
Diperpustakaan istana, sudah sejak beberapa minggu lalu dia memulai kelas yang diajari oleh Yin dan Mira, terkadang juga mereka bertengkar memperebutkannya saat memulai kelas. Kadang setiap hari dia jadi sibuk dengan kelas ini dan itu, tak jarang juga Kaisar memanggilnya hanya untuk menemani minum teh dan mengobrol. Altair jadi benar-benar merasa seperti Tuan Putri yang sibuk.
Tapi kali ini dia punya waktu luang, dia masih tertarik dengan buku tentang Raja Naga itu. Altair bertanya-tanya apakah ada buku sejenis dengan itu yang bisa ia temukan diperpustakaan, jadi dia pun mencarinya sejak tadi.
" Haah... Dimana sih. Apakah tidak ada buku seperti ini lagi?? " gumam Altair.
Altair sangat lelah mencarinya. Saat kemudian perhatian nya teralihkan kepada Zico, dia kelihatan sangat penasaran dengan bola benang. Altair tertawa melihat nya seperti itu, dia malah jadi penasaran... Zico itu sebenernya Naga atau Kucing??
" Ah, Zico tunggu! Jangan pergi jauh dariku! " panggil Altair ketika melihat Zico yang pergi menjauh darinya ketika mengejar bola benang yang menggelinding dilantai.
Altair pun segera bangkit berdiri dan ikut pergi mengusulnya. Zico berhenti ketika dirinya berhasil mendapatkan bola benang itu, dan ketika itu Altair pun langsung mengangkatnya dan menaruh Zico dipelukannya.
" Ya ampun, Zico. Jangan berkeliaran seperti itu disini. Bagaimana jika nanti nya aku kehilangan mu?? " ucap Altair.
Kyuu...
" Aku tahu, aku tahu. Tapi tidak akan lucu jika kau benar-benar hilang, apalagi sampai ditangkap orang jahat nanti nya. " ucap Altair lagi.
Zico nampaknya bosan dengan ceramahan Altair tentang dirinya yang mungkin hilang, dia malah tertarik kepada sebuah simbol rahasia yang memancarkan aura yang ia kenal. Zico pun berusaha untuk mencapai simbol itu, tapi Altair berdiri terlalu jauh darinya.
Dan apa yang di lakukan oleh Zico itu menarik perhatian Altair..
" Ada apa, Zico?? Kau menemukan apa?? " tanya Altair.
Zico pun menunjuk simbol rahasia itu, membuat Altair menyipitkan matanya agar bisa melihat dengan lebih jelas. Itu simbol sebuah pohon yang terlihat rindang dan besar, karena jika dilihat lebih jelas.. ada orang-orang yang terlihat kecil juga disimbol itu.
" Kau ingin ini?? " tanya Altair pula yang kemudian menekan simbol itu yang rupanya adalah sebuah tombol. " Hah?! Ada apa ini?? " ucap Altair ketika dirinya tiba-tiba dikelilingi oleh sebuah lingkaran sihir.
Lingkaran sihir itu bersinar dengan sangat terang hingga membuat Altair tidak bisa melihat apapun, dan ketika ia membuka matanya kembali... dia sudah berada disebuah tempat yang berbeda. Atau lebih tepatnya sebuah hutan yang tidak ia ketahui.
" Whoa... Zico, apakah kau tahu dimana tempat yang memiliki hutan seindah ini?? " tanya Altair yang terpukau dengan apa yang dilihatnya.
Kyuu...
Tapi Zico malah melompat turun dari tangan Altair, dia pun menoleh kearah Altair dan menganggukan kepalanya. Seperti nya dia ingin menunjukan jalan, terlihat dari dia yang langsung berjalan seolah tahu dimana mereka sekarang.
Melihat itu, Altair pun hanya memiringkan kepalanya, kemudian mengikutinya masuk lebih dalam ke hutan itu. Begitu banyak hal yang belum pernah dilihat oleh Altair, bahkan ada beberapa peri yang beterbangan disekitarnya dengan bebas. Altair meresa kalau tempat itu sangat tidak asing, sampai kemudian mereka pun sampai didepan sebuah pohon.
Pohon willow besar yang menjulang tinggi kelangit dan bersinar dengan begitu menyilaukan, juga batang pohon dan dedaunan nya yang memiliki warna emas yang tidak bisa. Pohon itu bergoyang ketika diterpa oleh angin, berdesir seolah memanggilnya.
