
Mencari Daddy Bag. 58
Oleh Sept
Rate 18 +
"Pak Rafi! Antar gadis ini keluar, sekarang! Perusahaan ini bukan tempat bermain."
Elena memainkan tangannya, gadis itu terlihat cemas dan gelisah.
"Mari, Nona!" Pak Rafi lantas melakukan sesuai perintah sang atasan. Ia mendekati kursi Elena dan siap membuka pintu untuk gadis tersebut.
Sementara dua orang wanita lain yang ada di ruangan yang sama, hanya menatap aneh. Mengapa Elena diusir padahal proses interview bahkan belum dimulai. Rupanya Elena sudah gugur duluan sebelum melakukan interview.
"Saya butuh pekerjaan ini, saya bisa melakukan apa saja."
Elena mendongak, ia belajar menepis rasa takutnya. Yang ia butuhkan saat ini adalah pekerjaan. Ia sanagt butuh uang, keadaannya sedang terdesak.
"Kau salah tempat! Kembali ke tempat di mana seharusnya kamu berada!"
Dua orang yang lain mulai kasak-kusuk, kemudian mereka melihat berkas yang mamang belum mereka lihat. Setelah membaca, barulah mereka paham. Pantas sang atasan marah-marah.
Ternyata Elena benar-benar berpikir perusahaan ini adalah tempat untuk bermain. Gadis itu rupanya masih di bawah umur. Tertera di sana, usia Elena bahkan belum genap 17 tahun. Rupanya wajahnya yang nampak muda, bukan karena babyface. Itu semua karena Elena memang masih anak SMA.
"Mari, Nona!" Pak Rafi masih membujuk, karena Elena enggan beranjak dari tempat duduknya.
Sepertinya Elena bersikeras untuk tetap di ruangan itu. Tidak mau menganggu acara interview selanjutnya, Alung pun mulai mengusir dengan sindiran halus.
"Apa kau tidak tahu letak di mana pintunya?" ujar pimpinan Kakao Group dengan dingin.
Elena menahan napas untuk sesaat, gadis itu kemudian berdiri. Ia berjalan dengan langkah yang berat. Sepertinya, tempat ini memang tidak cocok untuk gadis seperti dirinya. Padahal, ini sudah perusahaan kesekian ia melamar kerja.
Bahkan, sudah seminggu ini ia terpaksa bolos. Kalau bukan karena sesuatu yang mendesak, ia tidak akan kelimpungan seperti ini mencari kerja. Ini gara-gara malam itu. Gadis yang masih berstatus siswi SMK jurusan perhotelan itu harus menelan pil pahit. Ada cerita panjang yang membuat ia kini harus mencari banyak uang.
***
Malam hari
Saat masuk ke sebuah outlet perhiasan, Alung langsung saja menunjuk salah satu benda yang berkilau dan menyilaukan mata tersebut. Yang jelas harganya pasti tidak murah.
"Yang ini, Tuan?"
"Hemm!"
"Baik, tunggu sebentar."
Beberapa saat kemudian
Setelah mengulurkan black cards miliknya, Alung pun menenteng paper bag kecil berisi hadiah untuk sang mama.
"Apa kita langsung balik, Tuan?" tanya Pak Rafi yang sedari tadi mengekor di belakang sang atasan.
Alung hanya mengangguk pelan, dari raut wajahnya terlihat ia sedang lelah sekali. Dan ketika keduanya sedang berjalan mau ke lantai bawah, saat Alung dan Pak Rafi turun lewat eskalator, tidak sengaja mata Alung menatap ke sekitar.
Dilihatnya seorang gadis sedang berdiri di depan sebuah mobil merah yang sedang dipamerkan. Pakaian gadis itu terlalu terbuka, hingga berkali-kali gadis itu menarik ujung rok mini yang dikenakan. Sepertinya gadis itu tidak nyaman dengan apa yang ia kenakan.
Alung terus saja menatapnya saat eskalator terus turun. Namun, kemudian memalingkan wajah untuk sesaat. Seolah tidak peduli dengan pemandangan yang ia lihat.
Pria itu kemudian memejamkan mata, lalu tersenyum kecut. Saat melihat gadis itu lagi. Dilihatnya sang gadis mencoba menyingkirkan tangan seorang pria yang dengan nakal meraba-raba bagian belakang tubuh si gadis. Alung sangat tahu, karena posisinya yang bisa melihat dengan jelas.
Ingin tidak peduli, tapi nuraninya terusik. Setelah menghela napas kesal, Alung bergegas turun tangga eskalator. Membuat pak Rafi heran, kenapa bosnya itu terlihat buru-buru.
Pak Rafi lebih tercenggang lagi ketika melihat hal berikutnya yang terjadi. Alung mendekati seorang pria dan langung memiting tangan pria tersebut.
"Hei! Sialannnnn! Apa yang kau lakukan?" pekik buaya darat yang tangannya sempat jahil terhadap SPG mobil tersebut.
Semua orang pun menatap ke arah mereka. Dan dengan kasar, Alung mendorong tubuh pria itu hingga membentur mobil yang bahkan belum ada pemililiknya tersebut.
"Brengsekkk!"
Pria itu kemudian berbalik dan hendak menghajar Alung. Namun, dengan sekali tendangan. Pak Rafi berhasil membuat orang itu jatuh sebelum melukai sang atasan.
Alung kemudian melepas jas hitam yang ia kenakan. Melemparnya pada Elena. Bersambung.