The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Wallflower



Mereka terus berjalan mendekat ke kastil sembari melawan monster-monster yang muncul dari berbagai arah. Mereka cukup banyak dan merepotkan, tapi untunglah bukan tipe yang memiliki kekuatan besar. Dan kekuatan mereka diuntungkan dengan kerja sama yang bagus.


Sekarang... Mereka telah berdiri tepat didepan gerbang kastil es itu.


" Woah... Ini lebih besar jika dilihat dari dekat. Membangun nya dengan kekuatan sendiri pasti akan membutuhkan waktu yang amat sangat lama dan kekuatan yang besar." ucap Aksa sembari memperhatikan gerbang itu, keatas dan kebawah.


Pintu raksasa itu memiliki ukiran bunga 'Wallflower' yang indah diatas es biru-nya.


" 'Gadis yang duduk tanpa berdansa'..." Altair menggumamkan hal itu ketika melihat ukiran tersebut, dan itu menarik perhatian Remilia disampingnya.


" Gadis yang... apa Altair??" dia kemudian bertanya.


" Ah, itu sebutan lain dari bunga wallflower. Itulah yang aku baca dibuku, jika diartikan... bisa jadi seseorang yang introver, yang suka memisahkan diri dari keramaian." jelas Altair tentang itu.


" Apa pemalu juga termasuk??"


" Tidak, bukan berarti pemalu. Entahlah, mungkin orang yang tidak suka hal-hal berisik, tidak suka basa basi atau semacamnya. Dan lebih suka menyendiri. Atau... bisa saja, seseorang yang ada didalam kastil ini, memakai bunga ini untuk menjelaskan... kalau dia tidak suka atau ditendang dari keramaian itu."


" Apa maksudmu dia dikucilkan begitu? " Derrick yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka pun berkata. Itu membuat Altair menengadahkan kepalanya karena Derrick yang lebih tinggi darinya tepat ada dibelakang nya. ".... Itu alasannya menjadi Ruler dan mengacaukan desa ini??" lanjutnya kemudian.


Altair yang mendengar nya pun menggelengkan kepalanya, " Aku tidak tahu.." tentu saja, karena tidak ada satupun diantara mereka yang mengenal 'seseorang' ini.


" Aku akan membuka pintunya..." saat suara Israhi kemudian mengalihkan perhatian mereka, dia sudah ada didepan sana bersama Yi dan menatap mereka dengan tangan yang menyentuh pintu es itu. " ....Apa kalian siap?" dia bertanya kepada mereka yang masih ada dibelakangnya.


Teman-teman nya pun kemudian menganggukan kepalanya dan bersiap, disaat yang sama.. Israhi juga mendorong pintu dihadapannya itu dengan perlahan.


Pintu es itu perlahan terbuka, dengan suata berat yang terdengar dari es yang tebal itu ketika bergerak. Mereka semua pun mulai melangkah masuk ke wilayah dalam kastil dengan perlahan, dan waspada. Hanya ada es, es dan es dimana-mana.


Es biru dan gradiasi putih serta kepingan salju yang turun dengan samar. Tempat ini bisa jadi sangat indah disaat menyebarkan musim dingin yang sangat dingin ke tempat lain juga.


" Woah... semua es yang berkilau ini terlihat seperti kristal dan permata." ucap Mira ketika melihat sekelilingnya.


" Aku setuju dan juga penasaran... jika musim dinginnya hilang apa es-nya akan mencair??" ucap Yi kemudian menyahutinya.


Mira pun kemudian menoleh kearahnya dan tersenyum dengan ekspresi jahil, " Jika saja tidak, aku akan membawa sebongkah besar untuk dijadikan penyejuk ruangan dikala musim panas datang." ucapnya.


" Guru, bukankah aneh kau membenci musim panas padahal kau sendiri seseorang dengan eleman api??" Altair tidak habis pikir dengan sifat gurunya yang satu ini.


Setiap kali musim panas datang, Mira selalu mengeluh dan berubah jadi tidak terlalu bersemangat. Kalau dia bisa, dia akan mengurung diri dikamar mandi dengan berendam dalam bak mandi penuh air es.


Sayangnya, ternyata bukan hanya Mira yang punya pikiran seperti itu. " Hm... Itu akan bagus untuk menjadi pendingin minuman yang tidak akan rusak." Derrick juga sama.


