
Kabar tentang pertandingan mereka itu menyebar begitu saja, melalui pelayan yang sebelumnya mengantar Altair ke istana Kaisar. Sampai akhirnya hamir seluruh orang di ibu kota mengetahui hal itu. Pihak Putri Duke Orzsbet pun mengami kritik pedas dari orang-orang, yang beranggapan kalau Putri Duke sama sekali tidak punya hati. Karena menantang orang yang baru saja sembuh dari keracunan, namun tidak ada yang menanggapi hal itu sama sekali.
Disaat yang sama, Kaisar yang mendengar kabar itu pun murka kepada Duke, atas perlakukan tidak pantas yang dilakukan oleh putrinya...
Bukk...
" Keterlaluan! Bagaimana bisa dia melakukan hal seperti itu?! Jelaskan maksud tindakan putrimu itu, Duke!." Ning benar-benar sangat marah sampai memukul singgasana nya.
Sementara dihadapannya, Duke Orzsbet berlutut sambil mempertahankan ketenangannya, " Baginda, itu adalah masalah yang putriku dan Nona Altair miliki. Biarkan saja mereka menyelesaikan itu sesuka mereka. Saya yakin putri saya punya alasan untuk melakukan hal ini. " ucapnya yakin sekali.
" Itu benar, Baginda. " suara Altair tiba-tiba terdengar menengahi percakapan mereka.
Mereka pun menoleh kearah samping, dari mana suara Altair terdengar pertama kali. Dan memang benar... Altair berjalan dari sana kearah Kaisar dengan percaya diri.
" Baginda, saya dan putri Orzabet ingin menyelesaikan masalah kami. Karena itu, tolong jangan marah dan izinkan tingkah kekanakan kami kali ini saja. " ucap Altair sambil tersenyum cerah kepada Ning.
" Tapi kau baru saja sembuh... " ucap Ning masih meragukan hal itu. Meskipun memang benar, dia sendiri tahu Altair telah sembuh sejak lama.
" Tidak apa-apa, Baginda. Saya tidak suka membiarkan masalah berlarut-larut, bukankah begitu... Tuan duke?" sahut Altair pula yang kemudian melirik Duke Orzsbet dibawah sana.
" Tentu saja... Nona Altair. " jawab Duke Orzsbet pula dengan tatapan dingin yang langsung mengarah kepada Altair.
Sama halnya dengan Altair yang saat ini masih tersenyum, namun terasa dingin disaat yang sama. Bahkan Ning yang memperhatikannya pun menyadari hal itu...
" Dia mulai menumbuhkan sifat kejamnya, ya. " batinnya, Ning hanya menopang dagu melihat hal itu. " Ya, baiklah. Terserah kalian saja, lah. " dan akhirnya dia pasrah dengan itu.
" Tidak ada yang bisa menghentikan orang nya begitu pula keturunannya. " Ning yakin dengan fakta hal itu.
Disisi lain, Altair yang mendengar nya pun tersenyum puas karena itu. Dia bisa melakukan apapun sekarang.
-- 2 hari kemudian...
Koloseum mulai penuh diisi oleh banyak orang yang ingin melihat hal itu, sebagian besarnya adalah para petarung 5 tahun yang lalu. Yang mana mereka telah mengenal Altair, gadis yang mengalahkan para petarung hebat hanya dengan satu pukulan.
Banyak orang yang bertaruh kalau Altair akan menang telak dipertarungan hari ini, namun... Meskipun begitu, tidak sedikit yang mendukung putri Duke Orzsbet, yang disebut-sebut sebagai jenius. Pertarungan antara dua gadis terkuat di kekaisaran, tentu saja membuat semua menantikan hal itu.
" Kau yakin tidak khawatir dengan Muridmu Mira?" tanya Mirion yang melihat itu bersama dengan adiknya.
Mira yang mendengar pertanyaan itu pun menganggukan kepalanya, " Iya. Altair tidak akan menerimanya jika tidak yakin akan menang. " jawabnya penuh keyakinan.
" Aku bisa menebak kenapa dia memilih tempatku. " ucap Mirion pula, tahu jalan pikiran Altair.
Sementara Mira hanya tersenyum mendengar itu, ya.. Muridnya memang sangat pintar. Dan ia bangga dengan hal itu. Mengingatkannya kepada tuannya yang sangat cerdik memanipulasi keadaan dibalik senyumannya.
