
Mencari Daddy Bag. 84
Oleh Sept
Rate 18 +
Dengan canggung ia melangkah menuju dapur, membuat dua orang yang ada di dalam sana langsung terdiam seketika. Elena memasang wajah biasa saja, meskipun jujur dalam hati merasa malu. Andai mereka tahu suara-suara apa itu. Hii! Malunya minta ampun.
***
Hotel
Kanina sudah menunggu sejak tadi, ia menanti Alung yang katanya sudah ada di jalan. Rencananya Altar akan kembali ke hotel, sudah cukup menginapnya di rumah daddy-nya. Kanina dan Gara sudah janji, lain kali boleh menginap lagi. Tapi, sekarang pulang dulu ke hotel. Sebab, Ara adiknya juga sudah mencari kakaknya.
Di dalam mobil.
Alung menyetir sembari bicara pada putranya, Altar duduk di samping pria tersebut. Sedangkan Elena mengalah duduk di belakang. Ia ingin memberikan banyak waktu pada Altar sebelum anak itu balik lagi pada orang tuanya.
"Seneng nggak bisa nginep di rumah Daddy?" tanya Alung. Namun, matanya masih tetap fokus pada jalan di depannya. Sedikit macet karena ini sedang jam sibuk. Di mana banyak penggana jalan yang memadati aspal hitam tersebut.
"Besok Altar kalau ke sini lagi, boleh nginep ya, Dad?"
"Boleh banget, itu kan juga rumah Altar. Lain kali kita jalan-jalan yang jauh. Kita ke tempat yang bagus, sama Mommy juga. Oke?" Pria itu melirik pada kaca di depannya. Dilihatnya, sudut bibir Elena terangkat. Sebuah senyum manis mengembang di wajah yang cantik dan sangat muda tersebut. Daun muda yang sangat-sangat menggoda, membuat Alung betah sekali berlama-lama di dalam kamar.
Rasanya, ingin sekali ia cuti saja. Ingin menghabiskan waktunya dengan Elena. Menikmati bulan madu yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Eh ... Tiba-tiba Alung memiliki ide yang sangat brilliant.
***
Hotel
"Mama!" pekik Altar kemudian berlari menghambur pada sang mama. Anak itu kemudian ganti memeluk papanya. Tidak lupa mencubit pipi Ara. Kangen juga rupanya. Selama ini tidak pernah terpisah lebih dari satu hati.
"Terima kasih sudah mengijinkan Altar nginep." Alung mendekat dan mengusap rambut putranya.
"Mom and Dad balik dulu ya, bulan depan kita ketemu lagi. Daddy akan ke rumah Al," tambah Alung sembari memeluk tubuh putranya.
"Kami balik dulu, terima kasih Gara ... Kanina ... dadah, sayang!"
Altar sepertinya berat melepaskan kepergian Daddy-nya. Tapi bagaimana lagi, ia harus balik ke Surabaya. Sembari memegangi mainan robot yang cukup besar hadiah dari Daddy-nya, Altar berjalan masuk kamar hotel sambil diikuti mama papanya dari belakang.
***
Di dalam mobil
"Len!"
"Hem!"
Suasana hening sesaat.
"Gak usah masuk sekolah ya," ucap Alung dengan wajah serius.
Elena langsung menoleh, ia menatap Alung yang kala itu masih menyetir.
"Kan kamunya juga pasti tidak akan nyaman, di sekolah pasti banyak lagi anak-anak pembully seperti yang sudah-sudah. Apalagi status kamu sudah menikah mungkin sudah menyebar. Entah apalagi yang akan merundungmu selanjutnya. Lagian mana bisa aku kirimkan bodyguard ke sekolah. Ikut aku aja ya? Ke kantor ... tiap hari."
Elena memutar bola matanya, jadi ia tidak boleh sekolah? Lalu ... bukannya ke sekolah malah ke kantor? Untuk apa?
