The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Phoenix



Altair berjalan kedepan tanpa halangan, saat kemudian ia sampai tepat didepan pria bertubuh besar itu. Altair bisa melihatnya, para bandit itu tersenyum penuh kemenangan berpikir dia telah menyerah setelah menyadari situasi.


Altair pun sedikit melirik arah dimana Ian dan Nox masih siaga ditempat mereka, menunggu sinyal darinya dengan tenang. Kemudian perhatiannya pun kembali kepada orang dihadapannya...


" Benar, seperti itu. Kau seharusnya menjadi perempuan yang penurut." laki-laki yang sebelumnya itu kini telah berdiri tak jauh dibelakang pria berbadan besar itu.


Sementara Altair... wajahnya yang sebelumnya biasa-biasa saja, mulai berubah jadi dingin.


" ....Aku akan bertanya sekali lagi.." Altair kembali bersuara. " Dimana... Brown?" ucapnya menatap mereka tajam.


" Dan sudah kubilang jangan bertingkah sombong disini!."


Pria bertubuh besar itu berteriak dan mengerahkan kepalan tangan kearah Altair, itu adalah sebuah tinju dengan kekuatan yang cukup besar. Seharusnya itu cukup untuk menghancurkan sebuah batu sebesar kereta kuda.


Dan untuk ukuran gadis kecil didepan mereka, itu mungkin akan menjadi luka parah, setidaknya dia tidak akan mati. Itulah yang mereka pikirkan...


Tapi...


Seketika mata mereka membulat tidak percaya ketika melihat apa yang terjadi. Tidak ada apapun.


Benar, tidak ada apapun yang terjadi.


Ketika tangan laki-laki itu terarah kepadanya, tangan kiri Altair pun terangkat dan menyentuh kepalan tangan laki-laki itu dengan sangat lembut dan halus. Dia bahkan tidak terdorong mundur sama sekali. Dan itu membuat orang-orang kaget dan terheran-heran.


Termasuk untuk laki-laki itu sendiri, " Ba-bagaimana bisa..??" dia tidak percaya dengan apa yang terjadi.


Disisi lain, Altair kemudian sedikit menggeser posisinya menjadi miring. " Entahlah..." ucapnya, saat ia pun menarik tangan kanannya ke dalam pinggang dan mengepalkannya. "....Menurutmu bagaimana?" lanjutnya pula.


Disaat yang sama, ia pun juga mengarahkan pukulan kearah laki-laki itu. Dia yang melihat itu berusaha menahan serangan Altair, berpikir satu tangan saja sudah cukup ketika tangannya yang lain masih dipegang Altair. Laki-laki itu percaya diri kalau serangan Altair tidak akan sekuat itu, saat....


Pssukk..!


" Urkk... Khukk..!"


Orang-orang langsung terdiam kaku ditempat mereka melihat itu. Altair... tangannya baru saja menembus tubuh laki-laki besar itu dengan mudahnya.


" Ka..Kau.."


Laki-laki itu menahan sakit dari luka ditubuhnya, sementara Altair tetap diam dan menatapnya tanpa ekspresi. Saat kemudian ia pun menarik tangannya keluar dari tubuh pria itu, membuat laki-laki itu langsung jatuh dilututnya.


Darah berwarna merah gelap mengucur turun, baik itu dari luka yang diderita laki-laki itu, ataupun tangan kanan Altair yang berlumuran darahnya.


Tapi Altair tidak selesai sampai disana, ia juga kembali mengayunkan tangannya, dan sesaat kemudian.... Kepala laki-laki itu jatuh ditanah. Altair melenyapkan salah satu diantara mereka hanya dengan tangan kosong.


" Perempuan sialan!"


" Serang dia!"


...Dan itu langsung menarik amarah orang-orang itu. Mereka mengangkat senjata masing-masing dan mulai menyerang, tidak.. mereka tentu saja tidak melawannya satu-satu. Tapi langsung menyerbu bersama-sama kearah Altair dengan segenap kekuatan mereka.


Sementara itu para perempuan yang melihat kejadian itu masih terdiam ditempat mereka karena keterkejutan itu. Dan untuk sisanya...


" Itu tandanya! Nox, ayo turun dan amankan para tahanan."


" Ya!"


Nox dan Ian langsung bergerak sesuai yang diinginkan oleh Altair, mereka memanfaatkan keributan dan semua perhatian orang-orang yang tertuju kepada Altair untuk menarik para perempuan menjauh ke jarak yang aman.


