The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Ruler of winter



[ 'Selamat datang ditempatku...']


Suara itu mengalihkan mereka semua yang sampai disana, kini semuanya menatap kepada seorang perempuan yang duduk diatas takhta es dihadapan mereka.


Perempuan dengan rambut putih bak salju, dan ekspresi dingin diwajahnya. Dia memiliki mata biru yang cerah dan berkilau sebening kristal, tapi itu terlihat tajam dan penuh dengan ketidaksenangan.


Israhi dan teman-teman nya yang melihat nya pun langsung bersiap dengan senjata mereka, dihadapan perempuan misterius itu mereka bersikap waspada dengan kekuatan yang dipancarkannya.


" Siapa kau?" dan Israhi pun jadi yang pertama buka suara dan bertanya kepadanya.


Sosok dihadapan mereka itu diam untuk beberapa saat, sampai kemudian sebuah seringai pun muncul diwajahnya.


[ 'Aku adalah Flora, orang yang diberkati oleh Boreas. Panguasa musim dingin'.] dia menjawab pertanyaan Israhi dengan ekspresi merendahkan yang terlihat begitu jelas diwajahnya.


Altair yang mendengar itu pun berkata, " 'Boreas', adalah nama dari salah satu Anemoi atau para dewa angin. Boreas adalah dewa angin utara dan pembawa musim dingin, jadi kurasa itu nama yang cocok. Kristal Boreas, kristal es, adalah inti dari Ruler of Winter. " di menjelaskan hal itu.


Dan teman-teman nya pun mengerti dengan maksudnya, mereka harus mengalahkannya dan merebut kristal itu darinya.


[ 'Hmm.. Kau..' ] Sayangnya pengetahuannya juga menarik perhatian yang lain. Flora, dia menghilang dari tempatnya. [ '...Kau tahu banyak tentang kami'.]


" Ah?!!"


Dan dia muncul kembali tepat dihadapan Altair, dia berpindah dengan sangat cepat. Itu juga mengejutkan Israhi dan yang lainnya, karena itu mereka pun sontak menolah kepadanya...


" Sial.!!"


" Dia benar-benar cepat!."


Flora yang sekarang ada diantara mereka, ia mengangkat tangannya dan mencengkram wajah Altair dengan tangan pucatnya yang dingin itu. Dan Altair bisa merasakan sisi bawah wajahnya perlahan membeku karena nya.


[ 'Aku ingat kau yang pertama datang dengan naga lucu itu, kenapa kau kembali kesini?']


Dia melontarkan pertanyaan itu kepada Altair, namun Altair sendiri tetap menjaga mulutnya tetap tertutup. Dia mungkin kuat dan punya kekuatan yang besar, namun Ruler of winter punya kemampuan yang terbatas kepada pengendalian es dan salju saja. Jadi dia tidak akan bisa membaca pikirannya.


Flora terus menatapnya dengan seksama, dia mungkin menemukan sesuatu. [ '....Kau.. aku merasakan kekuatan yang familiar darimu..'] Karena itu dia berkata seperti itu.


Altair tertegun dengan hal itu, secara reflek ia pun mengayunkan tombaknya kearah Flora. Hingga ia melepaskan tangannya dari wajahnya. Altair kemudian mengambil langkah mundur, ketika dari belakang sana Israhi mengayunkan pedangnya kearah Ruler of winter.


Flora juga menyadari hal itu, ketika ia mengerahkan sedikit kekuatan nya dan dinding es muncul dibelakang punggungnya. Dia berniat menahan serangan Israhi disana, namun...


Brakk...!


Itu serangan yang cukup kuat hingga es itu langsung hancur berkeping-keping. Flora melompat keluar dari serpihan es yang menutupi tempatnya ketika Israhi menghancurkan dindingnya. Ia mendarat dengan ringan tak jauh darinya, namun serangan mereka tidak berhenti sampai disana.


Sraackk...


Rantai yang sama dengan sebelumnya digunakan oleh Remilia, muncul dari tempat yang tidak terduga dan mengikat tangan dan kaki kanan Flora. Dan dengan kesempatan itu, Aksa membidiknya diudara.


Ketika ia melepaskan anak panah dari busurnya, itu langsung membelah diri, menjadi puluhan. Dan turun kearah Flora seperti hujan.


