The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Derrick's Condition...



Diatas, lebih tepatnya tempat Derrick berada saat ini. Masih sama seperti sebelumnya, dia tertidur dan sepertinya tidak akan bangun untuk beberapa jam kedepan. Pengobatan yang telah dilakukan oleh Altair dan Aksa sebelumnya telah mengeluarkan cukup banyak racun didalam tubuhnya.


Meski begitu bukan berarti dia sudah aman. Tapi syukurlah, obat yang dibuat Altair telah menunjukan kemajuan pada kondisinya. Obat itu telah menghentikan pembusukan nya dan itu mulai menyembuhkan secara perlahan.


Sementara itu, tak jauh darinya. Aksa berada disisi lain ruangan, sedang membuat obat yang yang telah diresepkan oleh Altair kepadanya. Sebenarnya ia telah membuat cukup banyak, namun ia kekurangan bahan terakhir. Karena itu ia mengambil sebagian sampelnya ke tabung reaksi, dan mencoba menambahkan hal lain


" Hanya satu tetes... satu tetes..."


Ia begitu hati-hati dan teliti dengan apa yang ia lakukan sekarang. Sampai...


" Apa yang akan kau tambahkan sekarang?" Remilia tiba-tiba berbisik dibelakang nya.


Itu membuat Aksa terkejut dan hampir saja menjatuhkan tabung yang ia pegang, untung saja itu tidak benar-benar terjadi, sementara Remilia menatapnya dengan terheran-heran. Aksa pun menghela nafas sejenak, dan kemudian ia pun menoleh kepadanya.


" Remilia, tolong jangan tiba-tiba bicara didekatku seperti itu." ucapnya sambil tersenyum kikuk.


Remilia yang mendengarnya pun menutup mulutnya dengan rasa bersalah, " Maaf.." ucapnya dengan suara pelan.


" Tidak apa-apa.."


Aksa tidak bisa menyalahkan hal itu, lagipula ini salahnya karena tidak bisa menemukan pipet kecil untuk memindahkan cairan obatnya. Aksa pun kemudian kembali memutar kepalanya menatap tabung yang ada ditangannya, ia kembali menuangkan bahan terakhir itu dengan begitu hati-hati. Dan...


" Berhasil." ucap Aksa dengan girang saat...


Blubup.. blubup...


" Eh..?"


Puufff...


Ramuan obat itu mengeluarkan semburan gas hitam yang langsung menggosongkan wajahnya menjadi hitam juga. Bahkan ramuan itu ikut menghitam seperti arang. Aksa menyerah. Dia tidak bisa melakukan nya sebaik Altair tanpa tahu bahan terakhir nya.


Ia menundukan kepala dan tubuhnya dengan lesu, sementara dibelakangnya, Remilia berusaha menahan tawa melihat wajahnya yang jadi hitam sekarang.


" Khu.. Pfftt.. I-Ini.. pakai saputangan ini untuk mengelap wajahmu.." Remilia menyerah saputangan itu masih sambil menahan tawanya.


" Haha.. Terima kasih.." sementara Aksa menyahutinya dengan tak berdaya.


Dia rasanya tidak punya tenaga bahkan hanya untuk memarahi Remilia yang menertawakan nya sekarang. Jadi ia hanya pasrah dan mengelap noda hitam diwajahnya, saat tak lama kemudian... Perhatian nya dan Remilia teralihkan kepada suara pintu yang terbuka.


Altair pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam sana, " Hei, apa yang terjadi disini? Bagaimana keadaan kak Derrick?" tanya Altair kepada mereka.


Ia telah membersihkan diri, telah mengganti pakaian dan Lumine pun telah kembali ke dalam dirinya.


" Dia masih belum bangun, namun kondisinya perlahan membaik berkat obatmu." jawab Aksa menimpali setelah mendengarnya.


" Begitu, syukurlah." Altair diam sebentar sambil menatap mereka berdua disana, saat kemudian ia pun kemudian berkata. " Sepertinya kalian sedang bersenang-senang." ucap Altair dengan senyuman ramah yang selalu diwajahnya, ia pun berjalan mendekati mereka.


