The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Winter village



Karena cuaca anah yang tiba-tiba terjadi, Israhi dan yang lainnya pun bergegas pergi ke desa yang mereka tuju dengan kecepatan penuh. Akan lebih baik mereka menemukan tempat hangat lebih dulu sebelum salju mulai turun dengan lebat dan membekukan mereka.


Tak berapa lama kemudian, mereka tiba di desa tersebut, namun ada yang aneh. Desa itu ditutupi oleh hamparan salju putih dan es disetiap sudutnya, padahal sekarang adalah musim panas. Ini benar-benar tidak normal.


Kelompok mereka pun berhenti sejenak untuk mencari tempat beristirahat, dan melihat-lihat sekitaran desa itu.


" Brr... dingin. Kenapa ada salju di tempat seperti ini??" ucap Aksa ketika memeluk dirinya sendiri yang menggigil kedinginan disana.


" Ini aneh. Aku yakin ini bukanlah lokasi dimana salju biasa turun sepanjang waktu, dan juga... Ini itu pertengahan musim panas, kok bisa ya??" gumam Yi ketika melihat semua itu.


" Aku merasakan energi aneh disekitar sini, sesuatu... yang tidak pernah kurasakan sebelum nya. Sesuatu yang.... buruk." sahut Israhi kemudian.


Hal itu membuat yang lainnya yang mendengar nya jadi bingung, mereka tidak bisa merasakan apapun selain rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Tapi mereka jadi khawatir dengan hal itu, energi yang hanya bisa dirasakan oleh Israhi... biasanya adalah sesuatu yang buruk.


Sementara itu Altair, dia tidak terlalu memikirkan hal itu. Dia justru lebih fokus kepada salju-salju yang turun menimpanya. Ini bukan pertama kalinya dia melihat salju, tapi... dia merasa ada yang memanggilnya lewat salju-salju itu.


Karena itu, Altair memilih diam menutup kedua matanya, dan membiarkan mereka menghujaninya...


< Kemari... Kemari... Datanglah... >


Suara-suara halus yang nyaris tidak bisa didengar, terdengar ditelinganya melalui kepingan-kepingan salju itu.


" Siapa? Siapa itu..??"


Altair tidak mengenalinya, namun itu terasa cukup familiar. Rasa dingin tidak terlalu mengganggunya, tapi orang atau... sesuatu yang memanggilnya itu membuatnya penasaran.


Saat tanpa ia sadari, kedua matanya telah terbuka lebar dengan warna merah yang samar...


[" Ah.... Dia ada disini. Diriku yang lain..."]


Itu bukan dirinya..


" Altair."


Altair terperanjat ketika mendengar namanya dipanggil Israhi dibelakang nya, ia pun kemudian berbalik menatap dengan biasa, bahkan warna matanya telah kembali seperti sebelumnya.


" Hmm...??" bahkan Altair mungkin tidak mengingat apa yang baru saja terjadi.


" Altair, ayo kita pergi. Yi menemukan penginapan yang bisa kita tinggali disini. Seperti nya salju juga akan terus turun dengan lebat sampai besok."


" Baiklah.."


Altair pun melangkah pergi mengikuti yang lainnya bersama dengan Israhi juga, itu memang ide yang bagus untuk beristirahat ditempat yang tepat dan hangat.


Mereka pergi ke penginapan yang cukup besar, mereka memesan kamar dilantai 3 sepanjang lorong utama. Mereka bahkan telah membagi kamar masing-masing.


Altair dan Remilia, Yi dan Mira, dan laki-laki... mereka masing-masing satu kamar jika tidak maka akan ada kerusuhan.


Namun sekarang... Mereka semua sedang ada direstoran penginapan yang ada dilantai satu. Disaat itu, Aksa pun kemudian bertanya kepada salah satu pelayan yang menyediakan makanan.


" Maaf, kami ingin tahu dengan apa yang terjadi didesa ini?? Kupikir tempat ini tidak seharusnya ditutupi salju." tanyanya kepada pelayan itu.


" Oh, soal itu... Kami juga tidak tahu." dan sang pelayan pun menjawabnya.


" Kalian tidak tahu??"


Itu membingungkan, dimana mereka tidak tahu apapun tentang apa yang terjadi kepada desa mereka. Tapi sang pelayan tetap menggelengkan kepalanya...


" Semua ini berawal dari suara di pegunungan selatan." ucap pelayan itu kemudian.


Mendengar hal itu, Remilia seperti nya tahu sesuatu tentang gunung tersebut. " Kalau dipikir-pikir... pegunungan diselatan tempat ini memang selalu ditutupi salju, karena menjadi tempat tertinggi dibenua." ucapnya.


