The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Liberation



Beberapa saat yang lalu dijurang tempat Altair, Ian dan Nox membereskan para bandit.


Lebih tepatnya Altair.... Dia telah membunuh mereka semua dalam sekejap. Sisanya yang ada disana hanya bisa diam melihat apa yang ia lakukan, tidak ada celah untuk membantu sama sekali diantara mereka.


Disaat yang sama dengan itu, Ian telah pergi lebih dulu mencari pemimpin kelompok ini disaat Altair membereskan anak buahnya. Itu karena suasana nya yang agak aneh.... Disaat ada keributan besar diluar sana dan para anak buahnya bertarung habis-habisan, pemimpin mereka sama sekali tidak menampakan dirinya ditempat ini.


Para wanita yang ada disana juga hanya bisa gemetar diam melihat pemandangan mengerikan itu, akan tetapi... itu lebih baik dari pada menjadi budak orang-orang biadab ini.


" Luar biasa, aku tidak percaya seorang perempuan muda bisa melakukan ini dengan cepat. Dan juga... dia seperti petarung yang telah terlatih selama bertahun-tahun lamanya..." Nox bahkan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari apa yang ia liat ketika Altair melawan mereka semua.


" Nox.." itu sampai suara Altair sendiri menbuyarkan lamunan nya.


" Ah! Iya..." Nox segera bergegas menghampiri Altair yang ada tak jauh darinya. " Apa ada yang salah, Nona??" tanyanya ketika berada tepat dihadapannya.


Altair yang mendengar itu diam sesaat tanpa mengalihkan pandangannya dari mayat orang yang ada disampingnya, dan kemudian ia pun berkata. " ...Dimana orang-orang lainnya dikurung?" tanyanya.


" Oh, ada disini. Mari saya tunjukan."


Nox langsung memimpin jalan kearah penjara yang dibuat oleh kelompok ini, dan Altair pun mengikutinya dibelakang. Tidak hanya dia, para perempuan lain juga ikut, memang akan lebih baik jika mereka tetap bersama. Mereka peka dengan hal itu bahkan tanpa diberitahu.


Mereka tidak berjalan cukup jauh, mungkin hanya sekitar 2 meter dari tempat api unggun dan tenda-tenda itu. Seperti yang dikatakan oleh Nox sebelumnya, ada sebuah gua dengan jeruji dari besi yang menghalanginya disana. Altair juga bisa melihat orang-orang yang terkurung didalam sana meskipun suasana gelap menyelimuti mereka.


" Ada berapa banyak orang didalam sana?" Altair bertanya.


" Ada sekitar 52 orang." dan salah satu dari para wanita pun menjawab dengan kurang yakin.


Itu jumlah yang cukup banyak untuk sekali penculikan. Orang-orang ini mungkin terbagi menjadi dua kelompok, mereka yang telah lama disana dan mereka yang baru saja terkurung. Mereka dibiarkan begitu saja asalkan hidup.


Ini benar-benar kejam.


" Nona, mungkin lebih baik mencari kuncinya lebih dulu." Nox buka suara disana, tentu saja jika ingin membuka pintu atau jeruji mereka harus mencari kuncinya lebih dulu. Tapi...


" Tidak perlu."


... Altair tidak membutuhkan sesuatu seperti kunci. Namun Nox dan para perempuan yang mendengar jawaban nya justru terheran-heran.


Altair mengangkat kedua tangannya dan menempatkan mereka diantara besi baja yang jadi penghalang dihadapannya. Dan kemudian, ia pun mendorong mereka kearah yang berlawanan.


Nggiikk... Bangg...


Suara nyaring terdengar dari dua celah besi yang dibengkokan Altair. Membuat orang-orang yang ada didalam maupun diluar langsung menoleh dan menatapnya dengan terkejut. Altair tidak bersusah payah sama sekali untuk membuka jeruji tersebut.


Disaat yang sama, rahang Nox jatuh ternganga melihat itu. Dia tidak berpikir kalau Altair akan melakukan itu meski dia memang kuat.