***


Sementara ditengah keheningan malam dikota, Mira dan yang lain masih terjaga ketika malam semakin larut. Tidak banyak penjaga saat ini, dikondisi Derrick yang saat ini lemah, mereka harus selalu waspada dengan semua kemungkinan. Mungkin saja mereka tidak akan bisa tidur malam ini.


Kenapa mereka begitu peduli? Entahlah, mungkin karena Altair peduli. Entah sejak kapan, tapi dia telah menjadi sosok penting dalam kelompok ini. Mereka ingin mengabulkan keinginanya untuk menyelamatkan nyawa orang lain.


Gluduk...Gluduk...


Tes.. Tes.. Zrasshhh...


Sementara diluar sana, air perlahan turun dari langit dan semakin deras setiap detiknya. Ini benar-benar akan jadi malam yang dingin...


" Haa... Aku tidak suka dengan suasana lembab saat hujan." Yi menatap jendela dengan ekspresi mengeluh.


Dan Mira yang duduk dihadapannya tertawa ringan, " Hahaha... Seekor Phoenix dan hujan memang tidak akur, ya." ucapnya menimpali kata-kata itu.


Ucapannya itu membuat Yi terdiam untuk beberapa saat, tapi kemudian ia tersenyum dan menganggukan kepalanya.


" Yeah, aku sama sekali tidak bisa mengelabui mata dari ketua pasukan kekaisaran ya." ucap Yi menimpali.


" Bukankah itu artinya kau juga tahu identitas Israhi?" tanyanya pula. Dan itu juga menarik perhatian Israhi yang sedari tadi duduk diam diantara mereka.


" Iya, aku tahu." jawab Mira, kemudian ia pun menatap Israhi. " ...Iblis dunia bawah." lanjutnya pula.



Burung api legendaris yang memiliki penampilan menawan, dengan bulu merah dan keemasan. Salah satu makhluk yang menjadi simbol keabadian dan kelahiran kembali. Dimana setelah ia hidup dalam waktu yang lama, burung Phoenix membakar dirinya sendiri. Dan setelah itu, dari abunya, munculah burung Phoenix muda.


Itu menjadi siklus hidup yang mirip dengan renkarnasi, dimana seseorang bangkit kembali setelah mati, lalu muncul sebagai sosok yang baru.


Dibenua ini, orang-orang percaya Phoenix lahir dari api murni diperut bumi. Tepatnya disebuah gunung api terpanas dibenua, yang juga dinamai dari nama burung tersebut, gunung Phoenix. Itu adalah nama pegunungan api yang selalu aktif sepanjang tahun dan terus menyemburkan lahar panas kesekelilingnya.


Orang-orang percaya kalau itu adalah rumah dan tempat kelahiran para Phoenix. Itu diperkuat dengan kemunculan Phoenix yang hanya ada ditempat tersebut.


Menurut cerita yang telah mengakar dimasyarakat benua ini, Phoenix lahir dengan bentuk bola jiwa di tengah gejolak lahar diperut bumi selama seribu tahun. Lalu suatu hari, Dewa api yang tertarik dengan keunikan dari jiwanya, akhirnya memberinya tubuh fisik. Dia pun lahir sebagai burung yang sangat cantik.


Dan karena kecantikan nya itu, kemudian Dewa api pun mempersembahkan nya kepada Dewi tengah, ibu dari dunia tengah.


Dan burung itu berhasil membuat Dewi tengah tertarik dengan keindahannya. Disamping itu, karena esensi jiwanya berasal dari api, Phoenix diberkati oleh api. Phoenix menjadi simbol api yang tidak pernah padam, Sang Dewi pun mengangkatnya menjadi burung suci, yang diberkati oleh kehidupan abadi.


Butuh waktu 5000 tahun bagi Phoenix murni untuk membentuk jiwa dan lahir. Lalu Phoenix yang baru lahir dari api murni itu butuh waktu seribu tahun untuk mendapatkan tubuh fisik. Seribu tahun kemudian, mereka bisa mengubah bentuk mereka kebentuk lain.


Dan saat ini, dihadapan Mira. Yi menjadi satu-satunya burung suci legendaris yang ada didunia saat ini, juga satu-satunya Phoenix... yang telah mencapai tahap Humanisasi setelah 20.000 tahun.


" Kupikir mereka telah punah 15.400 tahun yang lalu, sungguh mengejutkan mengetahui fakta bahwa aku sedang duduk berhadapan dengan Phoenix saat ini." ucap Mira yang kemudian menopang dagunya diatas meja.


Seperti yang ia katakan. Phoenix terancam punah, itu karena keabadiannya. Orang-orang percaya kalau air mata Phoenix bisa menyembuhkan segala penyakit, dan darahnya bisa memberikan keabadian. Karena itulah mereka diburu dan dibunuh.


