
Tak berapa lama dari itu mereka sampai dikota terdekat, Altair dan Mira pun berpisah dengan kelompok dagang dan pergi kearah lain bersama dengan kelompok Israhi. Matahari mulai tenggelam dibarat, sementara Altair dan yang lainnya sedang mencari tempat untuk menginap malam ini.
Namun mereka memutuskan untuk berhenti sementara disebuah restoran untuk makan, dan sekaligus bercerita tentang masing-masing.
Brakk...
" Ehh~... Serius?! Anda adalah Nona Mira Marlon? Adik Adipati Marlon??" Aksa baru saja terkejut dengan kenyataan orang terkenal ada dihadapannya saat ini.
Setelah perang besar dulu, dirinya memang jadi sangat terkenal, sebagai anak kecil yang satu-satunya ikut ke medan perang bersama Kagura. Meski begitu, Mira merasa kalau dia seharusnya tidak seterkejut itu. Mengingat siapa dirinya yang sebenarnya..
" Yang mulia, mengapa anda terkejut bertemu dengan ku yang bahkan bukan lagi seorang bangsawan? Anda itu seorang pengaran. " ucap Mira menyahuti perkataan Aksa.
" Aha, jangan seperti itu. Kita tidak didesa Elf sekarang, dan juga... Kau adalah idolaku. Aku sudah banyak mendengar cerita tentangmu. " ucap Aksa pula begitu menggebu-gebu, dia benar-benar sangat bersemangat.
" Ya, tenanglah. Dia tidak akan pergi ke mana-mana saat ini. " bahkan Yi yang melihat hal itu jadi heran melihat nya.
Mendengar itu, Aksa hanya tertawa saja. Sementara itu, Altair justru lebih fokus dengan makanan yang ada dihadapannya. Disamping Mira yang banyak bercerita disana, dia sama sekali tidak tertarik mengatakan apapun karena rasa lapar yang ia miliki.
Sampai kemudian ia sadar dengan Remilia yang terus memperhatikannya sejak tadi, Altair ingin pura-pura tidak tahu. Tapi ia merasa tidak enak jika melakukan nya kepada Remilia yang kelihatan begitu tertarik padanya.
" Ee.. Anu, apa ada yang ingin kau tanyakan? " Altair pun memutuskan untuk mengajaknya berbicara.
" Apa kau mengingatku? " namun Remilia justru memberinya pertanyaan lain yang membingungkan.
" Hah??" Altair merasa tidak pernah bertemu dengan petualang sepertinya seumur hidupnya, ini adalah yang pertama.
Ya, dia memang melihat banyak petualang di Foldes, tapi dia tidak pernah berkenalan atau terlibat dengan mereka. Bahkan setelah dipikirkan dengan keras pun, Altair tidak ingat sama sekali.
Remilia yang melihat nya pun sadar dengan hal itu, Altair kadang tidak bisa menyembunyikan perasaannya atau apa yang ia pikirkan diluar dunia sosial para bangsawan...
" Apa kau pernah ikut ke desa bernama Bluede??" ucap Remilia memberi petunjuk.
" ...Ya. " Altair ingat itu, saat dulu pamannya membawanya pergi berkeliling ke tempat-tempat yang tidak terlalu jauh dari GoldenRose untuk pertama kalinya.
" Apa kau bertemu dengan anak kecil yang berniat jatuh ke jurang?"
" Benar..."
" Kau menolongnya, kan?"
" Bagaimana kau tahu itu...?"
Altair kelihatan begitu kegum dengan pengetahuan Remilia, atau mungkin karena dia memang tahu. Sementara yang lain, hanya memperhatikan obrolan aneh mereka dengan penasaran.
" Aku... Aku anak itu. " pada akhirnya Remilia pun sampai pada inti pembicaraan mereka.
Namun Altair memerlukan sedikit waktu untuk memproses hal itu, dan saat ia sadar..." Eh? Ehhh!! Lia! Lia yang itu!." ucapnya terkejut sekali.
Sementara Remilia yang mendengar nya tersenyum senang sekali, " Lama tidak bertemu ya, Altair. " sapanya kemudian.