Altair pun berjalan lebih dekat dengan pohon yang memukau itu, ia mengulurkan tangan kearah nya. Dan ketika tangan nya itu menyentuh pohon tersebut, Altair melihat... siluet seorang perempuan yang sedang menangis dibawah pohon itu. Suaranya tidak terdengar, tapi kelihatannya sangat memilukan.
" Altair. "
" Ah!.. "
Altair menghela nafas lega karena dia bukan penyusup, " Apa ada yang bisa saya bantu, Pangeran?? " tanya Altair yang segera mendapatkan kembali ketenangannya dan tersenyum dengan lembut.
Pangeran Theodore terlihat agak ragu untuk mengungkapkan pikirannya, sampai kemudian ia berkata. " Tidak.... Hanya saja, sebelum nya kau terus menatap dinding dan sama sekali tidak berkedip. Apa yang terjadi padamu?? " tanya balik Theodore.
" Hah?? Ah, hahaha... Itu.. Sepertinya tadi saya berhalusinasi... Mungkin.. " ucap Altair sambil tersenyum kikuk.
" Tapi aneh sekali ya... " ucap Theodore pula yang tiba-tiba mendekatkan wajahnya hingga membuat Altair terkejut karena nya, " Tadi sepertinya aku melihat warna matamu itu berwarna hijau... Apa cuma perasaan ku saja?? " ucap nya pula.
" I-Iya, mungkin itu hanya perasaan anda saja haha... " jawab Altair. Sementara itu isi hatinya... " Gawat!! Pangeran tidak lihat kan?? Dia tidak curiga kan?? Kenapa kau tidak memberitahuku kalau Pangeran datang Kak Lumine!! " ucap batinnya.
[Andalah yang bilang tidak perlu melaporkan hal sepele.]
" Kenapa kau jadi kedengaran cuek begitu?!! "
[Itu hanya perasaan anda saja.]
" Aaahh!! "
Sementara Altair berdebat dengan Lumine dalam batinnya, dia masih gugup karena Theodore belum juga berhenti menatapnya. Disisi lain dia juga masih tidak bisa melupakan bayangan yang ia lihat, dan siapakah siluet perempuan yang ia lihat itu.
Sementara Zico yang kini ada diatas meja malah dengan santainya tidur tanpa melakukan apapun untuk membantunya. Theodore sendiri memperhatikan juga karena curiga, tapi kemudian perhatian nya melah teralihkan kepada sebuah buku yang dipeluk Altair sedari tadi.
" Altair, buku apa itu?? "
" Buku?? Hah?! Sejak kapan aku memegang buku?! " teriak Altair saking terkejut nya.
Theodore jadi bingung karena Altair sendiri terkejut dengan itu, bukanlah seharusnya Altair tidak terkejut karena dia sendiri yang memegang buku itu. Tapi yang menarik.... Adalah karena buku yang dipegang oleh Altair itu memiliki penulisan dari bahasa yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
" Apa kau bisa membaca buku ini?? " tanya Theodore pula.
" Hm?? Iyah, begitulah. Judul bukunya itu adalah Tearsnano, tunggu.... Jangan bilang kalau anda juga tidak bisa membacanya. " sahut Altair.
" Itu bukan bahasa yang diajarkan di Kekaisaran, aku bahkan ragu kalau ada tempat yang menggunakan bahasa seperti ini. Mungkin ini adalah salah satu bahasa kuno yang tidak pernah dipelajari sebelumnya. "
" Kalau begitu kenapa saya bisa membacanya, apakah mungkin saya adalah makhluk asing dari dunia lain?? "
Altair mengatakan itu karena merasa aneh pada dirinya sendiri, karena dia bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang lain. Apalagi sampai dia bisa membaca buku-buku itu, dan bicara dengan hewan. Sedangkan bagi Theodore, melihat Altair yang kebingungan sendiri itu terlihat cukup lucu.
" Kalau begitu bagaimana jika kau membacakannya untuk ku juga?? Aku jadi penasaran juga dengan isi buku itu. " ucap Theodore sambil tersenyum cerah.
Altair menutupi setengah wajahnya yang merona karena Theodore itu dengan buku, kemudian dia pun menjawab. " Hm... Boleh saja, kalau anda tidak keberatan... " ucap nya agak pelan dan memalingkan matanya.
" Bagus, kalau begitu ayo duduk dan ceritakan isinya padaku. " ajak Theodore yang langsung menarik Altair ke sebuah meja yang ada disana. Mereka pun duduk bersama disana, ketika Altair bersiap-siap untuk membaca buku yang ada ditangannya itu.