The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Lost Control



Angin bertiup dihutan, suara daun bergemerisik mengisi telinga. Suara tawa Altair dan Milya terdengar ditengah suara-suara lain disana. Mencari tanaman obat cukup sulit, karena beberapa diantaranya sangat mirip dengan tanaman lain yang bukan tanaman obat.


Dan Altair terlihat cukup terampil dalam mengajari jenis-jenis tanaman obat itu saat Milya menanyakannya...


" Hei, Altair. Kalau ini tenaman apa?" Milya menunjukan sebuah tanaman berwarna biru pucat dengan bunga silver diatasnya.


" Oh, itu bunga Silver moon. Bunga itu hanya tumbuh di wilayah Foldes dan jantung hutan York. " jawab Altair.


" Kenapa disebut Silver moon?" tanya Milya lagi, yang bingung dengan nama nya.


Altair pun mendekat dan menunjuk bunganya, " Karena ini, warna bunganya sama dengan bulan putih dimalam hari. Lalu... Karena bunga ini bersinar terang ketika terkena sinar bulan. " jelas Altair.


" Wah, hebat. " Milya terkesan dengan hal itu, ia jadi ingin melihat bunga itu bersinar.


Disisi lain, Altair yang melihat nya sangat tertarik pun jadi senang. Ia tidak pernah punya kesempatan untuk menunjukan pengetahuan nya tentang tanaman obat kepada orang lain karena terlalu malu.


Mereka pun melanjutkan pencarian mereka, berkeliling dihutan yang luas sambil mencari tanaman obat. Ditengah itu, Zico pun berjalan-jalan bersama mereka dan bermain dengan serangga-serangga kecil yang ada disekitarnya.


Milya yang melihat nya juga sempat menanyakan nya, dan Altair bilang kalau dia adalah binatang ikatannya. Jadi Milya tidak terlalu terkejut dengan keberadaan Zico disekitar mereka.


" Altair, aku ingin tahu apa kau mau mencari orang tuamu??" tanya Milya ketika mereka sedang berjalan untuk kembali, Altair memang memberitahunya hal itu semalam.


Altair pun menoleh kearahnya dan menjawab, " Tentu saja, aku juga ingin tahu siapa orang tuaku. Tapi Baginda Kaisar bilang untuk tidak pergi dulu sampai aku bisa menggunakan kekuatanku dengan baik. " ucapnya.


" Itu pilihan yang tepat, dunia luar sangat berbahaya. Kaisar seperti nya sangat menyayangimu. " sahut Milya pula menimpali.


Dan itu membuat Altair merona, " Aha, aku juga bingung. Padahal aku ini orang biasa, bukan bangsawan atau orang terpandang. Tapi Baginda Kaisar memperlakukanku seperti aku ini orang yang berharga, bahkan diizinkan untuk tinggal di istana kekaisaran. " Jujur saja Altair masih merasa terbebani meski sudah tinggal cukup lama disana.


Ia masih tidak mengerti dan ingin tahu alasan Kaisar melakukan hal itu, tapi jika ia bertanya dia pasti tidak akan mengatakan alasannya. Jadi Altair berpikir mungkin saja suatu hari nanti ia akan tahu.


Altair tiba-tiba tenggelam dalam lamunan-nya, sampai suara Milya pun membuyarkan lamunan-nya itu.


" Aku tahu..." ucapnya, dan Altair pun langsung menoleh kembali kearahnya. " ...Altair itu spesial. Altair juga sangat baik, akan buruk jika dibohongi orang jahat. Karena itu Kaisar ingin melindungi Altair dari dunia luar. " lanjutnya.


Altair hanya diam terkesima mendengar itu, ia tidak tahu... tapi ketika mendengar itu ia merasa benar-benar jadi spesial. Dan itu membuatnya makin malu.


" Aw.. Wajah Altair jadi merah. " ucap Milya pula menggoda nya.


" Ah! Jgn menggodaku. " Altair benar-benar amat sangat malu sakarang.


Sementara Milya tertawa geli melihat itu, tapi sesuatu tiba-tiba terjadi...


" Ack...! "


" Milya?!"


Milya yang sebelumnya baik-baik saja tiba-tiba terjatuh kesakitan, atau terlihat berusaha menahan sesuatu.


" Milya, Ada apa?!" Altair yang melihat nya pun jadi panik dan berusaha membantunya. " Harusnya tadi tidak ikut, lukamu mungkin makin parah! Kita harus segera mengobatinya! " ucap Altair.


" Tidak! Altair, lari!" Namun Milya justru mendorongnya pergi menjauh.


" Ke-Kenapa..."


Kyuuu!!


Bahkan Zico yang sebelumnya pergi mengejar serangga pun langsung terbang kearahnya dan menyuruhnya lari dengan panik.


Bwuusshh...


" Kyaaa..."


Saat angin besar tiba-tiba muncul dari tempat mereka dan melemparkan Altair, jika saja bukan karena Zico yang menarik Altair mendekat kearah batu, ia akan terbang terbawa angin itu.


