
Dikota.... Altair bersama dengan Pangeran Habel dan juga Ansel yang menemani mereka baru saja tiba. Melihat ibu kota untuk pertama kalinya bagi Altair adalah hal yang sangat menakjubkan, ia tidak bisa diam dan terus melihat kesana dan kemari, itu karena dia belum pernah melihat banyak hal yang ada disana.
Begitu pula dengan Habel yang selama ini hanya tinggal diistana dan tidak diperbolehkan keluar jika bukan sesuatu yang sangat penting, dia hampir terkurung di istana Kekaisaran seumur hidupnya. Tentu saja itu karena alasan keamanannya.
" Wah... Ada banyak hal yang bisa dilihat disini yang tidak ada ditempat lain. Menakjubkan sekali.. " ucap Altair terkagum-kagum.
" Tentu saja. Ini kan ibu kota. " sahut Habel dengan sangat bersemangat.
Pilihan bagus membawa Altair ke kota meski tiba-tiba, itu karena Altair juga jadi bisa melihat banyak hal. Dan dibelakang mereka, Ansel yang ikut menemani mereka sebagai penjaga pun ikut tersenyum senang melihat keduanya menikmati jalan-jalan itu.
" Yah, karena sudah disini. Bagaimana jika mencoba beberapa makanan yang biasanya tidak ada di istana. Yang mulia? Nona Altair? " usulnya kepada mereka berdua.
" Huh? makanan apa itu? " tanya Habel penasaran.
" Apakah enak?? " tanya Altair pula.
Tetapi Ansel sama sekali tidak menjawab pertanyaan mereka, dia justru kelihatan tersenyum dengan aneh. Sampai beberapa saat kemudian, Altair dan Habel tidak bisa berkata-kata melihat makanan yang dimaksud oleh Ansel.
" Ta-da... Ini adalah makanan yang biasanya dicari oleh para petualang yang pergi ke labirin. Yaitu.... Katak labirin panggang!. " ucap Ansel dengan ekspresi girang diwajahnya.
" Hiii~! " Disisi lain Habel dan Altair memasang wajah ngeri melihat makanan yang dia tunjukan itu.
" Kau ingin kami makan katak?? " tanya Habel dengan ekspresi jijik sekaligus ngeri disaat yang sama.
Sedangkan Ansel dengan wajah berseri-seri hanya menganggukan kepalanya, " Yang Mulia, apa anda tahu?? Di labirin yang ada biasanya hanya monster, para penjelajah yang datang ke sana terkadang kehabisan bahan makanan yang bisa mereka makan. Karena itu mereka harus mengganti nya dengan sesuatu yang lain untuk tetap menjaga energi dalam tubuh. " jelas nya dengan sangat jelas, diikuti oleh anggukan kepala dari pemilik toko itu yang kelihatan bersemangat.
" Tapi... Bukankah katak labirin itu beracun?? Apakah tidak masalah jika dimakan oleh manusia?? " tanya Altair dengan ragu-ragu.
" Jika diolah dengan benar, racun dari katak labirin justru bisa berubah jadi obat, loh. " jawab pemilik toko itu yang membuat Altair terkejut mendengar nya, ia tidak pernah mendengar tentang hal itu dari buku yang ia baca.
" Aku tetap tidak mau memakannya. Benda itu terlihat menjijikan. " ucap Habel dengan tegas.
" Ah, ayolah Yang Mulia. Rasanya tidak seburuk kelihatannya.. " bujuk Ansel kepada Pangeran kecil yang terlihat kesal karena merasa ditipu oleh nya.
Namun Habel sama sekali tidak mempedulikan nya, dan hanya melipat kedua tangannya didepan dada. Sampai kemudian perkataan Altair pun mengalihkan perhatiannya.
" Hm. Rasanya tidak jauh berbeda dengan daging ayam.. " Altair baru saja memakan nya lebih dulu.
" Benarkan. " sahut Ansel pula dengan bangga.
Dan Habel sedikit terkejut dengan itu pun berteriak kepada Altair, " Kak Altair, kau memakannya?! "
" Mau bagaimana lagi. Saya penasaran dengan rasanya. " ucap Altair menimpali dengan wajah polos.
Sedangkan Pangeran kecil terdiam kaku ditempatnya setelah mendengar jawaban dari Altair. Tapi segera sadar ketika Ansel juga memberikan satu padanya.
" Ayo, Yang Mulia. Nona Altair saja sudah memakannya, apa anda masih ragu dengan ini?? " ucap nya sedikit menggoda Habel dengan senyuman geli.