Pertanyaan itu muncul tak lepas dari fakta bahwa Remilia masih berusaha untuk melupakan apa yang terjadi sebelumnya...


" Ah, tidak. Ramuan yang dibuat Aksa menyemburkan asap hitam yang membuat wajahnya ikut hitam sebelumnya." ucap Remilia menjelaskan itu masih sambil senyum-senyum sendiri.


Sementara Aksa hanya menatapnya dengan cemberut, " Itu karena bahan terakhir nya kurang, obatnya jadi tidak seperti yang dibuat Altair." ucapnya pula menimpali.


Altair yang mendengar itu pun menaikan alisnya dan berkata, " Kau sudah selesai membuatnya? Itu bagus, aku menang sengaja tidak menulis bahan terakhir itu." ucapnya yang kemudian mengambil dan memperhatikan ramuan dalam wadah yang dibuat Aksa.


Tapi, Aksa sendiri yang mendengar itu jadi bingung, " Apa? Kenapa?." tanyanya penuh dengan rasa penasaran.


Altair tidak menjawabnya, ia malahan mengambil sebuah jarum kecil yang sebelumnya digunakan untuk melakukan akupuntur kepada Derrick. Aksa dan Remilia yang melihat itu semakin bertanya-tanya.


Saat kemudian, Altair pun menusukan jarum itu ke jari telunjuknya, sampai darah pun keluar ketika jarum itu kembali ditarik. Darah yang menetes itu pun ia masukan ke dalam ramuan yang telah dibuat Aksa. Dua tetes darah untuk ramuan dalam wadah sebanyak 700 mililiter.


Tak berapa lama dari itu, warna ramuan yang sebelumnya berwarna hijau lumut itu, perlahan mulai berubah menjadi kuning. Sama seperti ramuan awal yang dibuat oleh Altair.


Rahang Aksa jatuh ternganga melihat itu, dia tidak pernah mendengar kalau darah seorang Alkemis bisa melakukan itu. Dan lagi itu diluar ekspektasi nya, dia tidak pernah menduga kalau bahan terakhir itu adalah DNA Altair sendiri. Sementara disampingnya, Remilia justru terkagum-kagum dengan apa yang terjadi.


" Tidak! Bagaimana kau melakukan itu?!"


Altair menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan itu, " Aku tidak tahu, aku hanya melakukan sebuah uji coba menggunakan darahku sebelumnya, dan itu langsung menjadi bahan akhir yang sangat efektif. Jadi aku berasumsi, kalau darahku mengandung beberapa keajaiban dan bisa digunakan sebagai obat. Tapi itu hanya terbatas jika aku ingin melakukan nya, jika tidak, maka itu hanya akan jadi darah biasa. Itu yang Guru dan Tuan Yin katakan kepadaku." jelas Altair.


Yah, itu kondisi yang langka. Hal itu biasanya terjadi setelah orang tersebut mamakan tanaman obat yang amat sangat langka, atau sebelum dia lahir, ibunya yang memakan tanaman obat tersebut. Aksa sendiri pernah melihat kasus seperti ini.


Akan tetapi, bisa juga itu adalah hal yang bersifat alami. Apalagi jika orang tersebut memiliki kemampuan regenerasi yang tidak normal. Karena itu artinya.... orang tersebut diselimuti oleh energi kehidupan yang sangat tinggi.


" Baiklah, meski ini hal langka tapi juga bukan hal aneh. Tapi kau harusnya merahasiakan ini, Altair. " ucap Aksa kemudian setelah memikirkan hal itu dengan serius.


" Ah, iya. Guru juga bilang begitu.." sahut Altair pula yang kelihatan nya baru ingat soal itu.


" Baiklah, tidak perlu permasalahkan hal itu lagi. " Remilia pun berkata menengahi mereka, ia pun menatap Altair. " Karena kau sudah ingat sekarang, dan beruntung orang yang mendengarnya adalah kami. Kedepannya kau harus lebih berhati-hati ya, Altair. " ucapnya pula yang kemudian tersenyum dengan lembut, Aksa pun juga ikut tersenyum merasa setuju dengan hal itu.


