The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Lose in one strike



Peserta telah berkumpul, dan pertandingan siap dimulai. Sementara di tempat khusus yang tidak bisa dilihat orang lain, pemimpin besar Koloseum melihat itu secara langsung. Perhatian nya pun langsung tertuju kepada Altair, yang mana adalah satu-satunya anak perempuan yang berdiri diantara para petarung besar.


Ia begitu terkesan dengan anak yang mempunyai keberanian bersaing dengan para petarung hebat di Koloseum nya.


" Anak itu sangat menarik, siapa dia?" tanyanya kepada seseorang yang ada disampingnya.


" Namanya Altair Drosera, murid dari Mira Marlon. Dia datang kesini bersama dengan gurunya juga komandan pasukan 2 istana, Yin. Dan juga para Pangeran. " ucap orang yang adalah asistennya itu.


" Anak yang akhir-akhir ini dibicarakan para bangsawan ya, anak yang mendapat perlindungan Kaisar. " sahut pemimpin besar Koloseum pula.


" Itu benar. " jawab asistennya.


Itu semakin menarik, apalagi melihat pihak mereka yang masih diam dengan santainya melihat anak itu masuk ke arena.


" Seperti nya adik kecilku menemukan sesuatu yang begitu berharga. " batin pemimpin yang kemudian tersenyum dengan misterius.


Sementara itu diarena, semua telah siap dan memenuhi aturan. Mereka telah diperiksa satu persatu untuk memastikan tidak ada yang membawa senjata, bagitu pula Altair.


Kemudian diatas sana, seseorang keluar dan mengangkat tangannya....


" Para peserta siap... " ucapnya dengan lantang, " ....Mulai pertarungan nya!." lanjutnya pula.


Para petarung di Koloseum pun mulai bertarung satu sama lain, mereka menggunakan kesempatan pemeriksaan untuk menilai besar tidaknya kekuatan seseorang dan menargetkan orang yang telah mereka nilai untuk disingkirkan. Hampir semuanya melakukan hal itu, ada juga yang memilih menghemat tenaga dengan membiarkan apa yang terjadi dan tidak menyerang.


Sementara itu, Altair yang berdiri ditengah-tengah hanya diam melihat itu semua. Ia hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal, tidak ada siapapun yang berusaha menyerangnya.


" Mereka masih meremehkanku, ya??" ucap batinnya, ia juga menyadari hal itu.


Mereka begitu percaya diri dengan kekuatan mereka dan meremehkan Altair hanya karena dia menyembunyikan kekuatan nya.


" Haahh... Aku tidak suka disingkirkan seperti ini. " gumam Altair bosan.


Saat kemudian ia pun melompat tinggi keatas, menarik semua perhatian kepada dirinya. Bahkan sebagian petarung berhenti melihat hal itu, saat ia kemudian kembali meluncur ke bawah, Altair mengepalkan tangannya dengan erat dan dengan satu pukulan...


" Terima ini!!"


Brakk!! Krakk...!


" Kuakk!!"


" Hah?!!!"


Seluruh arena itu langsung hancur dibuatnya, membuat semua penonton tercengang melihat hal itu. Dia menyingkirkan begitu banyak peserta hanya dalam sekali pukulan, mereka tidak percaya kalau dia adalah anak yang di remehkan sebelumnya.


Disisi lain, Yin dan para Pangeran hanya bisa tertawa melihat itu...


" Khihihi..."


" Hahaha.. Akhirnya mereka merasakannya. " ucap Yin.


" Altair terlalu berlebihan. " bahkan Theodore merasa seperti itu.


Meski begitu pertarungan belum berakhir, orang-orang yang mulai menyadari kekuatan asli Altair satu demi satu mulai menyerang nya. Namun sayang sekali, mereka semua dilempar keluar arena hanya dengan sekali pukul.


Altair memiliki tubuh yang fleksibel dan tenaga yang lebih kuat dari kelihatan nya, mereka yang tidak menyadari kelebihan itu sudah pasti merasa menyesal sekarang. Altair langsung mendominasi pertarungan dalam waktu yang singkat.


Dan beberapa menit kemudian, semua orang yang ada diarena telah terkapar tidak berdaya, beberapa bahkan keluar dari arena dengan senang hati setelah melihat kebrutalan disana, kecuali Altair yang jadi dalang hal itu terjadi. Semua terdiam, bahkan wasit yang melihat pertandingan itu tidak bisa mempercayai apa yang dilihat matanya.


" Pe-Pertarungannya telah berakhir! Pemenangnya adalah Altair Drosera!!" ucap wasit setelah ia sadar dari keterkejutan nya.


" Wo.. Woaaahh!!!..." Dan arena pun sekali lagi bergetar karena teriakan penonton.


" Dia hebat sekali."


" Siapa dia yang sebenarnya?"


" Sepertinya aku jatuh cinta!"