[ 'Cih.' ] Flora mendecih kesal karena itu, disaat yang sama energi dingin darinya terus bertambah. [ 'Apa kalian pikir ini akan menghentikanku?!!'] dia berteriak marah ia membekukan ruang. Menghentikan semua panas Aksa yang jatuh diatasnya tetap diudara.


Disaat yang sama, es dan salju disekeliling mulai berputar disekitar tubuhnya.


Dia mungkin berniat menciptakan badai lagi.


Namun itu telah diduga oleh Israhi dan yang lainnya.


[ 'Ap-... Ada apa dengan suhu panas ini??'] dia bertanya-tanya dalam kebingungan ketika lantai yang dipijaknya mulai memanas.


Itu salah satu teknik kuat milik Yi.


Sebagai Phoenix yang adalah burung api suci yang diberkati oleh Dewa, dia adalah pengendali api murni. Menciptakan api yang sangat panas bukanlah masalah baginya meski dirinya berada ditempat yang sangat dingin.


Yi telah mempersiapkan hal ini sejak teman-temannya mengalihkan perhatian dan mengulur waktu. Ketika lantai dibawah mereka mulai berubah jadi warna merah keemasan layaknya bulu Phoenix, dan sosok burung dengan sayap yang melebar dan ekor panjang yang indah muncul disana.


Artinya persiapan Yi telah selesai.


Ini adalah serangan dengan jangkauan yang luas. Yi bisa membakar apapun, disemua tempat dalam radius 50 meter dari Yi sebagai pusat panasnya.


Lantai dansa yang dibalut oleh jilatan api.


" ....Fire Hall."


Dan api suci nya berhasil melelehkan es paling dingin dari Ruler of winter.


[ 'Kyaa!! Semuanya meleleh..!!'.]


Ruler of winter yang mengendalikan salju dan es tidak akan cocok dengan serangan tipe api, apalagi api murni dan sangat panas. Karena itu, ketika dia melihat semua esnya melelah oleh panas itu, dia jadi panik.


Flora yang tidak pernah melihat serangan ini, apalagi Phoenix. Tidak akan bisa mengantisipasi kejadian seperti ini.


Itulah kenapa Mira menyerahkan apa yang ada didalam kepada Yi, sementara ia menahan yang ada diluar. Api milik Yi lebih panas daripada miliknya.


Dan panas dari api Yi ini, berhasil menghancurkan pembekuan ruang yang dilakukan oleh Flora.


[ 'Huh?!! Tidak...'.] Flora menatap semua panah Aksa yang kembali berjatuhkan diatas sana. [ 'Kyaaa!!!...']


Flora tidak bisa melakukan apapun ketika tubuhnya dihujani panah disaat Remilia mengikatnya dan Yi melemahkan kekuatan nya. Puluhan anak panah itu menghujaninya sekaligus.


Sementara itu disisi lain, Altair dan yang lainnya kembali berkumpul disisi Yi dan Remilia yang bersama ditempat mereka. Serangan besar mereka berhasil dilakukan tanpa halangan, meski begitu mereka belum bisa memastikan efektifitasnya.


Sementara Remilia masih memegangi rantai yang mengikat Flora ditangannya.


" Hei, apa tidak apa-apa? Dia tidak akan mati, kan? Kita kan hanya berniat memisahkan inti Ruler dan dirinya saja." Remilia agak khawatir karena serangan yang bertubi-tubi itu.


Yi yang ada disamping nya pun kemudian menyahutinya, " Jangan khawatir, Ruler tidak akan mati semudah itu." ucapnya.


" Iyah, tetap saja...."


Dia mungkin merasa kasihan karena Flora hanyalah anak-anak. Jika di lihat-lihat dengan seksama, dia hanya sedikit lebih muda dari Altair. Remilia merasa kasihan kepadanya.


" Jadi... sekarang kita harus apa??" Aksa kemudian bertanya tentang masalah utama mereka.


" Rencanaku hanya kita melemahkannya, kemudian Remilia dan Yi mengikatnya agar saat aku mengeluarkan inti Ruler darinya dia tidak akan terlalu melawan." jawab Altair kemudian.


Aksa mengerti itu, " Baiklah, tapi aku tidak percaya kalau ini akan berakhir secepat ini." ucapnya.