"Ngapain Lena di kantor?" tanya Elena dengan muka polos.
"Kamu dulu kan ngelamar kerja di sana, kan? Anggap aja kerja. Bagus kan? Kerja sama suami sendiri. Nanti cuma tidur-tiduran santai di ruangan kerjaku," ucap Alung dengan santai. Tapi, pikirannya sudah memiliki rencana yang sangat matang.
"Hanya tidur-tiduran? Kerja model apa lagi itu?" gumam Elena dalam hati.
"Mau ya? Nanti biar meja Pak Rafi aku singkirin. Aku suruh siapin sofa besar juga buat ditaruh di ruangan. Biar kamunya nyaman."
"Eh ... nggak. Nggak usah."
"Udah ... mau ya? Kamu nggak kasihan sama aku? Kalau di kantor pingin cepet-cepet pulang?"
Elena menelan ludah. Mengapa suaminya berubah jadi bucin seperti ini?
"Gimana?"
"Em ... Lena ikut saja."
"Good!"
Alung menoleh, di raihnya tangan Elena. Sembari menyetir, tangan satunya mengengam tangan istrinya tersebut. Rupanya, Alung sedang bucin tahap satu.
***
Esok harinya, Kakao Group. Pagi-pagi Alung sudah menjadi pusat perhatian. Ini semua lantaran ia berjalan masuk sembari diikutin Elena dari belakang.
"Pak, kalau di kantor kita harus professional, ya. Sesuai janji Kita semalam. Kalau di kantor, Kita bos dan bawahan."
"Hemm!" Alung terlihat masam. Sebab syarat semalam Elena membuatnya sedikit kurang suka. Masa Elena mau ikut ke kantor setiap hari tapi harus merahasiakan status keduanya. Status bahwa mereka suami istri. Kata Elena, ia merasa kurang nyaman, bila karyawan tahu siapa dirinya.
Akhirnya, dengan berat hati Alung pun menerima. Tidak apa-apa hubungan mereka diselubungkan untuk saat ini, yang penting bisa membawa Elena untuk tetap dekat-dekat dengannya itu yang utama.
Dan saat keduanya masuk gedung tadi, banyak sekali kasak-kusuk yang langsung menjadi tranding di antara para karyawan. Kehadiran Elana di kantor, apalagi gadis itu berjalan di belakang CEO mereka, membuat semua pada berargumen masing-masing.
[Sekretaris baru? Lalu di mana Pak Rafi?]
[Aku kira dia pria suci. Semacam pimpinan dalam drama kolosal mencari kitab suci. Ternyata ... sepertinya dia juga suka perempuan, Lihat! Betapa muda sekali seleranya. Aku hampir terkecoh.]
[Siapa gadis itu? Wajahnya tidak asing]
Sebagian yang ikut interview dulu, pasti hafal wajah Elena yang memang sangat fresh dan muda kala itu.
[Apa simpanan, Bos? Tapi tunggu ... bos belum menikah, untuk apa memiliki simpanan?] Jadi tidak ada yang tahu kalau Alung sudah menikah. Hanya Pak Rafi, selebihnya yang mereka tahu, atasan mereka masih perjaka.
[Aku sudah pernah mencoba menggoda Pak Alung, tapi pria itu sama sekali tidak terpenggaruh. Bahkan sering kali kulepas 3 kancing bajuku saat mengantar kopi ke ruangannya. Dari pada tergoda, bos malah menatapku galak] Salah satu pegawai yang pernah ingin memikat hati Alung yang terkenal masih single tersebut.
Mungkin hari itu juga hari patah hati bagi para karyawan Alung di perusahaan itu. Sebab, selama ini Alung terkenal menjaga jarak dengan karyawan wanita. Sudah bertahun-tahun sekretarisnya ya itu-itu saja. Tapi sekarang, tercipta sejarah baru. Dan gosip hangat pun menyebar. Bersambung.