" Tidak Mau!! " tapi Habel menolaknya dengan tegas.
" Ayolah, ayo. " ucap Ansel pula.
Setelah beberapa saat dengan desakan dari keduanya, Habel yang merasa sedikit tertekan dengan itu pun mengiyakannya.
" Astaga, ya ampun, baiklah! Berikan itu padaku! " Habel langsung merebut katak panggang yang ada ditangan Ansel dengan kesal.
Sementara itu, Ansel dan Altair terlihat sangat kegirangan sekali dengan hal itu. Seolah-olah mereka adalah anak kecil yang mendapatkan kado ulang tahunnya...
Habel masih menatap katak panggang ditangannya itu dengan ekspresi ragu-ragu, disisi lain dia melihat kalau kedua orang itu sangat berharap dia memakannya.
" Ayolah, aku pasti bisa, pasti. Aku tidak akan kalah hanya dengan benda seperti ini... tidak akan kalah... tapi... Katak ini benar-benar melihat menggelikan... " batin Pangeran kecil masih tidak yakin apa dia harus memakan katak panggang itu atau tidak.
Cukup lama, Pangeran kecil mengumpulkan tekadnya untuk memakan katak panggang itu, demi mengalahkan rasa jijiknya, dan agar Ansel tidak terus mendesaknya untuk melakukan apa yang tidak dia inginkan, Pangeran kecil pun akhirnya benar-benar memakannya dengan sangat terpaksa...
Namun setelah nya, dia menyadari apa yang dimaksud oleh Altair dan Ansel.. " Mm. Kurasa... Tidak terlalu buruk.. " ucap Habel sambil mengalihkan pandangan nya karena malu.
Sementara Altair dan Ansel hanya tertawa geli melihat wajah malu-malu dari Pangeran kecil..
Setelah itu, mereka pun kembali melanjutkan jalan-jalan mereka. Banyak yang bisa dilihat disana, dan banyak orang yang memenuhi kota. Ditengah jalan-jalan itu, perhatian Altair sempat teralihkan kepada sesuatu di sebuah toko permata.
" Wahh... Indahnya. Permata dibros itu mirip dengan mata Yang Mulia Theodore. " batin Altair ketika memandanginya.
Sedangkan Ansel dan Pangeran kecil yang melihat nya sangat tertarik dengan toko itu hanya diam memandanginya disisi lain.
" Dia memandangi permata itu, ya. " gumam Habel masih sambil memperhatikannya dengan seksama.
" Dia memandanginya. " jawab Ansel pula dengan spontan.
" Hei, apa menurutmu dia menginginkan itu?? Haruskah kita membelikannya untuknya?? " tanya Habel pula kepada Ansel.
" Oh, Ide yang sangat bagus Yang Mulia. Tapi.. sebaliknya kita bertanya terlebih dahulu kepada Nona Altair-... " ucapan Ansel tiba-tiba terpotong sebelum terselesaikan.
" Tuan Ansel, Pangeran Habel. Tolong tunggu sebentar, aku akan membeli sesuatu terlebih dahulu.. " Altair lebih dulu memotong ucapan Ansel dan langsung masuk kedalam toko permata itu.
Ansel dan Habel yang ditinggalkan diluar dan belum selesai berdiskusi hanya terdiam ditempat mereka sambil melihat Altair yang masuk ke dalam toko itu tanpa mengatakan apapun. Hingga beberapa saat kemudian, Altair pun kembali keluar sambil membawa sebuah kotak ditangannya. Dan itu lah yang langsung menyadarkan keduanya...
" Hah! Kak Altair, apakah kau baru saja membeli permata ditoko itu?? " tanya Habel.
" Iya. " jawab Altair dengan santainya.
" Uangnya... Apa anda memiliki uang untuk membayarnya?? " tanya Ansel pula dengan sedikit gugup.
" Iya.. " Dan Altair pun menjawabnya sambil memiringkan kepalanya bingung. " Ibu kandungku meninggalkan uang cukup banyak, jadi tidak perlu khawatir. " lanjutnya pula karena berpikir bisa saja keduanya bingung dari mana uangnya berasal.
Sedangkan Ansel dan Pangeran kecil menghela nafas lemas mendengar itu, bukan karena lega mengetahui Altair memiliki uang sendiri untuk membelinya. Tapi karena mereka kehilangan kesempatan membelikannya permata yang dia inginkan.
" Yah, setidaknya akan ada lain waktu.. " gumam Ansel.
" Kau benar. " dan Habel pun menyahutinya.
Sedangkan Altair yang juga mendengar gumaman mereka tidak mengerti dengan maksud keduanya...