Sementara Altair tidak terlalu peduli dengan itu dan melangkah masuk ke dalam kurungan itu, suasana yang gelap membuatnya sulit melihat, jadi ia membuat dua bola api berwarna kebiruan untuk menerangi tempat itu. Baru kemudian terlihat dengan jelas, orang-orang didalam sana yang masih menatapnya dengan terkejut...


Altair pun kemudian bicara, " Bangunlah. Kalian bisa keluar dari sini, tidak akan ada yang menyakiti kalian lagi." ucapnya.


" Sungguh?!"


" Kami bisa keluar?"


" Terima kasih banyak."


Orang-orang itu menangis dengan haru karena mendapatkan kembali kebebasan mereka setelah sekian lama disana. Mereka pun kemudian bangkit berdiri dan mulai keluar dari sana satu persatu.


Sementara Altair mengedarkan pandangannya ditempat itu, ketika perhatian nya tertuju kepada seorang anak perempuan yang terbaring tak berdaya dipojokan, dan ada anak laki-laki yang sedang berusaha membangunkan nya.


" Bangun.. Kumohon bangunlah, kita sudah bisa keluar."


Altair pun berjalan mendekati kedua anak itu, dan berjongkok disamping anak laki-laki tersebut. Sementara Anak laki-laki itu sedikit terperanjat dan menatapnya terkejut. Altair pun bertanya...


" Apa yang terjadi padanya?"


" Um, dia... sakit."


Anak itu menjawabnya dengan ragu-ragu, dia mungkin khawatir Altair akan meninggalkan anak itu karena akan merepotkan merawat anak sakit.


Tapi Altair tidak mengatakan apapun. Ia memeriksa anak itu lebih dulu, denyut nadinya, pernafasan, suhu tubuh dan tubuh luarnya.


Ada bintik-bintik kemerahan samar dilengan anak perempuan itu, sepertinya dia digigit serangga beracun, untunglah bukan tipe yang mengancam nyawa. Namun tetap saja itu berbahaya. Altair pun mengambil keluar sesuatu dari balik jubahnya, sebuah cairan berwarna kebiruan didalam botol berukuran kurang lebih 2 cm. Kemudian ia pun membukanya...


" Ah.." dan anak laki-laki itu pun langsung melakukan apa yang dia suruh.


Anak itu mengangkat kepala anak perempuan itu, sementara Altair meminumkan obat yang ia bawa ditangannya ke anak perempuan tersebut. Tak lama, raut wajah anak perempuan itu berangsur membaik.


" Dia akan baik-baik saja. Asalkan dia beristirahat dengan baik dan makan teratur maka dia akan segera sembuh."


" Iya... Terima kasih."


Altair pun memangku anak perempuan itu ditangan kirinya, kemudian membawanya keluar dari sana. Tentu saja bersama dengan anak laki-laki itu juga yang mengikutinya. Nox yang menunggu diluar sambil memastikan orang-orang yang sebelumnya keluar pun segera menghampirinya ketika melihat dia datang mendekat, dan mengambil anak perempuan itu dari tangan Altair.


Kebetulan sekali, dia memang sedikit kerepotan. Dia tidak bisa memegang anak itu dengan kedua tangannya karena takut darah ditangan kanan nya mengenai anak itu.


" Nox, apa Ian belum kembali?" tanya Altair ketika tak menemukan nya dimana pun saat ini.


Nox yang mendengarnya pun menggelengkan kepalanya, " Tidak, Tuan Ian belum kembali." jawabnya.


Altair tidak berpikir kalau dia harusnya sangat lama, tapi karena dia masuk ke gua ditebing-tebing ini, mungkin ada lebih banyak celah dari yang ia duga. Tempat ini sangat luas, Ian mungkin tersesaat diantara salah satunya. Masih untung dari pada tertimpa batu jika gua alami itu runtuh.


Ggerrr...


Altair menoleh ketika mendengar suara geraman dibelakangnya, dari sisi diarah timur Altair bisa melihat mata-mata yang menyala dalam kegelapan dan aura kehadiran yang kuat. Para Jaguar api datang mendekat karena aroma darah yang ditumpahkan tempat ini.


