Single Mother

Single Mother
Bertemu Camer



Mencari Daddy  Bag. 30


Oleh Sept


Rate 18 +


"Ikhlas apa ya, Mbak Lilik?" tanya Kanina panik. Ia sudah hampir menangis saat mendengar ucapan tetangganya itu. Pikiran Kanina sudah lari kemana-mana.


"Kamu sebenarnya tidak boleh menginjakkan kaki di kampung ini lagi, sebelum ada warga yang tahu. Kamu mendingan pergi. Sana masuk mobil lagi. Buruan tinggalin kampung ini. Lebih baik pergi secara terhormat dari pada nanti diusir warga," saran mbak Lilik. Namun, matanya tertegun dan terkesima saat melihat pria yang berdiri di belakang Kanina.


"Lalu Ibuk sama mbak Roh bagaimana?" tanya Kanina lagi. Ia masih belum mendapat jawaban atas pertanyaan yang ia berikan.


"Ada ... di kampung duren. Kamu tahu kan kampung itu? kampung lama Mbak Roh sebelum tinggal bersama kalian."


"Kenapa mereka juga pergi?"


"Ya Allah Kanina, mana betah bu Lastri dan mbak Roh menjalani hidup dengan tatapan sinis para warga yang sering ngomongin kamu. Lama-lama kuping mbak Roh panas, ia sampai ribut sama warga lain. Karena belain kamu. Alhasil, mbak Roh sampai masuk tahanan. Karena yang dipukul tidak terima."


"Ya Allah ...!"


"Makanya, sudah ... ikhlasin saja rumah ini. Mbak Lilik jamin, kamu pasti tidak betah. Meski sudah setengah tahun, tapi desas-desus dan omongan miring tentang kamu itu masih panas di kampung ini."


"Ayo masuk, Nin! Terima kasih, Mbak." Gara yang sejak tadi mendengar penuturan panjang lebar tetangga Kanina tersebut, ia langsung meraih pundak Kanina. Tidak bagus mereka di sana lama-lama.


Sedangkan bu Sadewo, ia mencoba tersenyum ramah pada tetangga Kanina tersebut. Kemudian masuk ke dalam mobil.


"Oalah ... itu toh bapaknya si bayi. Apa Nina jadi istri simpanan, ya? Wah ... enak bener Kanina. Bisa naik mobil ke mana-mana. Kalau hujan tidak kehujanan. Kalau panas tidak kepanasan," gumam mbak Lilik.


Itulah penyakit manusia, iri hati, di depan bisa tersenyum dan kadang ikut prihahatin. Namun, jauh di lubuk hatinya, tersimpan rasa iri atas apa yang menjadi keberuntungan orang lain.


***


"Jauh apa tidak kampungnya, Nin?"


"Dekat, Mas. Tidak sampai satu jam."


"Masalah warga di kampung, sudah ... kamu jangan mikir aneh-aneh. Sekarang fokus sama Altar. Malah lebih bagus bila mereka tidak mau menerima kamu. Toh, kita tidak akan ke sana lagi."


Gara mencoba memghibur Kanina. Mungkin Kanina berkecil hati karena tahu bahwa ia sudah dilarang masuk kampung itu lagi.


"Kamu dengar saya, kan?" tanya Gara sambil melirik.


"Iya." Kanina mengangguk.


Sedangkan bu Sadewo, ia seperti obat nyamuk saat duduk di kuris belakang. Menyaksikan kekakuan sang putra saat berbicara pada Kanina.


***


Seperti rute sebelumnya, hanya tidak separah jalan masuk desa Kanina. Meskipun bukan aspal, setidaknya jalan itu dicor dan lebih mulus.


"Nah ... ini jalannya agak enakan, Nin," celetuk bu Sadewo.


Gara hanya tersenyum tipis. Dan saat ada gapuro bertulisan selamat datang, ia langsung bertanya pada Kanina.


"Ini kampungnya?"


"Bukan, Mas."


"Masih lurus terus, nanti ada pom bensin mini kita belok kanan. Saat ada jembatan kecil, lalu belok kiri."


Setelah hampir satu kilo, akhirnya mereka menjumpai gapura desa lagi.


"Ini desanya?"


"Iya, tapi Kanina sedikit lupa. Rumah mbak Roh di sebelah mana."


"Mudah saja, nanti kita tanya warga."


Karena Kanina sudah lupa di mana letak rumah mbak Roh, akhirnya mereka memutuskan bertanya pada penduduk sekitar yang kebetulan ada di depan teras.


"Maaf, Pak. Menganggu waktunya sebentar. Saya mau tanya alamat." Gara yang langsung turun dari mobil, bergegas bertanya pada warga desa sekitar.


"Iya, Pak. Monggo ... alamat siapa ya?"


"Mbak Roh," selah Kanina.


"Mbak Roh siapa, ya?"


"Mbak Rohma dan bu Lastri."


"Oh ... itu rumahnya."


Kanina dan Gara pun menoleh pada rumah yang ditunjuk oleh penduduk desa tersebut.


"Matur suwun, Pak." (Terima kasih, Pak)


"Nggeh ... samai-sami." (Iya, sama-sama)


Mereka lantas berjalan menuju rumah yang tidak jauh dari posisi mereka sekarang. Saat sudah dekat, hati Kanina semakin bergetar hebat. Dilihatnya sang ibu sedang duduk melamun di teras rumah yang sangat seserahan tersebut.


Sedangkan Mbak Roh, Kanina melihat wanita tersebut sedang memasukkan kayu bakar yang ada di halaman. Membawa kayu-kayu itu dan menaruhnya di samping rumah, agar tidak kehujanan.


"Buk ... Mbak ..." suaranya bergetar tak kala menyebut orang-orang yang sudah lama ia rindukan.


"Masyallah! Ninaaaaa!"


Bruakkkk


Mbak Roh langsung membuang kayu bakar yang semula ia bawa. Ia berlari menuju ke arah Kanina dan langsung memeluk Kanina yang selama ini hilang.


"Ya Alah Kanina!" keduanya saling berpelukan dengan isak tangis yang menyelimuti.


"Ayo sini ... ibukmu nangis terus setiap malam. Ia selalu berdoa, semoga ia diberi umur dan bisa bertemu lagi," ujar Mbak Roh sambil menarik lengan Kanina dan sebelah tangannya lagi, mengusap pipinya yang basah.


Tidak bisa berkata-kata, ketika melihat putrinya yang menghilang kembali muncul lagi, bu Lastri pun hanya tersedu tanpa suara. Hal itu semkain menyayat hati Kanina.


"Maafin Kanina, Buk." Isak Kanina, ia bersimpuh di depan bu Lastri yang masih duduk. Rasanya lutut bu Lastri sudah gemetar tidak bisa bangkit.


Rasa rindu yang selama ini sudah menggunung, dicampur khawatir tentang keadaan Kanina, membuat air mata bu Lastri tumpah. Tidak bisa lagi membendung tangisnya, mereka bertiga pun menangis bersama.


Detik berikutnya, Gara berjalan mendekat bersama mamanya yang tengah menggendong Altar.


"Siapa itu, Nin?" tanya bu Lastri sambil mengusap air matanya dengan ujung kebaya lusuh milknya.


"Kenalkan, Bu ... Saya Anggara, calon suami Kanina. Dan ini ibu saya." Gara mengulurkan tangan. Namun, bu Lastri nampak enggan menyambut uluran tangan tersebut. Ia malah menatap Kanina. Bersambung.