The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Human-shaped little dragon



Tengg...Tengg...Tengg...


Disaat yang sama dikota, ketika lonceng jam itu berbunyi. Orang-orang yang masih beraktifitas dimalam hari langsung menutup rumah mereka rapat-rapat, kemudian mengunci pintu dan jendela, beberapa bahkan langsung masuk ke ruang bawah tanah dirumah mereka.


Kecuali Mira dan yang lainnya, Yi yang sedang membaca pun langsung menghentikan kegiatan nya dan mulai bersiap. Mereka mengambil senjata masing-masing dan segera keluar dari rumah, melihat kearah mana suara gemuruh yang mereka dengar berasal.


Grooaah...


Monster-monster itu datang dari barat, menerjang lurus dan menghancurkan semua yang mereka lalui. Saat kelompok Israhi yang ada dikota memperhatikan pergerakan mereka lebih dulu.


" Dimana Altair?" tanya Mira kepada mereka yang ada bersamanya saat ini.


Namun yang ia dapatkan adalah gelengan kepala dari mereka, " Dia tidak bersama kami, bahkan Israhi tidak ada." jawab Aksa.


" Kalau begitu tidak masalah, aku yakin mereka bersama sekarang. Selama Altair tidak ditinggalkan sendirian semuanya akan baik-baik sana." sahut Mira setelah mendengar itu.


Kemudian Yi pun menengahi percakapan itu," Kalau begitu kita yang harus memulainya, jangan biarkan monster-monster itu masuk ke kota lebih dulu. Jika tidak kerusakannya akan lebih buruk. "


Semua setuju dan langsung berpencar untuk menahan monster-monster itu. Sebagian besar dari mereka bukanlah monster yang terlalu kuat, tapi jumlah lah yang jadi masalah nya.


Sementara dikota, para warga sedang berdoa untuk keselamatan semua orang, Mira dan yang lainnya sedang mati-matian bertarung dengan monster-monster itu. Yi, Mira dan Remilia yang bertarung tepat digaris depan, sementara Aksa yang membantu mereka dari kejauhan.


" Ini terlalu banyak... dari mana munculnya monster-monster ini...?" Aksa dibingungkan dengan hal itu.


Ting!


Saat kemudian ia merasakan aliran sihir dari sisi lain, Aksa langsung menoleh kearah sana, di tempat yang cukup jauh dari mereka. Sihir yang paling tidak ia sukai. Seseorang sedang mengawasi para monster ini.


" Apa ini sihir hitam...?" batinnya bertanya-tanya, lalu ia kembali dan dikejutkan dengan sesuatu. " Hah! Remilia, dibelakang mu!!" teriaknya sekeras mungkin agar Remilia bisa mendengar suaranya ditengah hiruk pikuk pertarungan disekitarnya.


" Heh? " Remilia yang mendengar nya pun langsung menoleh, saat...


Seekor monster sebesar beruang ingin mengarahkan cakarnya padanya...


Syuutt...


Clebb... Brakk!


...Namun sebuah tombak lebih cepat melesat dan menghancurkan kepala monster itu, membuat Remilia terdiam kaku di tempatnya.


" A-Apa itu..?"


Bukan hanya dia yang terkejut, melainkan yang lain juga. Semua, kecuali Mira yang menghela nafas lega karena tidak ada diantara mereka yang terluka parah.


Tak lama dari itu, sang pemilik tombak pun datang seolah jatuh dari langit. Altair memegang tombaknya yang menancap ditanah dan berputar beberapa kali sampai akhirnya benar-banar mendarat dengan lembut ketanah.


Yang lainnya hanya diam melihat kearahnya...


" Maaf, apa aku tidak terlambat?" ucap Altair dengan suara yang sangat tenang.


" Ee.. Iyah, tidak. Jangan khawatir. " sahut Yi pula menyahuti.


Altair tersenyum lega dengan hal itu, sampai suara Aksa mengalihkan perhatiannya..


" Altair, Israhi dimana?" tanyanya dari atas rumah tak jauh dari sana.


" Ah, dia pergi ke arah lain. Dia bilang dia ingin menangkap dalangnya dan memintaku datang untuk mengirim mu kesana. " jawab Altair kemudian.


" Kalau begitu aku pergi!"


" Hati-hati."


Altair hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya kearah Aksa yang berbalik menuju arah lain, sampai kemudian ia berbalik kearah monster-monster dihadapannya dan berjalan maju.


" Sekarang, bagaimana kita mengurus ini?" gumammya pada diri sendiri.


Namun monster-monster itu jadi tidak seagresif sebelumnya, mereka hanya diam di tempat mereka dan gemetar saat melihatnya. Mereka semua melihat sosok lain didalam diri Altair, sosok yang harus mereka hindari jika mereka mau hidup.


Sedangkan Altair yang melihat tingkah aneh para monster itu, menghentikan langkah nya dengan membuat ekspresi bingung.


" Eh? Kenapa mereka kelihatan takut seperti itu?" ucapnya penuh tanya.


Yi yang mendengar nya pun kemudian menyahutinya, " Memang aneh. Sejak kau muncul Altair, mereka menghentikan pergerakan mereka seketika. "


" Apa aku semenakutkan itu? "


" Kau justru terlihat seperti kelinci... ah, Kelinci.."


Yi tidak bisa menghentikan perasaan dan pemikiran itu, bahkan melihat Altair yang sekarang berekspresi gelisah tetap saja membuatnya terlihat imut. Rasanya dia ingin mencubit kedua pipi chubby nya itu.


Saat keduanya tersadar karena monster-monster itu yang tiba-tiba berlari pergi dari mereka...


