
Mencari Daddy Bag. 78
Oleh Sept
Rate 18 +
"Sekali lagi kamu berani menyentuh sedikit saja istri saya! Saya patahkan tanganmu!" ujar Alung dengan tatapan yang menusuk. Kontan saja Angel yang semula sangat berani langsung menciut. Apalagi ada kata-kata istri. Gila! Rupanya bukan sugar daddy-nya, tapi suaminya. Astagaaa! Sepertinya ia salah sasaran.
Bola mata Angel langsung memutar, bingung kok jadi begini. Ia kemudian menatap teman-temannya yang juga sama dibawa ke kantor polisi. Mereka semua dijemput paksa saat di rumah masing-masing.
"Kami gak ikut-ikutan, Pak! Dia yang menyuruh kami menghajar Elena!" teriak salah satu teman yang mau menyelamatkan dirinya sendiri.
"Eh! Taiiiiiii kucing!!! Sialannnn lo!" maki Angel yang kembali tersulut emosinya. Ia meronta, siap menghajar teman satu gengnya yang mulai tidak setia.
"Bener, Pak! Dia yang menyuruh kami. Kami hanya melakukan perintah," sela teman yang tidak setia lainnya.
"Cuihhhhh ... Astagaaa! Sudah bosan hidup kalian semua?" maki Angel dengan frustasi.
Kesal, Alung kembali angkat bicara.
"Saya mau mereka dihukum! Tidak ada kata damai!"
Semua geng bar-bar itu langsung melotot, mereka kemudian menatap ke arah Elena.
"Len!!! Tolong maafin kami. Bentar lagi kita ujian. Lagian kamu juga gak sampai masuk rumah sakit!"
Semakin marah lah suami Elena tersebut, hampir saja ia menampar gadis yang barusan bicara itu. Kalau tidak diamankan oleh petugas duluan, sudah pasti akan merasakan telapak tangan Alung yang pasti panas tersebut.
***
Beberapa saat kemudian
Alung sedang menghubungi pengacara, ia mau anak-anak badung itu dihukum dengan tegas. Dan saat itulah Elena punya kesempatan hanya berdua saja dengan Fuji.
"Eh, suami kamu gila!!! Ah, sial!!! Jadi pengen nikah!" celoteh Fuji sambil menikmati kopi hangat.
"Jangan! Sakit!"
Fuji memincingkan mata, tidak tahu maksud dari perkataan Elena.
"Sakit? Maksudnya?"
Elena langsung kikuk. Ah, bisa-bisanya ia berkata seperti itu. Dengan gelisah ia memegangi tengkuknya.
"Bukan! Lupakan." Elena nampak malu-malu kucing. Dan itu membuat mata Fuji terbelalak. Gadis pintar itu pun mulai menebak yang bukan-bukan.
"Heiiii ... jangan bilang kalian udah itu?" Fuji nampak begitu kepo dan sangat antusias. Matanya jadi berbinar-binar.
Jelas saja Elena langsung malu, ia tidak bisa berbicara lagi sambil menatap mata temannya itu.
"Gilaaaa! Ujian masih beberapa bulan lagi. Nanti kalau hamil gimana?" tanya Fuji dengan suaranya yang cempreng dan nyaring tersebut.
Beberapa orang yang lewat langsung menatap keduanya. Elena pun membungkam mulut temannya itu, karena kini keduanya malah jadi pusat perhatian.
"Tapi kamu pakai pengaman, kan?" canda Fuji sambil mengejek.
Elena menggeleng dengan lugu.
"Kamu mau ngerjain USA dengan perut besar?"
Ehem ... ehem ...
Alung berdehem, ia sempat menguping sebentar saat selesai menghubungi pengacara.
Seketika, Elena dan Fuji langsung mode diam. Keduanya nampak tenang seolah tidak ada yang terjadi.
"Ayo pulang, dan Fuji ... mau sekalian saya antar?"
"Nggak, Om. Nanti sudah ada yang jemput."
"Baiklah ... Kami pergi dulu, terima kasih sebelumnya," ucap Alung tulus. Karena gadis itu sudah mau datang malam-malam.
"Sama-sama."
Fuji kemudian memeluk Elena, sembari membisikan sesuatu.
"Jangan lupa pakai kondommmm!" bisik Fuji dengan jahil.
Karena temannya begitu usil, Elena pun mencubit pinggang temannya itu. Hingga Fuji mengadu kesakitan.
***
Pulang dari kantor polisi, mereka langsung kembali ke rumah. Malam sudah larut saat keduanya sudah sampai di rumah. Baby Gavi pun sudah tidur lelap. Suasana kembali canggung saat mereka hanya berdua di ruang tamu.
"Besok jangan ke sekolah dulu." Suara Alung memecah sunyi.
"Tapi ada ulangan harian."
"Bisa nyusul!" cetus Alung singkat.
Elena tidak membantah lagi.
"Bagaimana dengan lukamu?" tanya Alung kemudian.
"Tidak apa-apa, sudah tidak apa-apa."
"Benarkah?" tatap Alung penuh selidik, dan tatapan itu membuat Elena merasa takut. Dengan gugup ia pun mengangguk.
"Ya sudah. Sekarang tidurlah. Besok kita ke rumah sakit."
"Nggak usah! Hanya memar biasa," ucap Elena cepat.
Alung menggeleng tegas, "Ikuti saja kata-kataku."
"Aku serius ... tidak percaya? Lihat ... hampir hilang kan? Beberapa hari juga pasti hilang," terang Elena sambil menyibak kain yang menutupi pundaknya. Memang yang paling memar tadi adalah pundak sebelah kanan Elena. Akan tetapi Elena tidak sadar, gerakan pembuktian barusan, membuat sebuah sinyal kembali menguat. Bersambung.