
Ketika Milya membuka matanya lagi, ia berada di tempat yang tidak asing baginya. Ia mengingat apa yang terjadi beberapa saat yang lalu, kekuatan nya meledak dan ia terkurung di dalam tornado. Sulit dipercaya sekarang dia baik-baik saja, tapi seperti itulah kenyataan-nya.
Perhatian nya pun teralihkan kepada Altair yang tertidur diatas kursi disampingnya, ia pasti yang membawanya kembali ke vila dan mengobatinya. Tapi Milya masih tidak tahu bagaimana ia bisa selamat dari tornado itu, meski begitu ia bersyukur Altair baik-baik saja. Orang yang telah menyelamatkan nya, senyuman bahagia pun terlihat di wajahnya.
Sementara Altair yang duduk dikursi, ketika tubuhnya semakin miring kesisi kursi. Ia langsung terbangun dengan sangat terkejut karena hampir jatuh ke lantai.
" Astaga, ya ampun! " ucapnya yang terkejut, ia pun menggosok matanya yang masih terasa berat sebentar sampai kemudian ia sadar kalau Milya telah bangun dan sedang menatapnya saat ini.
" Milya! Akhirnya kau bangun juga, kau baik-baik saja kan??" tanya Altair dengan sangat khawatir.
Senyuman Milya sama sekali tidak menghilang, " Ya, aku baik-baik saja. " jawab Milya.
Saat sesuatu juga mendekat dan langsung memeluk Milya, " Kontraktor!! Syukurlah, syukurlah kau baik-baik saja!." Shyl, peri angin yang melakukan kontrak dengan Milya menangis tersedu-sedu melihat nya akhirnya bangun.
" Shyl, maaf aku membuatmu khawatir. " ucap Milya pula.
" Kontraktor, aku senang kau baik-baik saja. Aku sangat takut kau terluka. " Shyl benar-benar peduli padanya.
Hubungan antara peri dan kontraktor mereka memang sangat dekat, apalagi karena peri yang juga bisa merasakan emosi dari pemilik mereka. Dan jika terjadi sesuatu kepada kontraktor mereka, peri tidak akan diam saja dan cenderung rela mengorbankan diri mereka sendiri demi pemilik mereka.
Altair mengatahui hal itu...
" Aku juga senang kau baik-baik saja, aku sangat khawatir saat melihat mu tiba-tiba dikelilingi angin seperti itu. Untung saja masih bisa dihentikan. " ucap Altair kepada Milya.
" Begitu ya, kau sendiri tidak terluka kan?" tanya Milya padanya.
" Tidak.. lagi pula, aku mendapat bantuan dari Lumine. Roh cahaya yang ada didalam diriku, berkatnya juga kekuatan mu jadi tenang sekarang. " jawab Altair.
" Terima kasih, untuk semuanya Altair." Milya benar-benar bersyukur bisa bertemu dengan Altair.
Altair pun tersenyum senang karena bisa membantu, " Sama-sama, itulah gunanya teman. " ucapnya.
Milya juga senang mendengar nya, namun ada sesuatu yang ia sembunyikan, dan sekarang... mungkin adalah waktu yang tepat untuk mengatakannya.
" Sejujurnya, Altair... Aku tidak bisa hidup lebih lama lagi. " ucap Milya yang membuat Altair dan juga Shyl yang mendengar itu terkejut.
" A-Apa yang kau katakan??" tanya Altair.
" Kontraktor..." dan Shyl pun juga khawatir kembali, karena jujur saja.. dia juga tahu kondisi tubuh Milya yang sebenarnya.
" Maaf telah menyembunyikan hal ini, tapi ini batasanku. Aku sudah hidup terlalu lama, mungkin lebih dari 100 tahun, aku tidak terlalu ingat. " ucap Milya.
Altair tidak bisa mengatakan apa-apa mendengar itu, ia hanya berusaha untuk tidak menangis saat ini.
" Kau ingat kelompok yang kita bicarakan kemarin, Altair? " tanya Milya yang kemudian diangguki oleh Altair. " Sekitar 100 tahun yang lalu, aku lahir disebuah desa kecil diselatan. Orang-orang itu juga datang ke sana dan menangkap semua orang yang ada disana, siapapun yang melawan akan didibunuh. Saat itu, kami dipaksa untuk membangun sebuah menara yang bisa menyerap energi sihir. Tidak ada yang tahu untuk apa mereka melakukan hal itu. " ucap Milya yang memulai cerita hidupnya selama ini, raut wajahnya terlihat begitu sedih mengingat hal itu.
" Tapi kemudian, aku membangkitkan kekuatan ku. Aku terlahir bisa mengendalikan angin, dan itu menarik perhatian seorang peneliti disana. Setelah itu akupun dialih tugaskan, mereka melatihku cara bertarung agar aku bisa bekerja sebagai petarung untuk mereka. Latihan yang berat harus kulalui seorang diri tanpa bisa meminta bantuan siapapun, kemudian aku memanggil Shyl sebagai temanku, hari-hariku pun tak lagi kesepian. Meski begitu, bukan berarti aku senang dengan pekerjaan baruku, terkadang aku diharuskan membunuh orang lain yang tidak bersalah. Tahun demi tahun bekerja tanpa arti, keluargaku meninggal satu persatu karena kerja paksa itu. Dan saat aku berusia 19 tahun, beliau datang. " ucap Milya.
" Beliau..." gumam Altair, ia ingin tahu siapa yang dimaksud oleh Milya. Orang yang begitu penting baginya, sampai bisa memberikan harapan dimatanya.