" Ini belum berakhir..." saat Israhi kemudian menimpali nya dengan begitu serius.


Ia terus memperhatikan tempat Flora tadi, karena itu semua orang pun kembali memusatkan perhatian kearah sana.


Sebuah bola es besar ada disana.


Krakk...


Dan ketika bola itu mulai hancur, Altair dan yang lainnya mulai bersiap. Ketika tak lama kemudian, mata biru dari Flora muncul dari dalam bola.


[ 'Beraninya, kalian semut tidak tahu diri...!!'] Suaranya terdengar penuh amarah.


Krakk... Duarrr..


" Kyaa!!"


Dia meledakan bola es itu dengan tekanan yang besar, hingga membuatnya hancur berkeping-keping dan semua es itu terlempar ke segala arah.


Sementara itu, diluar sana. Dimana Mira dan Derrick masih menahan monster-monster yang terus bermunculan. Mereka cukup dibuat repot oleh mereka yang tidak ada habis-habisnya berdatangan.


" Yah.. Ini tidak bisa jadi cepat jika mereka terus datang dari dalam es." Mira berkata seperti itu.


Dan yah, Derrick juga setuju dengannya. " Kalau begitu, masalahnya adalah orang yang ada didalam kan? Mereka lahir dari perwujudan kekuatan nya." sahutnya.


Dan itu tidaklah salah...


Sampai kemudian, mereka mendengar ledakan itu juga...


Duarr....!


Bagian tertinggi kastil itu meledak dari dalam, cukup keras hingga membuat mereka berdua menoleh karena terkejut.


" Apa itu? Baru beberapa saat yang lalu aku merasakan panas dari sana, sekarang semuanya jadi dingin lagi." ucap Mira melihat itu.


Sementara mereka yang ada didalam... Sedang dalam posisi melindungi diri mereka sendiri ketika ledakan itu terjadi.


Jadi kenapa seperti itu? Apakah serangan mereka tidak berhasil. Yah, itu bisa dikatakan hampir berhasil.


Flora, sebagai Ruler baru tidak mengetahui apapun tentang Phoenix dan teknik mereka. Karena itu dia bisa ditaklukan dengan mudah beberapa saat yang lalu. Namun didetik-detik terakhir yang singkat, inti Tear yang ada dalam dirinya menyimpan ingatan dari Ruler lain di zaman dahulu, dimana salah satunya pernah beberapa kali berhadapan dengan Phoenix, dan itu memberitahu Flora tentang cara mengatasi panas dari Phoenix dan anak panah Aksa.


Itu cukup sederhana. Yaitu membungkus dirinya sendiri dalam bola es yang berlapis-lapis, dengan suhu mencapai -309,4 derajat celcius. Itu adalah suhu paling dingin yang bisa dikeluarkan oleh Flora saat ini. Namun dengan bola es yang berlapis-lapis dan tebal membuatnya bisa mengatasi panas yang dikeluarkan oleh Yi untuk menghentikan nya.


Dan itu benar berhasil.


" Ah, itu tidak berhasil... Seperti nya dia mendapatkan ingatan Ruler terdahulunya.." Yi yang menyadari hal itu pun berkata seperti itu.


" Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Aksa kemudian.


Namun sebelum pertanyaan nya itu terjawab, Flora lebih dulu berbicara. [ 'Kalian semua orang-orang bodoh. Apa kalian pikir kalian bisa mengalahkanku hanya dengan kekuatan yang seperti itu?'.]


" Yah sebenarnya... itu hanya percobaan saja." Aksa bicara menimpalinya.


[ 'Kalian semua sombong!']


Flora benar-benar marah, dia sekarang mulai menghujani mereka dengan es-es runcing sepanjang mereka malangkah sebagai balasan. Altair dan yang lainnya harus berpencar untuk menghindari semua itu. Disaat kemudian Flora pun merentangkan tangannya kearah Yi.


Saat itu, lantai es yang dipijak olehnya pun menghilang.


" Uh oh..."


Yi jatuh ke bawah dari ketinggian, itu seperti lorong yang sangat panjang.


" Apa hanya ini yang ingin kau lakukan?" Yi tidak masalah dengan itu, ia bisa terbang.


Tapi...


[ 'Aku akan melindasmu, burung pipit!'.]