Yi yang mendengarnya pun mengangguk setuju, keserakahan manusia tidak ada habisnya. Hanya sebagian saja dari mereka yang benar-benar memiliki hati yang murni...


" Kau benar, aku juga terkejut. Aku yakin aku juga sudah mati diburu dirumahku, tapi kemudian aku membuka mataku lagi dalam wujud yang baru. Dan saat itulah aku bertemu dengan Israhi..."


" Mendengar itu darimu, mungkin saja Phoenix baru juga akan segera lahir diperut bumi."


" Entahlah. Itu cerita dari 4000 tahun yang lalu, tapi masih belum ada satu anak pun yang menghubungiku."


Yi dan Mira mengobrolkan banyak hal disana, membahas hal luas dari yang serius sampai ke hal-hal remeh yang biasanya terjadi disekitar mereka.


Saat dari luar sana, sebuah cahaya bergerak maju mendekati tempat mereka, seekor burung cahaya terbang melintasi hujan dan masuk melalui jendela yang terbuka. Itu tentu saja menarik perhatian orang-orang disana, dan burung itu pun berhenti didekat Mira.


" Lumine? Kupikir kau bersama dengan Altair." Mira yang pertama bicara kepada burung emas dihadapannya itu.


Benar, itu adalah Lumine. Bola dari roh cahaya yang tinggal ditubuh Altair, dan itu adalah tubuh fisiknya.


[Menjawab. Master mengirim saya ke istana untuk menanyakan hasil introgasi.]


" Tunggu. Dia bisa bicara, apa dia seekor animal spirit?" Israhi yang sebelumnya diam saja pun akhirnya mengeluarkan suara dan bertanya mengenai apa yang ada dihadapannya.


Mira yang mendengarnya pun menggelangkan kepalanya, " Bukan. Lumine adalah roh cahaya yang ditugaskan untuk melindungi Altair." jawabnya.


" Kenapa?" Yi pun ikut bertanya alasannya.


" Karena dia sangat berharga."


Mira menundukan kepalanya dengan ekspresi sedikit murung, ia ingat pertama kali Altair menunjukan Lumine kepadanya. Dia sangat terkejut karena ada roh cahaya tingkat tinggi yang selalu bersama Altair selama ini, tapi dia juga lega. Itu Artinya.. Altair tidak pernah sendirian.


Disisi lain dia juga jadi sadar... Betapa pentingnya sosok Altair bagi dunia ini.


" Ngomong-ngomong, kau bilang sudah ada hasil dari introgasinya. Informasi apa yang kita peroleh dari orang itu??" Mira pun mengalihkan percakapan dari suasana dingin yang tiba-tiba melanda.


[Orang yang sebelumnya ditangkap hanya berpangkat biasa, namun kita bisa menemukan salah satu markas mereka dipedalaman hutan agung York.]


" Orang-orang itu berbuat kejahatan diatas teritori penguasa hutan. Apa tidak ada tindakan dari para Spirit Guardian?"


[Sejauh ini, hubungan world borders dengan dunia luar telah terputus 11 tahun yang lalu.]


" Itu artinya saat Altair berusia 6-7 tahun..." Mira memikirkan itu dengan seksama, tidak ada alasan untuk memutuskan hubungan disaat semuanya seperti ini. Akan tetapi...." Apa mereka sedang menjaga jarak atau menghindar...??"


Mira memikirkan kemungkinan terburuk diatas segalanya...


" Apa ini ada hubungan nya dengan hilangnya Ratu dan Kaisar terdahulu Foldes?" Israhi yang peka dengan itu mengambil kesimpulan yang tepat.


" Mungkin. Tidak ada yang tahu apa alasan pastinya, bahkan orang-orang di istana. Bagaimana dengan hubungan Phoenix dengan dewi?" Itu sedikit harapan, karena burung suci adalah favorite dewa. Dan Ratu Foldes adalah dewi baru yang kembali, keduanya harusnya saling terhubung.


" Tidak ada. Aku tidak bisa merasakan ikatan itu lagi sejak lama."


Mira tidak yakin... Apakah itu hal buruk atau hanya sebuah kebetulan. Saat situasinya semakin rumit, kemungkinan orang-orang yang menyembah bencana dan ramalan yang mulai mendekat...


" Apa kami bisa bertahan ditengah semua ini..??"


Kriett...


Mira, Israhi dan Yi mendengar suara derit pintu ditempat itu, dan langsung menoleh dengan cepat dan waspada...