
Mencari Daddy Bag. 54
Oleh Sept
Rate 18 +
Alung sampai bingung harus menjawab apa, mana tega ia membawa Altar. Apalagi setelah apa yang terjadi di masa lalu, tapi ia tidak menyalahkan sang mama. Mungkin mama Ami hanya ingin dekat dengan cucunya. Hanya itu saja, tidak ada maksud ingin memisahkan anak dan ibunya.
"Nanti, Ma ... Kita beli rumah di sini. Biar Mama bisa sering melihat cucu Mama."
Alung mencoba mencari solusi terbalik, bagaimana pun juga, ia tidak akan menyakiti Kanina lagi. Merebut Altar, sama seperti menghancurkan hidup Kanina kembali. Ia malah berterima kasih, karena Kanina mau mengandung anak itu. Sama sekali tidak megugurkannya. Padahal, bisa saja Kanina menghilangkan janin tersebut. Tapi, gadis itu dulu malah memilih bertahan. Alung benar-benar merasa sangat bersalah.
***
"Lung, kok pesawatnya gak turun-turun, ya?" tanya Mama Ami ketika merasa mereka sudah lama terbang, tapi tak kunjung mendarat."
Rupanya ada awan tebal di depan sana, pesawat mereka pun berputar-putar karena menghindari kepulan awan tebal.
"Lung ... Alun ... apa ini?"
Semua penumpang panik ketika merasakan sesuatu yang tidak beres.
"Gak apa-apa, Ma. Mama tenang saja." Alung mencoba meredam kepanikan sang mama.
Untung sesaat kemudian, akhirnya mereka kembali merasa tenang. Karena guncangan sudah mulai melemah. Dan burung besi itu kembali meluncur dengan anggun menuju Cikarang.
***
Kediaman Kusuma
Bu Sadewo terlihat sumringah ketika melakukan video call dengan cucunya.
"Altar ...!" panggil bu Sadewo.
Altar yang sedang bermain langsung menoleh dan mendekati ponsel yang mengarah ke padanya.
"Maaa!" panggil Gara dengan antusias. Bibirnya melengkung menahan senyum, pria itu sejak tadi sumringah saat mau bicara.
"Hei ... kenapa ini kamu ini, Gar?"
Mau bicara, tapi ditahan-tahan. Sudah mirip anak gadis.
"Nina ... Ma."
"Kenapa? Sakit?"
"Ish! Kanina hamil!" ucap Gara dengan bangga. Ia sedikit sombong, mau pamer pada mamanya. Kalau selama ini ia tidak mandulll. Memang Tuhan saja yang butuh waktu untuk menciptakan kecebong yang pas.
"Apa? Kanina hamil?" pekik bu Sadewo.
"Apa? Hamil?" gumam Gendis yang kala itu tidak sengaja menguping. Makin panas lah hati gadis tersebut.
"Selamat ya sayang. Nanti sore Mama mau ke sana, Kanina tanyain. Mau apa? Biar Mama carikan?" tanya bu Sadewo dengan antusias.
"Ya sudah, jangan biarkan capek-capek tuh Kanina. Mau Mama carikan asisten?"
"Mana mau mereka, Ma?"
"Iya, sih. Mereka terlalu mandiri. Semua bisa dilakukan sendiri. Ya sudah, tunggu Mama. Nanti Mama ke sana."
"Iya, Ma."
"Daa Altar!" teriak bu Sadewo ketika melihat Altar lari-lari di layar telpon.
Selesai video call, Gendis langsung mewawancari sang mama.
"Ma! Dia hamil?"
"Hem! Kamu mau jadi tante lagi!"
Gendis tersenyum kecut.
"Mama mau ke sana?"
"Iya, nanti sore. Kenapa?"
"Gendis ikut."
"Mama nggak salah dengar?"
"Nggak boleh?"
"Lah ... boleh dong. Kan itu rumah abangmu."
Gendis kembali tersenyum. Namun, senyumnya nampak aneh dan tidak wajar.
***
Langit yang semula cerah, kini berganti dengan semburat jingga yang indah. Bu Sadewo sore ini akan ke rumah Gara bersama putrinya.
"Nggak Pak Ramlan saja yang bawa mobil?"
"Gak usah, Ma. Gendis aja uang nyetir."
"Ya sudah. Ayo berangkat. Mama sudah kangen Altar. Padahal beberapa hari lalu baru ketemu. Anak itu ngangenin."
Di balik kemudinya, Gendis fokus pada jalanan. Namun, hatinya merutuk. Ia heran, mengapa sang mama sayang sekali pada Kanina dan putranya. Padahal tidak ada hubungan darah sama sekali. Mungkin Gendis lupa, siapa dirinya juga.
Saat sampai di depan halaman Gara, bu Sadewo langsung turun. Sedangkan Gendis ia pura-pura mengambil sesuatu dari tas.
"Dikasih ini bakalan mampush gak, ya?" batin Gendis menatap sesuatu yang ada dalam tangannya. Bersambung
Adik ipar gak ada ahlak. Ini ... ni ... ipar rasa racun. Ada yang kaya gitu? Hehehe
.