Single Mother

Single Mother
PINGSAN



Mencari Daddy Bag. 51


Oleh Sept


Rate 18 +


Beberapa minggu kemudian.


Juanda International Airport


Alung sedang berjalan dengan sang mama, pesawat keduanya baru saja mendarat beberapa saat yang lalu. Mama Ami terlihat jauh lebih sehat, apalagi dijanjikan bertemu dengan sang cucu. Wanita paruh baya itu pun nampak bersemangat.


Dasar Alung, tahu bila ingin bertemu pasti ditolak, ia langsung saja membawa sang mama ke Surabaya. Ia menggunakan sang mama sebagai senjata. Barangkali Kanina dan keluarganya akan sedikit iba. Lagian ia juga ingin menemui putranya itu. Putra yang hanya bisa ia lihat dari jauh. Putra yang membuatnya tengelam dalam rasa sesal beberapa tahun terakhir ini.


Tanpa gadis, tanpa minum, Alung benar-benar fokus pada pekerjaan dan perawatan sang mama. Sepertinya pria itu benar-benar menyesali perbuatannya dahulu.


"Masih jauh, Lung?" Mama Ami melihat sekeliling, susananya masih asri. Pepohonan hijau, burung berterbangan dan suara gemricik sungai yang mengalir di sebelah kanan kiri jalan. Enak juga tinggal di sana, pikir mama Ami. Mungkin mama Ami bosan hidup di kota metropolitan selama ini.


"Mama tidur aja, kita masih jauh."


"Masih jauh? Kita kan sudah mengendara cukup lama?" Mama ini sebenarnya sudah tidak sabar, ingin buru-buru ketemu dengan anaknya Alung. Dari tadi ia menatap foto Altar di layar ponselnya. Ia meminta foto Altar dikirim ke smartphone miliknya. Foto yang diambil diam-diam itu rupanya sangat berguna sebagai pelipur lara wanita paruh baya tersebut.


Karena lamanya perjalanan, tidak terasa mama Ami sampai tertidur. Alung baru membangunkan sang mama saat mereka sudah berhenti di depan rumah Gara.


"Ma ... Mama! Kita sudah sampai!" Alung memegang pundak sang mama. Dengan pelan ia membangunkan mamanya itu.


Mama Ami mengerjap, ia menoleh kanan dan kiri, kemudian mengusap matanya dengan jari-jarinya.


"Sudah sampai?"


Alung mengangguk pelan.


"Ayo, Ma. Kita turun." Alung pun membantu sang mama turun. Mereka kemudian mendatangi kediaman Gara dan Kanina tersebut.


Tok Tok Tok


Ting tung


Tok Tok Tok


"Iya sebentar!" jawab mbak Roh yang kala itu sedang menemani Altar main bus Tayooo.


Sebelum membuka pintu, mbak Roh mengintip terlebih dahulu lewat jendela. Karena Gara pesan, jangan bukak pintu untuk orang asing.


Dengan cepat ia meraih mainan palu milik Altar. Hanya alat itu yang bisa ia raih saat ini.


KLEK


Saat pintu terbuka, mbak Roh langsung menyerang Alung.


BUGH BUGH BUGH


"Eh!!!! Kamu apain putra Saya?" Mama Ami langsung memarahi mbak Roh. Matanya melotot pada mbak Roh yang sibuk memukul putranya.


"Kenapa datang ke sini lagi? Mau Saya panggil polisi?" ancam mbak Roh.


"Tunggu! Saya bisa jelaskan dulu. Tolong Dengarkan dulu!" pinta Alung sembari mengusap pundaknya yang sakit.


Chittttt ...


Saat suasana masih kacau, sebuah mobil berhenti dan hendak masuk garasi, tapi terhalang mobil Alung yang berhenti di depan rumah.


Gara langsung emosi ketika melihat siapa yang datang. Untuk apalagi pria itu datang ke rumah mereka. Dengan bergegas ia turun dari mobil.


"Mas! Mas!" teriak Kanina. Ia tahu, pasti akan ada duel lagi. Gara kan orangnya pendendam.


Saat akan turun menyusul suaminya, Kanina memegangi kepalanya yang tiba-tiba pusing. Matanya berkunang-kunang. Sepertinya ia kurang darah, pikir kanina dalam hati.


Sedangkan di depan sana, Gara berjalan menghampiri Alung dengan gusar.


"Ada urusan apa lagi?" tanya Gara to the point.


"Maaf, harus mengusik kalian lagi. Tapi ... Mama saya ingin bertemu dengan cucunya."


Gara langsung melotot tajam. Sedangkan Mbak roh, ia langsung masuk ke dalam rumah. Ia membawa Altar ke kamar. Mengunci diri di dalam sana. Tidak mau ada yang mengambil Altar. Entah mengapa, perasaan mbak Roh tidak enak. Belum apa-apa mbak Roh sudah suudzon duluan. Takut Alung dan ibunya membawa Altar.


"Ijinkan saya ketemu cucu saya," mohon mama Ami. Ia menatap Gara, mengharap agar pria itu memberikan ijinnya.


Kanina yang merasa pusing, akhirnya sudah turun dari mobil. Langkahnya semakin pelan, kakinya mendadak lemas. Dan detik berikutnya terdengar suara benda jatuh.


Brukkkkk


Gara menoleh, tidak peduli dengan Alung dan ibunya lagi. Pria itu langsung bergegas membopong tubuh Kanina. Membawanya masuk ke dalam rumah. Sedangkan Alung dan Mama Ami menatap dengan tatapan kebinggungan.


Bersambung.