Pujian demi pujian pun datang satu persatu, sementara dibawah sana Altair yang mendengar semua itu hanya memasang wajah lelah dan tidak suka. Saat perhatian nya teralihkan kepada wanita yang bekerja di Koloseum yang menunjukan jalan padanya...


" Permisi, Nona Altair. Kesebelah sini. " ucapnya.


Altair hanya mengangguk dan berjalan mengikuti wanita itu, disaat yang sama ketika Yin dan Para Pangeran melihat itu. Mereka saling pandang dan mengangguk satu sama lain kemudian bangkit berdiri dan pergi dari sana.


Dan disisi Mira, ia yang masih berkumpul dengan orang-orang yang membuat taruhan dengannya. Mereka kelihatan masih sangat syok, sementara Mira menjarah semua uang milik mereka.


" Oke, semua ini M.I.L.I.K.K.U." ucapnya dengan ekspresi sangat puas.


Beberapa saat yang lalu ia mempertaruhkan semua uang bahkan pedang besar miliknya demi Altair, dan saat dia menang, dia mendapat lebih banyak. Mira berjalan pergi sambil tertawa bahagia karena kemanangan itu. (Ya, sepertinya dia dari awal sengaja melakukan itu)


****


Di tempat Altair saat ini, ia sedang menunggu kedatangan pemimpin besar Koloseum diruang tunggu yang disiapkan. Ruangannya sangat besar dan mewah, lebih dari yang ia duga. Altair jadi berpikir... ruangan itu mirip dengan kamarnya diistana daripada ruang tunggu.


" Hm... Aku penasaran seberapa kaya pemimpin Koloseum??" Altair sangat penasaran dengan hal itu. (Yang pasti tidak sekaya dirinya)


Ia terlalu fokus dengan apa yang ia pikirkan, sampai tidak menyadari kalau orang yang ia tunggu sudah ada dibelakang nya saat ini.


" Aku sedang berpikir seberapa kayanya anda. " jawab Altair pula blak-blakan, ia bahkan tidak menunjukan raut wajah terkejut, saat kemudian ia pun menoleh. " Ngomong-ngomong, anda terlalu dekat. " ucapnya dengan wajah datar.


Pemimpin Koloseum hanya tersenyum dan menaikan alisnya mendengar itu, kemudian ia pun menegakan posisinya dan sedikit menjauh dari Altair.


Altair pun juga berbalik menghadapnya, didepannya saat ini... berdiri seorang pria tinggi, berambut pirang dengan telinga runcing.


" Dia seorang Elf." batin Altair sedikit terpukau dengan itu, ini pertama kalinya dia melihat seorang Elf secara langsung.


Mirion yang melihat itu pun menyipitkan matanya, " Mengejutkan melihat kau bersikap biasa saja saat melihat seorang Elf didepanmu. " ucap Pemimpin Koloseum, Mirion.


" Yang saya tahu, dibenua ini tinggal berbagai makhluk termasuk Elf, Dwarf, Monster, Iblis, Animal Spirit bahkan Naga. Mengapa saya harus terkejut melihat seorang Elf didepan mata saya? Meskipun tentu saja... saya penasaran kenapa anda bisa ada disini, karena dari yang saya ketahui, Elf tidak terlalu suka berada didekat manusia. " jawab Altair dengan sangat tenang.


Dan itu semakin menarik dimata Mirion, " Anak yang pintar. Duduklah, bukankah tidak nyaman jika kita terus berdiri. " ucapnya mempersilahkan.


Akhirnya keduanya pun duduk bersama dan saling berhadapan satu sama lain, diatas meja pun sudah tersaji teh dan cemilan yang diperuntukan untuk mereka.


" Ini hadiah kemananganmu. " Mirion memberikan sebuah kotak panjang kepada Altair.


Altair yang melihat nya pun jadi penasaran, dan ia membukanya. Isinya adalah sebuah busur panah yang terlihat cantik dan juga beberapa anak panahnya. Busur dan anak panah itu memiliki kombinasi warna hijau dan emas yang benar-benar menarik.


" Keren. Dari mana anda mendapatkan banda ini?? " tanya Altair yang kelihatan benar-benar senang dengan hadiahnya itu.


" Desa Elf. Itu adalah senjata asli yang dibuat disana, dan yang paling berharga. Busurnya terbuat dari cabang pohon kehidupan, lebih kuat bahkan dari baja dan bisa menahan beban sampai 500 ton. Tali busurnya adalah tali yang dibuat oleh para peri, tidak mudah putus dan lentur. Dan panah sihir yang bisa kau atur sendiri, jadi kau tidak akan kehilangan atau kehabisan. " jelas Mirion dengan detail.


Altair terkesima mendengar itu, senjata yang dihadiahkan oleh Mirion adalah senjata yang benar-benar sangat berharga. Bahkan hampir tidak mungkin mendapatkan nya jika bukan para Elf yang membuatnya, bahan-bahan pembuatannya juga sangat sulit didapat.