" Aku tidak semenakutkan itu!"


Perasaan Altair seperti terpukul karena sikap kasar para monster itu.


" Altair! Apa yang kau lakukan?! Jangan biarkan semua monster itu pergi, atau akan ada korban lain!! " teriak Mira sambil menunjuk-nunjuk kumpulan monster yang melarikan diri dari hadapan mereka.


" Capat tangkap! Cepat! " bahkan Remilia ikutan panik karena hal itu.


Disisi lain Altair hanya mendecak pelan dan menjentikan darinya...


Cetak! Shhrriinnnkkk...!!


Dan dinding es tebal langsung muncul menghalangi jalan monster-monster itu. Belum selesai sampai disana, Altair menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya kembali bersama dengan semburan api kebiruan kearah para monster.


Sama seperti yang pernah Zico lakukan..


Bwwuusshh....!


" Hiii...!!" Remilia terkejut dengan angin panas yang tiba-tiba berhembus kearah mereka ketika Altair menyemburkan api.


Sementara Yi terlihat kagum dengan itu, " Api yang benar-banar panas. Temperaturnya bisa melebihi 3000°."


Api itu pun langsung merembet dan membakar semua yang dilaluinya, tentu saja... monster-monster itu yang telah terjebak tidak luput diantaranya. Mereka langsung terbakar sampai berubah menjadi abu.


" Haaa..."


Altair langsung membakar mereka semua sekaligus, tidak ada yang tersisa sama sekali dari mereka.


" Bagus, semuanya sudah-..Ughh!!" Altair sedikit tersentak saat merasakan bagian dalam tenggorokannya sedikit perih dan panas.


Ia pun mengangkat tangannya dan memegangi lehernya dengan ekspresi berkedut, " Ukhh... Sakit. Zico, apa kau merasa seperti ini juga sebelumnya??" batin Altair.


Namun tidak ada jawaban dari naga itu, Altair tahu dia hanya pura-pura tidur. Tapi ya sudahlah, masalahnya sudah selesai dan dia akan kembali baik besok. Tidak ada yang harus diperdebatkan.


Altair pun berbalik kearah yang lainnya dibelakang sana, saat ia disuguhkan dengan wajah terkejut mereka yang beragam.


" Eh?!"


Altair tidak tahu harus melakukan apa sekarang, apalagi Mira. Dia pasti akan bertanya banyak hal tentang apa yang baru saja dia lakukan, itu karena Altair tidak memberitahu Mira tentang ia belajar semburan api dari Zico.


" Tamat sudah." dan ia akan pasrah dengan keadaan tersebut.


" Altair, kau sangat hebat. Bagaimana kau bisa menyemburkan api sebesar itu. " ucap Remilia dengan antusias.


Altair yang mendengar nya hanya tersenyum, dan bicara melalui pikirkan nya. " 'Seseorang mengajariku.' "


Hal itu menarik reaksi bingung dari mereka, " Altair. Kenapa kau bicara lewat pikiranmu?." tanya Mira, selaku guru yang telah mengajarinya selama ini.


" 'Haha... Tenggorokan ku sepertinya sedikit terbakar karena melakukan semburan api. Mau bagaimana pun kan, aku bukan naga.' " Altair menggaruk pipinya sambil tersenyum canggung dan membuang perhatiannya.


" Ha.. jadi kau berusaha meniru naga??" ledek Mira pula sambil menunjukan senyum remehnya, membuat Altair tersentak melihat itu.


" 'Aku hanya berusaha memaksimalkan seranganku saja! Zico bilang menyemburkan nya melalui mulut jauh lebih baik dari pada menggunakan tangan!!'." Altair tidak terima ejekkannya. Bahkan meski dia telah sering melihat senyuman itu darinya.


" Iya, iya. Terserah kau saja lah. Tapi lain kali kuasai dulu sebelum mempraktekkan langsung, untung kali ini kau hanya luka ringan."


Altair hanya bisa menunduk murung mendengar itu, ia tidak bisa membalas hal itu, karena perkataan Mira memang benar. Tapi tetap saja rasanya menyakitkan, seperti... ditolak.


" 'Remilia, aku sedih'." ucap Altair sambil berjongkok dan menggambar diatas tanah menggunakan jarinya. Mendramatisir kenyataan.


" A-Altair, tidak apa-apa. Jangan dipikirkan..." dan yang pasti, Remilia yang berusaha membujuknya.


Sementara itu, Yi dan Mira justru sibuk bicara berdua...


" Kurasa kita bisa langsung pergi, Israhi pasti sudah menangkap orang-orang yang jadi dalangnya itu."


" Ya, karena masalah disini sudah diselesaikan langsung oleh murid nakal ku itu, ayo kita pergi."


Mereka berdua bahkan langsung pergi tanpa mengajak Remilia dan Altair yang ngambek...


" Ah! Kita ditinggalkan! Ayo Altair, kita juga pergi." ajak Remilia pula kepada Altair.


" 'Kau pergi saja. Aku murid nakal'." Oh, dia mendengar ucapan Mira tentang dirinya dan makin murung.


" Ya ampun..." Remilia yang melihat nya terus seperti itu pun tidak punya pilihan lain, " Ayo! Ayo! Kita ditinggalkan!." dia harus menyeret Altair sambil berlari mengejar Mira dan Yi.


" 'Aku tidak berguna'." sedangkan Altair hanya tersenyum pasrah, sambil meratapi nasib yang tidak sesuai ekspektasinya.


Malam masih panjang, sejak semuanya dimulai, dan mereka akan segera tahu kebenaran apa yang jadi alasan serangan monster dikota ini...