" Kau kelihatan baik-baik saja sekarang. Tidak ada yang mengganggumu lagi, kan? Aku akan memukulnya untukmu jika ada. " ucap Altair pula yang langsung mengganggam tangan Remilia yang ada diatas meja.
" Ah, tidak apa-apa. Aku sudah pergi dari desa setelah belajar mengendalikan kekuatan ku. " jawab Remilia pula.
Dimatanya Altair terlihat seperti ingin sekali memukul seseorang, dia juga ingat dulu Altair langsung mendatangi orang-orang yang mengganggunya dan mengatainya monster karena dia bisa mengendalikan petir. Padahal saat itu dia hanya gadis biasa.
Jika bukan karena Geas yang datang dan menakut-nakuti mereka dengan wajah garang, Altair pasti sudah terluka. Remilia sangat senang hanya dengan tahu kalau Altair baik-baik saja. Dia senang karena ada orang yang peduli padanya, disaat dulu tidak ada satupun orang yang peduli hanya karena takut dengan kekuatannya.
" Jadi kalian sudah saling kenal. " ucap Yi menengahi, saat melihat mereka langsung akrab seketika.
" Iya, dia yang menolongku dulu. " jawab Remilia kepadanya.
" Wah, Altair baru keluar dari istana saja sudah dapat teman. Bagaimana kedepannya ya?" disisi lain, Mira justru menggoda Altair dengan hal itu.
" Tentu saja aku akan mendapat lebih banyak teman. " dan Altair menjawabnya dengan begitu percaya diri.
Yah, itu keinginan pertama yang paling diinginkan oleh Altair setelah keluar dari istana. Mendapat sebanyak mungkin teman diluar sana.
" Itu kedengaran bagus, kau pasti akan disukai banyak orang. " ucap Aksa kepadanya.
Hal itu membuat Altair senang, " Terima kasih. "
" Oh, iya. Israhi, bagaimana menurutmu jika mereka ikut dengan kita? Altair juga berniat untuk berkeliling ke berbagai tempat bukan? " usul Remilia, setelah ia mendengarkan cerita dari Mira tentang tujuan mereka.
Israhi yang mendengar usul darinya tidak banyak berkomentar, lalu ia menoleh kearah Altair. " Ya, tidak masalah bagiku jika mereka memang ingin ikut. " ucapnya kemudian.
" Wah, terima kasih kalau begitu. " sahut Mira menimpali.
Mereka semua senang karena bisa mendapatkan teman perjalanan baru saat ini, apalagi orang yang sangat berguna seperti Altair dan Mira. Suasana mereka begitu hangat dan akrab, seolah telah lama saling mengenal.
Saat kemudian perhatian mereka teralihkan kepada sebuah keributan disana...
Brakk.. prangg...
" Hah?! Apa kau bilang?! Cari masalah ya?"
" Ti-Tidak seperti itu. Tapi tuan bilang jika kalian mau terus datang kemari, kalian harus membayar hutang kalian. "
Sekelompok orang sedang menindas seorang pelayan restoran yang sedang bertugas, Altair dan yang lainnya tidak ingin terlibat masalah dengan mereka. Selama tidak ada pertumpahan darah yang akan terjadi, mereka tidak akan melakukan apapun.
Altair kembali menaikan tudung jubahnya untuk menutupi kepalanya, dia punya firasat buruk dengan hal itu. Saat seseorang tiba-tiba saja muncul dibelakang Yi dan Remilia, dan langsung merangkuh pundak mereka.
" Hei, teman-teman. Disini ada wanita-wanita cantik. " ucapnya yang pasti langsung menarik perhatian orang-orang, tentu saja orang yang ia panggil teman juga.
Disisi lain, Israhi dan yang lain menatapnya dingin, bahkan Remilia menatapnya tidak suka. " Lepaskan. " ucapnya dengan tatapan nyalang.
Tapi bukannya melepaskan mereka, orang itu justru tertawa kencang. Dan pelayan lain berusaha menghentikan nya...
" Tu-tuan.. tolong jangan memancing keributan disini. "
" Ah, minggir! "
Tapi dia didorong dengan kasar oleh orang itu. Disaat yang sama, saat seseorang juga menarik langan Altair.