" Apa kau sudah tidak waras? Bisa saja ada sesuatu dalam es ini." Remilia pun berkata seperti itu dan menatapnya dengan aneh.


Mereka punya dua orang dengan pikiran tidak bisa ditebak sekarang...


Gruooo...


Saat kemudian, perhatian mereka dialihkan karena suara itu.


Monster-monster itu sekarang kembali muncul dan mengelilingi mereka..


" Astaga, dimana mereka bersembunyi sampai kita tidak sadar." gumam Yi ketika melihat semua itu.


Dan Israhi pun menyahutinya, " Kurasa mereka tidak akan menjawab hal itu." ucapnya, ia pun mengangkat pedang ditangannya dan mengarahkan itu kepada monster tak jauh dari tempat mereka.


Groaarr..!!


Para monster itu berteriak keras kearah mereka dan bergegas maju menyerang mereka.


Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menyerang balik dan bertahan.


Altair dan yang lainnya menerobos serangan monster-monster itu dan bergerak maju untuk masuk ke dalam kastil.


Tidak ada banyak kesulitan, kecuali jumlah.


Saat kemudian mereka hampir sampai ke pintu masuk utama, Mira yang berlari paling belakang justru menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang. Kearah para monster yang masih mengejar mereka.


Mira menggenggam pedangnya erat, ketika energi panasnya mengalir dan membuat bilah pedang itu bersinar dalam warna merah. Dan Mira pun mangangkat pedang ditangannya tinggi-tinggi.


" Hiya..!!" dan ia pun mengayunkan nya dengan sebuah hantaman keras.


Duarr...


Sebuah ledakan pun dihasilkan nya, dan itu berhasil melenyapkan sebagian besar monster yang ada didekatnya. Mira menyalakan apinya dengan besar meski ditengah cuaca dingin seperti ini.


" Guru..!!"


Mira menolehkan kepalanya ketika mendengar itu, dan ia melihat muridnya yang manis masih diam menunggunya didepan pintu masuk disana. Dia terlihat cukup khawatir...


Namun Mira yang melihat itu hanya tersenyum kearahnya dan berkata, " Pergilah, aku akan baik-baik saja."


Dia tidak ingin membiarkan orang yang paling penting baginya menghadapi ini sendirian, sementara suara lain berbicara dikepalanya.


['Dasar bodoh! Tinggalkan saja dia dan cepat pergi'!.]


Altair memejamkan matanya ketika suara samar itu muncul diiringi dengan rasa sakit yang menusuk. Altair tidak terlalu mengerti, suara itu tidak jelas dalam ingatannya. Namun Altair memang berpikir kalau dia harus segera pergi...


Saat kemudian, Altair merasakan tangan seseorang dipundaknya, ia pun memalingkan wajahnya melihat siapa itu.


" Masuklah bersama yang lainnya duluan, aku akan membantu gurumu." Derrick bicara kepadanya tentang itu.


Altair tidak bisa terus menolak hal itu, apalagi karena matanya yang sangat serius itu. " ...Baiklah, berhati-hatilah dan segera menyusul kami!." ucapnya pula menyahutinya, dan segera pergi masuk ke dalam.


Disisi lain, Derrick menatap punggungnya yang pergi menjauh selama beberapa saat, baru kemudian ia menutup kembali pintu es itu. Derrick pun kemudian berbalik dan segera berjalan mendekati Mira yang masih melawan monster-monster itu sendirian.


***


Sementara itu yang didalam, mereka berlari terus masuk ke dalam dan menaiki anak tangga untuk sampai ke lantai atas. Ada beberapa makhluk es yang muncul dari lantai es untuk menghalangi perjalanan mereka disana.


Namun semuanya ditembak hancur oleh Aksa bahkan sebelum mereka bisa mengangkat tangan ke arah mereka.


" Woah, tidak ada habisnya! Berapa lama lagi kita harus melakukan ini??" Remilia bertanya-tanya dengan hal ini.


" Entahlah, jaga saja agar dirimu tidak kena serangannya." sahut Israhi kemudian, ketika ia menebas salah satu yang muncul disisi kanannya.


Sementara itu, Yi yang berada paling depan merentangkan tangannya dan menghentikan langkahnya. " Berhenti!." dia kemudian berkata demikian.


Yang lain yang mengikuti pun juga ikut berhenti, ketika sesuatu berwarna putih jatuh dari langit-langit.


Groaa...!