" Aaakkhhh!!.." teriakan Milya terdengar begitu kesakitan.


Angin besar itu muncul dan membungkus Milya didalamnya, terlihat seperti sebuah tornado besar. Yang bahkan ikut mengangkat pohon-pohon disekitar mereka. Altair hanya bisa menatap itu dengan tercengang, ia bahkan tidak tahu apa yang terjadi saat ini.


Kyuu..


Bahkan Zico yang berpegangan dipundaknya juga menyuruhnya untuk lari.


" Kita tidak bisa meninggalkan Milya Zico, dia teman kita. " ucap Altair menjawabnya.


Kyu.. Kyu.. Kyuu...


" Aku tidak akan terluka jika kita bisa menghentikan ini secepatnya, tapi... bagaimana caranya?" ucap Altair pula kembali melihat tornado itu.


Zico bisa mengatasinya, tapi Altair tidak mau menarik perhatian. Dan dia akan dapat masalah dari Mira dan Yin jika Zico menunjukan wujud aslinya sekarang, tapi tidak ada cara yang bisa ia pikirkan untuk menghentikan itu.


Tapi kemudian Altair melihat sesuatu didekat tornado itu, sesuatu... yang kecil.. seperti menusia kecil..


" Tunggu itu peri?!" ucap Altair yang tiba-tiba berdiri sampai membuat Zico kaget dan terjatuh.


Iya, seorang peri. Ia sedang berusaha menerobos masuk ke dalam tornado itu untuk menyelamatkan Milya.


" Uhh..!! Kumohon, terbukalah!" peri itu berusaha sangat keras, namun ia justru terhempaskan. " Kyaa!!.."


Dan saat itulah Zico terbang dan menangkap peri itu, dan membawanya kepada Altair.


" Hallo, siapa namamu??" tanya Altair kepada peri kecil yang sekarang ada ditangannya.


Peri itu masih kelihatan terkejut, tapi kemudian ia pun menjawab " Na-namaku Shyl, roh angin tingkat rendah. Dan juga roh yang telah menjalin kontrak dengan Milya. " jawabnya meski ragu apa Altair bisa mengerti atau tidak.


" Begitu ya, namamu Shyl. Apa tornado itu salah satu kekuatanmu?" tanya Altair lagi.


Shyl yang mendengar nya agak terkejut karena Altair bisa mengerti bahasa peri tanpa melakukan kontrak terlebih dahulu, tapi ini bukan saatnya untuk bingung.


" Tidak. Kekuatan Kontraktor meledak, dan tornado ini pun tercipta. Jika tidak dihentikan, Kontraktor akan terluka dan mati. Tolong selamatkan kontraktor ku. " jawab Shyl sambil menangis.


Altair tahu, dia juga ingin menyelamatkan Milya. " Lumine, apa kamu bisa keluar dari tubuhku dan menghentikan tornado itu??" tanya Altair agak ragu.


[" Tentu saja, jika itu yang anda inginkan. Lalu, apa yang harus saya lakukan setelahnya??"]


Saat mendengar itu Altair begitu senang, ia pun menaruh Shyl diatas batu bersama dengan Zico kemudian ia berdiri dan memandangi tornado itu dengan seksama.


" Kamu hanya perlu masuk ke dalam tornado itu, kemudian kamu menghentikan nya. Dan tolong bantu netralkan kembali kekuatan Milya, apa kamu bisa Lumine?" ucap Altair pula.


[" Sesuai keinginan, Master."]


Setelah Lumine menyanggupi hal itu, tubuh Altair pun tiba-tiba bercahaya. Altair pun menyatukan kedua tangan dan menutup matanya, saat Lumine pun benar-benar keluar dari dalam tubuhnya dalam bentuk burung cahaya.


Lumine pun langsung mengepakan sayapnya dan terbang menuju tornado besar itu, angin tidak berpengaruh baginya, jadi Lumine tidak kesulitan. Ia terbang berputar disekitar tornado itu, dan ketika ia sampai diatas, ia masuk ke dalamnya sama seperti yang diinginkan oleh Altair.


Cahaya dari Lumine terlihat bersinar turun ke dasar tornado, yang mana adalah titik pusat dimana Milya berada. Sesaat kemudian, tornado itu terlihat membesar dibawah dan meledak.


Busshhh...


Meniupkan angin kencang kemana-mana. Jika saja bukan karena Zico yang memasang penghalang, Altair pasti akan terlempar lagi.


Debu pun beterbangan dimana-mana, membuat sulit untuk melihat. Sampai Altair pun melihat nya, " Huh?! Milya!." Altair langsung berlari menghampiri Milya yang kini terbaring di tempat nya, dan juga Lumine yang diam disampingnya.


Milya telah kehilangan kesadarannya, lukanya juga terbuka kembali. Jadi Altair pun memutuskan untuk segera membawanya kembali ke vila GoldenRose untuk mengobatinya lagi.