucapnya mengatakan asumsinya.


" Itu bisa saja terjadi." Derrick juga setuju dengan hal itu.


" Kalau begitu, kita hanya perlu pengawas yang adil dan jujur." ucap Altair kemudian.


Itu memecahkan masalah mereka, tapi...


" Siapa yang cocok jadi pengawas disini??" tanya Aksa, saat... "Ah..!" dia pun sadar tanpa mendengar jawaban lain.


Semua orang pun langsung menoleh kearah yang sama secara serentak, mereka memusatkan perhatian kepada Mira yang hanya diam saja dan juga menatap mereka disana. Mira yang ditatap pun kemudian menaikan sebelah alisnya tinggi-tinggi...


" Kalian ingin aku menjadi pengawas??" tanyanya kemudian.