Dia berkata seperti itu, dan sebuah bola es besar jatuh dari atas. Menyusul Yi yang ada didalam lubang.


" Anak ini pintar juga.." Yi berusaha melelehkan bola itu, namun itu lebih tebal dari yang ia duga.


Dan ia bisa melihat permukaan dibawah sana, tidak akan lama lagi... Dan dia akhirnya jatuh menabrak permukaan itu.


" Yi!." Altair mengintip kedalam lubang itu, namun ia tidak bisa melihat apapun. " Kuharap dia baik-baik saja..." gumamnya pula.


Yah, dia akan baik-baik saja jika dia menghindar ke pinggir dengan melelehkan es itu. Altair tidak perlu terlalu cemas karena dia tidak akan kalah hanya karena hal seperti ini.


" Altair, menyingkir dari sana!."


" Hm...??"


Altair teralihkan ketika Aksa berteriak kepadanya seperti itu, dan seperti yang ia katakan sebuah balok es jatuh hampir menimpanya.


" Hiii..!!" untunglah, Altair berhasil menghindarinya tepat waktu. " ..Hampir saja aku jadi gepeng." ucapnya kemudian.


[ 'Aku akan menghancurkan kalian berkeping-keping!'.]


Semua serangan itu terus berlangsung dan bertubi-tubi, Altair dan yang lainnya hampir tidak punya kesempatan untuk menyerang balik karena harus terus menghindar. Saat kemudian...


" Ackk!.."


Es-es runcung kecil yang dilemparkan oleh Flora mengenai salah satu kaki Remilia, membuatnya jatuh tersungkur diatas lantai es yang dingin dengan rasa sakit yang sangat menusuk.


Flora yang melihat nya jatuh pun tidak menyia-nyiakan kesempatan dan menyerang. [ 'Mati kau!!'.]


" Remilia..!"


Sruakk...


Karena itu, Altair dengan cepat bergerak kearah nya dan melindungi Remilia dari semua serangan yang diarahkan Flora. Itu serangan yang bertubi-tubi, meski begitu untunglah pelindung Altair jauh lebih stabil dari sebelumnya. Dan itu berhasil melindungi mereka berdua.


[ 'Menyerah sajalah!'.]


Akan tetapi Flora masih belum menyerah, ia terus mengerahkan kekuatan nya. Saat dari belakang, Israhi pun muncul dan mengayunkan pedangnya.


[ 'Cih'.]


Flora menyadari itu dangan pergerakan udara, dan ia membuat dinding es yang cukup tebal dibelakang punggungnya sebagai pelindung. Namun itu tidak terlalu efektif...


Srukk.. Duakk...


[ 'Gaahh!'.]


Flora didorong mundur dengan keras, hingga menghantam lantai dibawahnya.


[ 'Dasar...'.]


Perlawanan belum berakhir sampai disana, Flora juga melihat Aksa menyiapkan anak panahnya dari kejauhan. Mengetahui itu membuat Flora menggeram dalam kemarahan.


[ 'Dasar serangga! Jika kalian berani lawan aku dengan adil!!'.] Ia mengulurkan tangan kanannya kearah Aksa disana, dan seketika es yang dipijaknya pun berubah dalam sebuah kolam dangkal.


" Huwa! Dia bisa melelehkan esnya rupanya.." Aksa yang merasakan dingin dikakinya pun terkejut dengan itu. Flora menjentikan jarinya disaat itu, dan seketika itu kembali mengeras, menjebak kaki Aksa yang belum sempat menyelamatkan diri didalamnya. " Hei! Itu tidak adil!." namun bahkan dalam situasi seperti itu, Aksa masih sempat-sempatnya mengeluh.


[ 'Tutup mulutmu dan enyah dari tempatku!!'.]


Flora mendorong sebuah balok es besar kearahnya, Aksa yang melihat itupun tercengang dan bersiap untuk bertahan. Ia berusaha menghentikannya ketika balok es itu menghantam tubuhnya, sayangnya itu malah membuatnya terdorong mundur hingga menghancurkan dinding yang ada dibelakangnya.


Dan dia pun benar-benar terlempar keluar dari kastil es itu, jatuh...


" Waakk!! Kenapa aku jatuh ke dalam jurang!!" teriaknya ketika itu.


Iya, dia jatuh ke dalam jurang.