Itu seekor gorila putih, benar-benar seekor gorila. Dia menggeram marah kepada mereka, ia membusungkan dadanya dan memukul-mukulnya untuk menunjukan seberapa besar tubuhnya.


Itu akan terlihat mengerikan bagi orang biasa, seekor monster gorila berada dihadapan mereka dan menganggap mereka sebagai musuh. Sayangnya....


" Lucunya..." bagi Altair yang tidak pernah melihat hal itu justru kebalikannya.


" Altair.." Aksa sampai tidak bisa berkata-kata lagi dengan kelakuannya itu.


Dan itu semakin buruk ketika gorila dihadapan mereka itu mengangkat tangannya yang mengepal tinggi diatas kepalanya dan berniat memukul mereka dengan itu. Itu tangan besar yang sangat keras dan terdapat duri-duri tajam dari es.


" Oh tidak..!!" Remilia terkejut dengan serangan itu, ruang disekitar mereka terbatas.


Altair yang melihat itu juga jadi berekspresi kecewa, " Ah, kutarik kembali ucapanku." ucapnya.


Ia pun kemudian mengangkat kedua tangannya ke atas sana, tidak, bukan untuk membuat penghalang... Melainkan portal dimensi. Tangan gorila itu pun masuk ke dalam portal itu, disaat yang sama.. portal lain muncul dibelakang punggungnya.


Altair membalikan serangan itu hingga akhirnya gorila itu hanya menyerang dirinya sendiri.


Gorila itu pun berteriak keras ketika punggungnya terluka oleh tangannya sendiri, namun Altair tidak memberikannya kesempatan sedikit pun.


Altair mengangkat tombaknya disamping kepalanya, membidik dadanya. Kemudian, Altair pun melemparkannya dengan kekuatan penuh kedada gorila itu.


Tombaknya melesat dengan kecepatan tinggi, ia menembus dada gorila itu dan menancap di dinding atas dibelakang sana. Meninggalkan lubang besar di dadanya, tak lama kemudian.. gorila itu pun jatuh diatas lantai.


Sementara itu, ada sesuatu yang menarik perhatian Altair. Itu adalah serangkai bunga Wallflower yang jatuh dari udara.


Bunga itu pun terus melayang-layang diatas tubuh gorila itu, hingga kemudian ia mendarat diatasnya.


" ....." entah kenapa Altair merasa sangat sedih, seolah ada rasa kesepian yang masuk ke dalam hatinya.


Selama beberapa saat ia diam, dan kemudian ia pun berkata. " ....Yah, dia langsung mati. Kita lanjutkan saja perjalanan nya.." ucap Altair setelah melakukan itu, ia berjalan lebih dulu hendak mengambil kembali tombaknya.


Teman-teman nya yang lain sadar dengan ekspresi suramnya barusan, namun tidak ada yang bisa melakukan apapun, jadi mereka hanya mengangguk setuju dengan perkataannya. Lagipula semakin lama mereka membuang waktu akan semakin buruk, mereka hanya akan membuang tenaga jika seperti itu.


Mereka kembali melanjutkan langkah mereka didalam kastil, hingga kemudian mereka sampai dilantai terakhir. Dihadapan sebuah pintu lain dan Altair pun membukanya.


Hal pertama yang mereka lihat ketika pintu disana terbuka, adalah sebuah aula yang begitu besar. Dengan pilar-pilar yang menopang ruangan tanpa dinding ditempat itu, mereka bisa melihat kemana-mana jika seperti itu.


Dan juga, ini menjadi ruangan dengan udara yang paling dingin dan unik diantara yang lainnya. Dan ada kepingan-kepingan salju yang mengambang diudara, kepingan itu tidak jatuh tapi juga tidak terbang pergi. Itu benar-benar jadi pemandangan indah yang pantas dinikmati jika saja tidak ada bahaya ditempat ini.


" Hahh... Apa dia benar-benar ada disini??" tanya Yi disana.


Altair yang mendengar nya pun kemudian menyahuti. " Dia harusnya disini."


Saat suara lain kemudian terdengar disana, [ 'Selamat datang ditempatku..']


Mendengar suara itu, mereka pun langsung menoleh kearahnya dengan begitu terkejut. Dan dihadapan mereka, tepat diatas sebuah singgasana telah duduk seseorang yang mereka cari sejak awal.


Dalang dari musim dingin ini...