Bukan hanya rakyat kekaisaran saja yang melihat pertandingan ini, tapi juga keluarga kekaisaran. Tentu saja itu tidak mengherankan, Altair yang sangat dekat dengan mereka, tidak mungkin keluarga kekaisaran diam saja saat ini.
Dan ditempat bersiap, Altair masih sibuk mengatur sarung tangan yang dipakainya dengan santai. Padahal pertandingan nya akan segera di mulai...
" Altair.. " panggil Theodore yang datang ke sana.
" Tidak, aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. " sahut Theodore, ia pun berjalan mendekati Altair. " Kau... Akan menggunakan tombak itu?" tanyanya pula ketika melihat tombak Altair didekat meja.
Altair pun menganggukan kepalanya, " Iya, itu adalah senjataku. Karena ini bukan pertarungan resmi Koloseum, jadi tidak masalah jika kami memakai senjata. " jawab Altair sambil tersenyum dengan santai.
Saat kemudian mereka teralihkan ketika mendengar pengumuman yang mengatakan kalau pertandingan nya akan segera dimulai.
" Kedua peserta, silahkan memasuki arena. Pertandingan nya akan segera dimulai."
" Oh, pertandingan dimulai. Aku harus segera naik. " ucap Altair yang kemudian buru-buru bersiap dan meraih tombak langit miliknya. " Apa ada yang ingin anda katakan lagi??" tanya Altair lagi kepada Theodore yang masih disana.
Theodore sendiri hanya diam untuk beberapa saat, sampai kemudian Theodore tiba-tiba memeluknya. Dan itu membuat Altair sangat terkejut...
" Huaa.. Ya-Yang mulia..." wajah Altair memerah seperti tomat saat ini.
" Hati-hati... " ucap Theodore kepadanya, membuat Altair jadi terdiam. " ... jangan sampai terluka lagi. " lanjutnya.
Membuat Altair mengerti, Theodore sedang mengkhawatirkannya. Altair tersenyum senang mendengar itu, " Iya. " jawabnya yang kemudian membalas pelukan itu.
Sementara diatas sana, diarena.... Suara seru-seruan para penonton bergema ditempat itu. Dan Theodore baru saja kembali ke tempatnya disamping Ning dan juga Habel. Saat perhatian semua orang kemudian tertuju kepada seorang wanita yang berdiri diatas Arena saat ini.
" Selamat datang para tamu sekalian, hari ini... seperti yang kalian semua tahu, kita akan mengadakan pertandingan antara dua Nona besar di Kekaisaran ini. Mari kita sambut para peserta nya!."
" Wooo..."
Ucap wanita itu yang kembali mengundang sorak-sorai dari para penonton. Apalagi ketika Altair dan Rara masuk ke dalam arena, para pendukung masing-masing berteriak menyemangati keduanya.
Rara memakai pakaian bertarung nya, dengan warna merah terang dan sebuah pedang ditangannya. Sementara disebrangnya, Altair dengan pakain hijau membawa tombak langit miliknya ditangannya. Keduanya berjalan dengan penuh percaya diri dan dalam kondisi siap untuk bertarung.
Mereka pun sampai ditengah-tengah arena, tepat dihadapan wanita tadi, saling berhadapan satu sama lain...
Altair masih bisa tersenyum dengan santainya saat ini, " Hallo, apa anda siap putri? " tanyanya kepada Rara.
Dan Rara kelihatan ketus sekali melihat itu, " Hapus senyuman menjijikan itu dari wajahmu, kau benar-benar tidak tahu malu. " ucapnya.
Namun Altair sama sekali tidak mendengar kan itu dan terus tersenyum, mirip seseorang kan...??
" Baiklah, ini peraturannya. Kalian bisa saling menyerang satu sama lain sampai salah satu diantara kalian mengaku kalah atau terluka, akan tetapi tidak diperbolehkan saling membunuh. Kami sudah menyiapkan pendeta yang akan menyembuhkan kalian saat terluka, jadi kalian tidak perlu khawatir. Apa kalian mengerti??" tanya wanita itu kepada mereka berdua.
" Yap, keras dan jelas. " sahut Altair spontan.
" Ya, ya, aku mengerti. " dan Rara yang tidak peduli sama sekali.
" Kalau begitu, kedua peserta siap!... Bersedia!.. Mulai!" ucap wanita itu pula yang kemudian langsung menghilang dari Arena.
Sementara Altair dan Rara yang mendengar itu pun langsung saling menyerang satu sama lain.