" Ya, beliau memiliki rambut emas yang berkilau, sangat cantik dan juga sangat baik. " Milya terlihat begitu senang saat mengingat orang itu.
Disisi lain, Altair tersentak kaget saat mendengar kalau orang itu memiliki rambut emas. Dia berpikir mungkin saja orang itu adalah orang yang dimimpikannya saat itu.
Altair pun tersenyum dan balas mengganggam tangannya, " Aku disini. " ucapnya dengan suara lembut.
Milya pun ikut tersenyum, " Saat bersamamu.. aku merasakan perasaan deja vu, sama seperti ketika aku bersama dengan guru. Karena itu aku yakin saat aku berkata kalau kau 'spesial', kau sangat mirip dengan guruku. " ucapnya pula.
Altair merasa berat hati ketika mendengar itu, guru yang ia maksud itu pasti sangat berharga baginya. Itu membuat air mata Altair jatuh tak bisa terbendung lagi, jadi ia pun berusaha menghapusnya.
" Altair, hidupku penuh dengan penderitaan. Tapi, aku sama sekali tidak menyesal melalui semua hal itu. Karena nya aku bisa bertemu dengan orang-orang yang baik seperti mu dan guruku. Aku bahagia. Karena itu, aku ingin memberikan pedang dan topeng milikku padamu, itu adalah topeng dan pedang yang diberikan oleh guru padaku." ucap Milya.
" Milya..."
" Kontraktor, jangan pergi. Shyl tidak mau berpisah denganmu. " ia menangis sedih, suaranya bergetar begitu memilukan.
Milya pun mengulurkan tangannya dan menyentuh Shyl dengan jarinya, " Maaf Shyl, tapi inilah perpisahan kita. " ucap Milya.
" Tunggu!. " Altair memotong dan bangkit berdiri dari duduknya, " Pasti masih ada caranya! Aku pasti akan menolongmu, karena itulah... karena itulah tolong bertahan sebentar lagi. " ucapnya.
Milya bisa merasakan ketulusan Altair, dari air mata yang ia teteskan untuknya dia benar-benar peduli. Tapi Milya tidak mau memberikan beban kepada orang yang berharga baginya.
" Altair... Ada satu hal.. yang bisa kau lakukan untuk ku." ucap Milya kemudian, Altair yang mendengar nya pun mengangkat kepalanya menatap Milya. " Jika suatu hari... kau bertemu dengan guruku, bisakah kau bilang padanya kalau aku menyayanginya. " lanjutnya.
Altair pun menganggukan kepalanya, " Ya.. Iya, aku akan memberitahunya. " jawab Altair.
" Lalu... bisakah aku tidur disini. Aku ingin merasa dekat denganmu, jadi.. tolong izinkan aku untuk beristirahat selamanya ditanah yang kau kasihi. " pintanya juga.
Hati Altair begitu sakit saat mendengar hal itu, " ..Tentu saja.. " jawab Altair lagi.
" ...Terima kasih..." ucap Milya yang terdengar lemah, sampai kemudian menghilang ditengah keheningan malam.
" Hik.. "
" Kontraktor..."
Malam itu, yang terdengar disana hanya tangisan dari mereka yang ditinggalkan Milya. Bahkan Zico yang diam memperhatikan itu dari kejauhan, hanya bisa terdiam.
****
Ketika matahari terbit, Altair berdiri diluar. Memandangi sebuah makam baru yang telah ia buat sendiri. Sesuai permintaanya, Altair memakamkan Milya disana. Dan ia baru saja selesai melakukannya.
Air matanya tidak lagi turun, tapi hatinya masih terasa berat. Sekali lagi ia melihat orang yang berharga baginya pergi meninggalkannya. Altair menundukan kepalanya melihat topeng milik temannya itu, kemudian ia pun menyimpannya ditempat yang berharga.
" Nona Altair..." perhatian Altair teralihkan ketika Shyl memanggilnya, Shyl terbang dihadapannya sambil tertunduk menganggam kedua tangannya erat. " Terima kasih karena telah merawat Kontraktorku, aku sangat berterima kasih. Dan juga.. karena membiarkan Kontraktor tidur di tempat yang dia inginkan. Aku akan segera kembali ke tempatku berasal, tapi... aku merasa kalau ini bukanlah perpisahan kita. Jadi... jika suatu hari kita bertemu lagi. Bisakah anda menceritakan apa yang anda sukai dan alami??" ucapnya kepada Altair.
Altair yang mendengar nya pun tersenyum kepada Shyl, " Tentu saja. Aku akan menceritakan dan membawakan mananan enak untukmu. " jawabnya dengan pasti.
Shyl yang mendengar nya pun tersenyum gembira, kemudian mengucapkan salam perpisahan mereka yang sementara. " Kalau begitu, sampai jumpa lagi, Nona Altair." ucapnya yang kemudian terbang tinggi kelangit dan tidak terlihat lagi.
Sementara Altair hanya diam di tempat nya melihat itu. Setelah beberapa saat terdiam, Zico mengajaknya untuk kembali. Dan Altair pun berbalik pergi dari sana, untuk pulang ke istana kekaisaran.
" Milya, dia yang ditakdirkan bertemu denganku... Beristirahatlah dengan tenang ditanah yang kuberkati. Semoga dia bisa terus bermimpi indah dan tidak pernah terbangun dari mimpi itu selamanya, kuharap kebahagiaan akan selalu menyertainya dikehidupan selanjutnya. "