Altair yang mendengarnya pun mengangguk dan balas tersenyum, dia tahu teman-temannya ini bisa menjaga rahasia nya dengan baik, jadi ia tidak perlu khawatir.


Dua hari tak terasa berlalu begitu saja, Derrick pun telah bangun sehari sebelumnya, dengan kondisi yang lebih baik meski belum sembuh sepenuhnya. Kabar baik itu juga disambut dengan kegembiraan anggota Guild, bahkan Ian sampai menangis dan memeluknya karena dia selamat dari maut.


Disamping itu, ketika Altair tidak merawat Derrick, ia juga benar-benar menjalankan perannya sebagai wakil Derrick (tanpa persetujuan) dengan sempurna. Dia mengurus semua pekerjaan itu dengan baik, bahkan Ian pun tak segan untuk memperlakukan nya layaknya Derrick sendiri.


Teman-temannya yang lain memanfaatkan hal itu dengan bersantai-santai, karena jika Israhi tidak peduli, maka mereka pasti akan berkerja tanpa henti dan tidak memiliki waktu liburan. Aksa masih tetap menjadi asisten Altair untuk mengawasi perkembangan kondisi Derrick. Disisi lain, Israhi justru yang paling waspada dengan kondisi sekitar dan terus memantaunya tanpa henti.


Dan hari ketiga pun datang begitu saja...


" Ayo katakan 'Aaa'.."


" Altair, aku bukan anak kecil."


Altair berusaha menyuapi Derrick sepotong apel dengan ekspresi yang begitu berharap, dia masih tidak diizinkannya bangun dari tampat tidur olehnya.


" Ayolah, kakak, katakan 'Aaa'.." Ia tidak peduli protes apa yang dikatakan olehnya, yang dia inginkan adalah menyuapinya.


Derrick yang tahu kalau dia tidak akan menyerah dengan mudah pun hanya menghela nafas dan menuruti apa yang dia inginkan.


" Aaa.."


Ia membuka mulutnya ketika Altair mendekatkan sendok ditangannya, Altair yang melihat itu pun langsung tersenyum cerah dan menyuapinya dengan begitu bahagia. Jujur saja itu lucu, karena Altair tampak bahagia hanya karena ini. Dan Derrick juga lega karena melihat nya senang, namun....


" Pfftt..!!"


...Masih ada seseorang yang lain ditempat itu.


Derrick langsung memutar kepalanya menatap ke sisi lain, ketika ia mendengar suara menahan tawa itu. Yang ia lihat disana, adalah Israhi yang memalingkan wajahnya kearah lain sambil menutupi mulutnya menggunakan tangan. Derrick tahu dia sedang menahan tawa, dan itu yang membuatnya kesal.


" Jika kau ingin tertawa, tertawa saja yang keras supaya aku bisa melemparkan pisau buah ini ke kepalamu." ucapnya dengan ekspresi yang begitu dingin.


Sementara Israhi hanya menghela nafas dengan santai, " Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan.." dan dia juga pura-pura tidak tahu tentang itu.


" Yah, yah. Jangan bertengkar kalian berdua. Aku tidak ingin ada yang terluka lagi." Altair yang sedang mengupas apel lain pun kemudian menengahi mereka.


" Ngomong-ngomong soal orang-orang yang membuat keributan waktu itu..." ucapnya pula menggantung.


" Mereka terlalu tenang, bukan?" Israhi pun langsung menyahuti nya.


" Apa maksudmu soal Guild sebelah? Yeah, mereka memang menjengkelkan." Derrick juga tahu hal itu.


" Aku tidak yakin mereka akan berhenti begitu saja, tapi.... Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu." Ia tidak mau berburuk sangka, tapi Altair berpengalaman dengan orang seperti wanita itu.


Orang sepertinya tidak akan berhenti begitu saja bahkan setelah mendapatkan peringatan, dan itulah yang paling menjengkelkan. Altair harus bersiap untuk segala situasi...


Dan apa yang dipikirkan oleh Altair benar-benar terjadi keesokan harinya...