Mereka terlihat cukup lapar hingga rela datang ke tempat yang cukup jauh dari sarang mereka...


Altair menyipitkan matanya melihat itu, " Tunggu sebentar lagi. Setelah kami pergi dari sini, kalian bisa memakan mayat yang ditinggalkan." ucapnya pula yang kemudian berjalan pergi mendekati orang-orang yang sedang bersuka cita karena telah dibebaskan.


Sementara para Jaguar yang mendengar ucapannya, kembali mundur dan berbaur dalam kegelapan, tanpa memperlihatkan wujud mereka kepada siapa pun. Menunggu dengan tenang untuk janji yang diberikan Altair kepada mereka.


Tak berapa lama dari itu, Ian pun kembali muncul dari celah tebing. Ia bergerak turun menghampiri Altair yang telah menunggunya sedari tadi, dan mulai memberikan laporan.


" Nona Altair, pemimpin kelompok mereka telah mati."


" Mati? Apa maksudmu?"


" Kemungkinan... Ada orang lain yang telah datang kemari lebih dulu dari kita."


Itu masuk akal. Mau bagaimana pun pemimpin kelompok ini adalah orang yang menjadi saksi kunci, dengan siapa dia bekerja sama untuk menyerang Derrick. Altair menyesal tidak menyisakan salah satu anak bauhnya sebelumnya. Tapi yah... yang mati tidak akan bisa bicara.


Atau bisa..?


Altair menggelengkan kepalanya ketika pikiran itu muncul. Jadi kita anggap saja ini jalan buntu, yang penting Derrick akan baik-baik saja. Itulah yang pasti.


Tapi rupanya, laporan Ian belum berhenti sampai disana. " Dan juga... Saya menemukan ini dari mayat pemimpin itu."


Apa yang ia perlihatkan adalah sebuah gulungan, mungkin sebuah peta. Sebuah surat dan.... Senjata yang bentuknya benar-benar unik. Itu terlihat seperti tombak mini dengan pola bulan sabit dipegangannya.


Itu mungkin bisa menjadi sebuah petunjuk, " Kita bawa saja dulu. Guru mungkin tahu apa itu." ucap Altair.


" Baik." dan Ian pun langsung menyahutinya.


Kemudian Altair berbalik menatap orang-orang itu dan menepukan tangannya untuk menarik perhatian mereka. Ia pun mulai bicara...


" Semuanya, tolong dengarkan. Kami akan membawa kalian kembali ke kota. Setelah pemeriksaan lebih lanjut, kalian bisa kembali ke rumah atau keluarga kalian sendiri jika mau, kami akan memberikan uang jarahan yang dimiliki olah para bandit ini kepada kalian secara merata." ucap nya kepada orang-orang itu, yang kelihatannya masih tidak percaya dengan kebebasan ini.


" Benarkah? Kamu akan melepaskan kami."


" Kami bisa pulang."


Altair menganggukan kepalanya menanggapi mereka, " Benar. Jadi sampai saat itu tiba, tolong jangan ada yang saling menyalahkan atau berkelahi. Aku ingin kalian saling menjaga satu sama lain, terutama kepada anak-anak. Apa bisa dimengerti?."


" Iya!"


Mereka menjawabnya dengan serentak. Karena semuanya telah sepakat, Altair pun langsung membuka kembali portal untuk pulang. Mereka akan tiba dikota dalam sekejap.


Orang-orang yang ada disana pun mulai masuk ke dalam secara teratur, kemudian disusul oleh Ian dan Nox dibelakang. Dan Altair yang paling terakhir...


Sebelum masuk. Altair kembali menoleh ke belakang, dimana para Jaguar mulai menampakan diri mereka satu persatu dari kegelapan. Mereka menatap Altair seolah meminta janji nya tadi.


Jadi Altair pun menganggukan kepalanya kearah para Jaguar dan langsung masuk ke dalam portal. Dan sesaat setelah portal yang dibuat Altair itu mulai mengecil dan hilang, para Jaguar yang telah merasa lapar pun langsung berlari kearah makanan untuk mereka berada.