
Mencari Daddy Bag. 16
Oleh Sept
Rate 18 +
Mana pernah bu Sadewo mengira putra yang ia bangga-banggakan malah berbuat hal sehina itu. Wanita paruh baya yang keluarganya sangat disegani di daerah itu, mendadak merasa lututnya jadi lemas. Ia meraih kursi dan perlahan duduk dengan perasaan campur aduk. Sambil memijit-mijit kepalanya. Tiba-tiba saja ia merasakan pusing.
"Gara ... apa salah Mama? Mengapa kamu tega berbuat ini ... Gara?"
Ia menatap nanar pada putra yang selama ini jadi kebangaan tersebut. Ia elu-eluhkan, dan banyak ibu-ibu yang mau mendaftarkan anak gadis mereka, lalu apa sekarang? Ibu Sadewo masih nampak begitu shock berat.
"Bukan Gara yang membuatnya hamil, Ma!" sela Gara sebelum mamanya salah paham.
"Apa?" Bu Sadewo terlihat lebih bersemangat. Ia yang tadi sangat loyo langsung sedikit bertenaga. "Jadi bukan anakmu?" sambung bu Sadewo dengan antusias. Berharap prasangka pertamanya keliru.
"Bukan!" jawab Gara tenang.
"Lalu kenapa dia di rumah ini?" Wanita itu melirik kamar Kanina.
"Gara hanya ingin menolong."
"Alhamdulillah ... kamu hampir saja membuat jantung Mama copot."
Akhirnya Bu Sadewo bisa bernapas lega, kemudian ia kembali bertanya.
"Lalu siapa dia? Orang tuanya di mana? Pasti mereka khawatir, kenapa kamu bawa ke sini? Kenapa tidak diantar ke rumahnya?" Seperti wartawan, bu Sadewo bertanya dari A sampai Z.
"Diusir dari kampung!" jawab Gara lalu menghela napas panjang.
"Diusir bagaimana?" tanya bu Sadewo heran.
Gara berjalan mendekati sang mama, kemudian membawa mamanya untuk menjauh ke tempat lain, nanti Kanina dengar. Kan ia tidak enak hati kalau pembicaraan keduanya sampai terdengar oleh gadis tersebut.
"Diperrkosa!" ucap Gara lirih. Saat keduanya sudah jauh dari kamar di mana Kanina berada.
Mata bu Sadewo langsung melotot, sorot matanya yang selalu teduh kini berubah seratus delapan pulih derajat. Ia menatap Gara dengan nanar.
"Apa?"
Gara mengangguk.
***
Setelah mendengar cerita Gara dari awal sampai akhir, kini wanita tersebut ikut bersimpati.
"Lalu bagaimana dengan orang tuanya?"
"Ibunya hanya janda miskin, dan sepertinya ia tidak mau melihat ibunya menyaksikan dia diusir. Makanya dia kabur, Ma."
"Lah, terus bagaimana selanjutnya? Apa lapor polisi? Kenapa malah dibawa ke rumah ini? Apalagi ada yang bilang dia istrimu? Bagaimana kamu ini? Sembrono sekali!"
"Lalu mau dibawa ke mana, Ma? Dia sedang hamil juga."
Bu Sadewo meskipun kasihan, tapi ia juga kurang nyaman kalau ada gadis tinggal di rumah putranya. Nanti bagaimana kata orang-orang? Salah-salah, malah Gara yang dikira ayah dari janin tersebut.
"Pokoknya jangan di sini."
"Terus di mana, Ma?"
Dasar mereka memang turunan orang baik, inginnya tidak mau ikut campur. Tapi, hati nurani tetap saja tergugah. Melihat gadis yang bila dipulangkan akan diusir warga kampung setempat, maka mau tidak mau, bu Sadewo harus mengambil keputusan sulit.
"Bawa pulang ke rumah, jangan tinggal di sini!"
"Loh? Di rumah?" Gara mengerutkan dahi. Apa dia tidak salah dengar.
"Nanti bisa Mama atur, Mama akan bilang kalau dia saudara jauh kita. Pokoknya jangan tinggal di sini. Kalau warga lain sampai tau, pasti banyak berita miring!"
Ting tung
Belum selesai bu Sadewo berucap, eh ada tamu tidak diundang lagi.
"Aduh! Siapa itu ... Garaaa?" tanya bu Sadewo dengan gelisah.
"Gara lihat dulu, Ma."
Pria itu lantas membuka pintu rumahnya, ternyata tetangga yang tadi. Ia datang bersama istrinya.
"Malam, Mas Gara. Maaf menganggu waktu istirahatnya ... ini istri saya penasaran dan tidak percaya kalau saya bilang Mas Gara sudah menempati rumah ini bersama istri Mas Gara. Dikira saya bohong, karena dia gentol banget. Yakin Mas Gara belom menikah," cerocos tetangga rumah itu tanpa henti.
"Loh ... Ada bu Dewo, ketemu lagi di sini!" sapanya dengan senyum khas yang ramah layaknya orang di desa pada umumnya.
Bu Sadewo tersenyum kaku, kemudian terdengar benda jatuh dari kamar Kanina. Kontan saja Gara langsung bergegas ke kamar Kanina.
"Nin ...!" Bersambung.