Disaat yang sama, Altair merasa Mirion masih punya hal lain yang ingin ia katakan. Jadi ia pun menaruh kembali busur itu dan menatapnya dengan serius.


Mirion juga sadar dengan maksud nya, " Aku penasaran dengan mu. " ucap nya langsung pada intinya.


" Kalau begitu teruslah penasaran sampai anda mati. " jawab Altair pula agak sarkas.


" Kau cukup kasar. "


" Guru bilang jangan memberitahukan informasi pribadi kepada orang sembarangan. "


" Sepertinya kau dan gurumu cukup akrab. "


" Guru sering memukulku jika melakukan kesalahan, tapi dia mudah disogok dengan uang dan alkohol. "


Entah kenapa obrolan mereka saat ini malah jadi tidak jelas, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertandingan yang baru saja terjadi. Pemimpin Koloseum bahkan kelihatan penasaran dengan Mira, itulah yang Altair simpulkan.


" Dia sama sekali tidak berubah. " ucap Mirion pula.


Mendengar ucapan itu, Altair jadi sadar akan sesuatu...


" Anda mengenal guruku??" tanya Altair padanya.


" Iya.. " sahut Mirion, ia pun kemudian mengambil cangkir teh yang ada dihadapan nya. " ..Dia masih menjadi anak nakal yang seenaknya sendiri sejak menginjak usia dewasa. " lanjutnya pula yang kemudian menyeruput teh itu sambil mengerutkan keningnya.


Meski begitu, Altair tidak merasa kalau dia kesal atau merendahkan. Justru dia terlihat khawatir...


Altair tidak mengerti apa yang terjadi antara mereka, tapi ia tahu situasi apa yang terjadi sekarang. Saat...


Brakk!!


" Oi! Apa yang kau katakan pada muridku!!." Mira berteriak dengan begitu kesal ketika baru saja menendang pintu, Altair cukup terkejut dengan hal itu.


Disisi lain, Mirion menunjukan wajah risih melihat tingkahnya. " Jadilah perempuan anggun, Mira. Dan dimana sopan santunmu??" ucapnya menyahuti Mira yang berjalan kearahnya dengan wajah menyeramkan. Sementara Altair memilih diam tidak ikut campur.


" Sudah kurebus dan kumakan! " jawab Mira, saat ia kemudian menarik pakaian Mirion dengan kasar. " Katakan padaku apa yang kau katakan kepada Altair??" tanya nya lagi tepat dihadapan Mirion.


" Aku tidak mengatakan apapun, yah.. belum. " jawab Mirion pula dengan wajah malas.


Setelah mendengar itu, Mira pun langsung melepaskannya. Akan tetapi tatapan kesal tak hilang dari wajahnya.


" Jadi... hadiah apa kau berikan padanya? Pastikan kalau itu bukan benda yang jelek. " ucap Mira sambil melipat kedua tangannya didepan dada.


" Coba sapa aku, Mira. Katakan 'Hai, kakak.' kita kan sudah lama gak bertemu seperti ini. Kau lebih manis saat masih kecil. " ucap Mirion pula, sementara Mira hanya memutar bola matanya malas.


Sementara Altair, " Aku tidak tahu Guru punya seorang kakak??" ucapnya yang membuat Mira menoleh terkejut.


Altair juga sadar, hubungan mereka berdua tidak buruk seperti kelihatannya, Mira hanya tidak mau jujur dengan perasaan nya sekarang. Atau mungkin karena Mira mau menyembunyikan fakta kalau dia punya kakak dari yang lain. Tapi ada sesuatu yang membuatnya sedih...


" Kuharap aku juga punya kakak... " ucap Altair yang tiba-tiba murung, dan itu membuat Mira kaget, bahkan Mirion yang mendengar nya pun ikutan kaget.


Mira pun buru-buru mendekatinya dan berusaha menenangkan Altair. " Ah, jangan begitu. Jika kau mau seorang kakak, kau bisa mendapatkan nya kok. " ucap Mira padanya.


" Apa..?" tanya Altair pula bingung.


" Eh?" bahkan Mira bingung sendiri dengan apa yang dia katakan.


Dan Mirion yang hanya menghela nafas melihat itu. " Dasar bodoh, kenapa kau mengatakan hal seperti itu padanya?" tanyanya agak kesal kepada Mira. Tapi Mira juga bingung dengan apa yang terjadi.


Butuh waktu cukup lama untuk membujuk Altair, bahkan dengan bantuan Mirion. Sampai akhirnya Yin dan para Pangeran pun datang dan ikut membujuknya. Altair baru teralihkan soal masalah 'kakak' ketika Mirion mengajarinya cara menggunakan panah dan busur yang ia dapatkan darinya. Setelah Altair lebih baik baru mereka pulang.