Single Mother

Single Mother
Accident



Mencari Daddy  Bag. 94


Oleh Sept


Rate 18 +


"Lempar bolanya!" seru anak laki-laki yang usianya sebaya dengan Altar. Namun, penampilan anak itu lebih lusuh dan baju yang ia kenakan sangat kotor. Benar-benar dekill seperti tidak pernah mandi. Dan dengan ragu, Altar pun meraih bola yang sudah mengelinding di bawah kakinya.


"Cepetan! Dengar nggak sih?" teriak anak dengan pakaian lusuh tersebut.


Bibir Altar langsung mengerucut, ia paling sebal bila dibentak. Dengan kesal, Altar menendang bola itu hingga mengenai sebuah gerobak yang mangkal tidak jauh dari sana. Seketika, anak pemilik bola langsung lari kencang.


"Woi ... cepet lari!"


Altar hanya bengong, ia hanya diam terpaku saat seorang pria berusia 50 tahunan datang kepadanya.


"Anak nakal!" maki pria tua itu dengan kesal.


Altar memutar bola matanya, menatap Pak tua dari atas sampai bawah. Dilihatnya kepala Pak tua yang sudah botak itu, mengingatkan Altar pada kartu Jepang yang selalu ia tonton on-line di rumah bersama Ara. Tanpa sadar, sudut bibirnya malah tertarik ke atas. Altar ingin tersenyum. Namun, ia berusaha mencoba menahan.


"Apa yang kau tertawakan! Mana orang tuamu! Lihat, daganganku," bentak pak tua.


"Bukan bolaku, Kek!" Altar mencoba mengelak. Karena itu memang bukan bolanya. Meski, ia yang sudah membuat bola itu mengenai gerobak Pak tua.


"Heiii anak nakal! Kamu pikir saya tidak melihatnya?"


"Kakek sih, jualan sembarangan!"


Memang di area taman, dilarang untuk berjualan. Dan seperti kakek itu melangar peraturan. Namun, ia malah marah. Marah karena anak kecil itu terus saja menjawab saat dimarahi. Kesal, si kakek langsung menjewer telinga Altar.


"Aduh! Aduh! Sakit, Kek!" Altar menarik diri. Namun, tangan si kakek tidak lepas dari telinganya. Makin lama jeweran si kakek malah terasa panas dan sakit.


"Ampun, Kek. Sakit, Kek!"


Saat kejadian menjewer itu, ada orang yang lalu lalang menegur si kakak.


"Tahu apa kalian! Jangan ikut urusan orang!" sentak kakek dengan garang. Orang-orang itu pun lalu menjauh. Si kakek terlihat jahat, mereka tidak mau ikut campur. Dan baru selesai memarahi orang yang kebetulan lewat, tiba-tiba si kakek merasakan sesak.


Pria tua itu memegangi dadanyaa. Matanya menutup menahan sakit.


"Kek!" panggil Altar yang melihat kakek tua itu mendadak ambruk.


"Kakek! Kakek! Kakek!" panggil Altar panik.


Altar pun berlari mencari pertolongan, ia melihat abang tukang bakso sedang menarik gerobak. Dengan cepat, ia berlari menghadang abang tukang bakso.


"Beli bakso, dik?"


"Bukan! Bang ... tolongin .. Abang, ada kakek pingsan."


Orang itu hanya melirik lalu berjalan kembali. Sedangkan Altar, anak kecil itu tidak putus asa. Ia pun meminta bantuan pada pejalan kaki yang lewat, sayang sekali, semua seolah acuh pada anak kecil tersebut.


Bingung, Altar yang tidak tahu harus apa. Ia pun melihat banyak kerumunan di sebuah toko di seberang jalan. Yakin ada salah satu diantara mereka yang mau menolong si kakek, Altar pun memutuskan menyabrang jalan. Dengan tergesa-gesa anak kecil itu menyeberangi jalan yang padat.


Tin ... tin ... tin


WUSHHHH


BRUAKKK


***


Wiu wiu wiu


Tubuh anak kecil itu kemudian dibawa ke sebuah rumah sakit. Altar dibawa tanpa ada yang mendampingi. Anak kecil itu pergi seorang diri. Darah segar masih menetes, anak itu sepertinya masih sadar. Namun, saat pintu mobil ambulan ditutup, tangannya terkulai lemas.


Bersambung.