" Itu... Suaranya seperti geraman, terkadang seperti lolongan. Kami tidak tahu pasti apa itu, dan tidak ada warga yang bisa ke sana dicuaca seperti ini karena jalannya yang ekstrim."


" Apa kalian sudah meminta bantuan?" Derrick penasaran dengan hal itu.


" Sudah. Kami meminta ke berbagai Guild tendekat, bahkan meminta tolong kepada bangsawan. Tapi tidak ada yang pernah bisa sampai kesana. Mereka biasanya kembali dalam keadaan terluka karena monster, ada juga yang membeku karena dinginnya suhu ditempat itu. Pasukan Atar juga pernah datang, namun karena cuaca yang buruk... mereka tidak bisa mendekat kesana."


" Huh?? Kupikir Atar itu boneka sihir dari baja yang digerakan sihir, aku tidak tahu kalau mereka bisa dihalangi." itu informasi yang menarik bagi Altair, dia yang sudah lama penasaran dengan hal itu.


Mira kemudian menyahutinya, " Atar tetap bisa membeku, Altair. Sela-sela baja dimana penggerak dia berada bisa tertutupi es, dan dalam kondisi yang buruk. Sinyal yang menghubungkan mereka dengan pusat markas bisa terputus. Jika hal itu terjadi, mereka hanya menjadi boneka yang bergerak tanpa tujuan hingga akhirnya kehabisan energi." jelas nya kepada Altair.


Altair yang mendengarnya pun mengangguk mengerti dengan itu.


Namun terlepas dari apapun kondisi desa ini memang aneh...


Tempat yang katanya bagus didatangi saat musim panas ini, telah berubah menjadi desa musim dingin.


***


Malam hari didesa, Altair masih terjaga dikamarnya padahal waktu telah berlalu panjang dan sebentar lagi pagi akan kembali datang. Ia hanya diam sembari menatap langit-langit yang gelap disana, sementara disampingnya Remilia tertidur pulas.


Altair masih tidak bisa melupakan bisikan-bisikan halus itu, bahkan saat ini ia pun bisa mendengarnya. Mereka meminta Altair untuk datang. Masalahnya, Altair tidak tahu apa itu.


" Um... Apa aku harus beritahu guru, ya??" Altair bertanya-tanya dengan itu.


Brakk...


Saat kemudian ia dikejutkan dengan suara itu, Altair langsung bangkit dari atas kasurnya dan berjalan kearah jendela. Itu terdengar seperti suara jendela yang ditutup keras, tapi dari tadi jendela itu memang tertutup. Tidak mungkin jendalanya bisa bersuara seperti itu, kecuali mungkin ada yang melemparinya dengan sesuatu.


Sayangnya, Altair tidak bisa melihat siapapun di luar. Hanya salju... banyak salju.


Ia pun menyentuh jendela itu, dimana sensasi dingin dari luar sana bisa terasa. Altair pun menatap pegunungan yang bisa terlihat dari kamarnya, yang mana katanya menjadi sumber semua salju ini.


Saat itu, sesuatu menghampiri kepala Altair. Tanpa ia sadari, matanya kembali berubah merah...


[" Pergi kesana... Lihatlah yang terjadi... Kau akan menemukan yang hilang disana..."]


Suara lain masuk dan mempengaruhi Altair disana. Altair sempat menoleh kearah Remilia untuk beberapa saat, namun dia hanya diam....


Woosshhh....


" Ughh... Dingin!." Remilia terbangun ketika udara dingin masuk, ia melihat jendela disamping terbuka.


Membiarkan udara dingin masuk menerbangkan gorden, hingga salju pun ikut masuk ke dalam kamar dengan bebas, namun ada sesuatu yang lebih menarik perhatian nya disana dibandingkan hal tersebut. Itu adalah, keberadaan Altair yang tidak ada disana....


" Altair..??"


***


Sementara itu dijalan menuju ke pegunungan, lebih tepatnya dilangit. Altair ada disana, berdiri diatas punggung Zico yang kembali ke wujud aslinya, dia membawanya terbang ke gunung dengan cepat. Mereka melawan badai salju yang mengamuk semakin mereka dekat ke dekat pegunungan, namun keduanya tidak bergeming sama sekali.


Kruungg...


Zico juga mengeluh tentang itu, karena Altair tiba-tiba menyuruhnya membawanya ke pegunungan itu ditengah malam seperti ini. Zico merasa tidak senang karena tidur nya terganggu.


" Jangan mengeluh, Zico. Kita hanya akan melihat dan kembali lagi." namun Altair hanya menyahutinya seperti itu.


Krung..


Tetap saja, itu tidak menyenangkan bagi Zico.