
Mencari Daddy Bag. 53
Oleh Sept
Rate 18 +
Alung sudah pulang, tentunya dengan hati yang lega. Sesuai harapan, waktu bisa membuat Kanina sedikit demi sedikit memaafkan dirinya. Terlihat dari sikap Kanina saat ia pamit tadi. Wanita itu mau menatapnya, meski hanya sebentar.
Begitu juga dengan Gara, meski terlihat dingin, tapi pria itu sudah tidak semarah seperti sebelumnya.
***
"Cari hotel dekat sini saja, ya?" pinta Mama Ami yang tidak sabar menunggu besok.
"Nggak ada, Ma. Harus ke kota dulu, satu jam perjalanan mungkin."
"Lama sekali, padahal Mama ingin besok langsung cepet-cepet ke rumah itu lagi."
"Sabar, Ma."
Dia orang itu harus menahan diri untuk ketemu lagi dengan Altar, sebab beberapa hari lagi mereka juga akan balik ke ibu kota. Kasihan sang papa, sendirian di rumah.
***
Seperti janji Gara, Alung dan keluarganya boleh menjenguk Altar kalau dia sedang di rumah. Hati ini hari sabtu, saat Alung memberikan kabar ingin ke rumahnya lagi, Gara pun absen dulu dari pekerjaannya.
Ia masih ketar-ketir kalau Alung ke rumah bertemu Altar dan Kanina, mungkin takut kalau Alung macan-macam. Seperti kemarin, suasana masih kaku saat mereka saling bertemu. Kalau Altar, ia seneng-seneng saja, karena Alung kalau datang membawa mainan seabrek.
Karena Gara dan Kanina tidak memberi ijin membawa Altar jalan-jalan untuk memilih mainan sendiri, akhirnya Alung dan mama Ami memilih apa saja yang terpajang di etalase toko.
"Altar suka ini?" tanya Mama Ami yang duduk di depan cucunya. Mereka duduk di karpet aladin yang lembut dan tebal.
Altar mengangguk, kemudian meraih benda yang mama Ami pegang. Sebuah tembak mainan yang harus diisi dengan air bila mau dimainkan.
"Kapan-kapan, ke rumah Nenek ya? Kita main air pakai ini di kolam renang."
Mata Altar langsung berbinar-binar, ia terlihat senang dijanjikan oleh neneknya. Sementara itu, Kanina dan Gara saling menatap. Mana boleh Altar diajak oleh keluarga Alung ke ibu kota. Tidak! Tidak akan.
Anak kecil itu langsung antusias dan mengangguk dengan semangat. Namun, Alung menghela napas panjang. Ketika melihat raut wajah Kanina dan Gara yang mulai berubah. Sang mama dari tadi membuatnya gelisah. Nanti malah mereka tidak boleh melihat putranya.
Hingga sampai sore, akhirnya mama Ami berat untuk pamit. Karena tiket sudah dipesan, mau tidak mau mereka besok siang akan balik. Berat sih, tapi Alung juga masih banyak pekerjaan. Dan juga Gara harus bekerja, seperti syarat saat pertama kali mereka sepakat. Hanya bila ada Gara di rumah, mereka bisa main ke sana. Mau tidak mau, akhirnya mama Ami dan Alung pun pamit.
"Boleh Daddy peluk?" tanya Alung saat akan masuk mobil.
Dengan ceria Altar mengangguk, senyum yang sama. Mereka seperti pinang dibelah celurit. Dengan hangat, Alung memeluk putranya itu. Mengusap punggung altar lembur, mengusap rambut anak yang kini sudah besar tersebut.
Begitu juga dengan mama Ami, ia memeluk Altar seperti enggan melepas pelukannya itu. Maunya, ia bawa Altar ke Jakarta. Inginnya, ia bisa tinggal dekat dengan cucu semata wayangnya itu. Sayang, itu hanya ada dalam angan.
"Daaa ... Nenek! ... Dah ... dah ... Deddy!"
Altar melambaikan tangan, rupanya kemarin setelah Alung pergi, saat Altar bertanya pada papanya, siapa om yang memberikan banyak mainan padanya, dengan jujur Gara mengatakan bahwa om itu adalah ayah Altar.
Sempat bengong dan heran, tapi Gara hanya menjelaskan bahwa Altar punya dua ayah dan banyak yang sayang padanya.
***
Juandaa International airports
"Kapan kita ke sini lagi, Lung?"
"Terserah Mama, Alung antar kalau Mama kangen Altar."
"Mama pingin bawa anak itu ...!"
Alung terdiam.
"Bisa tidak kita bawah Altar? Sewa pengacara mahal, kamu kan ayahnya?" tanya Mama Ami dengan nada putus asa. Bersambung.
***
Dan begitulah manusia ... tidak pernah merasa cukup.