" Ah!"
Altair sangat terkejut dengan itu, apalagi karena dia langsung menarik tudung jubahnya untuk melihat wajahnya.
" Wah, lihat ini. Kita menemukan sesuatu yang labih berkualitas. " ucap orang yang menarik lengannya itu.
Brakk...
" Lepaskan dia!." Mira yang melihat nya pun langsung naik pitam dan bangkit dari duduknya.
Namun orang-orang itu tidak berhenti dan justru berkerumun disekitar mereka, sementara orang-orang yang lain pergi keluar untuk menyelamatkan diri sendiri.
" Oh, aku mengenalnya. " ucap salah seorang dari mereka pula saat melihat Altair, " Dia gadis yang berhubungan dengan keluarga Kekaisaran Foldes, aku pernah lihat dia bersama para pangeran dikota beberapa kali. "
" Kedengarannya seperti dia begitu berharga."
" Dia bisa dijual dengan harga tinggi."
Altair yang mendengar percakapan mereka itu sedikit tersentak, namun ia tidak terlalu takut. Dia bisa melepaskan diri dengan mudah, ia pun melihat kearah yang lain... mereka siap menyerang kapan saja. Bahkan Mira sudah menganggam pedang besarnya dengan begitu erat.
" Coba lihat apa yang ada didalam tasnya. "
Saat Altair tiba-tiba dikejutkan dengan itu, salah satu dari mereka mengacak-acak barangnya. " Ah! Tdk, hentikan itu!" Altair takut sesuatu yang sangat berharga didalamnya akan rusak.
Namun tidak ada yang mendengarkannya sama sekali, sampai orang itu berhenti kerena tidak menemukan sesuatu yang dianggapnya berharga dari sana.
" Cih. Semuanya barang tidak berguna. " ucapnya yang kemudian menendang salah satu benda Altair.
Altair merasa seperti dipukul melihat nya, itu karena... sesuatu yang ditendangnya adalah sesuatu yang dia anggap berharga. Topeng itu... Topeng peninggalan teman baiknya, Milya. Altair merasa dingin disatu sisi, dan segera setelah itu tatapan matanya tidak lagi menunjukan persahabatan.
Ditengah orang-orang itu yang tidak menyadari kalau diri mereka sendiri dalam bahaya, Altair meraih tangan orang yang sedari tadi memeganginya itu. Membuat perhatian nya teralihkan kepadanya secara alami.
" Kalian... Adalah tipe orang yang paling kubenci ." ucap Altair, saat kemudian...
" Huh..? Apa yang-..."
Kretek...
" Aakk!!"
...Altair memelintir tangan orang itu sampai kelihatan nya patah. Orang itu pun jatuh terduduk sambil menahan rasa sakit ditangan nya, sementara teman-teman nya yang lain terkejut dengan itu.
" Apa?!"
" Beraninya kau!!"
Salah satu dari mereka berusaha memukulnya, tapi...
Bughh...
Mira lebih cepat dan menendang wajahnya sampai ia terlempar menghantam meja-meja lain disana. Bukan hanya dia.. Yang lainnya pun menyerang orang-orang itu, bahkan Remilia langsung menyetrum orang yang sebelumnya mengganggu dirinya dan Yi. Sementara mereka terlihat santai dikursi mereka, bahkan Yi sempat meminum teh miliknya dengan tenang ketika itu terjadi.
Masalah itu berakhir dengan cepat dan mudah, salah mereka mengganggu orang yang sama sekali tidak sesuai dengan level mereka saat ini.
Orang-orang itu dibawa oleh pasukan keamanan yang ada dikota, saat Mira dan Israhi patungan mengganti kerugian yang diterima oleh pemilik tempat itu. Disisi lain, Altair hanya diam sambil memandangi topeng peninggalan temannya itu yang sebelumnya ditendang salah satu orang-orang itu dengan tatapan sendu.
Israhi sedikit meliriknya yang ada diantara teman-teman nya saat itu, ia mengenali topeng itu. Tapi tidak menanyakan nya sama sekali... Belum.
* Remilia Christa.
*Yi